Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Review HLN&K Amerika Gilpin,Asian Regionalism

Review HLN&K Amerika Gilpin,Asian Regionalism

Ratings:

3.0

(1)
|Views: 430 |Likes:
Published by Tangguh
Review ini akan membahas tentang artikel Robert Gilpin, “Asian Regionalism”, dalam The Challenge of Global Capitalism: The World Economy in the 21st Century (Princeton: Princeton University, 2000), 265-292. Dalam review ini, penulis akan mengedepankan terlebih dahulu pandangan dan gagasan para cendekia terhadap isu regionalisme Asia, kemudian membahas gagasan Gilpin dalam artikelnya dengan analisis kritis terhadap substansi pandangan Gilpin. Sebagai penutup, penulis akan menghubungkan tema regionalisme Asia dengan bahasan hubungan luar negeri Amerika Serikat dengan memberikan rekomendasi kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik dengan mengutip berbagai hasil kajian ahli.
Review ini akan membahas tentang artikel Robert Gilpin, “Asian Regionalism”, dalam The Challenge of Global Capitalism: The World Economy in the 21st Century (Princeton: Princeton University, 2000), 265-292. Dalam review ini, penulis akan mengedepankan terlebih dahulu pandangan dan gagasan para cendekia terhadap isu regionalisme Asia, kemudian membahas gagasan Gilpin dalam artikelnya dengan analisis kritis terhadap substansi pandangan Gilpin. Sebagai penutup, penulis akan menghubungkan tema regionalisme Asia dengan bahasan hubungan luar negeri Amerika Serikat dengan memberikan rekomendasi kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik dengan mengutip berbagai hasil kajian ahli.

More info:

Published by: Tangguh on Nov 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2012

pdf

text

original

 
Tangguh
0706291426 
Dept.
Ilmu 
Hubungan
Internasional 
FISIP
Universitas 
Indonesia
1
 
Regionalisme Asia dan Kebijakan Amerika Serikat 
Review 
Mata Kuliah Hubungan Luar Negeri dan Keamanan AmerikaRobert Gilpin
, “
 Asian Regionalism
, dalam
The Challenge of Global Capitalism: The World Economy in the 21
st 
Century 
(Princeton: Princeton University, 2000), 265-292
 Review
ini akan membahas tentang artikel Robert Gilpin tentang regionalisme Asia. Dalam
review
ini,penulis akan mengedepankan terlebih dahulu pandangan dan gagasan para cendekia terhadap isu regionalismeAsia, kemudian membahas gagasan Gilpin dalam artikelnya dengan analisis kritis terhadap substansi pandanganGilpin. Sebagai penutup, penulis akan menghubungkan tema regionalisme Asia dengan bahasan hubungan luarnegeri Amerika Serikat dengan memberikan rekomendasi kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat dikawasan Asia Pasifik dengan mengutip berbagai hasil kajian ahli.
Regionalisme Asia: Suatu Ulasan Pandangan Cendekia
Kajian
 Asian Development Bank 
(ADB) menemukan bahwa begitu negara-negara Asia tumbuh semakinbesar dan kompleks, mereka juga menjadi lebih terintegrasi melalui perdagangan, arus keuangan, investasilangsung, dan bentuk-bentuk lain dari pertukaran ekonomi dan sosial. Perdagangan di antara negara-negara Asiasama besarnya dengan perdagangan Asia dengan Eropa dan Amerika Utara dalam kawasan masing-masing.Enam ukuran saling-ketergantungan dari 16 negara utama di Asia telah meningkat secara nyata sejak krisiskeuangan tahun 1997/98.
1
Resiliensi negara-negara ASEAN+3 pascakrisis finansial Asia 1997/1998 membawapasar Asia semakin kuat dan makin saling terhubung. Integrasi ekonomi Asia, atau regionalisme Asia, munculsecara terbuka, pragmatis, dan
bottom-up
, dipimpin oleh pertumbuhan dinamis China dan India.
2
Namun,terdapat juga beberapa pesimisme terhadap regionalisme Asia ini. Richard Baldwin (2003) mengungkapkanbahwa regionalisme sejati belum berawal di Asia Timur, sementara ekonomi negara-negara ASEAN terlalukecil untuk membuat
 ASEAN Free Trade Area
(AFTA) menjadi berarti.
3
Menurut Richard Pomfret (2007),regionalisme Asia, yang berfokus pada perdagangan, tak terlalu mengancam sistem perdagangan dunia maupunstruktur tarif 
 Most Favored Nations
(MFN). Ancaman utama lebih bersifat politik daripada ekonomi, apabilaperebutan kepemimpinan Asia mengganggu hubungan harmonis antarnegara.
4
Ji Young Choi (2008)
1
 
 Asian Development Bank 
(ADB),
Kebangkitan Regionalisme Asia: Kemitraan bagi Kemakmuran Bersama,Ringkasan Eksekutif  
 
2
Dr. Jong-
Wha Lee, Dr. Giovanni Capannelli, and Dr. Peter Petri (9 Juli 2008), “
Emerging Asian Regionalism 
3
 
Richard Baldwin (31 Januari 2003), “
Prospects and Problems for East Asian Regionalism: A comparison with Europe 
” diakses dari 
4
Richard Pomfret (22 Juni 2007)
, “
 Asian regionalism: threat to the WTO-based trading system or paper tiger? 
 
Tangguh
0706291426 
Dept.
Ilmu 
Hubungan
Internasional 
FISIP
Universitas 
Indonesia
2
 
mengungkapkan bahwa persaingan politik antara China dan Jepang menghalangi mereka memelihara hubunganharmonis dan pengubahan preferensi atas isu-isu utama terkait pendirian institusi, serta bahwa identitas regionalyang terkontestasi di Asia Timur menghalangi negara-negara di kawasan ini mendirikan suatu komunitasregional.
5
 
Pandangan Robert Gilpin terhadap Regionalisme Asia
6
 
Artikel Robert Gilpin membahas tentang implikasi signifikan dari peningkatan peran Jepang di kawasanAsia Pasifik, industrialisasi China yang pesat, dan krisis finansial 1997 terhadap masa depan regionalisme AsiaPasifik dan peran kawasan ini dalam ekonomi global yang lebih besar. Gilpin memulai dengan membahaskarakteristik kawasan Asia Pasifik, yang berbeda dari Eropa Barat dan Amerika Utara, yaitu bahwa tidak adahegemon atau aliansi utama negara-negara besar. Aneka ragam perbedaan ekonomi, budaya, dan politik telahsecara signifikan menghalangi pengembangan mentalitas dan institusi kawasan. Ekspansi ekonomi perusahaan-perusahaan multinasional Jepang dan pengaruh ekonomi Jepang di seluruh Asia Timur dan Tenggara telahmendorong perubahan di kawasan ini. Melalui investasi, kebijakan perdagangan, dan bantuan luar negerinya
 
(
Official Development Assistance
 /ODA), Jepang telah mentransfer formula pertumbuhan berbasis ekspornyakepada Asia Timur, suatu strategi pembangunan yang berdasarkan
catch-up
teknologi dan kebijakan industrial
infant-industry
.
Gilpin menjelaskan “strategi Asia Jepang” dengan
mengutip Walter Hatch dan Kozo Yamamura(1996) bahwa Jepang berusaha menegakkan strategi pembangunan berbasis ekspor dengan
“meregionalisasinya”.
Gilpin juga mengutip Hisahiko Okazaki yang mengungkapkan bahwa Jepang telahmenciptakan suatu pasar Jepang yang eksklusif dengan memasukkan negara-negara Asia Pasifik ke dalamsistem
keiretsu
(kelompok-kelompok industri Jepang). Gilpin kemudian mengutip Peter Drucker yangmenunjukkan dua premis pokok strategi Asia Jepang, yaitu bahwa keuntungan komparatif dalam industri-industri yang
labor-intensive
sebagian besar telah berpindah ke negara-negara industri Asia Tenggara, sertabahwa kepemimpinan ekonomi dalam dunia yang semakin
high-tech
terletak pada kendali kekuasaan otak dansuperioritas teknologi, bukan pada keuntungan biaya tradisional. Dasar pemikiran strategi Asia Jepang terdapat
 pada teori pertumbuhan ekonomi “
 flying geese
” Kaname Akamatsu, di mana Jepang adalah angsa pemimpin
dalam industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, sementara negara-negara Asia lainnya adalah angsa-angsa laindalam pola terbang. Namun, kepemimpinan Jepang mengalami kemerosotan setelah krisis ekonomi Asia Timur.Para ahli percaya bahwa Jepang harus memecahkan masalah-masalah ekonominya dengan
diakses dari http://www.voxeu.org/index.php?q=node/87 pada 16 November 2009 3:58
5
 
Ji Young Choi, “
Power, Identity, and Asian Regionalism: Political Rivalry between China and Japan and A Contested Regional Identity in East Asia 
” (
draft paper 
yang dipersiapkan untuk konvensi tahunan ISA di SanFransisco, CA, 26-29 Maret 2008)
6
 
Robert Gilpin, “
 Asian Regionalism 
”, dalam
The Challenge of Global Capitalism: The World Economy in the 21 
st 
Century 
(Princeton: Princeton University, 2000), 265-292
 
Tangguh
0706291426 
Dept.
Ilmu 
Hubungan
Internasional 
FISIP
Universitas 
Indonesia
3
 
mengimplementasikan stimulus ekonomi, mereformasi sistem perbankan dan finansial, serta melaksanakanreformasi institusional, namun Jepang menentang tekanan untuk mereformasi dan merangsang perekonomianJepang yang stagnan dengan alasan keamanan sosial.Kemudian, Gilpin mengungkapkan pesimismenya terkait isu China sebagai suatu kekuatan ekonomiberdasarkan berbagai hal: (1) ekonomi industrial China hampa karena sebagian besar dihasilkan olehperusahaan-perusahaan asing; (2) ekonomi China masih berada dalam transisi dari ekonomi terpimpin menujuekonomi pasar; (3) China telah menjadi suatu ekonomi ganda yang diliputi kesenjangan; (4) para kapitalis etnisChina di China daratan, Taiwan, dan Asia Tenggara tak dapat menciptakan jaringan finansial dan manufaktursebesar Jepang; (5) isu keanggotaan China dalam WTO dan hubungan China dengan Amerika Serikat (AS)telah menjadi kompleks; (6) kekhawatiran terhadap China sebagai kekuatan ekonomi dan militer; serta berbagaiisu lainnya.Tentu saja, artikel Gilpin dibuat sebelum China bergabung dengan WTO. China bergabung dengan WTOsejak 11 Desember 2001. Bagaimana performa China dalam WTO? Menurut
US-China Business Council
 (USCBC), status berbagai komitmen WTO China pada 11 Desember 2005 adalah terlaksana, kecuali berbagaisektor, seperti jasa kurir, distribusi dan retail, asuransi, dan telekom.
7
Nicholas Calcina Howson (2007)menemukan bahwa China telah menunjukkan pelaksanaan dan kepatuhan penuh terhadap komitmen-komitmenWTO terkait investasi asing dalam sektor jasa manajemen sekuritas dan dana; bahkan melebihi janjikesanggupannya. Komitmen terhadap liberalisasi tak hanya dating dari perusahaan-perusahaan finansial asingyang memiliki kepentingan, tetapi juga dari para pembuat kebijakan China dan para peserta industri.
8
USCBC juga memberi testimoni bahwa China telah mengimplementasikan banyak kewajibannya serta bahwa pasarChina lebih terbuka secara signifikan daripada sebelum bergabung dengan WTO.
9
Dapat disimpulkan,kekhawatiran tentang keanggotaan China dalam WTO telah dapat ditepis. Selain itu, penulis tak setuju denganpesimisme Gilpin terkait kepemimpinan China. Hal ini karena kemunculan China sebagai suatu kekuatanekonomi telah memberikan suatu pengaruh positif yang besar terhadap kawasan ini, khususnya kebijakan-kebijakan kontrasiklis internal China dan pemeliharaannya atas suatu nilai tukar yang stabil menjadi faktorpenting yang membantu menahan efek-efek krisis finansial Asia.
10
 
7
 
The US-China Business Council 
, “
China’s WTO Commitments, 2005 
-2006 
”,
The US-China Business Council 
 (2007)
8
 
Nicholas Calcina Howson, “
China and WTO Liberalization of the Securities Industry: Le Choc des mondes or 
L’Empire immobile? 
 Asia Policy 
,
Number 3 
(
January 2007 
), 151-185
9
 
The US-China Business Council 
, “
China’s Implementation of Its World Trade Organization Commitments: An 
 Assessment by the US- 
China Business Council” 
,
Testimony of John Frisbie: President, US-China Business Council, Trade Policy Staff Committee Hearing 
” (
October 2, 2009 
)
10
 
Francis Ng dan Alexander Yeats, “
Major Trade Trends in East Asia: What are their Implications for Regional Cooperation and Growth? 
Policy Research Working Paper 3084 
(
The World Bank 
– 
Development Research 

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Sitioktovani Vn liked this
doi2007 liked this
Imy Marian Adam liked this
Serenova liked this
alhexF liked this
heriy_soepangat liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->