sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan biaya tinggi atau “over utilization” yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan medisnya;Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan bersifat negatif,misalnya terhadap “risk of treatment” yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi medik. Sepanjang hal itu terjadidalam batas-batas tertentu, maka tidak dapat dipersalahkan, kecuali jika melakukan kesalahan besar karena kelalaian (negligence) atau karena ketidaktahuan (ignorancy) yang sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh teman sejawat lainnya.Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia2. promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri3. untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien4. menghindari penipuan dan misleading oleh dokter 5. mendorong diambil keputusan yang lebih rasional6. mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan7. sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan.Pada prinsipnya iformed consent deberikan di setiap pengobatan oleh dokter. Akan tetapi,urgensi dari penerapan prinsip informed consent sangat terasa dalam kasus-kasus sebagai berikut:1. dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi2. dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai teknologi baru yangsepenuhnya belum dpahami efek sampingnya.3. dalam kasus-kasus yang memakai terapi atau obat yang kemungkinan banyak efek samping,seperti terapi dengan sinar laser, dll.4. dalam kasus-kasus penolakan pengobatan oleh klien5. dalam kasus-kasus di mana di samping mengobati, dokter juga melakukan riset daneksperimen dengan berobjekan pasien.ASPEK HUKUM INFORMED CONSENTDalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter, dan pasien) bertindak sebagai “subyek hukum ” yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan“jasa tindakan medis” sebagai “obyek hukum” yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagiorang sebagai subyek hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnyadiatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun oleh dua pihak.Dalam masalah “informed consent” dokter sebagai pelaksana jasa tindakan medis, disampingterikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga tetap tidak dapatmelepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukun perdata, hukum pidana maupun hukumadministrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan.Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang digunakanadalah “kesalahan kecil” (culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakanmedis yang merugikan pasien, maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secarahukum. Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium “barang siapamerugikan orang lain harus memberikan ganti rugi”.Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan adalah “kesalahan berat”