• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Paradoks Semangat Pemberantasan Korupsi
Oleh Kwik Kian GiePemberantasan korupsi belum pernah mengambil bentuk yang demikian konkret dan demikian intensif.Konkret dalam arti benar-benar diadili dan dipenjarakan tanpa pandang bulu. Intensif dalam arti hampirsetiap hari ada saja tersangka baru.Namun, kalau pungutan liar (pungli) kita anggap korupsi, dengan pemberantasan korupsi yang konkret danintensif tersebut, pungli tidak berkurang sedikit pun.Pelayanan apa pun oleh birokrasi selalu disertai permintaan pembayaran ekstra di luar biaya resmi. Memang,bisa ngotot tidak mau membayar, tetapi akan menghadapi kesulitan yang dicari-cari dan dibuat-buat. Setelahitu waktu menunggu juga sangat lama dengan dalih bahwa yang harus dilayani sangat banyak. Korupsiseperti ini dianggap sebagai praktik yang sudah mendarah daging. Kalau tidak ada pungli, kita bahkanmerasa heran. Biasanya jumlahnya juga tidak besar.Korupsi yang jumlahnya besar, tetapi juga dianggap sebagai praktik dagang biasa, ialah meningkatkan harga(mark up) oleh pemasok barang dan jasa. Selisihnya buat yang punya kuasa membeli barang dan jasa.Praktik mark up ini tidak hanya berlangsung di kalangan birokrasi pemerintahan. Sudah lama menjadikebiasaan berdagang bahwa penjual menawarkan mark up kepada manajer pembelian perusahaan-perusahaan swasta.Yang lebih besar dan lebih berbahaya kalau koruptor sudah tidak mengetahui lagi apakah perbuatan itutermasuk korupsi atau tidak. Ini yang disebut pikiran yang sudah terkorupsi atau corrupted mind. Contohnyabanyak. Ada menteri terkemuka yang sudah lama almarhum pernah mengatakan kepada kerabatnya bahwakalau seorang menteri sudah melakukan pembelian melalui tender terbuka yang jujur, tetapi pada saatmenandatangani kontrak pembelian berhasil "memeras" penjual barang, itu bukan korupsi. Mengapa?Tugasnya yang jujur sudah dilakukan dengan tender terbuka yang jujur. Bahwa penjual barang bisa digertak pembeliannya batal kalau sang menteri tidak diberi upah adalah prestasinya pribadi. Orang yang pikirannyabelum terkorupsi merasa bahwa dia hanya bisa menggertak karena menyandang kekuasaan yang bisamembatalkan tender yang sudah dimenangkan. Jadi, tetap saja itu penyalahgunaan kekuasaan.Rohmin Dahuri merasa bukan korupsi ketika beliau membagi-bagikan uang yang bukan miliknya kepadacukup banyak pemimpin politik guna pembiayaan pemilu. Rohmin merasa membantu proses demokratisasi.Yang menerima juga tidak merasa itu korupsi. Maka terang-terangan mengakui memang menerima. Setelahramai-ramai, hanya Rohmin yang dihukum. Ini membingungkan, karena pemberi dianggap berkorupsi,penerima tidak. Artinya, dalam kasus Rohmin Dahuri corrupted mind sudah meningkat menjadi corruptedlogic.Termasuk dalam corrupted mind sekaligus corrupted logic adalah contoh sebagai berikut. Orang memperolehkredit dari bank untuk membeli gedung bank yang memberi kredit. Karena gedung sudah menjadi miliknya,bank harus membayar sewa. Hasil sewa setiap bulan dihitung sampai persis sama dengan anuitas hinggautangnya lunas. Orang yang bersangkutan setelah sekian tahun akan menjadi pemilik gedung pencakarlangit, dan banknya masih harus terus membayar sewa.Rasanya mustahil demikian banyak anggota Dewan Gubernur Bank Sentral yang demikian bergengsi dandemikian tinggi pendidikannya, melalui rapat resmi memutuskan membagi-bagikan uang Rp 100 miliarkalau merasa bahwa itu tindakan korupsi. Maka mereka sangat terkejut ketika dinyatakan oleh KPK bahwaitu korupsi.
http://antiloans.org/
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...