“Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or end-state of existence ispersonally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence.” (Rokeach, 1973 hal. 5)“Value is a general beliefs about desirable or undesireable ways of behaving and aboutdesirable or undesireable goals or end-states.” (Feather, 1994 hal. 184)“Value as desireable transsituatioanal goal, varying in importance, that serve as guidingprinciples in the life of a person or other social entity.” (Schwartz, 1994 hal. 21)Lebih lanjut Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1) suatu keyakinan, (2)berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, (3) melampaui situasi spesifik,(4) mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian,serta (5) tersusun berdasarkan derajat kepentingannya. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, terlihat kesamaan pemahaman tentang nilai, yaitu (1)suatu keyakinan, (2) berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadidapat disimpulkan bahwa nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuanakhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya. Pemahaman tentang nilai tidak terlepas dari pemahaman tentang bagaimana nilai itu terbentuk.Schwartz berpandangan bahwa nilai merupakan representasi kognitif dari tiga tipe persyaratanhidup manusia yang universal, yaitu :1. kebutuhan individu sebagai organisme biologis2. persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi interpersonal3. tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan kelangsungan hidupkelompok (Schwartz & Bilsky, 1987; Schwartz, 1992, 1994).Jadi, dalam membentuk tipologi dari nilai-nilai, Schwartz mengemukakan teori bahwa nilaiberasal dari tuntutan manusia yang universal sifatnya yang direfleksikan dalam kebutuhanorganisme, motif sosial (interaksi), dan tuntutan institusi sosial (Schwartz & Bilsky, 1987). Ketigahal tersebut membawa implikasi terhadap nilai sebagai sesuatu yang diinginkan. Schwartzmenambahkan bahwa sesuatu yang diinginkan itu dapat timbul dari minat kolektif (tipe nilaibenevolence, tradition, conformity) atau berdasarkan prioritas pribadi / individual (power,achievement, hedonism, stimulation, self-direction), atau kedua-duanya (universalism, security).Nilai individu biasanya mengacu pada kelompok sosial tertentu atau disosialisasikan oleh suatukelompok dominan yang memiliki nilai tertentu (misalnya pengasuhan orang tua, agama,kelompok tempat kerja) atau melalui pengalaman pribadi yang unik (Feather, 1994; Grube,Mayton II & Ball-Rokeach, 1994; Rokeach, 1973; Schwartz, 1994). Nilai sebagai sesuatu yang lebih diinginkan harus dibedakan dengan yang hanya ‘diinginkan’, dimana ‘lebih diinginkan’ mempengaruhi seleksi berbagai modus tingkah laku yang mungkindilakukan individu atau mempengaruhi pemilihan tujuan akhir tingkah laku (Kluckhohn dalamRokeach, 1973). ‘Lebih diinginkan’ ini memiliki pengaruh lebih besar dalam mengarahkan tingkahlaku, dan dengan demikian maka nilai menjadi tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.Sebagaimana terbentuknya, nilai juga mempunyai karakteristik tertentu untuk berubah. Karenanilai diperoleh dengan cara terpisah, yaitu dihasilkan oleh pengalaman budaya, masyarakat danpribadi yang tertuang dalam struktur psikologis individu (Danandjaja, 1985), maka nilai menjaditahan lama dan stabil (Rokeach, 1973). Jadi nilai memiliki kecenderungan untuk menetap,
Leave a Comment