Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
17Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Tumbuh Di Kampung Kami

Sejarah Tumbuh Di Kampung Kami

Ratings: (0)|Views: 4,626|Likes:
Feature collections about Aceh tsunami in Indonesia. Written by Mardiyah Chamim, a senior journalist in Tempo Magazine.
Feature collections about Aceh tsunami in Indonesia. Written by Mardiyah Chamim, a senior journalist in Tempo Magazine.

More info:

Published by: Hifatlobrain Travel Institute on Nov 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

07/07/2013

pdf

text

original

 
Sejarah Tumbuhdi Kampung Kami
Catatan dari Aceh, Jantung Zona Panas Tsunami
Mardiyah Chamim
Eric Grigorian
 
Kata PengantarB
uku Sejarah Tumbuh di Kampung Kami bercerita tentang kawasan pantai dan pesisir Aceh pascatsunami 26 December 2004 dari sudut pandang serta pengalaman Mardiyah Chamim seorang wartawatiTempo.Bagi siapapun yang sedikit atau banyak melibatkan diri dalam peristiwa sesudah bencana tsunami,pengalaman di Aceh meninggalkan kesan yang amat mendalam.
 
Tidak terkecuali rupanya bagi Mardiyah,
 
yang menjalani profesi sebagai insan pers, seorang wartawan.Para wartawan adalah orang yang tahu banyak. Mereka terlatih untuk merekam peristiwa danmenuliskannya.
 
Apa yang mereka ketahui sungguh banyak.
 
Namun keterbatasan ruang dalam media,serta kebijakan maupun selera editor membatasi apa yang mereka sajikan kepada publik.
 
Sebagiandari mereka memilih untuk menyerah pada keterbatasan ini. Mereka memilih untuk mengutamakan apasaja yang oleh media digolongkan sebagai
"newsworthy"
, layak liput. Celakanya setelah terjeratdengan keterbatasan ini, mereka kemudian menciptakan sikap tersendiri, menjadi eksklusif. Seakan-akan apa yang tidak mereka mereka liput tidak eksis.
 
Mereka menjadi amat mengetahui tentang apayang layak liput, tetapi tidak tahu apa-apa
 
di luar itu. Andaikata pun tahu, karena tidak layak liputtidaklah dianggap penting.Buku yang ditulis oleh Mardiyah, memuat cerita tentang Aceh yang sebagian besarnya tidak diliput olehmedia. Dari sini pembaca mudah-mudahan memahami bahwa Mardiyah telah berikhtiar jauh diluarkewajibannya sebagai seorang jurnalis. Dari buku ini pun mudah-mudahan pembaca dapat mengetahuibahwa yang berperan dalam proses rekonstruksi dan penyembuhan Aceh jauh lebih besar jumlahnya danjauh lebih jamak ragamnya dibandingkan dengan apa yang hanya dapat kita ikuti dari liputan media.Bencana tsunami menimbulkan banyak korban baik jiwa, harta benda maupun kawasan.
 
Tetapi tragediini menciptakan peluang yang amat besar bagi terwujudnya masa depan yang cerah bagi Aceh, menjadimasyarakat yang maju, dinamis dan sejahtera.
 
Dengan segala cerita yang penuh haru dan mampumenyentuh perasaan kita yang paling dalam, optimisme semacam ini terpancar dari buku Mardiyah.Oleh karena itu kita semua perlu bersikap arif serta menyertai saudara-saudara kita di Acehmerumuskan masa depannya secara jernih.
 
Penderitaan mereka sungguh sudahamat lama berlangsung.
 
Untuk Mardiyah saya mengucapkan selamat atas lahirnya buku ini, karya seseorang jurnalis yangmempunyai kemauan keras untuk keluar dari kotaknya dan menanggapi tragedi tsunami dari sudutpandang seseorang yang mempunyai komitmen kemanusiaan yang utuh.
(Ir. Sarwono Kusumaatmadja)
 
Kata Pengantar
Mengalahkan Tirani Keterbatasan Ruang
B
agi seorang penulis – dan juga wartawan – buku adalah mahkota kepengarangan. Khususnya bagiseorang wartawan, buku juga sebuah katup untuk menyalurkan tirani keterbatasan ruang media massa.Mungkin sekali itulah yang dirasakan Mardiyah Chamim, wartawan
TEMPO
yang dikirim ke Aceh untukmeliput pasca musibah tsunami. Berminggu-minggu ia di sana – mencium bau mayat serta busuk puingdan sampah, berhadapan dengan kepedihan ribuan orang yang kehilangan harta pusaka dan jiwaorang-orang tercinta. Tetapi, “Jakarta” hanya memerlukan sekian laporan yang masing-masing terdiriatas sekian ribu karakter.
Too many stories, too little space
!Diyah tidak menyerah pada tirani keterbatasan ruang. Di sela-sela kesibukannya sebagai pewarta,dengan tekun ia mengurai catatan-catatannya, diusiknya kembali perasaan yang dialaminya selamabertugas di sana, dan semua itu dituangkannya ke dalam tulisan panjang yang diterbitkan sebagai bukuini.Saya pun berada di Aceh ketika Diyah bertugas di sana. Bedanya, saya sebagai relawan yang tidakhanya mengamati, melainkan melaksanakan pekerjaan di lapangan untuk membantu apa saja yangdapat dibantu: mengusung mayat, menurunkan bahan pangan dari palka kapal dan menaikkannya lagike truk, dan banyak lagi pekerjaan “kotor” yang harus kami lakukan. Ketika itu saya menjadi bagiandari sekian ribu relawan dari seluruh penjuru dunia yang mungkin dengan congkaknya – seperti jugadiamati Diyah – berkata: “Hei, saya ke sini untuk menolong kalian semua!”Tetapi, saya kira Diyah pun mengalami saat-saat depresi seperti yang saya alami. Begitu banyakmalam-malam yang kami lewati sambil terpanggang di atas tilam atau lapik tipis. Tubuh penat, tetapimata tak bisa terpejam, karena pikiran terus bekerja memutar “video” musibah dahsyat yangterbentang di mata kami. Terbayang mayat-mayat yang tadi diusung. Terbayang wajah-wajah dukayang penuh harap menanti anggota keluarga yang belum kembali. Terbayang kemarahan para korbanyang lapar karena jatah bantuan justru “disadap” oleh mereka yang tidak terkena musibah. Semua ituterjadi di depan “
background
” reruntuhan dan keporak-porandaan di mana-mana.Diyah menuliskan semua itu dalam buku ini. Mata dan telinganya yang tajam sebagai wartawanmembuatnya mampu menyimak semua fenomena petaka yang terjadi. Ia merekam semuanya denganrajin. Dan di sinilah mengemuka pelajaran kewartawanan yang selalu saya kemukakan kepada semuapemula: hukum
input-output
. Tanpa
input
yang memadai, tak mungkin ada
output
berupa karya tulisyang lengkap dan indah.Diyah juga beruntung “dibesarkan” di lingkungan
TEMPO
yang punya tradisi jurnalistik sastrawi,sehingga mampu mengemukakan catatan-catatannya dalam sebuah tulisan yang indah. Hatiperempuannya yang lembut melengkapi unsur kehalusannya bertutur, tanpa membuat tulisannyamenjadi melodramatis. Ia melihat dengan mata dan telinga wartawan yang tajam, menyaring semuafakta dan data dengan nurani yang jernih dan lembut, dan menuliskannya dengan teknik jurnalistiksastrawi yang mengagumkan.Selamat atas lahirnya buku ini. Semoga akan banyak lagi buku-buku Diyah lainnya di masa depan.
(Bondan Winarno)

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Firman Hidayat liked this
sblackto12 liked this
Indira Miranti liked this
Zier de Zier liked this
Zier de Zier liked this
Moy Taram liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->