• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
The Second Commander in ActionBy : Gede Bayu (GM-009-xviii)Catatan perjalanan menuju tebing Sawarna6 Agustus ‘09 Pukul 11.00 malam kami berangkat dengan sepeda motor, adapun orang-orang yang mengikuti kegiatan kali ini antara lain :Rahman, Freden, Bayu (aku), Tetu, Sigit, Brian, Bambang, Sani, Nda dan YostalPerjalanan kami mulai dari kampus ITB dengan menggandeng pasangannya masing-masingdan membawa beban masing-masing. Aku sendiri hanya membawa Carier dan tanpamenggandeng orang dengan membawa motor Giri karena motorku sedang mengalamisedikit gangguan. Kami berjalan beriringan dengan kecepatan yang lumayan tinggi,Sigit sebaagai pemimpin perjalanan tahu betul cara mengatur irama perjalanan kami.Motornya yang tampaknya payah itu ternyata mampu berlari kencang tanpa seorangpunbisa menyalipnya. Ia sebut motornya yang tanpa spion itu dengan sebutan “belalangtempur”.Perjalanan kami sangat membutuhkan kewaspadaan di jalan, karena selain beban yangberat yang masing-masing kami bawa, perjalanan di malam hari di sela-selapengemudi lain yang mengendarai kendaraannya dengan ugal-ugalan terutama truk-trukyang membawa beban berat. Tentunya kami tidak mengharapkan hal-hal buruk akanmenimpa kami.Sekitar 40 menit sejak dari kampus ITB kami tiba di Pangandaran. Di sana kamiberhenti sejenak dan menjemput salah seorang rekan kami, si Nda, dari Skygers.Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, kami pun berangkat lagi. Kini akumenggonceng Nda karena kini jumlah motor ada 5 dan tim berjumlah 10 orang.Perjalanan kian mengganas karena kami juga mengejar waktu agar cepat sampai ditempat menginap. Jika terlalu lambat, para pengemudi tentunya akan lebih terasamengantuk.Sampai di Sukabumi, motor Brian ternyata bannya pecah. Kami pun berhenti lagi danistirahat bersama rombongan, sambil membeli minuman hangat yang diminum bersama-sama.Kembali ke perjalanan, kini kami akan menuju penginapan di sebuah warung dipinggir jalan dekat Pelabuhan Ratu. Perjalanan kami sudah terasa melelahkan, danmungkin tanpa kita sadari bahwa mata kita mulai setengah lilin. Akhirnya pukul02.00 pagi kami sampai di warung tadi. Kamipun memesan minuman dan menyantapmakanan ringan di sana.Pukul 03.00 kami tidur bersama di garasi belakang. Walau berlantaikan semen yangkasar dan berlubang-lubang, kami selalu saja membawa matras kami yang lumayanempuk bila dipakai untuk tidur, tanpa alat yang satu ini di lapangan bagi kamibenar-benar terasa menderita.Hari ke-1 (happy and enjoy day)Tanpa rasa nyenyak sedikitpun, demikian yang diakui semua teman-teman, akhirnyakami bangun tepat pukul 07.00 pagi. Dengan sedikit sarapan gorengan di warung danminum kopi maupun teh hangat kamipun kembali ke formasi perjalanan.Di tengah perjalanan kami melihat warung yang berdiri sendiri di pinggir pantaidan dikelilingi sawah. Suasananya sangat bagus, dan karena perut kami semua sudahkelaparan, kami pun singgah di sana.Jalan terasa sepi, tak seperti di Bandung, setelah akhirnya kami sampai diPelabuhan Ratu, barulah terasa seperti di perkotaan kembali namun hanya suasanalaut yang terasa di setiap indera kami. Di Pelabuhan Ratu kami singgah untukmembeli logistik makanan, kami pun patungan, namun hanya Rp.200.000,- saja yangterkumpul waktu itu. Akhirnya kami sepakat untuk membeli secukupnya saja,kekurangannya akan dibeli di basecamp saja. Freden dan Rahman bergerak ke tengah
 
pasar membeli sayur, buah dan ikan asin serta bumbu-bumbu secukupnya.Pukul 10.00 kami bergerak lagi menuju pantai Sawarna. Perjalanan kali ini terasasangat mengagumkan karena jalan-jalan di sini melewati tanjakan-tanjakan ditebing-tebing yang menjulang tinggi mengelilingi lautan, dari atas sana terlihatgaris-garis pantai yang sangat indah ditambah ombak dan kapal-kapal nelayan yangmenghiasinya.Kini sudah menunjukkan pukul 12.00. Di sebuah tempat yang sangat bagus untukmelihat pemandangan lautan, kami bertemu lagi dengan tempat istirahat, kamipunsinggah di sana karena sebagian dari sudah terasa lelah dan mengantuk. Denganmemesan kopi dan teh, dan tambahan ngobrol sambil berfoto bersama rasa lelah itudengan sendirinya akan berkurang. Kami bergegas kembali menerjang jalanan yang panjang, berliku, naik dan turungunung. Perjananan kami kira-kira memakan jarak 225 kilometer, benar-benar sebuahperjalanan yang panjang apalagi dengan mengendarai sepeda motor. Maka tak herandari kami nantinya akan merasa meriang-meriang karena serangan angin.Pertama kami melewati jalanan kering dan berbatu, naik dan turun, di pinggiranjalan semak-semak tak lagi berwarna berwarna hijau, melainkan kuning karena debu-debu berterbangan.Kira-kira 5 kilometer akhirnya kami gembira karena jalan kembali mulus. Namunkarena jalanan berliku-liku dan banyak tikungan tajam, “Belalang Tempur” milikSigit terperosok saat berbelok di tikungan yang sangat tajam, ironisnya karenasaking terkejutnya, Rahman yang mengendarai motor juga terjatuh di belakang. Kamipun turun dari motor, cepat-cepat menolong Sigit yang terjatuh demikian juga Tetuyang digandengnya, namun Rahman yang terjatuh dibelakang langsung bangun dengansendirinya, kami bukannya menolong, tapi malah menertawakannya karena tampaksedikit konyol bagi kami.(Tapi pembaca jangan marah dulu, lihat saja Rahman sendiri ketawa-ketawa waktu itumenertawakan kekonyolannya)Akhirnya kami sampai di sebuah tempat yaitu Desa Sawarna yang benar-benar terasajauh dari kota dan suasana rantaunya sangat terasa kami rombongan anak-anakpecinta alam Ganesha ITB sampai di sana.Rumah-rumah terlihat sangat sederhana dengan pagar bambu yang mengelilinginyanamun tak cukup tinggi untuk menjaga dari maling. Di pinggir jalan terdapat banyaksekali pohon kelapa, di sela-selanya air laut yang berwarna biru menghiasi gariscakrawala serta angin laut yang berhembus benar-benar menyejukkan hari itu karenasebenarnya udara di atas sangat panas dan seharusnya membuat kami seperti cacing.Kami terus menyusuri jalanan aspal yang kecil dan dihiasi semak-semak itu. Kamipun melihat papan kecil menunjukkan pantai ”Gua Langir” yang berarti gua kakiseribu, apakah di sini banyak ulat kaki seribunya kami juga tak tahu…..Pk.14.00 WIB, Kami tiba dan langsung mendirikan flysheet yang besar untuk menahanlaju angin yang begitu kencang, selain itu kami juga mendirikan tenda untuk semua
 
peralatan logistik agar tidak basah jika tiba-tiba turun hujan.Pertama …… saatnya membawa surat jalan ke pak RT/RW setempat…Aku dan Rahman ditemani Sani akhirnya sampai di rumah pak RT yang sangat sederhanaberupa gubuk. Namun saat itu hanya ada istrinya saja, dan kami pun titipkan sajakepadanya. Dan kami langsung saja balik ke basecamp tercinta.Dalam teknis lapangan kami, sore ini kami tidak ada kegiatan sehingga beberapadari kami berniat untuk jalan-jalan. Aku, Freden, dan Rahman ingin mandi dipantai, sedangkan yang lainnya ingin memancing entah ke mana.Ternyata Sigit sudah membawa mata pancingnya dari rumah plus benang nylonnya,namun belum siap dengan kailnya, terpaksa deh mereka mencari bambu saja. Akhirnyakami pun berpisah dengan masing-masing kesibukan kami.Air di pantai benar-benar terasa hangat dan tenang waktu itu. Rahman nggak beranimandi, nggak tahu kenapa padahal sudah kami ajak, dan akhirnya hanya aku danfreden saja yang mandi di pantai sedangkan Rahman berjemur saja sambil menulis-nulis puisi di atas pasir pantai.Setelah capek kami bertiga tertidur pulas di basecamp, angin pantai benar-benarterasa di semua permukaan kulit kami. Tanpa berkata-kata kami langsung tertidurmelepas sejenak kelelahan kami, mungkin kami tak sempat bermimpi saat itu.Hari ke-2 (sosped day)Pagi-pagi pukul 05.00 atas instruksi ketua perjalanan, bang freden, kami semuabangun pagi. Pagi itu terasa benar-benar dingin di tambah angin yang berhembussepoi-sepoi di kulit kami membuat kami susah sekali bergerak, Brian pun tertidurlagi, namun kali ini ia pindah ke pantai yang lebih dekat ke air, mungkinkekurangan angin ya bri??Kami pagi itu rencananya pindah base camp ke rumah pak RT, kira-kira pukul 06.00kami bergerak packing semua logistik termasuk tenda dan flysheet. Dalam waktukurang dari 1 jam kami sudah bereskan semuanya, dan kami pergi berangkat ke rumahpak RT yang nggak jauh dari sana.Rumah itu sederhana, terbuat dari anyaman bambu, namun kami akhirnya senang karenakami tidak akan masuk angin lagi malam ini. Di samping rumah itu, berdiri rumahkedua orang tua pak RT, emak dan abah sudah sangat tua namun masih sangat kuatdalam bekerja dan tampak sehat-sehat saja.Pagi itu Freden tampak pucat, mungkin karena masuk angin dan kelelahan dalamperjalanan kemarin malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menyuruhnya beristirahatsaja, kasihan juga pak ketua kita kali ini…. Jadwal hari ini adalah sosialisasi pedesaan ke kantor desa untuk menemui pakKades. Kami telah bersiap membawa alat tulis kami, pulpen dan kertas kosong. Yangberangkat adalah Aku, Rahman, dan Tetu dengan 2 buah sepeda motor.di tempat yang berbeda, Brian, Sani, dan Nda melakukan survey jalur belakangtebing-tebing untuk mendapatkan informasi tentang kondisi di atas sana dan mencarijalan ke luar seandainya tidak bisa rapelling dari atas.Kira-kira pukul 08.30 kami menuju kantor desa, yang berjarak kurang lebih 1 kmdari rumah Pak RT. Pagi itu benar-benar cerah dan sangat menyegarkan.Sayang sekali…. setelah sampai di Kantor Desa tidak ada orang yang kami cari, yangada hanya petugas hansip saja. Katanya pak RT sedang di luar desa, namun iaberpesan bahwa di sebelah tukang jahit tak jauh dari sana ada rumah pak lurah yangjuga bisa ditanya-tanya seputar desa Sawarna.Akhirnya kami beranjak pergi tak lupa ucapan terima kasih buat pak Hansip yangtegap itu. Dan akhirnya kami melihat ada tukang jahit yang tampak sedang sibukbekerja di tokonya di pinggir jalan. Lalu kami tanya tentang pak Lurah tadi, ehsekarang pak Lurah juga malah nggak ada di sana.Jadwal sudah tersusun rapi bahwa pagi itu kami harus sosped. Tak ada pilihan lain
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...