• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
REORIENTASI PENDIDIKAN AGAMA PADA ERAMULTIKULTURAL dan MULTIRELIJIUS
*
M. Amin Abdullah
**
Diskusi tentang agama-agama di tanah air, menurut kesan saya pribadi yang sudah barang tentu belum tentu benar adanya, lebih didominasi oleh model-model pendekatanTeologi (atau Kalam dalam dunia pemikiran Islam). Padahal menurut Charles J. Adams (1976),Richard C. Martin (1985) dan Mohammad Arkoun (2002), pendekatan studi agama hinggasekarang setidaknya telah melewati 4 perkembangan: sejak dari model pendekatan
 Normatif-relijius
yang menekankan model pendekatan dogmatis-polemis-agresif, berkembang ke
 Pilologis-historis,
yang menitikberatkan studi naskah-naskah keagamaan, kemudian berkembang lagi dengan memanfaatkan jasa
ilmu-ilmu sosial 
, dan terakhir berkembang ke arah
 penomenologi agama
yang mengetengahkan cara pandang baru dan sikap yang lebih adil-transparan-terbuka dalam melihat realitas objektif keanekaragaman agama umat manusia.Rasa-rasanya membangun corak Teologi inklusif-pluralistik, baik yang diajukan olehkelompok Muslim maupun Kristen atau oleh kelompok agama lain manapun, sangat sulitdimengerti dan dipahami apalagi di praktikkan oleh umat manusia dalam kehidupan sehari-hari, jika saja sejarah perkembangan dan model-model pendekatan yang digunakan studiagama-agama di lingkungan komunitas umat beragama sendiri tidak pernah diperkenalkan.Pendekatan dan pemahaman terhadap agama-agama memang memerlukan pendekatanyang “khas” dan adil-terbuka-transparan terhadap realitas hidup beragama pada umumnya.Pendekatan baru ini tidak boleh secara tergesa-gesa menepikan apalagi menyingkirkankeberadaan pengikut agama-agama yang secara faktual memang hidup dalam masyarakatmajemuk, tetapi tidak juga boleh berpendapat dan memandang bahwa seluruh agama-agamayang ada itu sama saja. Setiap agama yang ada secara historis-empiris adalah “unik”, tidak bisadisamakan dengan begitu saja antara satu dan lainnya. Namun di balik ketidaksamaan yangnyata tersebut, juga terkandung nilai-nilai dasar fundamental yang sama, yang hanya dapatdipahami secara “intelektualdan “spiritual”, dan bukannya secara “emosionaldan“institusional”.
* Disampaikan dalam Seminar sehari tentang “Rethinking Islam UII”, 30 September 2003.*
*
Guru Besar dan Rektor IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
 
Religiosity, Religions, Being religious
Dari catatan tersebut, mungkin ada manfaatnya jika dibedakan terlebih dahulu- meskipun tidak dapat dipisahkan - antara tiga konsep berikut : Keberagamaan manusia
(
 Religiosity
)
, Keanekaragaman agama
(
 Religions
)
dan Proses “menjadi” kearah yang lebih baik-sempurna-lengkap, yang tidak kenal henti, dan terus menerus berlangsung selama hayatdikandung badan
(Being religious)
. Di antara ketiga konsep tersebut ada pertanyaan susulanyang perlu dijawab: mana di antara ketiga wilayah keagamaan tersebut yang dianggap
 Absolute
” (mutlak), mana yang dianggap “
 Relative
” (nisbi) dan manapula yang bersifat
 Relatively absolute
” (secara relatif absolut). Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ketiga haltersebut dicampur aduk, sehingga menyulitkan umat beragama dalam menghadapi persoalan pelik sosial-keagamaan di masyarakat, dan bahkan mendorong ke arah percekcokkan, perselisihan dan benturan antar umat beragama.Setiap orang, keluarga, kelompok dan juga masyarakat merindukan, ingin mengenaldengan sungguh-sungguh dan mendambakan tanpa syarat adanya ide dasar Ketuhanan,Kebaikan, Kesejahteraan, Kesehatan, Kedamaian, Keadilan, Kemerdekaan, Kebahagiaan,Ketenangan, Spiritualitas, Integritas, Kejujuran, Ketertiban, Keselamatan dan Keindahan.Tuntutan dan kebutuhan dasar umat manusia ini bersifat Absolut atau mutlak, karena setiapmanusia, tanpa pandang perbedaan warna kulit, etnisitas, ras dan agama, mendambakan danmencita-citakan hal yang sama. Ide Kebaikan atau Keadilan, sebagai contoh, dituntut, dicita-citakan, didambakan dan diimpi-impikan oleh semua lapisan masyarakat beragama baik itumasyarakat Muslim, Yahudi, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, maupun masyarakat pengikutagama lainnya, bahkan oleh sekelompok masyarakat atau individu yang tak mau berafiliasidengan kelompok agama yang manapun. Begitu juga “religiusitas”, religiositas adalah sejenistuntutan pemenuhan hal-hal yang bersifat pokok, fundamental, spiritual, dan mendasar, yangdiperlukan oleh setiap umat manusia tanpa pandang latar belakang etnisitas, asal negaramaupun komunalitas keberagamaannya. Itulah makna Absolut yang dimaksud dalam tulisanini.Hanya saja, perlu segera dicatat disini bahwa ketika hal-hal yang dianggap “
absolute
ini turun ke bawah, ke wilayah kesejarahan manusia dan sosial kemasyarakatan yang bersifathistoris-empiris-kultural, maka terjadilah berbagai model, corak, cara, pilihan strategi dantaktik untuk mencapainya. Setiap kelompok masyarakat, budaya dan agama mempunyai carayang berbeda-beda dalam merumuskan, mengkonseptualisasikan, menginterpretasikan apalagimenentukan cara-cara untuk mencapainya. Termasuk di sini konsep-konsep kepercayaan,2
 
agama, spiritualitas yang dirumuskan secara historis-empiris, seperti yang termanifestasikandalam Hindu, Budha, Yahudi, Kristen, Katolik, Islam dan begitu seterusnya.Masing-masing kelompok ras, etnis, golongan, budaya dan agama berlomba dengancaranya sendiri-sendiri untuk mencapai dan memenuhi kebutuhan yang dianggap pokok,mendasar dan absolut tersebut. Perbedaan konsep, bahasa yang digunakan, kultur, luas-sempitnya pengetahuan, cara dan strategi untuk mencapainya inilah yang menjadikan sebagiananggota masyarakat kemudian bertikai untuk memperebutkan yang “terasli”, “terbaik”,“terunggul”, “tersempurna”, “paling dapat menyelesaikan persoalan” dan begitu seterusnya.Tanpa sadar, manusia telah memasuki wilayah pertarungan dan kompetisi yang bersifatsosiologis. Hukum-hukum sosial mulai berlaku disini. Untuk menambah kewibawaan ajaran didepan umat pengikutnya, maka pengutipan dan penyitiran teks wahyu harus dilakukan di sana-sini tanpa mempedulikan konteks, dan begitu seterusnya. Oleh karenanya, pada dataran ini,semua yang tadinya dianggap absolut tersebut tiba-tiba berubah menjadi “relatif”.Relatif di sini, bukan berarti nihilistik. Relatif disini semata-mata karena adanya perbedaan-perbedaan interpretasi dan pemaknaan antara pengikut golongan agama yang satudan golongan agama yang lain. Relatifitas di sini ini wajar adanya, karena tingkat perbedaan pengalaman sejarah yang dijalani oleh suku, raja, umat, bangsa,
kawulo cilik 
, golongan elit,tingkat pendidikan yang diperoleh oleh masyarakat (nomad, agraris, industri, informasi-komunikasi) dan alat-alat teknologi yang dimiliki. Belum lagi, bicara tingkat jaringan kerja(
networking 
) yang dimiliki dan intensitas kontak dan pertemuan dengan golongan ataukelompok lain. Di sinilah kita baru dapat memahami makna pluralitas agama, dengan akibatrelativitas yang turut melekat di dalamnya. Namun, relativitas di sini sama sekali tidak dikandung maksud untuk menafikan, apalagi sampai menegasikan tujuan-tujuan luhur yangsecara “absolut” diajarkan, dimiliki dan dipegang teguh oleh pengikut agama-agama. Yang jelas, ketika cita-cita luhur,
belief 
,
credo
, iman,
aqidah
yang semula dianggap “absolut”tersebut dikonseptualisasikan dan diungkapkan lewat bahasa manusia dandiinstitusionalisasikan lewat lembaga, perkumpulan dan organisasi-organisasi sosial, budayadan agama, belum lagi kepentingan politik ikut terlibat dan bermain di dalamnya, maka iamemasuki wilayah yang bersifat historis-kultural dan “relatif”.Dengan begitu, maka hal-hal yang bersifat relatif(
instrumental values
)sesungguhnya tidak dapat dengan begitu saja dipindah ke wilayah yang bersifat “absolut”(
ultimate values
). Jika hal-hal yang sesungguhnya relatif ini diabsolutkan atau disakralkan,maka cepat atau lambat akan terjadi disharmoni sosial (ketidaknyamanan, ketakutan,3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...