Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
41Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
interaksi obat morbus hansen

interaksi obat morbus hansen

Ratings: (0)|Views: 2,220 |Likes:
Published by TIKA PUTRIYANTI

More info:

Published by: TIKA PUTRIYANTI on Nov 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

text

original

 
ABSTRACT
Back Ground:
Acute pharyngitis is an inflamation syndrome of pharyng caused by various microorganism with a prevalence of all ages, especially in children around 4-8 years old. Managementtherapy of acute pharyngitis includes bed rest, analgesic-antipiretic and antibiotics for causative treatment of acutebacterial pharyngitis. Leprosy
is a chronic infectious disease caused byMycobacterium Leprae; an intracellular obligate. Peripheral nerves is a maintarget organ, followed by skin, respiratory tract and various organs. High prevalence of leprosy is found in developing and poor country with registered patients of 224.727 worldwide. Treatment regimen aprooved by WHO is MDTL(Multi Drugs Therapy for Leprosy) paucibaciler and multibaciler.
Case:
An eight-year-old female pediatric patient, 18 kg in weight was diagnosedwith acute pharyngitis and was prescribed 60 mL Erythromycin syrup withconcentration of 200 mg/ 5mL; three times daily, 5 mL each. She had also beendiagnosed with Leprosy BB type since 5 months ago and received MDTL consistsof Rifampicine 450 mg once per month; Clofazimine 150 mg once per month and50 mg each two days; and Dapsone 50 mg per day.
Discussion:
Evaluation of the above prescription’s rationalisation revealed nodrugs interaction between erythromycin and MDTL regiment. There is accurateindication, accurate dose and dispensing form, with accurate route and interval, but inaccurate amount of erythromycin. Erythromycin should have been given for 5 days as much as 75 mL, but was only prescribed 60 mL which covered 4 days of treatment. Thus, the prescription of Erythromycin syrup is irrational.
Key words:
Acute pharingitis, Leprosy, erythromycin, MDTL1
 
PENDAHULUAN
Faringitis akut adalah suatu sindrom inflamasi dari faring yang disebabkanoleh beberapa grup mikroorganisme yang berbeda. Faringitis dapat menjadi bagian dari infeksi saluran napas atas atau infeksi lokal didaerah faring.
1
 Faringitis dapat terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jeniskelamin, dengan frekuensi yang lebih tinggi terjadi pada populasi anak-anak.Faringitis akut jarang ditemukan pada usia di bawah 1 tahun. Insidensinyameningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-8 tahun, tetapi tetap berlanjutsepanjang akhir masa anak-anak dan kehidupan dewasa.
2
Pada umumnya faringitis akut disebabkan oleh virus dan bakteri. Agen penyebab faringitis yang lain seperti Candida albicans sering didapatkan pada bayi dan orang dewasa dalam keadaan lemah atau imunosupresi.
3
Penatalaksanaan faringitis akut pada umumnya tidak memerlukan terapikhusus. Terapi simptomatis berupa tirah baring dan dapat diberikan analgesik danantipiretik. Terapi kausal berdasarkan agen penyebab. Antibiotik diberikan padakeadaan faringitis akut bakterial.
3
Lepra merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya ialah
Mycobacterium leprae
yang bersifat intrasellular obligat. Saraf perifer sebagaitarget organ pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas,kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat.
4
 Lepra pada umumnya dijumpai di negara-negara yang sedang berkembangsebagai akibat keterbatasan kemampuan negara dalam pemberian pelayanankesehatan yang baik dan memadai kepada masyarakat. Jumlah penderita lepra diseluruh dunia tercatat 224.727 orang pada tahun 2006.
5
Di Indonesia diketahui22.175 orang menderita lepra. Indonesia merupakan negara ketiga terbanyak  penderitanya setelah India dan Brasil dengan prevalensi 1,7 per 10.000 penduduk.
6
 Berbagai masalah dapat timbul akibat penyakit lepra, mulai dari segimedis maupun permasalahan sosial. Hingga saat ini, penyakit lepra masih sangatditakuti oleh masyarakat, keluarga termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini2
 
disebabkan masih kurangnya pengetahuan, pengertian, kepercayaan yang keliruterhadap kusta dan cacat yang ditimbulkannya.
6
 Pengobatan lepra bertujuan untuk memutus mata rantai penularan,menurunkan insiden penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita danmencegah timbulnya komplikasi akibat penyakit. Untuk mencapai tujuan tersebut,srategi pokok yg dilakukan didasarkan atas deteksi dini dan pengobatan penderita.Strategi pengobatan lepra mengacu pada regimen terapi WHO menggunakan tigamacam obat atau lebih dikenal dengan regimen
Multi Drugs Therapy
for Leprosy(MDTL) yang terdiri atas Rifampicine, Dapsone dan Lamprene. Regimen tersebutdiberikan selama 6 bulan pada tipe pausibasiler dan 12 bulan pada tipemultibasiler.
4
Seorang dokter berkewajiban untuk memberikan terapi obat yang rasional pada penderita yang didasarkan pada prinsip-prinsip pengobatan rasional berlandaskan pada lima tepat, yaitu tepat obat, tepat bentuk sediaan obat, tepatdosis, tepat cara dan waktu pemberian, serta tepat penderita. Makalah ini bertujuan untuk menganalisa rasionalitas terapi obat pada anak serta mempelajariaspek farmakologi dari obat-obat yang digunakan. Pembahasan difokuskanterhadap rasionalitas terapi Eritromisin pada penderita anak dengan faringitis akutyang juga menderita lepra dan telah menjalani pengobatan menggunakan regimenMDTL multibasiler bulan ke-5.3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->