• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
1
Pembangunan Kepariwisataan Sumatera Barat:Pengembangan Potensi Wisata Budaya
1
 
Oleh Shofwan Karim Elha
2
 
I. Pendahuluan 
Berkembangnya strategi
multi-track diplomacy
atau
total diplomacy 
telahmemberikan pengaruh signifikan bagi hubungan antarbangsa. Jika dulu fungsi fungsidiplomasi dan diplomasi itu sendiri hanya dapat dilakukan oleh Negara, maka saat inidiplomasi dapat dilakukan oleh publik sebagai
non state actor 
seperti Multi NationalCoorporation/Trans National Coorporation (MNC/TNC), Non GovernmentalOrganization (NGO), Pemerintah Daerah, kalangan bisnis, masyarakat dan peroranganatau individu..Tidak terkecuali dengan apa yang terjadi di Indonesia. Aktor-aktor non-negara juga bermunculan sebagai respon penyikapan fenomena baru hubungan internasional.Salah satu aktor non-negara yang sangat aktif ialah Pemerintah Daerah. Terlepas dariperubahan paradigma pasca Perang Dingin dalam hubungan internasional, reformasidomestik yang tercermin dalam otonomi daerah memainkan peranan yang sangat pentingdalam membuka peluang kerjasama antara Pemerintah Daerah, tentu saja, dalam kontekshubungan internasional. UU Otonomi Daerah yang mengatur pasal Hubungan LuarNegeri secara eksplisit menjelaskan kewenangan apa saja yang dapat dilakukan olehPemerintah Daerah dalam membuka hubungan luar negeri. Jika kita interpretasikan UUtersebut maka Pemerintah Republik Indonesia sebenarnya memberikan lahan yang cukupluas kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan upaya
multi-track 
 
diplomacy.
 Salah satu
item
penting yang terdapat dalam
multitrack 
diplomacy ialahDiplomasi Kebudayaan. Diplomasi kebudayaan sangat populer di awal tahun 1990-anyang dirintis dan dikembangkan sebelumnya oleh Menlu RI Prof. Dr. MochtarKusumaatmadja. Melalui diplomasi kebudayaan ingin ditanamkan, dikembangkan dandimantapkan citra Indonesia sebagai negara bangsa yang berkepribadian luhur danberkebudayaan tinggi. Studi tim Universitas Udayana mengungkapkan diplomasikebudayaan pada waktu itu berdampak sangat signifikan terhadap peningkatanpariwisata, industri, perdagangan, investasi, pendidikan, dan pelaksanaan politik luarnegeri.
3
 Revitalisasi diplomasi kebudayaan dapat diakselerasi kembali sebagai programnasional yang ditunjang oleh beberapa daerah dalam tumpuan konsep Bhineka TunggalIka Indonesia. Diplomasi kebudayaan mampu dilaksanakan secara sinergis antaraDepartemen Budpar, Deplu, Departemen Perdagangan dan Departemen lainnya denganmelibatkan kantor kedutaan besar serta didukung oleh propinsi-propinsi melalui kegiatan
1
Disampaikan Pada “Annual Lecture dan Seminar Mengenang Tokoh Diplomasi Bung Hatta: ApresiasiPerjalanan 50 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Malaysia”, kerjasama Universitas Andalas dengan DepluRI (Dit. Asia Timur & Pasifik dan Dit. Diplomasi Publik) dan KBRI Kuala Lumpur di Padang, Kamis, 19April 2007.
2
Drs. H. Shofwan Karim Elha, MA, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Dosen IANImam Bonjol Padang dan aktivis masyarakat.
3
http:// 
www.balipost.co.id 
 /BALIPOSTCETAK/2006/1/27/o3.htm
 
2pameran kebudayaan, misi kesenian, pertukaran pemuda, mahasiswa, dan pelajar sertakalangan profesional antar-negara, workshop dan dialog budaya, pemutaran film danpublikasi. Sasaran produktif tentu saja negara-negara persinggahan wisata seperti negaratetangga Malaysia dan Singapura serta negara-negara pemasok wisatawan utama sepertiAS, Kanada, Jepang, Cina, Taiwan Inggris, Jerman, Belanda, Italia, Prancis, Australia,dan lain-lain. Lokasi pameran dan peristiwa kebudayaan perlu dipilih pada sentra-sentrabudaya yang strategis seperti museum, kampus, festival seni, dan pameran-pameran yangbergengsi secara internasional.
4
 Di dalam ikut serta memberikan kontribusi pemikiran untuk masa depanhubungan Indonesia-Malaysia pada Annual Lectrue dan Seminar Bung Hattta tahun ini,maka tulisan berikut memaparkan secara deskriptif pemahaman umum tentangpariwisata dan mencoba mengemukakan secara khusus potensi pengembangan wisatabudaya Sumatera Barat serta
(re)packaging
kepariwisataan daerah ini serta bagaimanamembangun recognisi masyarakat sehingga kepariwisataan Sumbar yang berbasis wisatabudaya lebih berarti dan lebih produktif di masa depan . Untuk lebih memberikan kesan,akan ditayangkan pula bebera cuplikan kepustakaan digital yang diberikan atas budi baik Kantor Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Sumbar.
II. Memahami Pariwisata 
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki naluri untuk berhubungan denganorang lain. Dalam masalah kepariwisataan, perjalanan wisata dari satu daerah ke daerahlain merupakan gejala sosial manusia yang selalu ingin melakukan hubungan denganorang lain. Pariwisata sendiri telah muncul seiring dengan peradaban manusia. BangsaSumeria telah melakukan perjalanan dengan motivasi sederhana yaitu
survival
yangkemudian berkembang menjadi ingin berdagang. Sedangkan Bangsa Romawi melakukanperjalanan untuk 
 plaisir 
(bersenang-senang).Dalam peradaban modern, pesatnya arus informasi, perkembangan teknologikomunikasi, ilmu pengetahuan, dan seni, menyebabkan orang tergerak untuk melakukanperjalanan wisata ke luar daerah bahkan luar batas wilayah negara. Derasnya arusinformasi dan promosi negara tujuan wisata, semakin meningkatkan keinginan manusiauntuk saling berkunjung ke negara negara tujuan wisata. Memperbincangkan negaradalam arti luas dan daerah provinsi dalan arti sempit sebagai tujuan wisata, dalamkonteks modern, hal ini tentu saja bisa dikonstruksi dengan upaya serius dari pihak yangterkait agar bisa menanamkan imej atau persepsi kepada alam pikiran manusia sebagaiobyek dari konstruksi tersebut. Salah satu caranya ialah menggiatkan informasi dan
advertising
secara berulang-ulang. Karena bagaimanapun juga “repitisi menghasilkanreputasi”. Di dalam pengalaman penulis mengunjungi berbagai negara serta menerimakunjungan tamu mancanegara baik secara rombongan maupun perorangan, ternyatawisata budaya merupakan satu hal yang amat mendalam kesannya. Penampilan kesenian
4
Ibid
 
3atau
culture show
, pameran budaya dan kunjungan ke pusat-pusat sejarah, budaya danagama melebihi kesannya di bandingkan hanya melihat dan mengunjungi keindahanalam dan bepergian ke pusat belanja atau sektor rekreasional lainnya. Meskipundemikian, dunia-wisata tidak bisa dipilah-pilah secara ketat hanya dengan satu sektorsemata.Kosa kata pariwisata berasal dari kata “pari” yang berarti banyak, berkali-kali,berputar-putar dan “wisata” artinya bepergian atau perjalanan. Jadi, pariwisata berartisuatu kegiatan perjalanan atau bepergian yang dilakukan dari satu tempat ke tempat lain,dengan tujuan bermacam-macam. Pada sisi lain Pariwisata adalah segala sesuatu yangberhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata sertausaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Istilah pariwisata dicetuskan oleh PresidenRI, Ir. Soekarno tangal 14 Juni 1958 dalam penutupan Musyawarah Nasional Tourism IIdi Gedung Pemuda Surabaya. Presiden menanyakan kata apa yang tepat untuk pengganti
tourism
e kepada Menteri P & K Dr. Pryono. Menteri menjawab, untuk antardaerah/kotadipakai kata “darmawisata” dan untuk antarbenua dipakai kata “pariwisata”.
5
 Di dalam makna yang umum kepariwisataan (
tourism
) terambil dati kata
tour 
 atau perjalanan. Menurut kamus Encarta,
tour·ism (n) 1. the visiting of places away fromhome for pleasure 2. the business of organizing travel and services for people traveling for pleasure.
Tourisme berarti (1) kunjungan ke suatu atau beberapa tempat yang jauhdari rumah untuk kesenangan: (2) urusan yang berhubungan dengan penyelenggaraan danpelayanan bagi orangan yang melakukan perjalanan untuk kesenangan.Secara garis besar tujuan perjalanan pariwisata itu dibedakan antara :
(1) Business tourism
, yaitu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan tujuan dinas, perdagangan, atau yang berhubungan denganpekerjaan.
(2) Vacational tourism
, perjalanan untuk berlibur atau cuti.
(3) Educatitonal tourism
dan
Convention tourism
, perjalanan untuk kepentinganpendidikan, studi , penelitian dan kongres di dalam maupun di luar negeri,seminar, konprensi, simposium , musyawarah, konvensi, pertemuan para-pakardan lain-lain.Sementara itu dilihat dari segi obyeknya, pariwisata itu dapat ditinjau dari beberapa jenis:
(1) Cultural tourism
, wisata kebudayaan, seni, dan pertunjukan tradisional sertapenampilan dan atraksi budaya pada umumnya, kunjungan ke lokasipeninggalan masa lalu, pusat kepurbakalaan dst.
(2) Recuperational tourism
, jenis kepariwisataan penyegaran dan kesehatan,kepegunungan, ke daerah tertentu dan lain-lain.
(3) Commercial tourism
, yaitu kepariwisataan yang dikaitkan dengan kepentinganusaha daganag, kontak produsen dan konsumen, kontak dagang salingmengtuntungkan dan sebagainya.
(4) Sport tourism
, wisata untuk menyaksikan event olahraga nasional daninternasional seperti PON, Olympiade, formula, World Cup Champion dll.
(5) Poltical tourism
, perjalanan menyaksikan peristiwa-peristiwa tertentu diberbagai negara seperti Pemilu, pelantikan Presiden dan Kepala Negara, Raja,
5
H. Kodiyat, Ramaini. Kamus Pariwisata dan Perhotelan. Jakarta: Grasindo. 1992. Hal.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...