Kata PengantarB
uku Sejarah Tumbuh di Kampung Kami bercerita tentang kawasan pantai dan pesisir Aceh pascatsunami 26 December 2004 dari sudut pandang serta pengalaman Mardiyah Chamim seorang wartawatiTempo.Bagi siapapun yang sedikit atau banyak melibatkan diri dalam peristiwa sesudah bencana tsunami,pengalaman di Aceh meninggalkan kesan yang amat mendalam.
Tidak terkecuali rupanya bagi Mardiyah,
yang menjalani profesi sebagai insan pers, seorang wartawan.Para wartawan adalah orang yang tahu banyak. Mereka terlatih untuk merekam peristiwa danmenuliskannya.
Apa yang mereka ketahui sungguh banyak.
Namun keterbatasan ruang dalam media,serta kebijakan maupun selera editor membatasi apa yang mereka sajikan kepada publik.
Sebagiandari mereka memilih untuk menyerah pada keterbatasan ini. Mereka memilih untuk mengutamakan apasaja yang oleh media digolongkan sebagai
"newsworthy"
, layak liput. Celakanya setelah terjeratdengan keterbatasan ini, mereka kemudian menciptakan sikap tersendiri, menjadi eksklusif. Seakan-akan apa yang tidak mereka mereka liput tidak eksis.
Mereka menjadi amat mengetahui tentang apayang layak liput, tetapi tidak tahu apa-apa
di luar itu. Andaikata pun tahu, karena tidak layak liputtidaklah dianggap penting.Buku yang ditulis oleh Mardiyah, memuat cerita tentang Aceh yang sebagian besarnya tidak diliput olehmedia. Dari sini pembaca mudah-mudahan memahami bahwa Mardiyah telah berikhtiar jauh diluarkewajibannya sebagai seorang jurnalis. Dari buku ini pun mudah-mudahan pembaca dapat mengetahuibahwa yang berperan dalam proses rekonstruksi dan penyembuhan Aceh jauh lebih besar jumlahnya danjauh lebih jamak ragamnya dibandingkan dengan apa yang hanya dapat kita ikuti dari liputan media.Bencana tsunami menimbulkan banyak korban baik jiwa, harta benda maupun kawasan.
Tetapi tragediini menciptakan peluang yang amat besar bagi terwujudnya masa depan yang cerah bagi Aceh, menjadimasyarakat yang maju, dinamis dan sejahtera.
Dengan segala cerita yang penuh haru dan mampumenyentuh perasaan kita yang paling dalam, optimisme semacam ini terpancar dari buku Mardiyah.Oleh karena itu kita semua perlu bersikap arif serta menyertai saudara-saudara kita di Acehmerumuskan masa depannya secara jernih.
Penderitaan mereka sungguh sudahamat lama berlangsung.
Untuk Mardiyah saya mengucapkan selamat atas lahirnya buku ini, karya seseorang jurnalis yangmempunyai kemauan keras untuk keluar dari kotaknya dan menanggapi tragedi tsunami dari sudutpandang seseorang yang mempunyai komitmen kemanusiaan yang utuh.
(Ir. Sarwono Kusumaatmadja)