yang dilandasi demokrasi, kebebasan berpendapat, kejujuran, mengembangkan sikaptoleransi dalam hidup, hukum sebagai panglima, maupun semangat reformasi menujumasyarakat madani. Semiawan (2000: 4) menyatakan bahwa kekerasan dan benturan- benturan sosial dapat dicegah sejak dini dengan mengedepankan kebersamaan dan pluralitas, prinsip-prinsip toleransi, dan anti terhadap segala bentuk kekerasan. Selarasdengan pendapat ini, melalui pembelajaran apresiasi sastra dapat dikembangkan pemikiran bahwa anak dilahirkan seperti sehelai kertas putih yang siap
ditulisi
pengalaman apresiasi yang membentuk pendidikan nilai moral. Pengalaman belajar apresiasi sastra dapat memberikan sumbangan bagi siswa untuk membentuk dirinyamenjadi makhluk yang mengedepankan nilai moral, sehingga membantu siswamencapai
point of arrival-
nya sebagai manusia Indonesia bermoral.
2. Pembahasan2.1 Kedudukan Pendekatan Kontekstual dalam Sistem Pembelajaran ApresiasiSastra
Pendekatan kontekstual dapat dijelaskan sebagai suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru menghubungkan kegiatan dan materi pembelajarandengan situasi nyata yang dapat memotivasi siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sebagai anggotakeluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat di mana siswa hidup (USDepartemen of Education, 2001).Ketika gagasan pendekatan kontekstual (
Contextual Teaching and
Learning) mulaimengemuka pada tahun1990-an, pandangan tokoh seperti Dewey (1918) danVygotsky (1968 ) yang menekankan perlunya pemberian kesempatan kepada siswauntuk menghubungkan kegiatan pembelajaran yang mereka alami dengan kontekskehidupan siswa yang sesungguhnya mulai dikaji kembali. Moll (1993: 1) mengutip pandangan Vygotsky yang menyatakan bahwa pendidikan bukan hanya berfokus pada pengembangan aspek kogintif, tetapi juga sebagai aktivitas sosiokultural yang sangatesensial. Mengikuti pendapat Vygotsky, Revière (1984) dalam Moll (1990)melakukan observasi, dan melaporkan bahwa sekolah (dan juga situasi pendidikaninformal lainya) sebagai “laboratorium budaya” terbaik untuk belajar berpikir denganlatar sosial yang secara khusus didesain untuk mengembangkan mengubah cara berpikir. Misalnya, pembelajaran menulis, merupakan bentuk organisasi sosial3