Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
65Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Intelektual (Hadits Tarbawi)

Pendidikan Intelektual (Hadits Tarbawi)

Ratings: (0)|Views: 8,826 |Likes:
Apakah sebenarnya yang dituju oleh proses pencerdasan intelektual?
Apakah sebenarnya yang dituju oleh proses pencerdasan intelektual?

More info:

Published by: Fairruz 'Ainun Na'im on Nov 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2013

pdf

text

original

 
 PENDIDIKAN INTELEKTUALSUTEJA (STAIN CIREBON)A. PENGANTARPada tahun 1911, Wilhelm Stem memperkenalkan suatu teori tentang inteligensi yangdisebut “uni factor theory “. Teori ini dikenal pula sebagai teori kapasitas umum.Menurut teori ini, inteligensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum. Karena itucara kerja inteligensi juga bersifat umum. Reaksi atau tindakan seseorang dalammenyesuaikan diri terhadap lingkungan atau memecahkan suatu masalah adalahbersifat umum pula. Kapasitas umum itu timbul karena akibat pertumbuhan psiologisataupun akibat belajar. Kapasitas umum (general capacity) yang ditimbulkan itulazim dikemukakan dengan kode “g”.Pada tahun 1904 seorang ahli matematika bernama Charles Spearman, mengajukansebuah teori tentang inteligensi. Teori Spearman itu terkenal dengan sebutan “twokinds of factors theory”.. Spearman mengembangkan teori inteligensi berdasarkanfaktor mental umum yang di beri kode “g” serta faktor-faktor spesifik yang diberitanda “s”. Faktor “g” mewakili kekuatan mental umum yang berfungsi dalam setiaptingkah laku mental individu, sedangkan faktor-faktor “s” menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan.Orang yang inteligensinya mempunyai faktor “g” luas, memiliki kapasitas untukmempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan orang yang memiliki faktor “g”sedang atau rata-rata, ia mempunyai kemampuan sedang untuk mempelajari bidang-bidang studi. Luasnya faktor ‘g” ditentukan oleh kerjanya otak secara unit ataskeseluruhan. Faktor “s” didasarkan pada gagasan, bahwa fungsi otak tergantungkepada ada dan tidaknya struktur atau koneksi yang tepat bagi situasi atau masalahtertentu yang khusus. Dengan demikian, luasnya faktor “s” mencerminkan kerjakhusus daripada otak, bukan karena struktur khusus otak. Faktor “s” lebihtergantung kepada organisasi neurologist yang berhubungan dengan kemampuan-kemampuan khusus.Teori inteligensi multi faktor dikembangkan oleh E.L. Thomdike. Teori ini tidakberhubungan dengan konsep general ability atau faktor “g”. menurut teori ini,inteligensi dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan respon.Hubungan-hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah laku individu.Ketika seseorang dapat menyebutkan sebuah kata, menghafal sanjak, menjumlahkanbilangan, atau melakukan pekerjaan, itu berarti bahwa ia dapat melakukan itukarena terbentuknya koneksi-koneksi di dalam system saraf akibat belajar ataulatihan.Teori ini dikembangkan oleh L.L. Thustone. Ia telah berusaha menjelaskan tentangorganisasi inteligensi yang abstrak, ia dengan menggunakan tes-tes mental sertateknik-teknik statistic khusus membagi inteligensi menjadi tujuh kemampuan primer,yaitu: Pertama, kemampuan numerical/matematis. Kedua, kemampuan verbal, atauberbahasa. Ketiga, kemampuan abstraksi berupa visualisasi atau berfikir. Keempat,kemampuan menghubungkan kata-kata. Kelima, kemampuan membuat keputussan, baikinduktif maupun deduktif. Keenam, kemampuan mengenal atau mengamati. Ketujuh,kemampuan mengingat.Menurut toeri “Primary-Mental-ability” ini, inteligensi merupakan penjelmaan dariketujuh kemampuan primer di atas. Masing-masing dari ketujuh kemampuan primer ituadalah independent serta menjadikan fungsi-fungsi pikiran yang berbeda atauberdiri sendiri.Untuk menjelaskan tentang inteligensi, Godfrey H. Thomson pada tahun 1916mengajukan sebuah teorinya yang disebut teori sampling. Teori ini kemudiandisempurnakan lagi pada tahun 1935 dan 1948. menurut teori ini, inteligensimerupakan barbagai kemampuan sample. Dunia beisikan berbagai bidang pengalaman.Bebagai bidang pengalaman itu terkuasai oleh pikiran manusia tetapi tidaksemuanya. Masing-masing bidang hanya terkuasai sebagian-sebagian saja dan inimencerminkan kemampuan mental manusia. Inteligensi berupa berbagai kemampuan yangoverlapping. Inteligensi beroperasi dengan terbatas pada sample dan berbagaikemampuan atau pengalaman dunia nyata.
 
Pendidikan kecakapan atau pendidikan intelek ialah pendidikan yang bermaksudmengembangkan daya-daya pikir (kecerdasan) anak-anak dan menambah pengetahuananak-anak.Pendidikan kecakapan itu tidak hanya menambah pengetahuan anak-anak saja.Pendidikan kecakapan juga merupakan syarat atau dasar untuk melaksanakan macam-macam atau segi-segi pendidikan yang lain, seperti pendidikan ketuhanan,pendidikan kesusilaan, pendidikan keindahan, dan pendidikan kemasyarakatan.Pendidikan kecakapan terutama bermaksud mengembangkan kecerdasan anak-anak danmenambah pengetahuannya. Dengan demikian pedidikan kecerdasan mempunyai dua tugasyang penting, yaitu:1. Pembentukan FungsionalYang dimaksud dengan pendidikan fungsional atau pembentukan formal ialahmengembangkan fungsi-fungsi jiwa, seperti pengamatan, ingatan, fantasi, berpikir,kemauan, dan sebagainya.Dalam pendidikan intelek dikatakan pembentukan formal jika yang diutamakan ialahmengembangkan fungsi-fungsi jiwa. Fungsi-fungsi jiwa anak itu dapat dilatih dandikembangkan, umpamanya dengan membiasakan anak-anak memusatkan perhatian kepadasuatu pelajaran, belajar mengamati dengan baik dan teliti, melatih ingatan danfantasinya dan yang terpenting ialah melatih fungsi berpikirnya.2. Pembentukan MaterialPendidikan intelek disebut pembentukan material jika di dalamnya bermaksudmenambah ilmu pengetahuan atau bahan-bahan (materi) yang dibutuhkan di dalamkehidupan manusia seperti tanggapan-tanggapan, pengertian-pengertian, pengetahuan-pengetahuan siap, dan keterampilan-keterampilan yang penting bagi kehidupan.Pembentukan material dapat kita bagi menjadi dua bagian yaitu:a. Menambah pengetahuan: seperti dalam mengajarkan sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat,bahasa, matematika, fisika, dan sebagainya.b. Melatih keterampilan: seperti dalam pelajaran membaca, menulis, menggambar,pekerjaan tangan, dan lain sebagainya.Kerja fikir sangat dipengaruhi oleh kerja indra. Kerja akal sangat memungkinkanbagi adanya pelurusan konklusi hasil pengamatan. Aturan-aturan alam yang berjalansecara cermat dan teratur serta menakjubkan sangat memungkinan ketelitian dankonsistensi kerja akal dalam melakukan pengamatan dan menganalisa.Rangkaian kegiatan mulai dari observasi dan pengukuran yang dilakukan dalamsurvey, dan penggunaan akal serta fikiran untuk menganalisa data untuk sampaikepada kesimpulan yang rasional adalah kegiatan utama pengembangan ilmupengetahuan dalam rangkaian pembinaan intelek.Ungkapan-ungkapan al-Quran dan juga al-Sunnah mengenai pembinaan aspek intelekmengandung hal-hal pokok yang menjadi sasaran. Pertama, sebagai sarana pengenalanjati diri manusia melalui proses pengamatan, perenungan, dan pengkajian terhadapalam. Metode yang digunakan sama sekali tidak mengandung unsur pemaksanaan.Allah, dalam hal ini, mengkondisikan sistem berfikir yang liberal denganmendorong manusia melakukan perenungan-perenungan hal-hal metafisik. Dan,terakhir Allah mengajak manusia melakukan penyimpulan (natijah, conclusion)tentang keesaan dan kemahakuasaan-Nya.Kedua, terciptanya pola hidup manusia secara perseorangan sebagai penciptakemaslahatan. Metode yang digunakan adalah penanaman pengertian dan pemahaman yanglurus, sesuai kadar dan tingkatan berfikir manusia. Allah memberlakukan azaskebebasan berbuat tanpa rasa takut atau tekanan. Untuk itulah Allah mengajakmanusia melakukan pengamatan, peneyelidikan dan pengkajian terhadap alam semestaciptaan-Nya.B.TINJAUAN EPSITEMOLOGIS ILMUManusia memiliki ruh, jiwa (nafs), hati (qalb), dan intelek (‘aql). Olehkarena itu, manusia di satu sisi disebut al-Nafs al-Bahimiyyah dan di sisi laindisebut al-Hayawan al-Nathiqah. Ruh, ketika bergelut dengan sesuatu yangberkaitan dengan intelektual dan pemahaman, ia disebut jiwa (nafs). Ketikasedang mengalami pencerahan intuisi, ia disebut hati (qalb). Ketika kembali ke
 
dunianya yang abstrak, ia disebut ruh. Ia selalu memanifestasikan dirinya dalamkeadaan-keadaan ini.Manusia, dalam pandangan para ahli filsafat pendidikan Islam, adalah totalitasantara aspek jasmaniah, akal dan ruh. Prinsip unifikasi inilah yang menjadi dasarpendidikan Islam, dan kemudian mengilhami secara langsung dengan model-modelpendidikan: pendidikan intelektual, pendidikan ruhani, dan pendidikan jasmani.Akal manusia, sebagaimana digambarkan al-Quran, memiliki keistimewaan dapatmenjelaskan hal-hal metafisik. Anjuran dan perintah Allah kepada manusia untukmemelihara, membina dan mengembangkan potensi kognitif, akal banyak didapatididalam al-Quran dan al-Sunnah. Diantara hadits Nabi SAW yang berisikan perintahadalah sebagai berikut :
د ُ غْا لَقَٍوعُس ْ مَن ِ بْها د ِ  ْ َن ْ َن ِ س َ ح َْا ن ْ َ ِ ئِس ّَ ا ن ِ بْءِط َ َن ْ َُي َ ف ْ ُَر َ  َ خْأَة ُ ص َ ي ِ قََر َ  َ خْأَ   ّ مادا ا) ك َ  ِ  ْ ت َ َ َ بِار ّَ ا ن ِ  ُ َََعً ِ ت َ س ْ مُْأَ ً  ّِ عَت َ مُْأَ ً ِَ
)Hadits ini termasuk hadits mawquf shahabi (sanad berhenti hanya sampai kepadasahabat Rasulullah SAW). Para perawinya termasuk perawi yang jujur (shaduq).Matan hadits ini, adalah infirad Sunan al-Darimiy, tidak terdapat pengulangan didalam berbagai kitab shahih atau sunan selainnya.Ahli ra’yu menetapkan kewajiban pertama umat Islam adalah mendengarkan informasitentang ilmu-ilmu keislaman. Kewajiban kedua, adalah menuntut ilmu atau menjadipeserta didik. Menuntut ilmu, berdasarkan hadits tersebut, adalah kewajiban bagisetiap umat Islam (fardhu a’in) dan karenanya ia termasuk kedalam aqidah Islamiahserta cabang keimanan. Kewajiban berikutnya adalah pengembangan diri pesertadidik menjadi pribadi yang memiliki kemauan dan kemampuan mentransfer ilmupengetahuan kepada orang lain, setelah mengaplikasikannya bagi kepentinganinternal peningkatan kepribadian.Pendidikan intelektual sangat terkait dan cenderung memprioritaskan pembinaanaspek rasio atau potensi akal peserta didik. Berdasarkan kapasitas dasar (bakat,bawaan) peserta didik dapat dikategorikan menjadi : peserta didik dengankemampuan berfikir rendah, peserta didik dengan kemampuan berfikir agak cerdas,serta peserta didik dengan kemampuan berfikir cerdas. Peserta didik kategoripertama berkecenderungan besar memenuhi kebutuhan-kebutuihan konumstif sepertimakan dan minum. Peserta didik kategori kedua masih tergolong tidak terpujimeskipun sudah menunjukkan peningkatan karena cara kerja fikirnya belum dapatmendatangkan manfaat secara sosial. Peserta didik kategori ketiga adalah pesertadidik yang lebih baik dari kategori kedua dan kesatu.Hadits Ibnu Mas’ud tersebut ternyata tidak saja berisikan perintah Rasulullah,melainkan juga berisikan larangan. Larangan bagi siapa saja yang tidak melakukanpilihan antara menjadi pendengar, atau menjadi peserta didik, atau menjadipendidik. Larangan itu di sisi lain, mengisyaratkan bahwa ilmu dalam Islam tidaksekadar untuk diketahui atau dimengerti. Hal ini sangat ditentukan oleh motif atauniat seseorang ketika mencari ilmu. Ilmu musti diaplikasikan dan direalisaskandalam bentuk amal saleh, yakni dengan jalan setiap orang yang berilmu menerapkansetiap ilmu yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari dan kemudianmengajarkannya kepada orang lain, dimulai dari anggota keluarga, tetangga danmasyarakat serta bangsa.Hadits Nabi SAW tentang pendidikan merupakan justifikasi wahyu terhadap kondisikeseharian umat Islam yang secara empiris dengan potensi ruhaniah dan ‘aqliahnyamenghajatkan proses pembinaan kreatif dan inovatif aspek intelek untuk berkembangsecara wajar dan imbang dalam kerangka pelaksanaan amanat kekhalifahan di bumi.Hadits ini menunjukkan kepada kita tentang tahapan-tahapan yang mesti dilaluidalam proses pemeliharaan, pembinaan dan pengembangan potensi akliah pesertadidik.C. TINJAUAN AKSIOLOGIS ILMUHadits di bawah ini menggariskan langkah-langkah pembinaan aspek intelektualpeserta didik yang menjadi tugas pendidikan. Jenis ilmu berdasarkan kegunaan ataumanfaatnya bagi kehidupan sosial kemasyarakatan Rasulullah menegaskan secaragamblang sebagaimana dalam hadits berikut.

Activity (65)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ricardo Rizal liked this
Joelly Dwiyan liked this
Puput Wijayanti liked this
Muhammad Firdaus liked this
Redo Syahputra liked this
Boim Suratno liked this
Choliz liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->