• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Untukmenyokongsemangatpergerakannasional, padaperiode 1920-andan 1930-an,banyak tokohnasional,termasuk parasastrawan,mencobamencari danmerumuskanidentitaskebudayaanMelayu (baca:Indonesia):apakahkebudayaanMelayu mestidigali darikhazanah aslikebudayaan yanghidup diNusantara atauberkaca padakebudayaanBarat. Di bidangkesusastraan,pertanyaantersebut dijawabSutan Takdir Alisjahbanadengan mencobamenerobosaturan-aturanyang kaku yangselama inidiberlakukanBalai Pustaka.Takdir menginginkanhadirnyakesusastraanbaru yangberkaca padakesusastraanBarat, yangnotabenebecermin padakebudayaanSanusi Pane (1905-1968)
Sastrawan Pujangga Baru
 Sanusi Pane, sastrawan Indonesia angkatan PujanggaBaru. Pria kelahiran Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14November 1905, ini juga berprofesi sebagai guru danredaktur majalah dan surat kabar. Ia juga aktif dalam duniapergerakan politik, seorang nasionalis yang ikutmenggagas berdirinya “Jong Bataks Bond.” Karya-karyanya banyak diterbitkan pada 1920 -1940-an.Meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968.Bakat seni mengalir dari ayahnya Sutan PengurabaanPane, seorang guru dan seniman Batak Mandailing diMuara Sipongi, Mandailing Natal. Mereka delapanbersaudara, dan semuanya terdidik dengan baik olehorang tuanya. Di antara saudaranya yang juga menjaditokoh nasional,adalah Armijn Pane (sastrawan), danLafran Pane salah (seorang pendiri organisasi pemudaHimpunan Mahasiswa Islam). Sanusi Pane menempuh pendidikan formal HIS dan ElS diPadang Sidempuan, Tanjungbalai, dan Sibolga, SumateraUtara. Lalu melanjut ke MULO di Padang dan Jakarta,tamat 1922. Kemudian tamat dari Kweekschool (SekolahGuru) Gunung Sahari, Jakarta, tahun 1925. Setelah tamat,ia diminta mengajar di sekolah itu juga sebelumdipindahkan ke Lembang dan jadi HIK. Setelah itu, iamendapat kesempatan melanjut kuliah Othnologi diRechtshogeschool.Setelah itu, pada 1929-1930, ia mengunjungi India.Kunjungan ke India ini sangat mewarnai pandangankesusasteraannya. Sepulang dari India, selain aktif sebagai guru, ia juga aktif jadi redaksi majalah TIMBUL(berbahasa Belanda, lalu punya lampiran bahasaIndonesia). Ia banyak menulis karangan-karangankesusastraan, filsafat dan politik.Selain itu, ia juga aktif dalam dunia politik. Ikut menggagasdan aktif di “Jong Bataks Bond.” Kemudian menjadianggota PNI. Akibat keanggotannya di PNI, ia dipecatsebagai guru pada 1934. Namun sastrawan nasionalis initak patah arang. Ia malah menjadi pemimpin sekolah-sekolah Perguruan Rakyat di Bandung dan menjadi gurupada sekolah menengah Perguruan Rakyat di Jakarta.Kemudian tahun 1936, ia menjadi pemimpin surat kabar Tionghoa-Melayu KEBANGUNAN di Jakarta. Lalu tahun1941, menjadi redaktur Balai Pustaka.Sanusi Pane sastrawan pujangga baru yang fenomenal.Dalam banyak hal berbeda (antipode) dari Sutan Takdir Alisjahbana. Jika STA menghendaki coretan yang hitamdan tebal dibawah pra-Indonesia, yang dianggapnya telahmenyebabkan bangsa Indonesia telah menjadi nista,Sanusi malah berpandangan sebaliknya, mencari ke
 
Barat. Di wilayah yang disebut terakhir itu pula sesungguhnya sasaran akhir gagasan Takdir secaramenyeluruh. Latar seperti itu pula yang menjadi habitat upaya penerbitan Majalah
Pujangga Baru 
lengkapdengan komunitas pendukungnya.Mulanya, konsep “Pujangga Baru” merupakan sebuah upaya Takdir menggagas tradisi kesusastraanMelayu yang baru di Hindia Belanda di bawah pengaruh kebudayaan Barat. Sebab, menurutnya, hanyadengan pendekatan baru di bawah pengaruh kebudayaan Barat, kesusastraan Melayu dapat diperkaya.Melalui gagasan tersebut, Takdir seperti membayangkan akan adanya suatu pencerahan dalam tradisikesusastraan Melayu sebagaimana yang pernah dicapai Tachtigers (Angakatan 1880) yangmenunjukkan kebangkitan kembali kesusastraan Neoromantik di Belanda pada abad ke-19. Kritik-kritikTakdir pada kesusastraan yang berkembang selama 1920-an pun sering menggunakan terminologiTachtigers.Gagasan itu ingin dijadikan Takdir sebagai suatu gerakan. Untuk itu, dia mencoba mencari dukungan.Ketika Armijn Pane mendukung gagasannya, Takdir menyatakan pentingnya dibentuk organisasipengarang yang siap mendukung dan menyebarluaskan gagasan itu. Tapi, Armijn tak setuju. Yang lebihutama, menurutnya, adalah penerbitan majalah kesusastraan yang bebas, tidak seperti yang dilakukanMajalah
Balai Pustaka
dengan kebijakan redaksional yang membatasi. Perhimpunan pengarang tanpapenyambung lidah, tambahnya, amat kecil artinya dalam mencapai tujuan. “Kalau sudah ada majalah itu,akan adalah pemartabatan pujangga semuanya, sedang kalau ada perkumpulan dan tiada majalahnya,maka maksud perkumpulan itu tiada akan banyak tercapai,” tulis Armijn kepada Takdir dalam satusuratnya tertanggal 18 November 1932.Sambil terus mencari dukungan dari pengarang-pengarang muda dari pelbagai pelosok Nusantara, yangdilakukan melalui surat edaran yang dibikin Armijn, Takdir dan Armijn terus mengupayakan kehadiranpenerbitan majalah kesusastraan itu. Januari 1933, Armijn menyambangi Jakarta. Dalam pertemuandengan Takdir dan Amir Hamzah, teman Armijn ketika di
algemene middelbare school 
(
 AMS 
) Solo, JawaTengah, anggaran dasar yang telah disusun Armijn untuk pembentukan organisasi pengarangdidiskusikan. Tujuannya adalah memajukan dan meningkatkan kesusastraan Indonesia berdasarkanbahasa Melayu (
sic! 
) dan kegiatan utama untuk mencapai tujuan itu adalah penerbitan majalah sastra.Hasil pertemuan itu kemudian disosialisasikan melalui surat edaran kepada 40 nama yang sebelumnyapernah disurati Armijn. Surat edaran tersebut terutama untuk menjajaki respons para pengarang itutentang mana yang akan didahulukan: organisasi pengarang atau majalah. Ternyata, pendapat Armijnyang menang: mereka setuju agar dimulai dengan penerbitan majalah sebelum dibentuk organisasipengarang. Akhirnya, nomor pertama majalah itu terbit pada Juli 1933. “Nama ma jalah itu ialah
PujanggaBaru 
, sebab majalah itulahakan jadi penambat pujangga-pu jangga muda, pujangga-pujangga baru yangsekarang. Di situlah merekaitu bersuara sebebas-bebasnya,” tulis surat edaran tertanggal 8 Februari1933.[1]
 
Namun, setelah kekuasaanHindia Belanda beralih dari Belanda ke Jepang, cita-cita perjuanganPujangga Baru gagal menar ik minat para sastrawan generasi berikutnya. Cara pendekatan PujanggaBaru yang bersifat romantis, sentimental, dan kedaerahan dianggap tak sesuai sama sekali untuksuasana yang menuntut tindakan, bukan impian.[2].Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) yang didirikan Pemerintah Jepang di Jakarta juga hadir untuk mengorganisasi para pengarang danseniman Indonesia selama 1942-1945 demi tujuan politisnya[3].
Keith Foulcher,
Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia1933-1942
, terjemahan Sugiarta Sriwibawa (Jakarta: PT Girimukti Pasaka, 1991),hlm.14-23.
[2]A. Teeuw,
Sastra Baru Indonesia
(Ende: Penerbit Nusa Indah, 1980), hlm. 149.[3]Pamusuk Eneste, editor,
Buku Pintar Sastra Indonesia
, edisi ketiga (Jakarta: Penerbit Buku Kompas,2001), hlm. 122.
Iwan Simatupang adalah seorang penulis hebat yang lahir mendahului zaman. Seorangsastrawan angkatan 50-60-an yang mendapat tempat di zaman 66-70. Pada masanya, karyasasteranya iaitu novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian bahkan seringmenimbulkan salah faham. Mungkin kerana ia lahir mendahului zamannya. Salah satu karyanyayang terkenal ialah novel Ziarah.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...