Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
17Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kajian Teknis atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1/2006 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah

Kajian Teknis atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1/2006 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah

Ratings: (0)|Views: 2,810|Likes:
Published by faridyuniar
Kajian Teknis atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1/2006 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah
Kajian Teknis atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1/2006 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah

More info:

Published by: faridyuniar on Nov 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/15/2014

pdf

text

original

 
Kajian Teknis atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1/2006tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah
M. Iqbal Taftazani, Farid Yuniar, M. Harish Mafaaza dan I Made Andi Arsana Jurusan Teknik Geodesi dan GeomatikaFakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Jl. Grafika No. 2 Yogyakarta Telpon/Fax: 0274 520226, E-mail:geodesi@ugm.ac.id Website: http://geodesi.ugm.ac.idAbstrakPeraturan Menteri Dalam Negeri No. 1/2006 tentang Pedoman PenegasanBatas Daerah (selanjutnya disebut Permendagri) telah ditetapkan padatanggal 12 Januari 2006. Permendagri tersebut merupakan tindak lanjut dariUU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33/2004 tentangPerimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan PemerintahanDaerah. Permendagri No. 1/2006 berisi tentang Pedoman Penegasan BatasDaerah, yang mengatur teknis penegasan batas antardaerah.Permendagri No. 1/2006 secara umum terdiri dari delapan bab, yaituketentuan ketentuan umum, penegasan batas daerah, tim penegasan batasdaerah, keputusan penegasan batas daerah, fasilitasi perselisihan batasdaerah, pembiayaan, ketentuan lain-lain dan penutup serta ditambahdengan lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri yang berisi PedomanPenegasan Batas Daerah. Dalam Permendagri ini, banyak dibahas mengenaiaspek-aspek teknis penegasan batas antar daerah, yakni meliputi definisi,metode penarikan batas, dan sebagainya.Makalah ini bermaksud untuk mengkaji isi Permendagi terutama dari sudutpandang teknis/geodetis. Dalam hal ini akan dicoba menelaah aspekteknis/geodetis yang terkait dengan Permendagri termasuk memberikankritik konstruktif terhadapnya. Makalah ini merupakan hasil dari kajianpustaka dengan memperhatikan praktik penentuan dan penegasan bataswilayah daerah yang terjadi di Indonesia. Terhadap kelemahan yangditemukan dalam Permendagri, dalam makalah ini juga akan disertaigagasan pemecahan masalah.
1. Pendahuluan
Sampai sekarang, batas wilayah masih menjadi topik pembahasan yangmenarik. Tidak hanya permasalahan batas antarnegara, tetapi juga batasantardaerah yang lebih sempit, misalnya batas propinsi dan atau bataskabupaten/kota. Lebih jauh, kini sudah ada peraturan dan pembahasanmengenai batas desa dan kecamatan.Pembahasan tentang batas wilayah, terutama untuk propinsi dankabupaten/kota tentu tidak lepas dari undang-undang tentangpemerintahan daerah. Saat ini berlaku Undang-Undang No. 32/2004 yangmenggantikan UU sebelumnya yaitu UU No. 22/1999. UU No. 32/2004 inimerupakan tindak lanjut dari pasal 18 UUD 1945 yang berisi tentangpengaturan otoritas antara pemerintahan pusat dan daerah. Dalam hal ini,1
 
UU tersebut mempertegas adanya pemerintahan yang bersifatdesentralisasi dan mengatur tentang otonomi daerah. Adapun salah satu isumenarik dalam UU tersebut adalah tentang pemilihan kepala daerah secaralangsung.Sebelumnya, dalam UU No. 22/1999 telah diatur mengenai metode-metodepenentuan batas wilayah maritim antarpropinsi dan kabupaten seperti yang juga diatur dalam UU No. 32/2004. Berikutnya dikeluarkan UU No. 33/2004yang berisi tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah. Dalam halini, ada sebuah urgensi untuk menetapkan dan menegaskan batasantardaerah, terkait dengan pembagian Dana Alokasi Umum (DAU) yangpenentuannya berdasarkan salah satunya pada luas daerah tersebut.Artinya, luas daerah menjadi faktor yang penting. Pertanyaan selanjutnyaadalah bagaimana bisa menentukan luas daerah tanpa ada batasantardaerah? Oleh karena itulah penegasan batas antardaerah, dalam halini batas propinsi dan batas kota/kabupaten, menjadi satu hal yang sangatdibutuhkan.Dari pertimbangan di atas, maka pemerintah pusat, dalam hal iniKementerian Dalam Negeri pada tanggal 12 Januari 2006 menetapkanPeraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2006 tentang PedomanPengasan Batas Daerah (selanjutnya disebut Permendagri). DalamPermendagri ini, dibahas mengenai aspek-aspek teknis penegasan batasantar daerah, yakni meliputi definisi, metode penarikan batas, danketentuan teknis lainnya.Dengan adanya Permendagri ini, maka aturan tentang bagaimanapenentuan dan penegasan batas antarpropinsi dan atauantarkota/kabupaten, baik batas di darat maupun di laut menjadi lebih jelas.Namun demikian, masih ada beberapa hal dalam Permendagri ini yangperlu dikaji dan dikoreksi lebih dalam, khususnya pada hal yang berkaitandengan aspek teknis.Makalah ini dimaksudkan untuk mengkaji isi Permendagi terutama darisudut pandang teknis/geodetis. Dalam hal ini akan dicoba menelaah aspekteknis/geodetis yang terkait dengan Permendagri termasuk memberikankritik konstruktif terhadapnya. Makalah ini merupakan hasil dari kajianpustaka dengan memperhatikan praktik penentuan dan penegasan bataswilayah daerah yang terjadi di Indonesia. Terhadap kelemahan yangditemukan dalam Permendagri,dalam makalah ini juga akan disertaigagasan pemecahan masalah.
2. Garis Besar Isi Permendagri No 1 Tahun 2006
Permendagri No 1 Tahun 2006 terdiri dari delapan bab, yakni: ketentuanumum, penegasan batas daerah, tim penegasan batas daerah, keputusanpenegasan batas daerah, fasilitasi perselisihan batas daerah, pembiayaan,ketentuan lain-lain dan penutup. Selain itu ditambah dengan lampiranPeraturan Menteri Dalam Negeri yang berisi Pedoman Penegasan BatasDaerah. Dalam lampiran ini memuat penjelasan secara teknis aspek-aspekpenentuan dan penegasan batas daerah.2
 
Bab pertama, ketentuan umum, satu pasal, berisi pengertian-pengertiandalam Permendagri beserta penjelasan secara singkat mengenaipengertian tersebutBab kedua, penegasan batas daerah, berisi tentang pengertian penegasanbatas daerah, terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama tentangpenegasan batas daerah di darat, bagian kedua penegasan batas di lautdan bagian ketiga tentang peta batas daerah. Dijelaskan dalam bab inimengenai tahapan dalam penegasan batas darat, dimulai dari penelitiandokumen, pelacakan batas, pemasangan pilar batas, pengukuran danpenentuan pilar batas, dan pembuatan peta batas. Sedangkan untuk batasdi laut, penelitian dokumen, pelacakan batas, pemasangan pilar di titikacuan, penentuan titik awal dan garis dasar, pengukuran dan penentuanbatas dan pembuatan peta batas. Pada bagian ketiga dijelaskan tentangskala peta batas untuk masing-masing batas propinsi, kabupaten dan kota.Bab ketiga berisi tentang tim penegasan batas daerah, baik propinsi,kabupaten dan kota yang masing-masing ditetepkan oleh pejabat strukturalpemerintahan di atasnya. Bab empat tentang keputusan penegasan batasdaerah yang kesemuanya, baik batas propinsi, kabupaten dan kotaditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan hasil verifikasi batasoleh Tim Penegasan Batas Daerah Tingkat Pusat.Bab lima berisi tentang fasilitasi perselisihan batas daerah yang mana jikaterjadi perselisihan tentang batas daerah diselesaikan oleh pejabatstruktural di atasnya. Bab enam tentang pembiayaan penegasan batas,yakni pembiayaan seluruh rangkaian kegiatan penegasan batas daerahdiambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan AnggaranPendapatan dan Belanja Daerah.Bab tujuh berisi tentang ketenutan lain-lain, dalam hal ini batas daerahyang berbatsan dengan negara lain berpedoman pada batas NegaraKesatuan Republik Indonesia atau perjanjian antara Republik Indonesiadengan negara yang bersangkutan. Terakhir bab delapan beisi tentang ketentuan penutup, yakni tentang teknispenegasan batas daerah yang dicantumkan dalam lampiran Permendagri.
3. Kajian Rinci Terhadap Isi Permendagri No. 1/2006
Dalam kajian rinci ini, akan disajikan secara rinci bab demi bab dalambagian berikut :
3.1 Bab I tentang Ketentuan Umum
Pasal 1, tentang pengertian-pengertian :Ayat (1) dan ayat (2), menegaskan tentang pemerintahan daerah, yaitupemerintahan provinsi oleh gubernur, dan kabupaten/kota olehbupati/walikota.Ayat (3), menyatakan bahwa penegasan batas daerah adalah kegiatanpenentuan batas secara pasti di lapangan. Teknis pelaksanaan penegasanbatas daerah terdapat dalam lampiran.3

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
Dek Lee liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Dwi Purnasari liked this
Dwi Purnasari liked this
Mantika Sitinjak liked this
Yenny Palupi liked this
MeddyDanial liked this
Siswanto Sukadi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->