Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Plaque Therapy

Plaque Therapy

Ratings: (0)|Views: 0 |Likes:
Published by Krisna Siantarini
iyuhhhh
iyuhhhh

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Krisna Siantarini on Jun 07, 2014
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2014

pdf

text

original

 
Bagi penderita PJK,
 plaque therapy
 dapat menjadi metode alternatif.
  Andai ayahnya tidak menderita penyakit jantung koroner (PJK), mungkin dr.Rosa E, 49, takkan pernah mempraktikkan
 plaque therapy
 dan tetap sebagai dokter kecantikan dan
kulit. “Tahun 2001, ayah saya menjalani terapi balon atau
 
stent 
 di rumah sakit. Ada
tiga sumbatan pada pembuluh darah jantungnya,” katanya kepada
 
 jurnal nasional.
 Tetapi, setelah di balon dan di-
stent 
, keluhan ayahnya tidak hilang: sesak napas,dan nyeri dada
(angina pectoris).
 Diduga, masih ada sumbatan pada pembuluh darah di
 jantungnya. “Maklum, kami orang chinese, suka makan babi. Akibatnya ayah mengidap kolesterol tinggi,” kata alumnus fakultas kedokteran Universitas Trisakti tahun 1986 ini.
 Bahkan, akibat pola makan tinggi lemak itu, ayahnya kembali masuk ke rumah sakit. Sang ayah mengalami pendarahan saluran pencernaan gara-gara minum obat pengencer darah. Sebab, sebagai penderita kolesterol tinggi
(hypercholesterolemia),
 darahnya kental. Efeknya, sang ayah mengalami iritasi lambung. Berbagai keluhan lain pun tak kunjung
hilang. “Akhirnya kardiolog yang menangani ayah tidak berani mengambil resiko
melakukan terapi ulang,
 By-pas
adalah cara yang paling di anjurkan,” katanya.
 Namun, sang ayah tidak mau menjalani
by-pas
 di Australia, sang ayah tetap menolak.  Ayahnya hanya mau menjalani kelasi salah satu jenis
treatment 
 yang sering dilakukan untuk mengatasi PJK. Sang ayah tertarik menjalani jenis
treatment 
 ini karena ia mendengar temannya, yang punya masalah sama, menjalani
treatment 
 serupa. Untuk meladeni keinginan ayahnya, dr Rosa sempat berkonsultasi dengan kardiolog  yang menangani sang ayah tentang kemungkinan cara kelasi. Tetapi, dokter itu melarang. Alasannya, dikhawatirkan berefek pada ginjal. Efek itu biasanya baru akan terasa 10 atau 20 tahun kemudian. Nanti repot-
kata sang kardiolog. “Akhirnya saya pun tidak mendukung keinginan ayah untuk menjalani kelasi,” katanya.
 Dokter Rosa lahir di jambi, 27 Desember 1959. Kini ia berpraktik di Klinik proV, Jakarta, sekaligus duduk sebagai direktur di klinik itu. Bagaimana ceritanya sebagai dokter kecantikan dan kulit ia beralih mempraktikkan
 plaque therapy
? “Itu juga  bermula di tahun 2001,” katanya.
  Alkisah, dalam upaya mengatasi penyakit jantung ayahnya itu, ia berkonsultasi dengan temannya, seorang dokter di Jerman. Temannya menawarkan sebuah jenis
treatment:
 
 plaque therapy.
 Bahan aktif yang digunakan
lecithine
 atau
 phosphatidylcholine.
 Bahan aktif ini diproduksi di Jerman. Tetapi,
branch-
nya ada juga di Swiss. Bahkan, ketika kemungkinan penggunaan
lecithine
 atau
 phosphatidlylcholine
 itu dikonsultasikan juga dengan kardiolog yang menangani ayahnya-di Jakarta-, dokter itu
mengambil sikap bijaksana: tidak berkomentar “ya” atau “tidak”. “Tetapi, saya
pikir
lecithine
 atau
 phosphatidlycholine
 itu baik. Maka, bahan itu saya coba berikan
pada ayah ,” katanya.
 Hasilnya? Luar biasa! bahkan, ketika ayahnya kembali di ajak pada kardiolog untuk menjalani tes jantung, dokter itu berkomentar: kondisi ayahnya seperti menjalani
by- pass by nature.
 
Hal itu terlihat dari hasil rekaman detak jantung. “Maka, bagi penderita
PJK,
 plaque therapy
 
dapat menjadi metode alternatif,” kata dr Rosa.
  Apakah
 plaque therapy
itu?
 plaque
 
 berarti “kerak”. Tentu, pada gigi juga terdapat plak
atau kerak. Tetapi, plak dalam konteks
 plaque therapy
, adalah metode
treatment 
 untuk membersihkan plak berupa timbunan kolesterol di dinding pembuluh darah jantung.
“Tentu, plak itu tidak 100 persen hilang. Tetapi relatif jauh berkurang,” katanya.
 Cara yang dipakai pun sederhana: lewat infus. Seperti biasa dilakukan untuk pasien
penderita mencret atau demam berdarah (DBD). “Hanya, bahan aktif yang digunakan
 berbeda,yaitu:
lecithine
 atau
 phosphatidylcholine,” 
 kata dr Rosa lagi. Dikatakan,
lecithine
 atau
 phosphatidylcholine
 banyak terdapat pada kedelai. Juga pada putih telur. Tetapi, yang ia gunakan di kliniknya dari bahan kedelai. Tentu, bahan ini tidak di ambil langsung dari kedelai, melainkan hasil olahan perusahaan farmasi yang dikemas dalam bentuk
soft jel.
 
“Sebab, j
ika yang kita makan langsung berupa bahan kedelai, berapa banyak kedelai yang harus kita konsumsi sehingga punya efektivitas
melarutkan plak,” katanya, retoris.
 Unsur-unsur yang terdapat pada kedelai itu banyak. Tetapi, semua bahan yang tidak  bekerja untuk melarutkan lemak, termasuk kandungan purinnya, di buang. Yang tersisa hanya ekstraknya, yang disebut
lecithine
 atau
 phosphatidylcholine
 itu. Menurut dr Rosa jika kita minum
lecithine
 atau
 phosphatidylcholine
 sebanyak 1200 miligram, misalnya, yang masuk kedalam darah kira-
kira 10 persen. “Beda
 jika
lecithine
atau
 phosphatidylcholine
 itu dimasukkan ke dalam pembuluh darah lewat
infus. Hasilnya akan optimal”, katanya.
 Dikatakan,
lecithine
 atau
 phosphatidylcholine
 sudah digunakan di dunia kedokteran Barat sejak lebih 50 tahun silam, sebagai bahan alternatif untuk menurunkan profil lipid dalam darah (LDL & Triglyceride).
 
Tentu,
 plaque therapy
tidak saja dapat di terapkan untuk membersihkan pembuluh darah jantung, tapi juga untuk semua pembuluh darah. Misalnya, pembuluh darah otak, pembuluh darah tepi,baik di tangan maupun di kaki. Bahkan untuk mengatasi
stroke
. Dengan catatan,
stroke
 akibat penyumbatan pembuluh darah. Bukan karena faktor pecahnya pembuluh darah, misalnya sebagai efek hipertensi. Tapi,
 plaque therapy
 juga tidak untuk mengobati hipertensi. Memang, sejauh pengalamannya, pasien hipertensi yang menjalani
treatment 
 dengan metode ini tensi
darahnya biasanya turun sekitar 10. “Sebab pembuluh darahnya telah relatif bersih.
Otomatis tekanan darahnya aka
n turun,” katanya.
 Plus-Minus Plaque therapy Tentu,
 Plaque therapy
 termasuk pengobatan alternatif. Artinya, beda dengan terapi konvensional ala Barat. Metodenya tidak rumit.  Apalagi
lecithin
atau
 phosphatidylcholine
 bukan bahan asing. Sebab bahan itu juga terdapat di dalam tubuh kita. Bahkan, para dokter di Swiss telah sejak lama melakukan penelitian dan menggunakan  bahan aktif ini untuk pasien-
pasien mereka. “Saya bukan penemu. Saya hanya mengadopsi,” kata dr.Rosa jujur
 Dunia kedokteran Barat pun mengakui
lecithin
atau
 phosphatidylcholine
dapat melarutkan atau menurunkan level kolesterol atau lemak di dalam darah.Cara kerjanya pun sederhana. Lemak yang sudah larut itu dibawa ke lever untuk di proses, kemudian dibuang lewat kotoran. Tidak pelik.
“Tetapi saya menolak pasien yang pembuluh darah jantungnya sudah mengalami
penyumbatan 100 persen. Jika itu terjadi, saya pun biasanya menganjurkan
by-
 pass.” 
katanya. Sebagai salah satu jenis
treatment,
metode
 plaque therapy
 pun tidak lepas dari segi plus dan minus. Segi minus, prosesnya berlangsung lamban dibanding metode
ring,
misalnya sebagaimana dipraktikan para kardiolog di bidang kedokteran

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->