Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Awal Mula Mengenal HMI Dan PMII

Awal Mula Mengenal HMI Dan PMII

Ratings: (0)|Views: 106 |Likes:

More info:

Published by: Prof. DR. H. Imam Suprayogo on Nov 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2010

pdf

text

original

 
Bagikan18 Maret 2009 jam 13:51 Tatkala memasuki IAIN Sunan Ampel Fakultas Tarbiyah Malang, sayatidak memiliki pikiran untuk mengikatkan diri pada salah satuorganisasi keagamaan, NU atau Muhammadiyah. Saya sesungguhnya juga tidak mengenal akan belajar pada jurusan apa. Saya hanya tahubahwa IAIN adalah perguruan tinggi yang mengajarkan agama Islam.Saya juga belum mengerti bahwa di IAIN ada lima fakultas, yaituFakultas Tarbiyah, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syari’ah, FakultasDakwah dan Fakultas Adab. Adanya beberapa beberapa fakultas diIAIN itu saya ketahui setelah beberapa bulan belajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. Andaikan di IAIN Malang dibukaFakultas Syari’ah, saya pun akan belajar ilmu syari’ah, ilmu adab danatau lainnya. Pikiran saya, bahwa saya masuk IAIN agar kemudianmengerti tentang agama Islam.Sekalipun tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, ternyata justruyang saya hadapi pertama kali tatkala saya masuk perguruan tinggiagama Islam adalah tentang kelompok-kelompok organisasikeagamaan itu. Seolah-olah ada keharusan untuk memilih antara PMIIdan HMI. Kedua organisasi ini sama sekali belum saya kenalsebelumnya. Dari beberapa teman, diberitahukan bahwa PMII adalahorganisasi yang diikuti oleh anak-anak NU sedang HMI adalah anak-anaknya orang Muhammadiyah. Memperoleh penjelasan itu sayasudah mulai kebingungan. Sebab, saya berasal dari keluarga NU olehkarena itu selayaknya masuk PMII. Akan tetapi, ketika itu saya ikutmenginap di rumah orang Muhammadiyah dan aktif di HMI, oleh sebabitu semestinya juga mengikuti kelompok ini.Saya rasakan garis pemisah antara NU dan Muhammadiyah, PMII danHMI sedemikian tajam. Masih pada tahap mengikuti program orientasipengenalan kampus, yang ketika itu disebut Mapram, saya sudahdikenali oleh para senior bahwa saya adalah kader HMI, mungkindengan pertimbangan, saya ikut seorang senior organisasi mahasiswaini. Kelompok HMI tergolong minoritas di kampus, dan rupanya padaacara Mapram ini sudah diperlakan yang tidak adil. Pelanggaran sedikitsaja yang dilakukan oleh calon mahasiswa yang ditengarai anak HMIakan dihukum secara lebih berat. Mungkin perasaan saya seperti iniagak subyektif, tetapi begitulah yang saya rasakan. Namun demikian,kegiatan pengenalan kampus saya ikuti sampai selesai. Semua saya
 
rasakan sebagai sebuah tahap yang harus saya lalui sebagai seorangcalon mahasiswa. Mapram ketika itu memang menjadi ajangpenggojlokan dari para senior kepada yuniornya. Bagaimanapunperlakuan para senior yang menengarai saya sebagai calon HMI tidakpernah saya pedulikan, oleh karena memang saya belum memilikikepekaan menyangkut afiliasi organisasi keagamaan ini.Mengenal HMI dan PMII, ketika saya masuk di IAIN, saya rasakan bukanpersoalan gampang. Dulu di IAIN hanya dua organisasi itu, yaitu PMIIdan HMI. Organisasi lainnya seperti IMM, GMNI atau lainnya belumbanyak dikenal di IAIN. Saya yang berlatar pendidikan umum,-------SDN, SMPN dan SMAN, tidak begitu mengenal tentang organisasiitu. Saya juga tidak pernah belajar di pondok pesantren, sehinggabekal pengetahuan, organisasi dan faham keagamaan yang terkaitdengan itu sangat minim sekali. Memang NU dan Muhammadiyah sayasudah mengenali, tetapi kadar pengenalan saya tidak lebih dari apayang saya lihat dari ayah saya. Juga pengetahuan itu terbatas sekali,karena sejak lulus Sekolah Dasar di desa saya sudah berpisah dariorang tua, pindah ke kota untuk melanjutkan ke SMPN dan SMAN. Tidak seperti sekarang, hampir di setiap kecamatan sudah tersediaSMP dan SMA. Pada saat itu Sekolah Menengah Lanjutan hanyaterdapat di kota kabupaten. Itu pun biasanya jumlahnya hanya satu.Dengan demikian bertemu orang tua, paling cepat seminggu sekalibahkan lebih, kecuali pada hari libur.Selanjutnya, saya rasakan agak aneh, hanya karena saya diketahuiikut bertempat tinggal di rumah seorang senior yang berafiliasi padaHMI, saya dikira telah menjadi HMI. Hal itu menjadikan saya pun diajakmengikuti kegiatan HMI. Di pihak lain, ternyata saya diketahui berasaldari keluarga NU. Saya sama sekali tidak mengetahui informasi itu darimana asalnya. Atas dasar informasi bahwa saya berasal dari keluargaNU itu, saya didatangi oleh seorang pengurus PMII yang cukupsenior,---Mappangro, bahwa semestinya saya mengikuti MAPABA --–sebuah kegiatan pengenalan mahasiswa baru yang diselenggarakanoleh PMII. Saya pun ikut ajakan ini dan mengikuti program ini sampaiselesai dan mendapatkan sertifikat. .Keikut-sertaan saya sebagai peserta MAPABA tidak pernah mengurangipergaulan saya dengan anak-anak HMI. Oleh karena saya bertempattinggal di dekat musholla yang dibangun dan dikelola oleh pengurus
 
HMI, sayapun ikut aktif pada kegiatan di musholla itu. Akan tetapi,saya tidak pernah absen pada kegiatan yang diselenggarakan olehPMII. Posisi saya seperti itu, ternyata tidak mengalami kesulitan.Mungkin, teman-teman saya ketika itu, yang menunjukkan kurangpeduli terhadap perilaku afiliasi organisasi yang kurang jelas inimemahami bahwa saya tidak pernah menunjukkan fanatisme terhadapsalah satu kelompok. Saya bisa mengikuti kegiatan di dua organisasiyang berbeda tersebut. Ketika itu saya akrab dengan teman-temanHMI dan sekaligus juga akrap dengan tokoh-tokoh PMII. Saya seolah-olah berdiri di dua kaki sama kuatnya.Posisi saya seperti itu menjadikan saya banyak belajar, baik darikawan-kawan PMII maupun dengan kawan-kawan HMI, atau dari NUmaupun juga dari Muhammadiyah. Hanya saja, pada saat tertentusaya menjadi rikuh. Tatkala di komunitas NU saya disindir sebagaiorang Muhammadiyah dan sebaliknya jika berada di kalanganMuhammadiyah saya disindir sebagai orang NU. Sekali-kali sayarasakan, sekalipun sekedar sindirin ternyata tidak mengenakkan. Sayamerasa serba berada di luar group atau serba outgroup. Akan tetapikarena saya berusaha menempatkan diri sebagai simpatisan danselalu memberikan empati, maka posisi saya, yang sebenarnyakadangkala saya rasakan berat, tokh akhirnya saya berhasilmelayalani keduanya.Keberadaan saya pada dua wilayah organisasi yang berbeda, ternyatamendapatkan banyak keuntungan. Saya menjadi berpeluang untukmenjalin komunikasi yang lebih luas. Saya mengenal dan dikenal olehtokoh-tokoh PMII dan HMI, Muhammadiyah maupun NU. Posisi sayaseperti itu terasa lebih tepat lagi ketika saya diikutkan dalam berbagaikegiatan yang melibatkan tokoh Muhammadiyah dan tokoh NU. Padamasa itu seringkali Pak Malik Fadjar, sering bekerjasama dengan GusDur (KH.Abdurrahman Wahid) dalam kegiatan penelitian, pembinaankerukunan umat beragama, penulisan buku, seminar dan lain-lain.Saya sangat beruntung mendapat kesempatan melayani kedua tokohtersebut. Keterlibatan saya pada kegiatan seperti inilah saya mengenalorang-orang seperti Pak Djohan Efendi, Muslim Abdurrahman, NurCholis Madjid, Dawam Rahardjo, Muchtar Buchori dan lain-lain. Begitu juga melalui kegiatan itu saya menjadi berpeluang mengenali tokohtingkat Jawa Timur seperti Pak Marsekan Fatawi –Rektor IAIN SunanAmpel, Prof.Dr.Rachmat Djatnika, Yahya Mansoer, Prof.Dr.Bisri Afandi,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->