Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
26Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sumbangan Filsafat Nilai Max Scheler

Sumbangan Filsafat Nilai Max Scheler

Ratings: (0)|Views: 2,395 |Likes:
Published by ryano tagung
realitas pluralitas adalah sebuah perbedaan dan bukan pertentangan. dia juga tidak dapat di samakan melainkan dia tetap berada dalam perbedaannya. akan tetapi apa yang baik dalam perbedaannya telah berganti pertentangan. bagaimana kita menyingkapinya? Filsafat Nilai Max Scheler memberikan kontribusi bagi kita dalam mengelola realitas pluralitas yang ada untuk dilihat sebagai perbedaan dan bukan sebagai pertentangan.
realitas pluralitas adalah sebuah perbedaan dan bukan pertentangan. dia juga tidak dapat di samakan melainkan dia tetap berada dalam perbedaannya. akan tetapi apa yang baik dalam perbedaannya telah berganti pertentangan. bagaimana kita menyingkapinya? Filsafat Nilai Max Scheler memberikan kontribusi bagi kita dalam mengelola realitas pluralitas yang ada untuk dilihat sebagai perbedaan dan bukan sebagai pertentangan.

More info:

Published by: ryano tagung on Nov 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

pdf

text

original

 
Seminar Filsafat
Nilai Dan Realitas Pluralitas Di Indonesia
MENGELOLA REALITAS PLURALITAS DI INDONESIA DARISUDUT PANDANG FILSAFAT NILAI MAX SCHELER 
1.Pendahuluan
“Manusia tidak dapat hidup tanpa nilai. Nilai sebagai sifat atau kualitas yangmembuat sesuatu berharga, layak diingini dan dikehendaki, dipuji, dihormati, dandijunjung tinggi, pantas dicari, diupayakan dan dicita-citakan perwujudannya, merupakan pemandu dan pengarah hidup kita sebagai manusia. Berdasarkan sistem nilai yang kitamiliki dan kita anut kita memilih tindakan mana yang perlu dan bahkan wajib kitalakukan dan mana yang perlu dan wajib kita hindarkan. Berdasarkan sistem nilai yangkita miliki dan kita anut, kita memberi arah, tujuan, dan makna pada diri dan keseluruhanhidup kia. Dengan kata lain, berdasarkan sistem nilai yang kita miliki dan dalamkenyataan kita hayati, akhirnya kita membentuk indentitas diri kita sebagai manusia dan bahkan menentukan nasib keabadian kita.”
1
Demikianlah kutipan yang diambil penulisdari kata pengantar J. Sudarminta dalam buku Paulus Wahana yang berjudul Nilai EtikaAksiologi Max Scheler. Dari kutipan di atas, manusia, demikianlah ia dinamakan, adalahmanusia yang tidak hidup tanpa nilai. Sebab dengan nilai, manusia digerakkan untuk “maju selangkah”; manusia mengalami transformasi. Nilai. Ia tidak berada jauh dari hidup kita. Ia berada dekat degan hidup kita. Bahkansangat dekat. Kehadirannya menuntut kesadaran kita. Kehadirannya bukanlah pertama-tama berdasarkan pada pengalaman atau karena pengalamanlah maka kita mengetahui bahwa nilai sesuatu itu baik atau jelek atau nilai itu ada dan tidak ada. Tidak! Sayategaskan sekali lagi Tidak. Nilai itu entah baik atau jahat ada dalam dirinya sendiri tanpa bergantung pada apa yang mengembannya. Ia tetap ada dalam dirinya sendairi. Sekarnag,kitalah yang berusaha agar apa yang bernilai itu kita sadari sehingga kita mengalami apayang disebut mengidentifiksai
 plus
menginternalisasi nilai.Jika demikian apa hubungan antara nilai dengan realitas pluralitas Indonesia? Hidupkita selalu dikelilingi dengan aneka nilai. Dan nilai-nilai itu menuntut pertanggungjawaban kita artinya kita mempunyai tanggung jawab atas arah dan tujuanhidup kita tanpa mengabaikan nilai-nilai yang ada disekitar kita. Nilai-nilai yang adadisekitar kita termanifestasi dalam realitas pluralitas di Indonesia. Realitas yangmenyimpan nilai-nilai yang mendorong dan mengarahkan manusia menuju kesejahteraandan kebahagiaan hidup. Akan tetapi, manusia, justru menggunakan realitas itu sebagaisenjata dan alsan untuk saling bermusuhan, saling bertikai satu sama lain. Jadi, agar realitas pluralitas yang tetap merupakan perbedaan tanpa mengalami pergeseran ke arah pertentangan dan yang masing-masingnya memiliki nilai yang ideal, maka perlulah kitamemperlajari dan memahami nilai. Demikianlah maksud dari paper ini ditulis.Menemukan, memahami dan melihatnya peranannya bagi kehidupan manusia danmengelola realitas pluralitas di Indonesia.
2.Membaca realitas pluralitas di Indonesia
Manusia. Demikianlah ia dinamakan. Penamaan ini mengisyaratkan bahwa manusiatidak bisa dipisahkan dari pribadi-pribadi atau persona
2
.Karena pada hakikatnya manusia
1
Paulus Wahana,
 Nilai Etika Aksiologi Max Scheler,
Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 5.
2
Istilah yang biasa digunakan oleh Max Scheler bahkan dalam menjelaskan mengenai manusia iamenggunakan istilah persona.
1
 
Seminar Filsafat
Nilai Dan Realitas Pluralitas Di Indonesia
adalah makhluk sosial (Latin
 socius
artinya teman, sahabat)
3
artinya manusia yang selalumembutuhkan orang lain untuk menjadi sahabat atau teman dalam kehidupannya untuk menjalin sebuah keharmonisan dalam membangun sebuah kehidupan yang lebih baik Manusia tidak bisa dipisahkan dari masyarakat sebab dalam dan oleh masyarakatlahmanusia menjadi manusia. Atau dengan kata lain di dalam masyarakat, manusia semakindimanusiawikan; manusia semakin menemukan siapakah dirinya. Dan inilah realitas kitasekarang. Kita hadir di dunia khususnya sebagai warga negara Indonesia dengan anekalatar belakang yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan konkrit setiaphari. Oleh karena itu kita tidak dapat memungkiri lagi realitas pluralitas Indonesia yangmerupakan suatu realitas eksistensial yang terbentuk dari kehidupan manusia dalammasyarakat yang secara kodrati berbeda. Di sini dapat dikatakan bahwa pluralitasIndonesia ada secara kodrati. Pluralitas kodrati ini kemudian secara sosial, agama,kultural dan lain sebagainya mengalami perkembangan dalam gerak dinamika kehidupanmanusia dan melahirkan aneka visi dan misi mengenai kehidupan dan masa depan ‘kemana arah’ yang hendak dituju sebagai usaha “mengaktualisasikan” nilai yang ada dalamdiirnya.Realitas pluralitas di Indonesia secara kodrati terus berkembang dan perlu mendapat perhatian yang intensif demi menjaga keutuhan dan keharmonisan masa depan bangsa.Oleh karena itu, kita tidak bisa melarikan diri dari kenyataan yang mengatakan bahwa pluralitas yang pada hakekatnya merupakan kekayaan, pemersatu yang melahirkan visidan misi masa depan telah berubah menjadi lahan yang subur bagi munculnya pertentangan. Perbedaan bukan lagi menjadi perbedaan melainkan menjadi sebuah pertentangan. Pertentangan ini mewujudkan dirinya dalam sikap primordialisme,kecenderungan masyarakat modern yang melangkah lebih ekstrim dalam menyingkapi pluralitas yang ada dengan mengatur sistem kehidupan sosial menurut sudut pandangyang individualistic, ekslusivisme, fundamentalisme, dan lain sebagainya. De facto, kitatidak bisa berdiam diri melihat realitas pluralitas masyarakat ini terus berada dalamlingkaran pertentangan. Sebuah usaha mengelola pluralitas menjadi bagian yang sangat penting sehingga dari perbedaan yang ada akan tercipta dinamika kehidupan manusiayang harmonis. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap pluralitas yakni sikap kesediaan untuk menerima perbedaan bukan hanya melihatnya sebagai realitas obyektif melainkansebagai potensi dinamik yang memberikan kemungkinan-kemungkinan dan harapan akankemajuan bangsa, ‘kini dan saat ini’. Sehingga mampu membuka ruang bagi ‘sistim pergaulan sosial’ di mana terciptanya relasi secara alamiah untuk saling memperkayayang melahirkan masyarakat yang terbuka dalam kemajemukkan, multikulutral dandemokratis.3.
Mempertanyakan realitas pluralitas di Indonesia dan mencari akar problemrealitas pluralitas di Indonesia
Mengapa pluralitas itu ada? Jawabannya karena ada manusia. Manusia yang bagaimana? Manusia yang menyadari bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang samadengan manusia lainnya kendati kembar sekalipun. Maka konkretisasinya, manusiamembentuk suatu sistem sosial yang di dalamnya terdiri dari persona-persona yang saling berinteraksi secara tetap dan terpola yang dinamakan masyarakat. Maka dalammasyarakat, pluralisme itu ada. Sebelum pluralisme “menampakan dirinya” dalamtindakan-tindakan yang ekstrim seperti individualistik, fundamentalisme, esksklusivisme,
3
Laurens Bagus,
 Kamus Filsafat,
Jakarta: Gramedia. 2005. hlm 1030.
2
 
Seminar Filsafat
Nilai Dan Realitas Pluralitas Di Indonesia
dan lain sebagainya, pluralisme sudah ada dalam diri manusia itu sendiri dalam keadaan baik. Saat manakah sesuatu yang baik itu menjadi suatu pertentangan? Jawabannya adadalam manusia itu sendiri, dimana manusai mengalami apa yang dinamakan diorientasimakna pluralitas manusia mengidentifikasi tanpa menginternalisasinya.. Jika demikian,apa sesungguhnya yang dikejar manusia dalam hidup ini dengan realitas pluralitas yangada? Nilai. Demikianlah dapat dijawab. Tetapi nilai yang mana? Ada banyak nilai dalamhidup ini. Salah memilih nilai maka akan berdampak negatif—dalam kerangka pluralitasmaka munculnya individualistik, fundamentalisme, esksklusivisme, dan lain sebagainya.Dan kesalahan memilih nilai inilah yang ditemukan penulis sebagai akar problem realitas pluralitas di Indonesia.Apa itu nilai? Apakah keberadaanya subyektif atau obyektif? Bagaimana Filsafat Nilai berbicara dalam mengelola realitas pluralitas yang ada di Indonesia?
4.Max Scheler—Filsuf Jerman (1874 -1928)
a.
Riwayat Hidup Max Scheler
4
Max Scheler dilahirkan di Munich, Jerman pada tanggal 22 Agustus 1874. ayahnyaseorang Lutheran dan ibunya seorang Yahudi Ortodoks. Sebagai seorang anak remaja, iamasuk Katolik, karena ketertarikkannya pada ajaran mengenai cinta. Scheler belajar ilmukedokteran di Munchen dan Berlin, Filsafat dan Sosiologi pada W.Dilthey dan G.Simmel pada tahun 1895. Ia memperoleh gelar doktornya pada tahun 1897. Setelah belajar diMunchen, Berlin, Heildelberg dan Jena, ia kemudian menjabat sebagai dosen privat diJena dan Munchen pada tahun 1899. Seluruh hidupnya, Scheler memiliki pemikiran yang begitu berpengaruh bagi filsafat pragmatisme Amerika.Kemudian, Max Scheler mengajar di Universitas Jena dari tahun 1900 sampai tahun1906. Pada tahun 1902, ia bertemu bertemu dengan Edmund Hursell seorangfenomenolog untuk pertama kalinya di Halle. Scheler tidak pernah menjadi muridHursell. Akan tetapi, perjumpaan dengannya memberikan pengaruh yang besar bagiScheler. Scheler menjadi seorang fenomenolog yang
 getol 
menyebarluaskan ajaranHursell ini.Dari tahun 1907-1910 ia mengajar pada universitas di Munchen. Ia bergabung denganlingkungan fenomenolog Munchen diantaranya M.Beck, Th. Conrad, J. Daubert, M.Geiger. D.Y Hildebrand, Th.Lipps, and A. Pfaender. Dari tahun 1910-1911 Ia menjadidosen Filsafat Sosial Goettigen. Ia membuatnya sedikit berbeda dan memulai berkenalandengan Th.Conrad, H.Conrad Martius, E.Hursell, A.Koyre, H. Reinach, M. Geiger, J.Hering dan R. Ingarden. Edith Stein menjadi salah satu muridnya. Edith Stein begituterkesan dengan pemikiran Scheler rmengenai “jalan melampaui filsafat”. Tanpa disadari pemikirannya, turut memengaruhi lingkungan gereja saat ini termasuk di dalamnya EdithStein dan Paus Johanes Paulus.Selama perang dunia I (1914-1918) Scheler mengikuti wajib militer tetapi iakemudian dihentikan karena menderita astigmia pada matanya. Kemudian pada tahun1919, ia menjadi professor filsafat dan sosiologi di K 
Ö
ln. Pada tahun 1927, dalam sebuahkesempatan konferensi di Darmstad dekat Frankfurt, yang diprakarsai oleh Graf Keyserling, Scheler membawakan sebuah ceramah yang sangat lama, dengan judul“Man’s Particular Place”
5
yang kemudian dipublikasikan dalam bentuk yang lebih
4
 Disarikan dari http://www.maxscheler.com diakses pada tanggal 06 Oktober 2009.
5
Tempat khusus bagi manusia.
3

Activity (26)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mohammad Khodri liked this
Ira Bere liked this
Salmah Candra liked this
Aim Ibrahim liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->