Hendardi : Bongkar Mafia PeradilanRabu, 18 November 2009 00:06 WIBIndonesia kembali diguncang dugaan 'mafia peradilan'. Jika pada 2005 KomisiPemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kantor hakim di Mahkamah Agung (MA)terkait dengan dugaan suap Rp5 miliar dari Probosutedjo, kini Anggodo Widjojomengaku telah menggelontorkan uang Rp6 miliar ke berbagai pihak terutama pimpinanKPK.Markas Besar (Mabes) Polri menetapkan dua pemimpin KPK--Bibit S Rianto dan ChandraM Hamzah--sebagai tersangka pemerasan dan penyalahgunaan wewenang yang telahdilimpahkan kepada Kejaksaan Agung (Kejagung). Tapi, protes publik mencuat ketikakedua pemimpin KPK ditahan karena pembela mereka menuduh Mabes Polri merekayasakasus kriminal.Tangan-tangan mafiaTuduhan rekayasa kriminal itu telah membangkitkan kecaman dan tekanan publik yanghebat terhadap Mabes Polri dan Kejagung. Persoalannya Mabes Polri belum dapatmenjelaskan atau klarifikasi sampainya dana serta alibi keberadaan Bibit danChandra saat penyerahan uang. Itu disebabkan Ari Muladi mengaku bahwa ia bukanrantai terakhir yang berhubungan dengan pihak KPK.Rekaman percakapan antara Anggodo Widjojo-–yang disebut-sebut sebagai bagiandari kelompok Surabaya–-dan sejumlah pejabat Kejagung serta Mabes Polridiperdengarkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi pada 3 November lalu.Rekaman itu memperkuat dugaan 'mafia peradilan' yang beroperasi di kedua lembagapenegak hukum itu. Sementara itu, Mabes Polri belum menunjukkan adanya rekamansebaliknya mengenai adakah mafia yang sama di seputar KPK. Mabes Polri hanyamengemukakan perihal beberapa petunjuk.Untuk meredam gejolak publik yang sudah muak terhadap busuknya perilaku aparatpenegak hukum itu, Presiden Yudhoyono membentuk Tim Independen Verifikasi Faktadan Proses Hukum atas Kasus Pimpinan nonaktif KPK atau lebih populer dengansebutan Tim 8 kendati dipertanyakan independensi dan kewenangannya.Setelah bertugas selama sepekan, Tim 8 menyampaikan hasil verifikasi berupakesimpulan sementara. Kesimpulan ini memang agak meredakan gonjang-ganjingmengenai 'mafia peradilan'. Sebelumnya Presiden juga telah mengakomodasikan isuprogram 100 hari untuk memberantas mafia hukum.Tapi belum lagi kehebohan itu berlalu, pada 10 November lalu kita kembalidipertontonkan busuknya perilaku penegak hukum berdasar kesaksian mantan KepalaKepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Kombes Wiliardi Wizard sebagai saksimahkota di PN Jakarta Selatan dalam perkara pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen,Direktur PT Putra Rajawali Banjaran.Kesaksian itu mengungkapkan berita acara pemeriksaan (BAP) pertama adalah hasilsuatu rekayasa penyidik Reserse Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya yang justrudigunakan untuk menjerat atau menjebloskan mantan Ketua KPK Antasari Azhar atasdakwaan yang berat: pembunuhan.Dua kasus itu menunjukkan bagaimana sistem peradilan pidana di Indonesia telahdilumuri oleh tangan-tangan mafia peradilan. Ia bersumber dalam aparat penegakhukum dan pengadilan. Mereka memeras atau menerima suap dari tersangka atauterdakwa, berperilaku sewenang-wenang, serta membentuk pengelompokan denganmelibatkan makelar kasus (markus) dan advokat.Bongkar
Add a Comment