Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
59Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ucapan Spiritual Syekh Siti Jenar

Ucapan Spiritual Syekh Siti Jenar

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 3,079 |Likes:
“Segala yang tercipta terdiri dari jasad dan sukma, serta badan dan nyawa. Itulah sarana utama, yakni cahaya, roh, dan jasad. Yang tidak tahu dua hal itu akan sangat menyesal. Hanya satu ilmunya, melampaui Sang Utusan. Namun bagi yang ilmunya masih dangkal akan mustahil mencapai kebenaran, dan manunggal dengan Allah. Dalam hidup ini, ia tidak bisa mengaku diri sebagai Allah, Sukma Yang Maha Hidup. Kufur jika menyebut diri sebagai Allah. Kufur juga jika menyamakan hidupnya dengan Hidup Sang Sukma, karena sukmaitu adalah Allah.” .
“Segala yang tercipta terdiri dari jasad dan sukma, serta badan dan nyawa. Itulah sarana utama, yakni cahaya, roh, dan jasad. Yang tidak tahu dua hal itu akan sangat menyesal. Hanya satu ilmunya, melampaui Sang Utusan. Namun bagi yang ilmunya masih dangkal akan mustahil mencapai kebenaran, dan manunggal dengan Allah. Dalam hidup ini, ia tidak bisa mengaku diri sebagai Allah, Sukma Yang Maha Hidup. Kufur jika menyebut diri sebagai Allah. Kufur juga jika menyamakan hidupnya dengan Hidup Sang Sukma, karena sukmaitu adalah Allah.” .

More info:

Published by: Herman Adriansyah AL Tjakraningrat on Nov 07, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

 
UCAPAN-UCAPAN SPIRITUALSYEKH SITI JENARSATU
“Allah itu adalah keadaanku, kenapa kawan-kawan pada memaka penghalang? Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua,nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai pelindung?” 
 
(Babad Tanah Sunda, Sulaeman Sulendraningrat, 1982, bagian XLIII).
Ucapan spiritual Syekh Siti Jenar tersebut diucapkan pada saat parawali menghendaki diskusi yang membahas masalah Micara Ilmu tanpaTedeng Aling-aling. Diskusi para wali diadakan setelah Dewan Walisangamendengar bahwa Syekh Siti Jenar mulai mengajarkan ilmu ma’rifat danhakikat. Sementara dalam tugas resmi yang diberikan oleh DewanWalisanga hanya diberi kewenangan mengajarkan syahadat dan tauhid.Sementara menurut Syekh Siti Jenar justru inti paling mendasartentang tauhid adalah manunggal, di mana seluruh ciptaan pasti akankembali menyatu dengan yang menciptakan.Pada saat itu,
Sunan Gunung Jati mengemukakan, “Adapun Allah itu adalah yang berwujud haq”; 
 
Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas,dekatnya tanpa rabaan.”; 
 
Sunan Bonang berkata, “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa,tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara,wajib adanya, mustahil tidak adanya.”; 
 
Sunan Kalijaga menyatakan, “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”; Syekh Maghribi berkata, “Allah itu meliputi segala sesuatu.”; Syekh Majagung menyatakan, “Allah itu bukan disana atau disitu,tetapi ini.”; 
 
UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR
Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana
Page
1
 
Syekh Bentong menyuarakan, “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”; 
Setelah ungkapan Syekh Bentong inilah, tiba giliran Syekh Siti Jenar danmengungkapkan konsep dasar teologinya di atas. Hanya saja ungkapanSyekh Siti Jenar tersebut ditanggapi dengan keras oleh Sunan Kudus, yang salah menangkap makna ungkapan mistik tersebut, “Jangan sukaterlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidakbersekutu dengan sesama.”Mulai persidangan itulah hubungan Syekh Siti Jenar dengan para walimemanas, sebab Syekh Siti Jenar tetap teguh pada pendirian tauhidsejatinya. Sementara para Dewan Wali mengikuti madzhab resmi yangdigariskan oleh kerajaan Demak, Sunni-Syafi’i. Sampai masa persidanganpenentuannya,
Syekh Siti Jenar tetap menyuarakan dengan lantang teologi manunggalnya bahwa, “Utawi Allah iku nyataning sun kang sampurna kang tetep ing dalem dhohir batin,(bahwa Allah itnyatanya aku yang sempurna yang tetap di dalam dzahir dan batin) 
.(Riwayat yang agak sama juga tercantum dalam Babad Cerbon, terbitanBrandes (1911) pada Pupuh 23, Kinanti bait 1-8.)
DUA
“Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan lain selain dariTuhan yang Mahakuasa, ia akan kecewa karena ia tidak akan memperolehapa yang ia inginkan.” (S. Soebardi, The Book of ebolek, hlm. 103).Menurut beberapa sumber, di antaranya Soebardi (1975), beberapa saatsetelah Syekh Siti Jenar wafat, para wali mendengar suara yang berasaldari roh Syekh Siti Jenar yang berupa ungkapan mistik tersebut.Ungkapan mistik itu merupakan ungkapan terakhir dari sang sufi sebagaibukti bahwa sampai sesudah wafatnya, dia memperoleh apa yangdiinginkannya, dan menjadi
bukti kebenaran ajarannya, yakni kehidupan sejati dalam kesatuan; manunggaling kawula-Gusti.
TIGA
UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR
Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana
Page
2
 
“… tidak usah kebanyakan teori semu, sesungguhnya ingsun inilah Allah.Nyata Ingsun Yang Sejati, bergelar Prabu Satmata, yang tidak ada lainkesejatiannya, yang disebut sebangsa Allah…” (R. Tanoyo: Walisanga, hlm.124)Maksud bebas ungkapan tersebut adalah
“tidak usah kebanyakan bicara tentang teori keTuhanan, sesungguhnya ingsun (aku sejati) inilah Allah. Yaitu Ingsun (Kedirian) Yang Sejati, juga bergelar Prabu Satmata (Tuhan Yang Maha Melihat, mengetahui segala-galanya),dan tidak boleh ada yang lain yang penyebutannya mengarah kepada Allah sebagai Tuhan”.
EMPAT 
“Mungguh sajatine ananing zdat kang sanyata iku muhung ana antepingtekat kita, tandhane ora ana apa-apa, ananging kudu dadi sabarang sedyakita kang satuhu” [Sebenarnya, keberadaan dzat yang nyata itu hanyaberada pada mantapnya tekad kita, tandanya tidak ada apa-apa, akantetapi harus menjadi segala niat kita yang sungguh-sungguh].
(Serat Candhakipun Riwayat Jati, hlm. 1).
Menurut Syekh Siti Jenar, keberadaan dzat hanya ada besertakemantapan hati dalam merengkuh Tuhan. Dalam diri tidak ada apa-apakecuali menjadikan menunggal sebagai niat dan yang mewarnai segala hal yang berhubungan dengan
asma, sifat dan af’al Pribadi.
Inilah di antaramaksud utama ungkapan di atas.
Jadi pemahaman atas ungkapan itu harus tetap berada dalam lingkup kemanunggalan. Kemanunggalan tidak akan berhasil jika hanymengandalkan perangkat syari’at dan tarekat.
 Apalagi sekedar syari’at lahiriyah (nominal).
Kemanunggalan akan berhasil seiring dengan tekad hati dakeseluruhan Pribadi dalam merengkuh Allah, sebagaimana roh Allah  pada awalnya ditiupkan atas setiap pribadi manusia.
LIMA
UCAPAN SPIRITUAL SYEKH SITI JENAR
Pustaka Pribadi Notaris Herman AALT Tejabuwana
Page
3

Activity (59)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Awal Shawal liked this
saharani liked this
Pak Teh liked this
Marshall Hendrix added this note
terima kasih
yusupd liked this
Wahyu Ahmadie liked this
Arie Vs Mereka liked this
En D Ra liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->