High Quality
Open the downloaded document, and select print from the file menu (PDF reader required).
Bangsa, masyarakat, dan negara kehilangan seorang tokoh panutan,
seorang yang senantiasa hidup dalam kejujuran, sekaligus sebagai
simbol bagi kejujuran yang hidup. Almarhum bukan hanya menjadi
simbol kejujuran bagi kepolisian, tetapi juga bagi seluruh jajaran
birokrasi, bahkan simbol kejujuran bagi seluruh masyarakat.
Pak Hoegeng berhenti dari jabatan Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia (Polri) sebelum selesai masa jabatan yang
seharusnya berlangsung tiga tahun. Diberhentikan oleh Presiden
Soeharto di tahun 1970 karena Pak Hoegeng jujur dan konsisten
dalam melakukan kewajibannya sebagai polisi.
Seperti yang diceritakan oleh almarhum kepada rekan- rekannya di
Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh, bermula dari rencananya untuk
menangkap seorang penyelundup besar, yang datanya di Mabes
Polri sudah memadai untuk ditahan. Hanya karena sang
penyelundup tersebut diketahui punya backing dari Cendana,
Yang membuatnya kaget adalah ketika Pak Hoegeng sampai di Cendana, orang yang direncanakan
akan ditangkap oleh kepolisian itu ternyata sedang berbincang- bincang dengan Soeharto. Seperti yang
dikatakannya, sejak itu Pak Hoegeng sekuku hitam pun tidak percaya lagi kepada Soeharto.
Rupanya peristiwa itulah yang mempercepat pemberhentiannya sebagai Kepala Polri oleh Presiden
Soeharto. Alasan yang dikemukakan oleh Soeharto adalah untuk regenerasi. Namun, yang kemudian
membuat Pak Hoegeng merasa aneh ialah ketika menanyakan siapa yang akan menggantikannya,
Soeharto mengatakan Mohammad Hassan. Secara spontan Pak Hoegeng mengatakan kepada Soeharto
bahwa usia Mohammad Hassan lebih tua darinya, hanya untuk menunjukkan bahwa alasan regenerasi
itu hanyalah dibuat-buat. Alasan sesungguhnya adalah Soeharto ingin menyingkirkan seorang Kepala
Polri yang jujur.
Setelah berhenti sebagai Kepala Polri, Pak Hoegeng kembali ke
tengah masyarakat. Tawaran untuk menjadi duta besar di salah satu
negara Eropa ditolaknya secara halus, dengan kata-kata dia tak
mampu berbasa-basi, salah satu "keterampilan" yang perlu dimiliki
oleh seorang duta besar. Padahal, sudah menjadi kebiasaan di
zaman Orde Baru, seseorang yang berhenti dari jabatan tinggi
ditawarkan untuk menjadi duta besar atau presiden komisaris salah
satu perusahaan negara.
Guna mengisi kesibukan dalam masa pensiun, Pak Hoegeng
menyalurkan hobi menyanyinya di TVRI melalui kelompok
Hawaian Seniors. Namun, dalam perjalanan waktu, hobi ini pun
harus dihentikan karena ada larangan dari yang berwenang. Alasan
yang melatarbelakangi adalah karena sejak Juni 1978 Pak Hoegeng
bergabung dalam Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) yang
didirikan atas inisiatif AH Nasution dengan penasihat proklamator
dan wakil presiden pertama RI, Mohammad Hatta.
LKB didirikan sebagai salah satu usaha untuk melakukan
pengawasan dan koreksi terhadap penyelenggaraan negara dan
kekuasaan pemerintahan atas dasar konstitusi.
Ikut menandatangani Pernyataan Keprihatinan antara lain Mohammad Natsir, AH Nasution,
Syafruddin Prawiranegara, H Ali Sadikin, Burhanuddin Harahap, SK Trimurti, Manai Sophian, Ny D
Wallandouw. Juga dari kalangan yang lebih muda usia seperti mantan aktivis dewan mahasiswa dan
organisasi ekstrauniversitas.
Sejak itu, Pak Hoegeng terlibat aktif dalam "Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh", yaitu suatu lembaga
kajian tentang masalah kehidupan bangsa dan negara yang didirikan Yayasan LKB. Pertemuan
mingguan Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh berlangsung di kediaman Ali Sadikin, yang juga masuk
dalam Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh, di Jalan Borobudur 2, Jakarta Pusat.
Sebagai anggota Kelompok Kerja Petisi
Lima Puluh, Pak Hoegeng selama mengikuti
pertemuan mingguan dengan penuh
kesungguhan. Dalam pertemuan tidak
banyak bicara, tetapi jika sudah ada
kesepakatan atas suatu keputusan dan jika
harus ikut menandatangani sesuatu
pernyataan atau memorandum tentang
keadaan bangsa dan negara, Pak Hoegeng
tanpa komentar menandatanganinya.
Kebiasaan beliau adalah datang paling
pertama ke tempat pertemuan mendahului yang lain. Tidak jarang jika tidak ada mobil yang
mengantarkan ke tempat pertemuan, Pak Hoegeng datang dari rumahnya di Jalan Prof Moh Yamin ke
Jalan Borobudur dengan menggunakan bajaj.
Banyak hal yang dituturkan Pak Hoegeng pada kawan-kawan di Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh
sangat berkesan dan patut untuk disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya untuk generasi muda,
terutama dalam upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, serta dalam upaya
membangun suatu pemerintahan yang bersih, bebas dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Ketika Presiden Soekarno menunjuk Pak Hoegeng menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi, sehari
sebelum pelantikannya Pak Hoegeng meminta Ibu Merry (istri Pak Hoegeng) untuk menutup toko
kembang, usaha ibu Merry di Jalan Cikini untuk menambah pendapatan sehari-hari. Alasannya, karena
keesokan harinya akan dilantik menjadi Dirjen Imigrasi.
Ketika ibu Merry menanyakan apa hubungan antara jabatan Dirjen Imigrasi dan toko kembangnya, Pak
Hoegeng menjawab singkat, "Nanti semua yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang
pada toko kembang Ibu Merry dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya." Ibu Merry pun
memahami dan menutup toko kembangnya.
Karena dikaryakan dari kepolisian ke Imigrasi, Pak Hoegeng membawa juga sebuah mobil jip dinas
untuk tugasnya nanti sebagai Dirjen Imigrasi. Ketika Sekretariat Negara (Setneg) memberinya lagi satu
mobil dinas, Pak Hoegeng menolak dengan alasan dia hanya membutuhkan satu mobil dinas untuk
tugasnya, dan jip yang dia bawa dari kepolisian adalah juga milik negara sehingga itu sudah cukup
baginya.
Ketika menjadi Menteri Iuran Negara, oleh Sekneg diminta untuk pindah dari rumah di Jalan Prof Moh
Yamin ke rumah yang berlokasi di Jalan Protokol, juga ditolak Pak Hoegeng dengan alasan rumah
yang ditempatinya sudah cukup representatif dan negara tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuknya.
Katanya, sebagai Menteri Iuran Negara dia bertugas mencari uang untuk negara, bukan sebaliknya,
menghabiskan uang negara untuk rumah dan fasilitas yang bukan-bukan.
Add a Comment