Barat. Di wilayah yang disebut terakhir itu pula sesungguhnya sasaran akhir gagasan Takdir secaramenyeluruh. Latar seperti itu pula yang menjadi habitat upaya penerbitan Majalah
Pujangga Baru
lengkapdengan komunitas pendukungnya.Mulanya, konsep “Pujangga Baru” merupakan sebuah upaya Takdir menggagas tradisi kesusastraanMelayu yang baru di Hindia Belanda di bawah pengaruh kebudayaan Barat. Sebab, menurutnya, hanyadengan pendekatan baru di bawah pengaruh kebudayaan Barat, kesusastraan Melayu dapat diperkaya.Melalui gagasan tersebut, Takdir seperti membayangkan akan adanya suatu pencerahan dalam tradisikesusastraan Melayu sebagaimana yang pernah dicapai Tachtigers (Angakatan 1880) yangmenunjukkan kebangkitan kembali kesusastraan Neoromantik di Belanda pada abad ke-19. Kritik-kritikTakdir pada kesusastraan yang berkembang selama 1920-an pun sering menggunakan terminologiTachtigers.Gagasan itu ingin dijadikan Takdir sebagai suatu gerakan. Untuk itu, dia mencoba mencari dukungan.Ketika Armijn Pane mendukung gagasannya, Takdir menyatakan pentingnya dibentuk organisasipengarang yang siap mendukung dan menyebarluaskan gagasan itu. Tapi, Armijn tak setuju. Yang lebihutama, menurutnya, adalah penerbitan majalah kesusastraan yang bebas, tidak seperti yang dilakukanMajalah
Balai Pustaka
dengan kebijakan redaksional yang membatasi. Perhimpunan pengarang tanpapenyambung lidah, tambahnya, amat kecil artinya dalam mencapai tujuan. “Kalau sudah ada majalah itu,akan adalah pemartabatan pujangga semuanya, sedang kalau ada perkumpulan dan tiada majalahnya,maka maksud perkumpulan itu tiada akan banyak tercapai,” tulis Armijn kepada Takdir dalam satusuratnya tertanggal 18 November 1932.Sambil terus mencari dukungan dari pengarang-pengarang muda dari pelbagai pelosok Nusantara, yangdilakukan melalui surat edaran yang dibikin Armijn, Takdir dan Armijn terus mengupayakan kehadiranpenerbitan majalah kesusastraan itu. Januari 1933, Armijn menyambangi Jakarta. Dalam pertemuandengan Takdir dan Amir Hamzah, teman Armijn ketika di
algemene middelbare school
(
AMS
) Solo, JawaTengah, anggaran dasar yang telah disusun Armijn untuk pembentukan organisasi pengarangdidiskusikan. Tujuannya adalah memajukan dan meningkatkan kesusastraan Indonesia berdasarkanbahasa Melayu (
sic!
) dan kegiatan utama untuk mencapai tujuan itu adalah penerbitan majalah sastra.Hasil pertemuan itu kemudian disosialisasikan melalui surat edaran kepada 40 nama yang sebelumnyapernah disurati Armijn. Surat edaran tersebut terutama untuk menjajaki respons para pengarang itutentang mana yang akan didahulukan: organisasi pengarang atau majalah. Ternyata, pendapat Armijnyang menang: mereka setuju agar dimulai dengan penerbitan majalah sebelum dibentuk organisasipengarang. Akhirnya, nomor pertama majalah itu terbit pada Juli 1933. “Nama ma jalah itu ialah
PujanggaBaru
Namun, setelah kekuasaanHindia Belanda beralih dari Belanda ke Jepang, cita-cita perjuanganPujangga Baru gagal menar ik minat para sastrawan generasi berikutnya. Cara pendekatan PujanggaBaru yang bersifat romantis, sentimental, dan kedaerahan dianggap tak sesuai sama sekali untuksuasana yang menuntut tindakan, bukan impian.[2].Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho)
yang didirikan Pemerintah Jepang di Jakarta juga hadir untuk mengorganisasi para pengarang danseniman Indonesia selama 1942-1945 demi tujuan politisnya[3].
Keith Foulcher,
Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia1933-1942
, terjemahan Sugiarta Sriwibawa (Jakarta: PT Girimukti Pasaka, 1991),hlm.14-23.
Sastra Baru Indonesia
(Ende: Penerbit Nusa Indah, 1980), hlm. 149.[3]Pamusuk Eneste, editor,
Buku Pintar Sastra Indonesia
, edisi ketiga (Jakarta: Penerbit Buku Kompas,2001), hlm. 122.
Iwan Simatupang adalah seorang penulis hebat yang lahir mendahului zaman. Seorangsastrawan angkatan 50-60-an yang mendapat tempat di zaman 66-70. Pada masanya, karyasasteranya iaitu novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian bahkan seringmenimbulkan salah faham. Mungkin kerana ia lahir mendahului zamannya. Salah satu karyanyayang terkenal ialah novel Ziarah.
Leave a Comment