/  7
 
Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
- 1 -
Tiga Detik 
Oleh: Aluna Soenarto
Sebelumnya, rasanya hidupku gelap, pekat, hingga lama-kelamaan kedua mataku dapat melihatdalam kegelapan. Namun ketika dia datang, dia memberikan sebuah cahaya. Sebuah harapan yangmenyinari kehidupanku. Dan sesaat pun aku dapat melihat segala sesuatu yang semula hanya dapat akulihat melalui kegelapan. Nyatanya dunia ini sangat indah, begitu mempesona, dibandingkan jika hanyadilihat melalui kegelapan. Di sini terdapat banyak warna bahkan terkadang muncul pelangi yang berwarna-warni. Lalu perlahan dia meraih tanganku dan menggenggamnya seolah tak ingin lepas. Namun lama kelamaan cahaya yang dibawanya semakin terang. Sangat terang. Hinggamembutakan mataku. Membuat aku tidak dapat melihat lagi. Membuatku merasa jauh lebih butadaripada saat aku berada dalam kegelapan. Dan saat aku buta, aku tidak sanggup meraih sesuatu untuk  berpegangan sehingga ketika dia melepaskan genggaman tangannya, aku limbung dan jatuh…Aku telah jatuh selama lebih dari satu tahun. Bukan waktu yang singkat jika ini dikaitkandengan sebuah perasaan wanita yang terluka. Tapi nyatanya sampai detik ini aku tak pernah bisamembencinya, marah padanya, atau melemparkan sepatu hak tinggiku ke jidatnya supaya otaknya berhenti melantur.Apakah ini karena dia adalah cinta sejatiku? Hingga dia tak pernah bisa lepas dari pikiranku.Atau karena selama ini aku hanya terbutakan oleh cahayanya? Terbutakan oleh cinta palsunya sehinggaselalu berpikir jika suatu saat dia pasti akan menyadari ketololannya dan kembali padaku?Yeah, aku akui, aku memang sangat menyedihkan. Masih saja berharap pada seorang lelaki bejat yang terang-terangan telah menghancurkan hatiku dan membuatku hampir gila saat menyadari bahwa saat itu bukan aku saja satu-satunya wanita yang diberi cahaya olehnya. Namun harus kuakui, sulit sekali untuk menghapuskan dia dari dalam memori ingatanku.Bukan karena penampilan fisiknya yang sejajar dengan penampilan para pangeran berkuda putih yangdiceritakan dalam dongeng. Bukan juga karena dia adalah salah satu pewaris kekayaan keluarganyayang berlimpah ruah (dan dari kabar burung yang tersiar kekayaan keluarganya tidak akan habisdimakan tujuh turunan). Atau senyumannya yang mampu membuat wanita manapun meleleh.Ya, ya, ya….dia memang sangat tampan dan sangat kaya. Tapi apalah artinya semua itu jika diahanyalah seorang lelaki bejat.Tapi bagaimana pun juga, aku benar-benar jatuh hati padanya. Bukan karena embel-embelnyatapi aku memang mencintai dirinya. Aku mencintai Erick. Seolah dia merupakan bagian dari duniaku,sehingga ketika dia pergi, duniaku seakan runtuh.
 
Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
- 2 -
Kisah percintaan kami bisa dibilang sangat unik. Singkatnya, dia adalah teman sekampusku,kami sekelas dan sejurusan. Namun aku sama sekali tidak mengenalnya karena tampaknya dia hanyasenang bergaul dengan teman sederajat. Anak-anak pejabat, orang kaya, atau anak-anak yang suka ke
clubbing 
dan hura-hura. Dan aku bukanlah tipe manusia seperti itu.Aku hanyalah cewek yang tidak begitu populer di kelas, aku datang ke kampus bukan untuk mejeng, dan aku hanya berani melihatnya dari kejauhan. Selama lebih dari dua tahun. Selalu melihatnyadikejauhan. Karena sulit sekali mendekati seorang pangeran. Apalagi seorang Erick dengan
bodyguard 
 (baca: teman-teman se-geng) dan cewek-cewek yang numpuk disekitarnya. Namun doa orang teraniaya memang banyak yang terkabul dan itu terjadi padaku (padahal akutidak terlalu teraniaya, aku hanya
ngarep
bisa ngobrol berdua dengan dia).Erick menyapaku. Erick mengajakku ngobrol. Dan dia mengenaliku.Oke, mungkin ini agak berlebihan namun kaget juga saat mengetahui bahwa dia mengenalkuwalaupun kami tidak pernah saling berjabat tangan untuk berkenalan tapi kalau dipikir-pikir wajar sajadia mengenalku karena kami teman sekelas dan Erick bukanlah pengidap
down syndrome
.Sejak saat itu aku tidak pernah merasa penasaran lagi karena aku hanya berpikir bahwa diahanyalah sebuah obsesi. Obsesi untuk ngobrol dengan cowok populer di kampus. Walaupun obsesi itu bisa dikategorikan sebagai obsesi
cetek 
.***Setelah Borobudur masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia, kini ada lagi keajaiban ke delapanyang terjadi namun belum tercatat: Erick menyapaku. Sang pangeran tersenyum dan menyapa seorangcewek jelata sepertiku. Ini benar-benar suatu keajaiban dunia dan layak untuk diakui secarainternasional.“Wuih, manis bener senyumnya, Ky,” goda Deang, salan satu sahabatku yang menjadi saksimata keajaiban itu terjadi.Aku pun hanya tersipu malu.Lalu keajaiban pun terus berlanjut ke sembilan. Erick mengajakku ngobrol lagi sewaktu kami berdua tengah antre mengambil nilai IPK di dosen wali karena kebetulan kami satu dosen wali.Dia tersenyum padaku sebelum menyapaku, “Halo Okky. Ngambil KHS
1
juga ya?”Syok, kaget, lalu tersipu aku menjawab, “Eh, iya, Rick.”Kemudian keajaiban terus menunjuk ke angka sepuluh. Erick mengajakku nonton.Mungkin ini terlihat sangat wajar jika kita diajak teman sekampus untuk nonton namun inimenjadi tidak wajar saat seorang pangeran (okelah aku memang berlebihan karena dia bukan pangeran betulan) yang biasanya dikelilingi oleh dayang-dayang cantik mengajakku nonton.Dengan sejuta alasan aku melontarkan penolakan halus seperti: aku nanti sore ada les mandarin(
nanti aku anterin ke tempatmu les, deh, habis dari bioskop
)
2
, dompetku ketinggalan (
 gampang, biar 
1
Kartu Hasil Studi
2
Jawaban Erick 
 
Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
- 3 -
aku yang traktir 
), aku ga ada temen (
 Lhah? Trus aku ini bukan temen?
) lalu dalam hati aku jawab: bukan temen, tapi calon pacar. Dan penolakan terakhirku sangat memalukan:
aku kan kayak gembel begini, mana tadi gak sempet pakai bedak.
Kalau yang ini memang penolakan yang jujur karena padasaat berangkat, aku tidak dandan seperti layaknya ketika aku masuk kuliah sebab aku berpikir hanyaakan mengambil KHS saja terus pulang. Sama sekali tidak berpikir bahwa akan ada kejadian emerjensiseperti ini yang akan terjadi.Dia memandangku lalu tersenyum, “Kamu sudah cantik kok. Walau tanpa
make up
.”Yeah, kalau didengerin memang terdengar sangat gombal apalagi yang ngucapin adalahseorang playboy kelas ikan paus seperti Erick. Tapi dasar akunya lagi kesengsem berat, jadinyalangsung aku telan mentah-mentah semua rayuan pulau kelapanya itu.***Aku ingat judul filem yang kami tonton ketika itu: Twilight. Dan jujur saja sampai dua mingguyang lalu aku masih menyimpan sobekan tiket bioskop tersebut dalam dompetku seolah tiket itu telahmenjelma sebagai SIM untuk jalan berdua dengan Erick karena aku selalu membawanya kemana punaku pergi. Sangat menyedihkan bukan? Nonton filem romantis, dikegelapan bioskop, dengan dikelilingi oleh pasangan-pasangan lainyang mengelu-elukan cinta, dan bersama seorang obsesi untuk dijadiin pacar adalah sebuah mimpi buruk!Bagaimana tidak? Saat adegan ciuman antara Bella dan Edward, sepasang cowok cewek yangduduk di sebelahku malah mempraktekan adegan yang sama, lalu pasangan lain yang duduk di depankulangsung merangkul ceweknya dan itu semua membuat aku yang tengah mengunyah popcorn menjadi berkeringat dingin. Berkeringat dingin karena aku takut kalau-kalau Erick meniru pasangan-pasangan disekitar kami dan tampaknya cuma aku yang
ngarep
karena terbukti
obsesiku
itu tidak begituterpengaruh dengan keadaan ‘panas’ disekelilingnya. Dan ajaibnya, dia malah tertawa! Seolah adegantersebut sangat konyol dimatanya.Begitu keluar dari bioskop, aku langsung bernafas lega. Lega karena seenggaknya jantungkunggak perlu ditransplantasi karena selama di dalam bioskop terus-terusan berdebar diatas frekuensiwajar sehingga aku sampai takut kalau pada akhirnya akan terkena serangan jantung.Tapi tampaknya Erick memiliki hobi baru, yaitu membuat debar jantungku naik turun seperti
rollercoaster 
. Sebab tak lama setelah kami berjalan keluar bioskop, dia mengajakku makan.Oke, sekali lagi, mungkin ini tampak sangat biasa bagi banyak orang. Tapi buatku, diajak makan berdua dengan seorang obsesi yang memenuhi pikiran selama hampir dua tahun bukanlahsesuatu yang biasa. Duduk semeja hanya berdua. Saling berhadap-hadapan berdua. Tidak menutupkemungkinan kedua mata elangnya akan menatapku dengan pandangan mengintimidasi. Lalu pasti diaakan mengajakku ngobrol dan pasti aku lebih terlihat gugup daripada nonton bioskop tadi. Karena saatnonton bioskop, aku tidak perlu repot-repot memandangnya karena aku sedang fokus dengan layar 

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...