kemudian Allah menutupinya, maka hal itu terserah kepada-Nya, jikaia mau ia akan menyiksanya dan jika ia mau akan mengampuninya”.Kemudian kami berbai’at kepadanya atas hal itu.”
(Fathul Bari I : 64).Pelaku zina ada kemungkinan mereka itu telah menikah,menjadi suami atau istri atau ada juga yang belum menikah.Berdasarkan hukum Syara’ mereka itu harus dihukum had.Namun pada suatu saat, hukum itu tidak berlaku pada mereka.Mungkin mereka berada di negara yang tidak memberlakukanhukum Islam atau mereka tidak tertangkap tangan. Hal itusebagaimana diungkapkan dalam hadits di atas, jika Allah SWTmenghendaki akan menyiksa atau mengampuninya.Aisyah ra. menceritakan bahwa pernikahan pada zaman Jahiliyahada empat macam ;
Pertama
, pernikahan sebagaimana berlaku se-karang.Seseorang datang kepada wali wanita kemudi-an melamar. Jikalamarannya diterima, lantas ia menikah.
Kedua,
Seorang suami berkata pada istrinya (apabila bersih darihaid) : "pergilah kepada si fulan dan lakukanlah
istibda’
dengannya."Sejak itu suaminya tidak berhubungan badan dengan istrinya sampai jelas ia hamil dari hubungan badan dengan orang tersebut. Hal inidilakukan oleh mereka karena berharap adanya keturunan dari laki-lakiitu. Pernikahan ini disebut “Nikah Istibda’”.
Ketiga,
Beberapa orang, kurang dari sepuluh orang,bersebadan dengan seorang wanita. Apabila ia hamil kemudianmelahirkan, maka setelah beberapa hari dari kelahiran ia mengundangsemua laki-laki yang pernah bersebadan itu. Semua laki-laki itu tidakada yang menolak undangannya. Kemudian wanita tersebut berkata :“Kalian telah tahu akibat perbuatan yang kalian lakukan terhadapku,dan aku telah melahirkan”. Lantas ia menunjuk salah seorang di antaramereka sambil berkata: ”ini adalah anakmu”. Sejak itu anak tersebutbersama dengan laki-laki tersebut.
Keempat :
Seorang perempuan menerima semua laki-laki yangdatang kepadanya sampai hamil dan melahirkan. Mereka itu adalahpelacur. Tatkala Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW membawahaq, pernikahan Jahiliyyah itu musnah dan berlakulah cara pernikahansesuai syari’at Islam. (HR. Al-Bukhari, Abu Daud / Nailur Authar VI :300).Menikahi atau menikahkan yang haram hukumnya adalahharam. Jika telah terlanjur karena ketidak tahuan, maka tetapharus berpisah setelah ada yang memberi tahu. Jika merekamemaksakan kelangsungan rumah tangganya, maka hukumnyadianggap zina. Sehubungan dengan hal itu, pernah terjadi padazaman Rasulullah SAW :“
Dari ‘Uqbah bin al-Harits ra. Bahwasanya ia menikahi anak perempuan Abi Ihab bin Aziz, kemudian seorang perempuan