Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pengembangan ilmu keislaman

pengembangan ilmu keislaman

Ratings: (0)|Views: 416 |Likes:
Published by asiknya

More info:

Published by: asiknya on Nov 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2012

pdf

text

original

 
Tantangan Ilmu-Ilmu Keislaman Di TengahPerkembangan Ilmu Pengetahuan Modern
2 November 2009Abied Tinggalkan komentar  Go to comments  Oleh : Sholeh AhmadPerjalanan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa, semula adalahmuncul di Yunani pada abad keenam sebelum Masehi. Ilmu pengetahuan yang banyak  berkaitan dengan dunia materi pada waktu itu masih bersatu dengan dunia filsafat yang banyak memusatkan perhatiannya pada dunia metafisika (dunia di balik materi). Ilmu danfilsafat masih berada dalam satu tangan. Phytagoras, Aristoteles, Ptolemy, Galen,Hyppocrates misalnya, mereka adalah disamping seorang filosof juga seorang ilmuwan.[1]Ketika ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di ambil alih oleh para ilmuwan Muslimmelalui penerjemahan karya-karya klasik Yunani secara besar-besaran ke dalam BahasaArab dan Persia di
“Darul Hikmah”
(Rumah Ilmu Pengetahuan) Bagdad pada abad ke-VIII hingga abad ke-XIII Masehi, seperti : Abu Yahya al-Batriq berhasil menterjemahkanilmu kedokteran dan filsafat Yunani karya besar Aristoteles dan Hyppocrates. Hunain IbnIshaq berhasil menterjemahkan buku : “Timacus” karya Plato, buku “Prognotik” karyaHyppocrates, dan buku “Aphorisme” karya penting dari Galen. Ghasta Ibn Luka (Luke)al-Ba’labaki berhasil menterjemahkan ilmu kedokteran dan matematika hasil karya dari :Diophantus, Theodosius, Autolycus, Hypsicles, Aristarchus dan karya Heron. Dan jugaTsabit Ibn Qurra al-Harrani (826-900) berhasil menterjemahkan ilmu-ilmu kedokterandan matematika Yunani karya besar dari : Apoloonius, Archimedes, Euclid, Theodosius,Ptolemy, Galen dan Eutocius.[2]Dan masih banyak karya besar lainnya yang tak dapatdisebutkan satu persatu.Pada masa periode Islam ini, kematerian ilmu pengetahuan yang semula hanya bersatudengan dunia filsafat, akhirnya masuk pula kesatuan agama di dalamnya. Hal ini dapatdilihat pada para tokoh muslim seperti : Ibn Rusyd, Ibn Sina, al-Ghazali, al-Biruni, al-Kindi, al-Farabi, al-Khawarizmi dan yang lainnya, mereka adalah disamping sebagaiseorang filosof, ilmuwan juga seorang agamawan (teolog maupun ahli dalam bidanghukum Islam).[3]Perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya, adalah terjadinya kilas balik transformasiIlmu dari Timur (Islam) ke dunia Barat (Eropa). Hal itu terjadi berkat kerja keras orang-orang Eropa yang belajar di Universitas-Universitas Andalusia, Cordova dan Toledo(Spanyol Islam), seperti : Michael Scot, Robert Chester, Adelard Barth, Gerard danCremona dan yang lainnya. Terjadinya kerja sama Islam – Kristen di Sicilia yang pernahdikuasai Islam tahun 831 hingga tahun 1091, dimana Ibu Kota Sicilia pernah dijadikantempat penterjemahan buku-buku karya ulama Muslim ke dalam bahasa Latin, sehinggamelahirkan renaisans di Italia.[4]Juga terjadinya kontak Islam – Kristen selama perang salib. Sejak peristiwa ini, ilmu pengetahuan dan filsafat yang telah dikuasai oleh dunia
 
Islam dibawa kembali ke dunia Barat (Eropa) dan sebagai akibatnya, Eropa keluar darimasa kegelapan dan memasuki masa renaisans dan selanjutnya perkembangan ilmu pengetahuan memasuki abad modern dengan kemajuan teknologinya yang cepat danspektakuler. Sifat ilmu pengetahuan yang semula masih bersatu dalam kesatuan filsafatdan agama, pada masa renaisans Eropa hingga memasuki zaman modern seperti saat ini,ilmu pengetahuan telah lepas dari ikatan agama dan pengaruh filsafat. Ilmu pengetahuanhanya memusatkan perhatiannya kepada dunia materi, kekayaan materilah yang diyakiniakan membawa kebahagiaan hidup dan yang bisa memecahkan segala problematika yangdihadapi. Dari pengaruh mengumpulkan materi, kekayaan, harta benda inilah yangmendorong bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris danPerancis berlomba-lomba merebut wilayah Islam yang membentang dari Atlantik hinggaPasifik, dari India Selatan, memasuki jantung Afrika sampai Siberia, Albania dan Bosniadan lain-lainnya, harus mengakui akan kekuatan Barat (Eropa) baik dari segi politik,ekonomi, militer maupun kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuannya. Faktor kemajuan ilmu pengetahuan inilah yang menjadi tantangan dan ancaman besar bagi duniaIslam setelah menyadari kekalahannya atas peristiwa invansi Mesir oleh Napoleon padatahun 1789.[5]Tantangan ilmu-ilmu Keislaman dewasa ini dalam mengejar ketertinggalannya terhadapkemajuan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh oleh Barat, haruslah melihat kembalisisi kelemahan selama ini, yang mana dalam mengembangkan ilmu pengetahuankalangan Muslim pada umumnya :1.Masih banyak menggunakan logika deduktif, maksudnya adalah dalam halmengembangkan ilmu pengetahuan masih bertolah pada pengetahuan fakta-faktayang bersifat umum kemudian ditarik ke dalam kesimpulan-kesimpulan yang bersifat khusus.[6] Sehingga ilmu pengetahuan yang dihasilkan kebanyakan masih bersifat teoritism abstrak dan masih bersifat idealis. Hal itu sangat berbedadengan pengembangan ilmu pengetahuan di masa keemasan Islam abad ke-IXsampai dengan abad ke-XI, yang mana Jabir Ibn Hayyan (721-815) misalnya,menurut pengakuan Barat adalah orang pertama yang menggunakan metodeilmiah secara induktif dalam penelitiannya di bidang al-kemi yang oleh ilmuwanBarat disebut ilmu kimia. Jabir dengan nama latinnya menjadi Geber, adalahorang pertama yang mendirikan bengkel dengan menggunakan tungku pemanasuntuk mengolah mineral dan mengektradisi mineral-mineral itu menjadi zatkimiawi kemudian mengklasifikasikannya.[7] Demikian juga Muhammad Ibn Zakaria ar-Razi (865-925) yang namanya dilatinkan menjadi Razes, adalah orang pertama yang menggunakan alat khusus untuk melakukan proses penelitian kimiasebagaimana lazimnya dilakukan oleh para ahli kimia seperti adanya destilasi,kristalisasi, kalsinasi dan lain sebagainya. Yang pada akhirnya buku-buku al-Razitentang ilmu kimia dianggap sebagai manual atau buku pegangan laboratoriumkimia yang pertama di dunia yang banyak dipergunakan oleh sarjana-sarjanaBarat setelah menyelesaikan studinya di Universitas-Universitas Islam Toledomaupun Cordova.[8]Sesungguhnya berkembangnya penemuan ilmu pengetahuankealaman oleh ilmuwan muslim adalah lebih disebabkan adanya penggunaanmetode logika induktif, yakni adanya pengembangan ilmu pengetahuan dari dunia
 
abstrak ke dunia kongkrit, dari dunia teori ke dunia praktik dan dari dunia idealiske dunia empiris dan sebagainya.2.Dikalangan Islam masih banyak yang menekankan studi pustaka dari pada studiatas realitas sosio-kultural. Akibatnya terjadi kurang berkembangnya literatur-literatur tentang ilmu-ilmu empiris Islam, seperti : sosiologi Islam, antropologiIslam, psikologi Islam, ekonomi Islam dan sebagainya. Hal ini sangat berbedadengan ilmu pengetahuan empiris Islam yang pernah dikembangkan olehilmuwan Muslim di abad renaisans Islam, dimana hasil karya ilmuwan Muslim banyak yang dijadikan sumber rujukan dalam studi pustaka (bukan sebaliknya),hal ini dapat dilihat seperti pada buku Al-Fihrist (Index of the Science) karya besar Ibn Ya’qub an-Nadim, berisi tentang ensiklopedis monumental yang masihsingnifikan hingga abad ini. Termasuk bidang Astronomika oleh Mahani (855-866), Naziri, Qurra’ dan al-Battami. Bidang zoologi oleh ad-Dinawari, Book of Animals oleh al-Jahiz, Book of Roads and Provinces oleh Ibn Khurdadbih dandalam Book of the Countries oleh al-Ya’qubi dan masih banyak yang lainnya.[9]  3.Belum adanya paradigma yang jelas tentang posisi nilai normatif, eksistensi danstruktur keilmuan Islam. Sebagai misal dalam mensikapi problematika tantanganmodernisasi yang ditandai oleh pesatnya perkembangan industrialisasi,transformasi, canggihnya alat-alat informasi, dan kuatnya paham rasionalismeyang apabila dihadapkan kepada agama, di kalangan muslim belum mampumenyelesaikan dengan cara dialektis tetapi masih bersifat normatif.[10] Dan para  peneliti Muslim masih kurang siap menghadapi atau menolak gagasan-gagasanasing, karena tidak adanya persiapan secara memadai untuk melawan merekamelalui telaah mendalam dan penolakan terhadap promis-promis palsu.[11]  Akibat yang ditimbulkan tentang posisi nilai normatif, eksistensi dan struktur keilmuan Islam menjadi tidak jelas. Ada yang datang dari Barat, sepertiwesternisasi, rasionalisme, sekularisme, gagasan filsafat Barat dan semua yang berbau ke Barat-Baratan semua ditolak bahkan dikafirkannya.[12]  [1]Mehdi Nakoesteen,
Op.Cit.,
h. 22[2]Lihat George Sarton,
 Introduction to The History of Science
(Vol. 3 ; Washington D.C. : The Carbegie Institute, 1948), h. 556-613.[3]Lihat Harun Nasutioan,
 Islam Rasional, Op.Cit.,
h. 410.[4] 
 Ibid.,
h. 301-302.[5]Lihat Sayyed Hossein Nasr,
Op.Cit.,
h. 124-125.[6]Lihat Sutrisno Hadi,
Metodologi Research
(Jilid 2 ; Yogyakarta : Fak. PsikologiUGM, 1983),. h. 42.[7]Lihat A. Baiquni,
Op.Cit.,
h. 6.[8] 
 Ibid.,
h. 8.

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
enyong liked this
bayutara liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->