Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
35Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH

Ratings: (0)|Views: 2,318 |Likes:
Published by Edy Eko Santoso

More info:

Published by: Edy Eko Santoso on Nov 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

 
MANAJEMEN PENINGKATAN MUTUBERBASIS SEKOLAH
 
Sebuah pendekatan baru dalam pengelolaan sekolahuntuk peningkatan mutuOlehDrs. Umaedi, M.EdDirektur Pendidikan Menengah UmumDEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANDIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAHDIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH UMUMApril 1999
Pendahuluan
 
1. Latar Belakang
 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semuaaspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecualidengan upaya penguasaan dan peningkatan
ilmu pengetahuan
dan
teknologi 
. Selainmanfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawamanusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalampersaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan danmeningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitassumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana,terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa inikalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yangsangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan
kualitas pendidikan
merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatankualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitassumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah danterus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha
 pembangunan pendidikan
yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikankurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan danpengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapipada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkankuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara laindengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidakmemperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun,kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selamaini kurang atau tidak berhasil. Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebihbersifat
input oriented.
Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwabilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar)dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenagakependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan ( sekolah) akan dapatmenghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyatastrategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek,1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanyaterjadi dalam institusi ekonomi dan industri.Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat
macro-oriented,
diatur oleh jajaranbirokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro(pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah).
 
Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa komleksitasnya cakupan permasalahanpendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikanbukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebihmemperhatikan faktor proses pendidikan..Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harusada dalam batas - batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatismeningkatkan mutu pendidikan (
school resources are necessary but not sufficient conditionto improve student achievement 
). Disamping itu mengingat sekolah sebagai unit pelaksanapendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yangmemerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satudengan lainnya, maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannyauntuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur danmengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya.Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetapterkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara secara nasional untukdijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya
benchmarking 
).Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatanmutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah sebagai institusi paling depandalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini, kemudian dikenal dengan
manajemenpeningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (School Based Quality Management)
atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan (developmental) disebut
SchoolBased Quality Improvement.
Konsep yang menawarkan kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat dan pemerintahdengan tanggung jawabnya masing - masing ini, berkembang didasarkan kepada suatukeinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamisdalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumber dayasekolah yang ada. Sekolah harus mampu menterjemahkan dan menangkap esensi kebijakanmakro pendidikan serta memahami kindisi lingkunganya (kelebihan dan kekurangannya)untuk kemudian melaui proses perencanaan, sekolah harus memformulasikannya ke dalamkebijakan mikro dalam bentuk program - program prioritas yang harus dilaksanakan dandievaluasi oleh sekolah yang bersangkutan sesuai dengan visi dan misinya masing - masing.Sekolah harus menentukan target mutu untuk tahun berikutnya. Dengan demikian sekolahsecara mendiri tetapi masih dalam kerangka acuan kebijakan nasional dan ditunjang denganpenyediaan input yang memadai, memiliki tanggung jawab terhadap pengembangan sumber daya yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan masyarakat.
2. Tujuan
 
Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
ini ditulis dengan tujuan;a.Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolahkhususnya kepada masyarakat.b.Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan denganmudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragamankultural, sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya.c.Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah danindividu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan.d.Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatanmutu pendidikan/pada sekolah masing - masing.e.Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamisdalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.f.Memotivasi timbulnya pemikiran - pemikiran baru dalam mensukseskanpembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garispaling depan dalam proses pembangunan tersebut.
 
g.Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yangberkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah.h.Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskandengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun. 5tahun,dst,sehingga tercapai misi sekolah kedepan.
Pengertian Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah.
Bervariasinya kebutuhan siswa akan belajar, beragamnya kebutuhan guru dan staf laindalam pengembangan profesionalnya, berbedanya lingkungan sekolah satu dengan lainnyadan ditambah dengan harapan orang tua/masyarakat akan pendidikan yang bermutu bagianak dan tuntutan dunia usaha untuk memperoleh tenaga bermutu, berdampak kepadakeharusan bagi setiap individu terutama pimpinan kelompok harus mampu merespon danmengapresiasikan kondisi tersebut di dalam proses pengambilan keputusan. Ini memberikeyakinan bahwa di dalam proses pengambilan keputusan untuk peningkatan mutupendidikan mungkin dapat dipergunakan berbagai teori, perspektif dan kerangka acuan(framework) dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat terutama yang memilikikepedulian kepada pendidikan. Karena sekolah berada pada pada bagian terdepan daripada proses pendidikan, maka diskusi ini memberi konsekwensi bahwa sekolah harusmenjadi bagian utama di dalam proses pembuatan keputusan dalam rangka peningkatanmutu pendidikan. Sementara, masyarakat dituntut partisipasinya agar lebih memahamipendidikan, sedangkan pemerintah pusat berperan sebagai pendukung dalam halmenentukan kerangka dasar kebijakan pendidikan.Strategi ini berbeda dengan konsep mengenai pengelolaan sekolah yang selama ini kitakenal. Dalam sistem lama, birokrasi pusat sangat mendominasi proses pengambilan ataupembuatan keputusan pendidikan, yang bukan hanya kebijakan bersifat makro saja tetapilebih jauh kepada hal-hal yang bersifat mikro; Sementara sekolah cenderung hanyamelaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhanbelajar siswa, lingkungan Sekolah, dan harapan orang tua. Pengalaman menunjukkanbahwa sistem lama seringkali menimbulkan kontradiksi antara apa yang menjadi kebutuhansekolah dengan kebijakan yang harus dilaksanakan di dalam proses peningkatan mutupendidikan. Fenomena pemberian kemandirian kepada sekolah ini memperlihatkan suatuperubahan cara berpikir dari yang bersifat rasional, normatif dan pendekatan preskriptif didalam pengambilan keputusan pandidikan kepada suatu kesadaran akan kompleksnyapengambilan keputusan di dalam sistem pendidikan dan organisasi yang mungkin tidakdapat diapresiasiakan secara utuh oleh birokrat pusat. Hal inilah yang kemudian mendorongmunculnya pemikiran untuk beralih kepada konsep manajemen peningkatan mutu berbasissekolah sebagai pendekatan baru di Indonesia, yang merupakan bagian dari desentralisasipendidikan yang tengah dikembangkan.Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalampengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah.Konsep ini diperkenalkan oleh teori
effective school 
yang lebih memfokuskan diri padaperbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979). Beberapa indikator yang menunjukkankarakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut; (i) lingkungan sekolah yangaman dan tertib, (ii) sekolah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (iii) sekolahmemiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah(kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanyapengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (vi) adanyapelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik danadministratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (vii)adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat. Pengembangankonsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan masyarakatdalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan,strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritaspendidikan. Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruhkomponen sekolah; kepala sekolah, guru dan tenaga/staf administrasi termasuk orang tua

Activity (35)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
AlwahidinAlwan liked this
Dya Devi liked this
Darmin Dar liked this
Yudrik Jahja liked this
Bilqis Rochmi liked this
Nurpit Junus liked this
Yunita Sari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->