Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tadzkiytunnafs Muhammad SAW - Zainal Abidin (1)

Tadzkiytunnafs Muhammad SAW - Zainal Abidin (1)

Ratings: (0)|Views: 7|Likes:

More info:

Published by: Zainal Abidin Mustofa on Jun 11, 2014
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2014

pdf

text

original

 
1
 
Tadzkiyatunnafs
 Muhammad SAW
*)
 
Zainal Abidin
zay.abidin@gmail.com
Pendahuluan
Firman Allah SWT dalam
Surah Al Kahfi 
: 110 dan
Surah Fushshilat:
 6:
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."
(QS Al Kahfi: 110)
 Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya."
(QS. Fushshilat: 6)
 
Nabi Muhammad SAW
basyar 
, manusia biasa yang diwahyui Allah SWT; Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa memang benar, tapi beliau suci dan sucinya sesuai dengan karakteristik manusia. Sucinya bukan seperti malaikat, bahkan tidak seperti Nabi-nabi sebelumnya yang pada umumnya dilahirkan dalam keadaan sudah menjadi Nabi. Isa AS sudah Nabi sedang masih bayi. Musa AS sudah nabi sejak diletakkan dalam keranjang dan dialirkan oleh ibunya ke sungai. Muhammad menjadi Nabi setelah berumur 40 tahun. Mengapa? -------------
*) Disampaikan di Gedung Muslimat NU Sendangagung Kec. Sendangagung Kab. Lampung Tengah Prov. Lampung, 18 Juni 2014.
 
2
 
 Agar menjadi teladan, supaya manusia modern terutama manusia masa kini yang paling mampu membuat dan merekayasa alasan-alasan, misalnya, dengan menyatakan bahwa yang namanya Nabi pasti suci.
 
Tadzkiyatunnafs
Jiwa manusia sering menerima serangan dari berbagai penyakit hati yang mengakibatkan akhlak manusia menjadi buruk, tidak sesuai dengan yang Allah SWT gariskan dan Rasul-Nya contohkan. Bisa jadi orang yang terkena penyakit hati akan menjadi malas beribadah, pelaku maksiat, atau hamba dari hawa nafsunya. Oleh karena itu, menyucikan dan membersihkan jiwa (
tazkiyatunnafs
) dari pelbagai penyakit hati merupakan suatu keharusan sebagaimana yang Allah SWT serukan dalam Al-
Qur‟an, dan itu menjadi aktifitas yang tak
terpisahkan dari keseharian orang muslim. Allah SWT sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang menyucikan  jiwa dan sangat membenci hamba-hamba-Nya yang mengotori jiwa dengan kemaksiatan. Para Rasul
‘alaimush sholatu wassalam
diutus Allah SWT untuk mengingatkan manusia kepada ayat-ayat-Nya (
ta’lim
), mengajarkan hidayah-Nya (
tadzkir 
) dan mensucikan jiwa dengan ajaran-Nya (
tadzkiyah
).
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan
 kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan
mengajarkan
 kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah serta
mensucikan
 mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
(Q.S Al-Baqarah: 129)
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang
membacakan
ayat-ayat Kami kepada kamu dan
mensucikan
kamu dan
mengajarkan
 kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
(Q.S Al-Baqarah: 151)
 
Tadzkiyatunnafs
Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW dihadapkan kepada pelbagai keadaan yang menyulitkan sejak kecil, bahkan ketika dalam kandungan ayahnya sudah tiada. Ketika kecil ibundanya sudah tiada. Beliau harus berjuang mencari nafkah, membiayai hidupnya karena beliau harus tahu diri dan belajar mandiri. Maka setelah berangkat remaja, beliau sudah mempunyai profesi dan berdagang ikut pamannya ke Syam. Sebuah riwayat menceritakan bahwa semasa usianya menginjak sekitar 10 tahun beberapa bulan, beliau mengalami bedah dada untuk
 
3
 
mengeluarkan hasad, irihati, dengki dan curang dari dalam dirinya, selanjutnya menggantinya dengan lemah lembut, kasih sayang dan keterbukaan. Diriwayatkan pula bahwa sebelum
 
isra’ mi’raj 
 
Rasulullah SAW kembali mengalami bedah dada dengan mengeluarkan sifat-sifat dengki dan segala sifat-sifat yang menjadi penyakit jiwa manusia. Dalam
 Al Qur‟an
Surah Al Insyirah
 ayat 1:
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
(QS. Al Insyirah: 1)
 
 Allah SWT mencahayai hati Muhammad SAW dan menjadikannya lapang dada, berpandangan luas, dan akomodatif serta bersifat fleksibel. Apakah Muhammad SAW sudah mengetahui dirinya akan menjadi Nabi sejak kecil atau bahkan saat-saat sebelum peristiwa turunnya wahyu pertama di gua hira? Dari Hadits Riwayat Bukhari tentang awal turunnya wahyu yang menguraikan secara rinci keadaan serta kondisi kejiwaan Rasulullah SAW sesaat dan sesudah turunnya wahyu pertama, dapat dipastikan bahwa hingga turunnya wahyu beliau sama sekali tidak menyadari bahwa peristiwa yang dialaminya merupakan prosesi transformasi dirinya dari manusia biasa menjadi Nabi dan Rasul. Beliau bingung, panik, tegang, resah, gelisah dan sangat tertekan dengan semua itu. Salah satu riwayat mengisahkan bahwa beliau pernah bermaksud menjatuhkan diri dari atas puncak gunung, tetapi urung karena mendengar suara dari langit:
Ya Muhammad, engkau adalah Nabi.
 Mengapa pertanyaan itu (apakah Nabi sudah tahu sejak awal bahwa beliau akan menjadi Nabi?) penting, karena untuk memastikan bahwa segala langkah yang diambil oleh Muhammad SAW sebelum prosesi transformasi menjadi nabi adalah murni pilihan-pilihan manusiawi. Artinya bisa menjadi pedoman untuk diikuti dan diteladani. Mulai dari kegiatannya berdagang. Ini bisa menjadi kata kunci bahwa pemuda harus ada pekerjaan. Memang, bekerja bukan untuk mencari rezeki karena rezeki sudah ditanggung oleh Allah SWT. Tapi bekerja merupakan bagian yang terpenting dalam membentuk kepribadian yang integral. Nabi sangat tidak toleran terhadap pemalas. D
alam do‟anya: “
 A
llahumma inni a’uzu bika min al’ajzi wa al kasali.
(ya Allah aku berlindung padamu dari lemah dan malas). Kalau saja umat Islam mengikuti Nabi yakni mengikuti sunnah Nabi dalam hal perlunya bekerja dan memiliki profesi sejak masih muda pasti umat Islam menjadi unggul sebagaimana yang diharapkan Allah SWT dalam A
l Qur‟an
Surah Al Baqarah
: 143:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->