Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
P. 1
madrasah pada masa klasik islam bab2

madrasah pada masa klasik islam bab2

Ratings: (0)|Views: 4,666 |Likes:
Published by troupez_damour
madrasah pada masa klasik islam bab2
madrasah pada masa klasik islam bab2

More info:

Published by: troupez_damour on Nov 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

pdf

text

original

 
BAB II
 MADRASAH 
PADA MASA KLASIK ISLAM
A. Lembaga Pendidikan Islam Sebelum Lahirnya
 Madrasah
 
Berbicara mengenai lembaga pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari pandangan ataukonsep Islam itu sendiri mengenai pendidikan. Pendidikan Islam merupakan wujud dari pengaruh berbagai kebudayaan atau peradaban yang pernah ada dalam sejarah. Namundemikian para ahli pendidikan Islam biasanya berpandangan bahwa pendidikan Islammemiliki karakter dan tujuannya sendiri yang khas, karena ia didasarkan kepada tujuanyang bersifat metafisis-transendental, yaitu untuk mencapai keridlaan Allah SWT, didunia dan akhirat.Karena itu, kendatipun ilmu pengetahuan menempati kedudukan yang tinggi danterhormat di dalam konsep pendidikan Islam, tetapi ilmu pengetahuan itu bukanlah tujuandalam dirinya sendiri. Tujuan ilmu pengetahuan digariskan berdasarkan tuntunan wahyu,sebab ilmu pengetahuan itu sendiri berasal dari wahyu (baca: Allah SWT). Ilmu pengetahuan memperoleh maknanya yang hakiki jika ia mampu menghantarkan manusia(penuntut ilmu) kepada tujuannya yang hakiki pula, yaitu kedekatan (taqarrub) kepadaAllah, dan kebaikan kepada sesama manusia (akhlaqul karimah). Karena itu akhlak menempati posisi penting, bahkan sentral dalam pendidikan Islam. Hal ini merupakankelanjutan logis dari pernyataan Nabi Saw. sendiri bahwa beliau diutus membawa agamaIslam ke dunia ini untuk menyempurnaan keluhuran akhlak budi manusia.Jika demikian, pendidikan dalam Islam merupakan sarana untuk menuju ke arah penyempurnaan akhlak budi. Dengan kata lain, pendidikan dalam Islam adalahfungsiuntuk mencapai keluhuran akhlak budi, sedangkan lembaga pendidikan adalahaspek 
 
material untuk menjalankan fungsi tersebut. Pendidikan adalah substansinya,sedangkan
 
lembaga pendidikan adalah institusi atau pranatanya yang telah terbentuk secara ajeg dan
 
mapan di tengah-tengah masyarakat. Di bawah ini akan dibahas lebih lanjut konsep pendidikan Islam, bagaimana pulakedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam, kemudian dirangkaikan dengan pembahasanseputar lembaga-lembaga pendidikan yang pernah ada atau dikenal di masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangan agama Islam, terutama sebelum berdirinya
Madrasah
.
1. Konsep Pendidikan Islam
Istilah pendidikan Islam dapat dipahami dari tiga sudut pandang, yaitu: (a) pendidikan agama Islam (b) pendidikan dalam Islam (c) pendidikan menurut Islam.Dalam kerangka akademik, ketiga sudut pandang itu harus dibedakan dengan tegas,karena ketiganya akan melahirkan disiplin ilmu sendiri-sendiri. Pendidikan agama Islammenunjuk kepada proses operasional dalam usaha pendidikan ajaran-ajaran agama Islam.Pendekatan ini kelak menjadi bahan kajian dalam "Ilmu Pendidikan Islam Teoretis".
 
Pendidikan dalam Islam bersifat sosio-historis, dan menjadi bahan kajian dalam "SejarahPendidikan Islam". Sedangkan pendidikan menurut Islam bersifat normatif, dan menjadi bahan kajian dalam "Filsafat Pendidikan Islam".
1
 Sesuai dengan judulnya, yaitu Sejarah Perkembangan Madrasah, maka seluruhuraian dalam buku ini menggunakan pendekatan sosiohistoris. Namun demikian, khususdi bagian ini pembahasan mengenai konsep pendidikan Islam yang akan jyta kemukakanmenggunakan pendekatan normatif yang akan memberikan landasan filosofis supaya kitamengetahui lebih dahulu posisi kita sebagai manusia di hadapan Sang Pendidik Utama,yaitu Allah SWT. Pada bagian-bagian lainnya kita akan tetap menggunakan pendekatansosio-historis atau pendekatan sejarah.Konsep pendidikan Islam dimulai dengan konsep tentang manusia. Hal itu terlihatdengan jelas dalam surat al-Baqarah/2 ayat 31 dan 32 yang menceritakan bagaimanaTuhan mengajarkan kepada Adam nama-nama benda, kemudian Adam mengajarkannama-nama benda itu kepada para malaikat. Dua ayat itu terangkai dengan ayatsebelumnya, ayat 30, tentang penciptaan manusia, yang selengkapnya berarti demikian:Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Kemudian para malaikat menjawab,"Apakah Engkau akan menciptakan orang yang akan membuat kerusakan padanya danmenumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau danmensucikan Engkau? "Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."Begitulah Allah menciptakan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi, danseluruh ciptaan lainnya tunduk kepada manusia. Dalam surat al-Baqarah ayat 31dikisahkan bahwa setelah menciptakan Adam, Allah mengajarkan kepadanya nama-nama benda. Allah menciptakan benda-benda itu dari tidak ada menjadi ada (Q.S., al-Baqarah/2ayat 117); dan setiap unsur dalam ciptaan Allah memanifestasikan kekuasaan-Nya; setiapsubyek dalam ciptaan menunjukkan kualitas dan sifat-sifat Allah; setiap ciptaan adalahayatullah, isyarat-isyarat Allah, manifestasi kekuasaan Allah, simbol-simbol realitas.Maka ketika Allah mengajarkan Adam tentang nama-nama benda, tujuan-Nya bukan hanya agar ia tahu dan mengerti, tetapi juga sadar akan esensi ciptaan, sadar akansifat-sifat Allah dan hubungan antara Allah dan ciptaan-Nya. Integrasi kesadaranintelektual dengan kesadaran spiritual inilah yang menjadi dasar konsepsi pendidikanIslam sejak awal. Konsepsi pendidikan Islam dengan demikian sudah ada atau sudahsetua umur manusia itu sendiri. Konsepsi pendidikan Islam dibangun di atas dasar metafisika, di mana hubungan antaraTuhan sebagai Pencipta dan manusia sebagai subyek di muka bumi berada dalam suatu rangkaian orientasi religius dan kerangka etis. Manusiadalam konsepsi pendidikan Islam akan mencapai tujuannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardli) dan dapat menggunakan ilmu pengetahuan yang diberikan- Nya untuk kepentingan umat manusia.
Tajab, et. al.,
 Dasar-Dasar Kependidikan dalam Islam: Suatu Pengantar Ilmu Pendidika n Islam
,
1
dikutip dari Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya (Jakarta: Logos, 1999), h. 24-25.
 
Kerangka religius etis inilah, menurut Imam al-Ghazali, yang menjadi ciri khaskonsep pendidikan Islam. Kendati begitu, al-Ghazali tidak bermaksud mengabaikanmasalah-masalah dunia. Hanya baginya urusan dunia dan kebahagiaannya hanya faktor suplementer untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang lebih utama dan abadi. Duniaadalah ladang menuju akhirat. la merupakan tempat pengembaraan dan sarana menujukepada Allah, bukan tempat untuk menetap atau bertempat tinggal.Para penganut faham humanis-sekuler mungkin akan menolak konsepsi tentang"pengetahuan yang diwahyukan" yang menjadi dasar konsep pendidikan Islamsebagaimana digagas oleh Imam al-Ghazali. Tetapi mereka juga sulit menyangkal bahwamanusia pada dasarnya adalah makhluk spiritual. Konsepsi pendidikan Islam memberidasar yang kuat bagi spiritualitas, karena sejak awal sangat disadari bahwa Sang Pendidik yang hakiki tidak lain adalah Sang Pencipta.Dalam konsep Paulo Freire seorang praktisi dan teoritisi pendidikan radikal dariBrasil, dinyatakan bahwa pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mampu menjadikekuata penyadar dan pembebas manusia. Artinya, pendidikan harus embebaskan dan
2
menyadarkan manusia tentang adanya elemen-lernen yang menindas dalam struktur sosial.Dalam Islam, konsepsi pendidikan sebenarnya jauh lebih radikal dari itu. Konsepsi pendidikan Freire adalah dalam rangka hurnanisasi (manusia harus menjadi subyek).Menjadi subyek dalam hubungannya dengan dunia adalah memberi nama ("to narne"),dan "to name" adalah "to act" (memberi arti temporal terhadap ruang geografis denganmenciptakan kebudayaan). Dalam Islam, "to name" (yakni ketika Allah mengajarkanAdam nama-nama), tujuannya adalah agar ia sadar akan esensi ciptaan, esensi sifatTuhan, dan hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya. Dan "to act"-nya adalah menjadiwakil Tuhan di muka bumi (khalifah).
3
 Karena itu, sekali lagi, konsepsi dan filosofi pendidikan Islam sejak awal tidak hanya bersumber dari intelektualitas, melainkan juga spiritualitas. Dan dengan begitu,tujuan akhirnya sendiri sudah ditetapkan, yaitu Tuhan, Sang Pendidik Pertama, yangmenjadi Pusat untuk mendidik, mengontrol, dan membimbing manusia. Maka tema pemerdekaan dan pembebasan dalam konsepsi pendidikan Islam bukan hanya berkonotasi struktural (sosial politik) sebagaimana dikehendaki oleh Freire dan para pendukungnya, melainkan jauh lebih luas lagi. Yaitu, memotivasi semua aspek manusiawi untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan, yang berujung pada penyerahandiri secara mutlak kepada Allah, pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya. mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dj khalifahnya di
4
muka bumi, atau dengan kata yang lebih singl dan sering digunakan oleh Al-Qur'an,'untuk bertaqwa kepadanya'".
5
 
Paulo Freire,
 Pendidikan Kaum Tertindas
, edisi Indonesia Jakarta: LP3ES, 1985), h. 27.
2
Ahmad Gaus AF,
"Pendidikan Yang Memerdekakan" 
, dalam Mingguan Hikmah Jum'at No.
3
25/TH.VIII/1997 (Jakarta: Raudhatul Ilmi).
 Ibid 
.
4
M. Quraish Shihab
, Membumikan Al-Qur'an
(Bandung: Mizan, 1992), h. 173
 
5
 

Activity (73)

You've already reviewed this. Edit your review.
Giovani Tarega added this note
jazakallah... saya banyak ambil manfaat
1 thousand reads
1 hundred reads
Novrya Saputra liked this
saifulakbars liked this
Afdhal Duanks liked this
fco_cc added this note
salam saudara kalau boleh saya harap anda dapat kongsikan filee ini bersama saya.. email - blog.farahaznil@gmail.com
Khosyati Suwono liked this
Atina Rizqi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->