sejarah dan perkembangan AJAI (JI) dan linknya dengan camp camp pelatihan di Filipina serta tidak lupa pulamengaitkan kesamaan antar pola pikir Imam Samudra dengan OBL terhadap dunia Islam - Barat.AMH memulai Bab Ketiga (
Bahasa Terorisme
) dengan menjelaskan kegunaan Filsafat Analisa Bahasa untuk ujiungkapan terorisme oleh pelakunya dengan menyingkirkan makna makna yang tidak diperlukan. AMH mengutarakandalam kajian ontologis terdapat kemiripan keluarga (family resemblance) pada ungkapan yang digunakan keduanyayang melibatkan Tuhan yaitu sebagaimana penggunaan ungkapan InsyaAllah / dengan Ridho Allah oleh OBL ataupunungkapan GodBless America oleh GWB. Sedangkan kajian epistemology menunjukkan bahwa terorisme OBLbersumber pada paham jihad yang menurut Amh pengertian tersebut disalahtafsirkan, sedangkan terorisme GWBdidasarkan pada dasar epistemology demokrasi. Analisa terhadap languange games OBL dan GWB menunjukkanbahwa ungkapan ungkapan keduanya sebenarnya tidak memiliki kandungan faktual apapun, yang terjadi justruterorisme internasional mulai mengancan dan membahayakan ketahanan nasional masing masing. Terakhir, untukmenjelaskan pokok masalah mengap OBL merasa benar untuk membunuh penduduk sipil Amerika dan mengapaGWB menginvansi sebuah negara yang dianggap basis terorisme, maka teori Ryle bisa digunakan untuk menjelaskankegalatan berfikir mereka: kekeliruan pokok yang sering terjadi adalah melukiskan fakta yang termasuk kategorisesuatu, dengan menggunakan ciri ciri logis kategori lain.Bab Keempat sebagaimana judulnya yaitu
Terorisme sebagai Ancaman Ketahanan Nasional dan Kemanusiaan
,maka isinya pun tidak lain mencerminkan judul bab tersebut yaitu penjelasan ancaman terorisme terhadap ketahananbidang ideologi, terhadap ketahanan politik, terhadap pertahanan dan keamanan, serta terhadap kemanusiaan. Yangmenarik bagi saya di bab ini adalah sub bab Ancaman Terorisme terhadap Kemanusiaan dimana setelah menjelaskan
hubungan “Wahabi Kontemporer dengan AlQaeda” dan setelah menjelaskan “Doktrin Bom Syahid”, AMH menuturkan
bahwa ideologi yang merupakan akar kuat terorisme itu hanya akan tumbuh kuat pada aliran keras transnasionalismeyang tidak lagi bertumpu pada nation state, melainkan pada konsepsi Ummah yang didominasi oleh corak pemikiranekstrem, fundamentalis atau radikal. Aliran keras transnasionalisme tersebut kemudian dipaparkan oleh AMH yaitu :(1) Ikhwanul Muslimin Tarbiyah (2) Gerakan Jihadi (Ikhwani dan Salafi) (3) Hizbut Tahrir (4) Salafy Dakwah (5) GerakanSyiah dan (6) Jamaah Tabligh. Pemaparan tersebut disertai dengan penjelasan singkat plus mapping konstelasi satu
sama lain plus dengan NU dan Muhammadiyah. Entah mengapa AMH meletakkan “alarm tanda bahaya” tersebut
pada sub bab ancaman terorisme pada kemanusiaan.Bab Penutup menurut saya menjadi aneh ketika diberi judul
Terorisme dan Kepribadian yang Terbelah
, sebab haltersebut tidak menonjol pada hanya 5 halaman bab penutup tersebut yang isinya sekedar kesimpulan yang tidakmerangkum detail uraian empat bab sebelumnya kecuali pengertian terorisme dan inkonsistensi istilah terorisme,ditambah empat saran yang ringkasnya adalah (1) tanggungjawab PBB dan negara negara maju untuk demokrasiyang etis (2) perlunya pembersihan fundamentalis ala khawarij yang mengaku penganut wahabi (3) revitalisasiPancasila (4) masing masing agama perlu merevisi tujuan kemanusiaan dengan menafsir dan merekontruksi kembaliajaran agama bagi aksi kemanusiaan global tanpa memandang latar belakang pemeluk agama.Buku ini diawali oleh pengantar dari penulis dan juga pengantar dari Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda NU sekaligusKetua Moderate Muslim Society. Entah memang kebetulan atau justru mencerminkan maksud dari penulisan buku inioleh AMH, Zuhairi menjelaskan panjang lebar tentang sejarah dan tindakan ekstrem pengikut Wahabi sertamemetakan kelompok Islam menjadi kelompok wahabisme total, kelompok wahabi cenderung moderatdankelompok anti Wahabisme. Zuhairi mengakhiri pengantarnya dengan mendorong NU dan Muhamaddiyah mencegahpengaruh wahabisme yang berpotensi melahirkan terorisme.
Kritik
1.
Pembahasan tidak sesuai dengan judul bukunya (Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam) karena padakenyataannya pembahasan terorisme OBL dan GWB sebagaimana yang diakui oleh AMH lebih dikarenakan olehperbedaan epistemologis islam
–
demokrasi daripada perbedaan ontologisnya, karenanya buku tersebut lebih tepatbila diberi judul Terorisme Fundamentalis Islam dan Demokrasi
Leave a Comment
uploaded a new revision for this document (#2)
uploaded a new revision for this document (#1)