Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Ospek '08

Makalah Ospek '08

Ratings: (0)|Views: 862 |Likes:
Published by mohammad ilul
makalah untuk ospek mahasiswa
makalah untuk ospek mahasiswa

More info:

Published by: mohammad ilul on Nov 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

 
 Penyetaraan Jender dalamKkonteks Pendidikan di Era Global 
PENYETARAAN JENDER DALAM KONTEKS PENDIDIKANDI ERA GLOBAL
1
A. Pendahuluan
Diskursus jender (
 gender discourse
) dalam agenda feminisme kontemporer banyak memfokuskan pada persamaan hak, partisipasi perempuan dalam kerja, pendidikan,kebebasan seksual maupun hak reproduksi. Menurut Shorwalter, wacana jender mulairamai dibicarakan pada awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagimemakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, tetapi menggantinya dengan isuJender (
 gender discourse
).Dari kubu pro dan kontra feminisme, dari kritikan dan kecaman yang terlontar,Islam diantaranya yang paling mendapat banyak sorotan dalam kaitannya terhadap statusdan aturan yang diberikan agama ini terhadap kaum perempuan. Hegemoni Islam terhadap perempuan muslim di negara-negara Islam terlihat jelas dalam dalam praktek kesehariandi panggung kehidupan, dimana kaum perempuan mendapat kesulitan dalam bergaul,mengekpresikan kebebasan individunya, terkungkung oleh aturan yang sangat membatasiruang kerja dan gerak dinamisnya, bahkan suaranyapun tidak berarti layaknya seorangwarga negara atau anggota masyarakat atau hak seorang inddividu.Fenomena ini terlihat jelas di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,yang notabenenya adalah negara Islam. Namun benarkah demikian? atau justru Islam yangmenginspirasikan munculnya gerakan feminisme masa lalu dan menyuarakan persamaanhak antar laki-laki dan perempuan yang hidup dalam kondisi kronis pada masa itu?Makalah yang sederhana ini mencoba untuk memaparkan tentang permasalahanyang berkaitan dengan jender.
B. Pengertian Jender
Kata jender berasal dari bahasa Inggris berarti "
 jenis kelamin
". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-lakidan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.Di dalam Women's Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa jender adalah suatukonsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (
distinction
) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal
Sex & Gender 
 
an Introduction
mengartikan jender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan(
cultural expectations for women and men
). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaumfeminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuanseseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (What agiven society defines as masculine or feminin is a component of gender).H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan jender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-lakidan perempuan. Agak sejalan dengan pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikangender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksisosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dalam mana kita dapatmenggunakannya untuk menjelaskan sesuatu (Gender is an analityc concept whosemeanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try todefine it).
1
Disampaikan pada Acara PROSPEK STAI Miftahul Ulum Panyepen Pamekasan, Agustus 2008.
1
 
 Penyetaraan Jender dalamKkonteks Pendidikan di Era Global 
Kata jender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia,tetapi istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara UrusanPeranan Wanita dengan istilah "
 jender 
". Jender diartikan sebagai "interpretasi mental dankultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Jender biasanyadipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan".Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa jender adalah suatu konsepyang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat darisegi pengaruh sosial budaya. jender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasamasyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati. Dan Kajian-kajian tentang jender memang tidak bisa dilepaskan dari kajian teologis. Hampir semuaagama mempunyai perlakuan-perlakuan khusus terhadap kaum perempuan. Posisi perempuan di dalam beberapa agama dan kepercayaan ditempatkan sebagai the secondsex, dan kalau agama mempersepsikan sesuatu biasanya dianggap sebagai "as it should be" (keadaan sebenarnya), bukannya "as it is" (apa adanya).Ketimpangan peran sosial berdasarkan jender masih tetap dipertahankan dengandalih doktrin agama. Agama dilibatkan untuk melestarikan kondisi di mana kaum perempuan tidak menganggap dirinya sejajar dengan laki-laki. Tidak mustahil di balik "kesadaran" teologis ini terjadi manipulasi antropologis bertujuan untuk memapankanstruktur patriarki, yang secara umum merugikan kaum perempuan dan hanyamenguntungkan kelas-kelas tertentu dalam masyarakat.
C. Kedudukan Wanita Sebelum datangnya Islam
Status wanita dalam Islam akan lebih mudah dan jelas dipahami kalau kita terlebihdahulu melihat bentangan sejarah peradaban manusia tentang bagaimana wanitadiposisikan dalam masyarakat sebelum datangnya Islam. Apakah masyarakat pra-Islammemposisikan wanita sama, lebih baik atau bahkan lebih jelek? Menurut Jawad dalam bukunya "Sejarah Peradaban Manusia" mencatat bahwa kedudukan wanita, sebelumdatangnya Islam, sangat mengkhawatirkan, mereka tidak dipandang sebagai manusia yang pantas dihargai. Bahkan wanita tidak lebih dipandang sebagai makhluk pembawa sial danmemalukan serta tidak mempunyai hak untuk diposisikan di tempat yang terhormat dimasyarakat. Praktek yang
inhuman
ini tercatat berlangsung lama dalam sejarah peradabanmasyarakat terdahulu.Mendeskripsikan status wanita Yunani kuno, Badawi (1990) menulis:“….
 Athenian women were always minors, subject to some male
…”. Dalam tradisi Hindu,sebagaimana tertulis dalam
The Encyclopaedia Britannica
, bahwa ciri seorang isteri yang baik adalah wanita yang pikiran, perkataan, dan seluruh tingkah lakunya selalu patuh padasuaminya bagaimanapun seorang suami bersikap kepadanya. Dalam tradisi dan hukumRomawi Kuno bahkan disebutkan bahwa wanita adalah makhluk yang selalu tergantungkepada laki-laki. Jika seorang wanita menikah, maka dia dan seluruh hartanya secaraotomatis menjadi milik sang suami. Ini hampir sama dengan yang tertulis dalam
 EnglishCommon Law
, …
all real property which a wife held at the time of a marriage became a possession of her husband.
Dalam tradisi Arab, kondisi wanita menjelang datangnya Islam bahkan lebihmemprihatinkan. Wanita di masa
 jahiliyah
dipaksa untuk selalu taat kepada kepala sukuatau suaminya. Mereka dipandang seperti binatang ternak yang bisa di kontrol, dijual atau bahkan diwariskan. Arab
 jahiliyah
terkenal dengan tradisi mengubur bayi wanita hidup-hidup dengan alasan hanya akan merepotkan keluarga dan mudah ditangkap musuh yang pada akhirnya harus ditebus. Dalam dunia Arab
 jahiliyah
juga dikenal tradisi tidak adanya batasan laki-laki mempunyai isteri. Kepala suku berlomba-lomba mempunyai isterisebanyak-banyaknya untuk memudahkan membangun hubungan famili dengan suku lain.Ali Asghar Engineer (1992) bahkan mencatat kebiasaan kepala suku untuk mempunyai2
 
 Penyetaraan Jender dalamKkonteks Pendidikan di Era Global 
tujuh puluh sampai sembilan puluh isteri. Budaya
barbar 
penguburan hidup-hidup bayiwanita dan tidak adanya batasan mempunyai isteri dilarang ketika Islam datang, dan ini bagi Engineer adalah salah satu prestasi luar biasa peningkatan status wanita dalam Islam.Tradisi lain yang berkembang di masyarakat
 jahiliyyah
sebelum Islam datangadalah adanya tiga bentuk pernikahan yang jelas-jelas mendiskreditkan wanita.
 Pertama
adalah
nikah al-dayzan
, dalam tradisi ini jika suami seorang wanita meninggal, maka anak laki-laki tertuanya berhak untuk menikahi ibunya. Jika sang anak berkeinginan untuk menikahinya, maka sang anak cukup melemparkan sehelai kain kepada ibunya dan secaraotomatis dia mewarisi ibunya sebagai isteri.
 Kedua, zawj al-balad 
, yaitu dua orang suamisepakat untuk saling menukar isteri tanpa perlu adanya mahar.
 Ketiga
adalah
 zawaj al istibda
. Dalam hal ini seorang suami bisa dengan paksa menyuruh isterinya untuk tidur dengan lelaki lain sampai hamil dan setelah hamil sang isteri dipaksa untuk kembali lagikepada suami semula. Dengan tradisi ini diharapkan sepasang suami isteri memperoleh“bibit unggul” dari orang lain yang dipandang mempunyai kelebihan.Dari pemaparan bentuk-bentuk tradisi masyarakat pra-Islam terhadap wanita diataskita bisa berasumsi bahwa wanita sebelum Islam sangat dipandang rendah dan tidak dianggap sebagai manusia, mereka lebih dipandang sebagai barang seperti harta bendayang lainnya. Dengan asumsi ini kita dengan mudah akan melihat bagaimana Islammemposisikan wanita dan mencoba menghapus tradisi
 jahiliyah
tersebut
D. Feminisme dan Islam
Mendiskusikan kaitan feminisme dan Islam tak akan kita lepaskan dari kehadiranQur’an sebagai buku petunjuk samawi yang secara komprehensif dan lugas memaparkanhak asasi perempuan dan laki-laki yang sama, hak itu meliputi hak dalam beribadah,keyakinan, pendidikan, potensi spiritual, hak sebagai manusia, dan eksistensi menyeluruh pada hampir semua sektor kehidupan.Islam sangat memuliakan wanita. Al Qur'an dan as Sunnah memberikan perhatiayang sangat besar dan kedudukan yang terhormat kepada wanita, baik ia sebagai anak, ibu,saudara maupun peran lainnya. Begitu pentingnya hal ini sampai Allah mengabadikannyadalam Al Qur'an, Surat ini dikenal dengan surat
An-nisa’
yang di dalamnya membahas persoalan yang berkaitan dengan kedudukan, peranan dan perlindungan hukum terhadaphak-hak wanita. Lebih jauh lagi, Islam datang sebagai revolusi yang mengeliminasidiskriminasi kaum Jahiliyah atas perempuan dengan pemberian hak warisan, menegaskan persamaan status dan hak dengan laki-laki.Konsep yang paling familiar tentang kedudukan wanita dalam Islam yang seringdisebut al-Qur’an adalah konsep
equality
(persamaan).
 Equality, responsibility
(tanggung jawab)
dan accountability
(pertanggunganjawab) antara wanita dan laki-laki adalah temadalam Al-Quran yang sering ditekankan. Term persamaan antara laki-laki dan wanitadimata Tuhan tidak hanya terbatas pada hal-hal spiritual atau isu-isu religius semata, lebih jauh Al-Qur’an berbicara tentang persamaan hak antara laki-laki dan wanita dalam segalaaspek kehidupan.Menurut Al-Qur’an, wanita dan laki-laki mempunyai
 spiritual human-nature
yangsama. Dalam hal kewajiban
moral-spiritual
beribadah kepada Sang pencipta, sepertishalat lima waktu sehari semalam, puasa, zakat, haji, Al-Quran menekankan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita. Dan lebih dari satu ayat, Al-Qur’an menyebut bahwa siapa pun yang berbuat baik, laki-laki atau wanita, Tuhan akan memberikan pahala(
reward 
) yang setimpal. Firman Allah dalam Surat an Nahl; 97

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

3

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
silvia_romanova liked this
Incarian Renasa liked this
Chunk Back liked this
Tya Edward liked this
Riswan Sanah liked this
asep_zatnika liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->