Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ibnu sahnun

ibnu sahnun

Ratings: (0)|Views: 881 |Likes:
Published by sukron sbm

More info:

Published by: sukron sbm on Nov 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2012

pdf

text

original

 
 REINVENTING
NILAI-NILAI ISLAM MENGENAI PERANAN GURUDALAM PENDIDIKAN KARAKTER
Oleh: Dr. Abdul Munip, M.Ag 
Pengantar
Dalam situs resmi BKKBN terungkap berita yang mengejutkan, yaitu:
BKKBN: Sebanyak 63% Remaja Pernah Berhubungan Seks. KESRA-- 19 DESEMBER 2008:Menurut hasil survei yang dilakukan salah satu lembaga, 63 persen remaja di Indonesia usiasekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen diantaranya melakukan aborsi. "Hasil survai terakhir suatu lembaga survei yang dilakukan di 33provinsi tahun 2008, sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan sekssebelum nikah," kata Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BadanKoordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) M Masri Muadz, saat PeluncuranSMS Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Serang, Jumat.Ia mengatakan, persentasi remaja yang melakukan hubungan seksual pra nikah tersebutmengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Berdasar datapenelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung,Surabaya, dan Makassar, masih berkisar 47,54 persen remaja mengaku melakukan hubunganseks sebelum nikah. Namun, hasil survei terakhir tahun 2008 meningkat menjadi 63 persen."Perilaku seks bebas remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangatpenting mengantisipasi perilaku remaja tersebut," katanya.Menurut dia, ada beberapa faktor yang mendorong anak remaja usia sekolah SMP dan SMAmelakukan hubungan seks di luar nikah di antaranya pengaruh liberalisme atau pergaulanhidup bebas, faktor lingkungan dan keluarga yang mendukung kearah prilaku tersebut sertapengaruh perkembangan media massa. Oleh karena itu, dengan adanya perilaku seperti itu,para remaja tersebut sangat rentan terhadap resiko kesehatan seperti penularan penyakitHIV/AIDS, penggunaan narkoba serta penyakit lainnya. Sebab, data Departemen Kesehatanhingga September 2008, dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDSdi Indonesia 54 persen adalah remaja.
Berita di atas hanyalah sebagian dari fenomena gunung es merosotnya nilai-nilai moral dalam kehidupan para remaja kita. Tawuran pelajar, maraknya peredarannarkoba di kalangan siswa, adanya siswa yang terlibat dalam tindakan kriminal, dantindakan-tindakan tidak terpuji lainnya merupakan keprihatinan kita bersama. Tidakhanya di kalangan remaja saja, secara umum bangsa Indonesia dihadapkan pada
Disampaiakan dalam acara Diskusi Forum Lingkar Hijau BEM Fakultas Ilmu Pendidikan UNYtanggal 02 Maret 2009.
**
Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Abdul Munip Tarbiyah UIN Suka Yogyakarta
1
 
berbagai problem dan krisis kebangsaan yang serius. Berbagai permasalahan silihberganti menyita perhatian semua anak bangsa. Jika tidak segera ditangani dandiantisipasi, maka problem dan krisis itu bisa mengarah pada bergesernya karakter(jati diri) bangsa ini, dari karakter positif ke negatif.Fenomena itu tidak berlebihan karena belakangan ini tampak mulai menggejalabeberapa karakter negatif yang melanda bangsa ini, seperti: budaya korup, hipokrit,materialistik, lebih menyukai jalan pintas, intoleran, kekerasan,
distrust
 (ketidakpercayaan kepada pihak lain), dan lain-lain. Pelaksanaan evaluasi hasilbelajar dalam bentuk Ujian Nasional (UN) terpaksa dilakukan melalui prosedur danproses yang sangat
ribet
, dari pengawasan silang, pemantauan oleh pemantauindependen, sampai pengawalan distribusi soal yang melibatkan aparat kepolisian.,sesuatu yang mungkin hanya terjadi di Indonesia.Andaikata bangsa ini tidak sedang dilanda penyakit
distrust
tentu pelaksanaanUjian Nasional cukup diserahkan kepada pihak sekolah penyelenggara, dan tidakmelibatkan banyak pihak yang berujung pada efisiensi biaya penyelenggaraan.Andaikata semua elemen bangsa ini masih menjadikan kejujuran sebagai
spirit
danetika dalam menjalankan tugas dan peranannya masing-masing, niscaya tidak perlulagi dibentuk berbagai lembaga pengawasan yang berlapis-lapis, seperti BPK, BPKP,KPK, Bawasda, dan lain-lain. Andaikata para pemimpin dan wakil rakyat kitamampu menjaga amanah jabatan yang disandangnya, tentu kesejahteraan rakyatakan segera bisa dinikmati secara merata.Sesungguhnya banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gejala di atas,tetapi faktor pendidikan lah yang sering dituduh sebagai "biangkeroknya".Asumsinya, tugas utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang juga bisa diungkapkan sebagai "produsen" manusia Indonesia. Jika manusia yangdihasilkan oleh pendidikan telah gagal mengantarkan bangsa ini kepada keadilan,kemajuan, dan kesejahteraan bersama, maka tidak salah kiranya jika pendidikandipertanyakan ulang pemenuhan fungsinya. Adakah sesuatu yang salah dalam
Abdul Munip Tarbiyah UIN Suka Yogyakarta
2
 
pendidikan kita? Pada kenyataannya memang demikian. Pendidikan kita masihbergulat dengan sejumlah problem yang melilit dirinya sendiri.Pendidikan kita dihadapkan pada sejumlah problem yang bersifat makro danmikro. Pada tataran makro, setidaknya ada dua permasalahan mendasar, yaituorientasi filosofis dan arah kebijakan. Secara tersurat, tujuan pendidikan nasional kitasungguh sangat ideal karena menjangkau semua dimensi kemanusiaan kita(religiusitas, etis, fisik, keilmuan, dan
life skill
), tetapi terjadi
 gap
antara cita-citadengan upaya dan instrumen untuk mencapai cita-cita tersebut. Implementasipendidikan kita sering lebih menciptakakan manusia yang bertipe mekanistikdaripada humanistik. Berbagai kebijakan juga seringkali mengebiri dan sengajamengerdilkan pendidikan. Pada tataran mikro, kita dihadapkan pada kesenjangankualitas yang sangat jauh antar lembaga pendidikan dalam hal in put siswa,ketersediaan sarana, SDM, lingkungan, dan lain-lain.Melihat kenyataan seperti itu, masihkah ada cahaya harapan dari duniapendidikan? Tentu masih banyak sisi-sisi positif pendidikan kita. Sejumlah lembagapendidikan alternatif semakin bermunculan, siswa-siswa kita juga bisa berlaga diajang internasional, banyak guru kita juga yang merupakan manusia-manusia kreatif,dan lain-lain. Namun demikian, agar pendidikan kita mampu berperan lebih besardalam menggali, mengembangkan, menjaga, dan mengawal karakter positif bangsaini, perlu ada
design
besar yang sistematis dan terarah, bukan hanya
by accident
. Disinilah para guru dituntut ikut berperan aktif secara optimal.Belakangan ini telah tumbuh kesadaran betapa mendesaknya agenda untukmelakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagaigenerasi penerus bangsa. Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskankonsep-konsep tentang pendidikan karakter, dan sebagiannya lagi bahkan sudahmelangkah jauh dalam mempraktekannya. Tulisan ini mencoba untuk ikut
urunrembug
dengan melakukan
reinventing
atau penggalian kembali nilai-nilai Islamterutama tentang peranan guru dalam dunia pendidikan. Hal ini perlu dilakukanagar kita (umat Islam, yang merupakan mayoritas warga bangsa ini) tidak asing
Abdul Munip Tarbiyah UIN Suka Yogyakarta
3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rifqah Fauziyyah liked this
Nor Haniniey liked this
Muhammad Farid liked this
Saifullah Saiful liked this
adiretsu7491 liked this
habbadz liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->