oleh
Dasein.
Inilah nama baru bagi manuisa. Heidegger tidak pernah menyebut manusiadalam bukunya melainkan
Dasein.
2.1
Dasein: Mengada yang Menampakkan Ada
Dalam filsafat Heidegger,
Dasein
muncul tatkala ia kembali memunculkan konsepada.
Dasein
ini dihadirkan sebagai “ Ada di sana” (ruang dan waktu). Pada point ini,dasein berbeda dengan benda-benda material seperti yang ada di dunia. Misalnya: pohon,rumah, kursi dan sejenisnya.
Dasein
terus terlibat dan melibatkan diri, berpengaruh danmemengaruhi alam sekitarnya. Keberadaan
Dasein
dipahami sebagai yang lebih bersifatmendunia, artinya ia memahami dirinya sebagai yang terkait dengan benda-benda lain.Dengan konsep ini, dasein memiliki eksistensi yang menyejarah, meruang danmewaktu, tetapi ia bukan benda-benda yang ada di dalam ruang dan waktu itu.Pernyataan ini meruntuhkan kepastian, absolutitas, universalitas, obyektivitas, yangditegaskan ratio. Artinya, kebenaran-kebenaran yang diusung oleh metafisika barat yangmengusung ratio menjadi tidak berarti. Selain itu, subyek kebenaran satu-satunya dalamdunia bukan manusia semata, mengingat dasein merupakan keberadaan yang saling bergelut dan memengaruhi serta dipengaruhi dunianya.
Dasein
merupakan manusia yang seutuhnya; memandang manusia dari segala aspek yang menyeluruh yang membuat ia menjadi jelas.
Dasein
memahami manusia sebagai“menjadi”.
Dasein
tidak bisa lepas dari konteks. Dalam
Dasein,
manusia yang otentik dipahami dalam ruang dan waktu, tempat di mana ia berada. Manusia hanya bisadipahami dalam situasinya
.2.2
Ketiadaan: Sesuatu yang Menentukan Ada-
Dasein
Pergulatan metafisika Barat tak akan pernah lepas dari pencariannya akan Ada. Adamenjadi penekanan yang terus-menerus, sehingga Ada menjadi pusat pembahasaan dalammetafisika. Namun pernyataan ini menjadi “musuh” yang dilawan Heidegger.denganupaya reflektifnya, Heidegger mau meyakinkan bahwa pergulatan metafisika yangsesungguhnya adalah pencarian akan ketiadaan. Yang menjadi pertanyaan bagi kitaapakah yang dimaksud dengan ketiadaan dalam konsep metafisika Heidegger? Dan bagaimana ketiadaan muncul dalam Metafisikanya?Selama ini, ketiadaan dimengerti sebagai negasi total dari apa yang ada.Konsekuensinya, totalitas Ada harus dikedepankan agar dapat menjadi obyek dari negasi.Maka dari situlah ketiadaan akan terlihat. Tetapi tidaklah demikian bagi Heidegger.Baginya, ketiadaan menentukan Ada-
Dasein
, maka lompatan ke dalam kekosongan yangmenimbulkan kecemasan bukanlah suatu nihilisme yaitu raibnya nilai-nilai melainkan justru suatu kontak dengan Ada yang menjadi sumber nilai-nilai.
Heidegger menjelaskan bahwa ketiadaan hadir dengan mewakili ketidaktentuan total.Hal ini digambarkan olehnya, ketika kita mengalami suatu kecemasan. Dalam kecemasanitulah, kita menemukan apa yang kita perlu dengan ketidaktentuan. Penggambaran lebih jelasnya sebagai berikut “Kecemasan memang selalu ada di hadapan kita...., tetapi bukankecemasan dihadapan ini atau itu. Kecemasan terhadap ...., selalu merupakan kecemasanuntuk...,tetapi bukan ini atau itu”.
Dengan rasa cemas, manusia semakin menyadari akaneksistensinya. Heidegger mengatakan “kecemasan menyendirikan
Dasein
pada Ada didalam dunianya yang tidak dapat dipertukarkan dengan orang lain.”
Heidegger
5
E. Sumaryono,
Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat,
Jakarta: Kanisius, 1999, hlm., 32.
6
F. Budi Hardiman,
Op. Cit.,
hlm. 79.
7
Lihat Teks kuliah perdana Heidegger no. 22.
8
F. Budi Hardiman,
Op. Cit.,
hlm. 78.
2