Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
13Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Multi Kultural Pendidikan

Multi Kultural Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 5,288|Likes:
Published by KAPTENBAMS

More info:

Published by: KAPTENBAMS on Nov 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/15/2013

pdf

text

original

 
Memelihara Integrasi Sosial dan Menegakkan HAM Melalui Pendidikan MultikulturalWritten by Prof Dr Conny Semiawan14 September 2003, Pendidikan, Ditjen HAMDalam lingkungan masyarakat Indonesia yang pluralistis di mana setiap anak yang mengalami berbagai jenis kebudayaan diharapkan belajar beradaptasi terhadap kebudayaan utama Indonesia(mainstream culture), upaya pendekatan belajar bagi setiap anak harus lebih banyak dikaji secaramendalam sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice, DAP)Sejak kemerdekaan bangsa ini maka telah disebutkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 bahwa setiapanak Indonesia berhak untuk belajar. UUD ini dilandasi oleh filsafat yang serasi dengan hak asasimanusia yang menjaga kedaulatan manusia yang memiliki hak untuk belajar. Selanjutnya dalam UU No.2 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dinyatakan bahwa setiap anak diberi hak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran, bahkan, lebih jauh lagi, pasal 8 ayat 2 UU Sisdiknas 1989,menyatakan juga bahwa perhatian khusus harus diberikan kepada anak yang kecerdasannya luar biasa(unggul, berbakat) dan anak yang memiliki perkembangan yang menyimpang (exceptional, dalam artihandicapped) (UU no.2 tahun 1989 ini masih untuk acuan sebab proses UU Sisdiknas tahun 2003 belum selesai, masih perlu peraturan pelaksana- Red). Ini berarti, bahwa secara legal sistem pendidikan dilandasi oleh suatu filsafat pendidikan yang mendalam yang mengakui perbedaan unik  pribadi individu. Artinya, keragaman, martabat serta perbedaan nilai dalam pertumbuhan anak Indonesia secara implisit mengandung peluang untuk mewujudkan azas eksploratif dan kecenderungankreatif dalam seluruh tumbuh kembangnya.Sistem Pendidikan Di Masa LaluPenyelenggaraan system pendidikan, di dalam dekade-dekade orde baru, sebagaimaan diungkapkanoleh Slamet Iman Santosa (Basis, 1998 : 6 dalam Qua VadisPendidikan di Indonesia), banyak “disetir” oleh political will. Artinya, seluruh sistem pendidikanmengacu pada kecenderungan politis. Para penguasa terlalu banyak mencampuri dan “mengarahkan“sistem pendidikan ini, sehingga apa yang disebut filsafat pendidikan nyaris tidak terefleksikan dalamsetiap tindakan pendidikan maupun pembelajaran. Sistem pendidikan, ataupun mungkin lebih sempitdari itu : sistem persekolahan terlalu banyak digunakan sebagai vehicle untuk transmisi sosialmembangun kehidupan bersama dan menomorduakan kebhinekaan demi keekaan. Konvergensi dankesamaan tujuan pembangunan. Dengan demikian membangun manusia Indonesia seutuhnyasebenarnya telah direduksikan dalam tindak pendidikan. Demikian pula tujuan pendidikan jugamengacu pada tujuan pembangunan bangsa dan negara yang menuntut konvergensi perilaku, bahkanhal-hal yang original, lateral dan baru dianggap mengganggu keselarasan dan kesesuaian corak kehidupan hari ini. Ini berarti, bahwa sistem pendidikan bersifat status quo karena kemungkinanmengadakan inovasi dan bertindak kreatif, menuntut divergensi berfikir dan originalitas yang kurangdiperhatikan karena suasana belajar sifatnya uniform. Disamping itu lebih diprioritaskan stabilitas dankeseragaman kontinuitas (Semiawan, C, 2000, op.cit : 21).Dampak Arus GlobalSeiring dengan perubahan struktur sosial yang dialami oleh masyarakat Indonesia dengan berlangsungnya proses transformasi menuju ke otonomi daerah maka sistem pendidikan mengacu padareformasi. Terjadinya reformasi berjalan bersama dengan tuntutan dan bahkan juga disebut ancamanarus global. Masalah reformasi pendidikan pada semua jenjang dan tingkat persekolahan di negeri kitayang tercinta ini dalam menghadapi era global menuju konsep masyarakat madani dan sejahtera yangkita cita-citakan memerlukan berbagai rancangan dan persiapan yang matang. Dalam arti perspektif 
 
teoritis pemenuhan kebutuhan pembangunan pada umumnya banyak terkait dengan pemenuhantuntutan teknologi dan tuntutan peningkatan tingkat keterampilan profesional yang pada gilirannyamenuntut peningkatan pendidikan.Dengan tersebarnya inovasi Iptek yang menyebar secara cepat di belahan dunia kita, diperlukankombinasi dengan atribut lain dalam penemuan dan penerimaan Iptek itu ke dalam kebudayaan berbangsa (Semiawan, C, dalam Semiawan, C, & Raka Joni, 1993 : 8 ). Dengan adanya kesenjangandari kemajuan Iptek dalam kehidupan sosial rakyat kita, yang dampaknya dapat kita rasakan sampai didalam kehidupan desapun, maka ternyata bahwa gejala globalisasi tersebut memaparkan tuntutan baru bagi kehidupan berbangsa. Penerusan ilmu pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia seta penyadaran masyarakat bahwa diperlukan penyesuaian sikap dan adaptasi sebagai atribut kehidupandalam kombinasi dengan kemampuan Iptek mengisyaratkan bahwa proses globalisasi memerlukan penanganan khusus (Semiawan, C, 1997, op cit : 8).Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikanmemenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fulfilled). Kurun waktumilenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berlangsung, dan abad ke-21 dan abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapunmengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidangekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia.Rekonseptualisasi Sistem PendidikanRekonseptualisasi sistem pendidikan beranjak dari rancangan pembelajaran dan implementasinya disistem persekolahan yaitu mengacu kepada pendidikan yang lebih bersifatan agent of change, yangmenumbuhkembangkan kreativitas, produktivitas dan prakarsa. Dengan demikian perlu diwujudkannilai-nilai baru dalam pendidikan, artinya pendidikan harus lebih berwibawa mengembangkan danmendukungkehidupan masyarakat dalam co-creating new values (Semiawan, C, 2000 : 25). Namununtuk mencapai kriteria tersebut dan dalam rangka dinamika sebagaimana digambarkan diatas makasektor pendidikan seharusnya bergerak mengupayakan suatu reformasi. Era reformasi ini telahmenuntut desentralisasi pendidikan yang selama ini diwarnai oleh ciri sentralisasi. Mindshift inimerupakan kesadaran intelektual yang adalah titik awal dari upaya reformasi. Namun begitu, ada baiknya khususnya dalam konteks pendidikan, kita juga meninjau kembali apa yang melandasi erareformasi ini sehingga jelas apa yang akan menjadi landasan kebijakan tersebut. Meskipun kita semuasadar bahwa harus terjadi perubahan, sehingga apa yang dikatakan intellectual mindshift benar terjadi,secara fair kita harus menoleh pada apa yang sudah dan apa yang tidak terjadi di masa lalu, artinya,apa yang menjadi landasan kebijakan pendidikan kita, khususnya dan terutama pada tingkat pendidikan dasar (yaitu yang mencakup sekolah dasar dan menengah). Di dalam suasana hiruk pikuk ini sektor pendidikan harus tetap berperan. Perannya adalah seperti tadi dinyatakan, co-creating newvalues dengan memperhatikan pola pemukiman peserta didik, pola distribusi sumber strategi, pola prasangka dalam masyarakat, kontrol efektif terhadap kekuasaan serta penerapan prinsip meritokrasidalam pendidikan yang bersifat multikultur.Berbeda dari masa lalu, masyarakat baru yang sedang belajar menjadi masyarakat demokratis harus juga tidak terlalu “menguasai” kebijakan pendidikan itu menyimpang dari kebijakan nasional yangsudah ada secara legal. Guru harus memiliki taraf kebebasan tertentu untuk memberikan peluang pada peserta didiknya untuk belajar aktif, berbeda dari jawaban yang tersedia di pedoman kunci jawabanguru, apabila suatu persoalan memiliki kemungkinan lebih dari suatu jawaban. Ini berarti bahwafilsafat yang telah dilancarkan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing MadyoMangun Karso, Tut Wuri Handayani paling mendekati visi pendidikan yang kecenderungannya adalahmenyulut aktualisasi potensi seseorang menuju pada the spirit to create and innovate. Seharusnya
 
filosofi ini menjadi pedoman serta acuan kita karena setiap anak yang berbeda bakatnya itumenghidupi berbagai budaya, yang berbeda-beda pula, artinya, manusia adalah seorang individu yangunik sekaligus juga mahluk sosial yan majemuk . inilah paradoks perkembangan manusia.Aspek SosialDi dalam reformasi pendidikan yang berjalan bersamaan dengan proses otonomi daerah, maka beberapa aspek sosial yang terkait dengan intervensi lingkungan harus diselesaikan dalam jangka panjang maupun jangka pendek, seiring dengan landasan kebijakan nasional pendidikan. Asumsinyaadalah bahwa perubahan sosial yang terjadi akan berdampak terhadap seluruh sistem pndidikan perludifikirkan. Pada tahun 2000 sekelompok ilmuwan (kurang lebih 400 orang), yang independent,diprakarsai oleh Nurkholis Madjid, Emil Salim, Andi Malarangeng dan lain-lain berkumpul di Balimencari solusi terhadap masalah keterpurukan total negara kita. Sekelompok ilmuwan sosial di mana penulis adalah salah seorang anggotanya, mengajukan beberapa rekomendasi, antara lainPerlu penyelesaian jangka panjang, yaitu :a. Pemetaan sosial (social mapping) untuk mencegah dan mengatasi konflik etnis.• Pola permukiman (settlement pattern).• Pola distribusi sumber-sumber strategis (strategic resources).• Pola prasangka (realitas subyektif) dalam interaksi. b. Kontrol efektif terhadap kekuasaan. Sentralisme kekuasaan birokratis terbukti telah menciptakanstruktur masyarakat yang tidak adil dan berakibat suburnya tindak kekerasan sosial.c. Penerapan prinsip penghargaan pada prestasi (prinsip meritokrasi). Ikatan-ikatan primordialismeyang terintegrasi dengan sentralisme kekuasaan birokratis terbukti telah menciptakan tatanan sosialyang bertumpu pada ikatan-ikatan komunal yang menjadi lahan subur bagi munculnya tindak kekerasan komunal.d. Pendidikan multikultur. Proses perubahan sosial telah membawa masyarakat ke dalam kehidupanyang kompleks dan plural. (Forum Rembug Nasional, 2000:10).Upaya penataan pranata dan prasarana sosial di luar lingkungan sekolah sebagaimana di gambarkan diatas itu adalah terutama ikhtiar menangkal dan meninggalkan primordialisme, yang kini sempatmenjadi kecendrungan yang makin meningkat di tanah air kita.Visi Pendidikan Multikultur Tanpa menutup mata akan adanya kemungkinan isu-isu kritis lain yang menyertai reformasi ini, namuntekad untuk tetap berkontribusi terhadap pembangunan kehidupan bangsa melalui pencerdasannyaadalah suatu niat yang bersumber dari kehidupan bangsa melalui pencerdasannya adalah suatu niatyang bersumber dari refleksi yang mendalam dari kekuatan religius bangsa dalam kehidupan bertakwakepada Allah SWT dan berawal dari suatu intellectual mindshift.Kalau titik awalnya (TA, Point of Depature : POD) sudah jelas, yaitu kita menyadari (mindshift) bahwa kita belum terlepas dari krisis multi dimensional, maka ke mana anak kita akan kita bawa; kemana titik tibanya (TT) atau Point of Arrival (POA).Perspektif masa depan kita dilukiskan sebagai masyarakat madani yang beragama, ditandai olehkebersamaan dalam kebhinekaan yang dilandasi oleh keadilan dan kesejahteraan yang berkesinambungan serta dalam keserasian dengan kecendrungan global. Inilah TT kita. Denganmemahami visi tentang perjalanan yang harus di tempuh akan mencapai TT bangsa ini, makakemudian perlu difahami bagaimana caranya mencapai cita-cita tersebut.Dalam kaitan dengan reformasi pendidikan, maka apa yang menjadi landasan filsafat pendidikanadalah UUD 1945 pasal 31 ayat 1, yang menyebutkan bahwa setiap anak Indonesia berhak untuk  belajar. Dengan demikian, maka berdasarkan landasan bahwa setiap anak itu adalah individu yang berbeda satu dengan lainnya dengan beragam bakat dan watak, pengalaman belajar harus menjadi pengaruh yang bersifat personal, bermakna dan beragam. Konsekunsinya adalah bahwa paradigma pendidikan menuju sistem desentralisasi dalam otonom daerah mengacu pada keharusan pendidikan

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Srie Marryantie liked this
Rina Fitriana liked this
fahraz liked this
Heni Rahmawati liked this
h4ik4l liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->