Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Api di Bukit Menoreh 91-95

Api di Bukit Menoreh 91-95

Ratings: (0)|Views: 406|Likes:
Published by api-19609718

More info:

Published by: api-19609718 on Nov 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Api di Bukit Menoreh 91
Byad min \u2022 Nov 24th, 2008 \u2022 Category: 1. Silat Jawa, SHM - Api dibukit Menoreh [1]
\u201cKenapa dengan kami berdua?\u201d
Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, \u201cTidak apa-apa. Tetapi kenapa kalian berada di sini? Tidak di
barak?\u201d

\u201cAku merasa lebih tenang di sini. Sakit kami tidak terganggu dan kami dapat beristirahat.\u201d
Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Tetapi ia masih berdiri di tempatnya. Sejenak ia merenungi keduanya.
I a menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan segera mengobati keduanya atau tidak.
Tetapi justru karena luka-luka keduanya tidak berbahaya bagi jiwa mereka, maka Kiai Gringsing
mengambil keputusan untuk membiarkan saja mereka dahulu, agar mereka tidak dapat pergi

meninggalkan tempat itu.

\u201cBagaimanapun juga, keduanya masih diperlukan,\u201d katanya di dalam hati, \u201cmeskipun pengetahuannya
tentang lingkungannya terlampau sedikit, tetapi mungkin ia dapat menunjukkan jalur yang dapat
ditelusur lebih jauh, sehing\u00ac ga akhirnya dapat diketemukan pusat dari usaha yang masih belum dapat
diketahui dengan pasti itu.\u201d
\u201cSudahlah,\u201d berkata Kiai Gringsing kemudian, \u201caku juga tidak akan mengganggu kalian. Beristirahatlah.\u201d
Kedua orang itu tidak menjawab. Mereka memandang saja wajah Kiai Gringsing dengan sorot mata yang
membayangkan keheranan. Mereka sama sekali tidak berbuat apa pun ketika Kiai Gringsing kemudian
melangkah meninggalkan ruangan itu.
Dimuka pintu ia berpaling sambil berkata, \u201cKalian memang harus beristirahat. Tidurlah supaya keadaan
tubuh kalian segera menjadi baik.\u201d
Kedua orang itu sama sekali tidak menjawab, selain memandang dengan mata mereka yang hampir tidak

berkedip.

Tetapi keduanya terkejut ketika Kiai Gringsing kemudian tidak saja menutup pintu. Tetapi pintu itu di
selaraknya dari luar.
\u201cHe, Ki Sanak,\u201d orang yang kekar itu berteriak, \u201capa artinya ini?\u201d
\u201cTidak apa-apa,\u201d jawab Kiai Gringsing dari luar, \u201csupaya kalian dapat beristirahat dengan tenang. Jangan
cemas, aku tidak akan pergi jauh. Aku selalu ada di sekitar tempat ini, sehingga apabila kalian
memerlukan aku, kalian dapat berteriak memanggil.\u201d
\u201cTetapi kenapa pintu itu diselarak?\u201d
\u201cTidak apa-apa. Sudah aku katakan, tidak apa-apa.\u201d
\u201cBuka sajalah. Buka sajalah. Kalau aku memerlukan keluar dari tempat ini, aku tidak usah berteriak
memanggil siapa pun.\u201d
\u201cJangan,\u201d sahut Kiai Gringsing, \u201cnanti kau akan terganggu oleh orang-orang yang keluar masuk ruangan

ini.\u201d
\u201cTidak, tidak,\u201d dan tiba-tiba saja tertatih-tatih orang yang tinggi kekar itu melangkah ke pintu. Sambil
memukul-mukul daun pintu leregan ia berkata, \u201cBuka, buka pintu ini.\u201d
\u201cTentu, nanti aku akan membukanya. Sekarang biarlah saja dahulu. Jangan hiraukan pintu itu. Sudah
aku katakan, kau akan dapat beristirahat dengan tenang.\u201d

Kiai Gringsing pun kemudian tidak menghiraukan orang itu lagi, meskipun ia masih memukul-mukul
pintu. Meskipun demikian, orang tua itu masih juga ragu-ragu meninggalkan tempat itu. Perlahan-lahan
saja ia melangkah memasuki ruang yang lain.
Dilihatnya beberapa orang perempuan dan anak-anak menjadi semakin cemas. Tetapi tidak seorang pun
dari me\u00ac reka yang bertanya kepadanya apa yang telah terjadi.
\u201cJangan takut,\u201d berkata Kiai Gringsing, karena ia yakin, perempuan-perempuan itu telah mendengar
suara orang yang tinggi kekar itu berteriak-teriak. Katanya kemudian, \u201cOrang itu tidak akan terbuat apa-
apa. I a marah kepadaku. Tidak kepada kalian. Aku sengaja menutup dan menyelarak pintu itu dari luar.
Jangan dibuka, supaya ia tidak pergi.\u201d
Perempuan dan anak-anak itu memandanginya seperti memandang sebuah tontonan yang paling
mencemaskan, seperti mereka melihat seorang penari yang kehilangan kesadaran oleh irama gamelan
yang cepat dan menikam dirinya sendiri meskipun tidak terluka.

Kiai Gringsing sadar sepenuhnya akan hal itu. Perempuan dan anak-anak itu memang telah dicengkam
oleh kece\u00ac masan. Tetapi mereka tidak berani mengatakannya.

\u201cMereka memerlukan perlindungan,\u201d berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. \u201cSayang, bahwa laki-laki
yang ada di barak itu telah terpengaruh oleh lingkungan yang dibangkitkan oleh orang-orang itu,
sehingga selalu diliputi oleh ketakutan. Bahkan para pengawas pun telah terpengaruh pula, justru karena
di dalam lingkungan mereka pun terda\u00ac pat seorang yang ikut serta di dalam usaha menakut-nakuti para

pekerja.\u201d

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Kiai Gringsing teringat kepada kedua muridnya. Mungkin ia dapat membagi
tugas. Salah seorang tetap di gardu pengawas, yang lain menung\u00ac gui kedua orang ini.
Kiai Gringsing tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada perempuan dan anak-anak
yang ketakutan itu, \u201cTunggulah sebentar. Aku akan mencari kawan untuk kalian.\u201d
Kiai Gringsing pun kemudian segera pergi dengan tergesa-gesa kembali ke barak. I a mengajak beberapa
orang yang masih mempunyai sedikit keberanian untuk mengubur mayat dukun yang terbunuh oleh
pisau belati beracun, pisaunya sendiri yang dilemparkannya kepada pemimpin pengawas, tetapi yang
kemudian justru kembali menikam punggungnya.
Kepada beberapa orang yang lain ia berpesan, bahwa sebentar lagi anaknya akan datang dan
memerlukan beberapa kawan sekedar untuk menghilangkan kejemuan, me\u00ac nunggui kedua orang yang
sedang beristirahat di sebelah dapur.
Agung Sedayu-lah yang kemudian mendapat tugas untuk menunggui kedua orang yang berada di
serambi dapur itu. Bersama dua orang yang diajaknya dari barak, ia pergi ke tempat kedua orang itu

terkurung.

\u201cApakah mereka tidak melarikan diri?\u201d bertanya salah seorang dari dua orang yang diajaknya itu.
\u201cMenurut ayahku, pintunya telah diselarak dari luar.\u201d
\u201cTetapi mereka pasti dapat membuka dinding yang tidak terlampau kuat. Melepas tali-talinya kemudian
menyuruk keluar.\u201d

\u201cKeduanya sangat lemah,\u201d jawab Agung Sedayu. \u201cMenurut Ayah keduanya tidak akan mampu berbuat
banyak.\u201d
KEDUA orang kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka

bertanya, \u201cApakah benar orang tua itu ayahmu?\u201d
Agung Sedayu mengerutkan keningnya, \u201cYa, kenapa?\u201d jawabnya.
\u201cWajahmu sama sekali tidak mempunyai persamaan dengan orang tua itu. Apakah kau anak tirinya?\u201d
\u201cBukan, aku memang anaknya.\u201d
\u201cSaudaramu, yang bernama Sangkan itu pun tidak mirip sama sekali dengan ayahmu, dan dengan kau

sendiri.\u201d
Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, \u201cKalau ia tidak segemuk itu, kalian akan segera melihat persamaan

itu. Tetapi ia menjadi sangat gemuk, sehingga kehilangan bentuk.\u201d
Kedua orang yang mengawaninya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mencoba
membayangkan wajah Swandaru apabila ia tidak menjadi segemuk itu.
\u201cMungkin, mungkin,\u201d yang seorang berdesis.
\u201cApa yang mungkin?\u201d bertanya kawannya.
\u201cKalau anak muda itu tidak terlampau gemuk. mungkin ia mirip dengan kakaknya dan ayahnya.\u201d
\u201cTetapi,\u201d bertanya yang lain, \u201ckenapa adikmu dapat segemuk itu, tetapi kau tidak?\u201d
\u201cAnak itu lahir di musim hujan, dan aku lahir di musim kemarau,\u201d jawab Agung Sedayu sambil

tersenyum.

Kedua orang itu pun tersenyum pula. Sekilas mereka melupakan kecemasan yang selama ini telah
mencengkam seluruh isi barak, dan orang-orang yang masih bersembunyi di sekitar tempat itu.
Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Mereka melangkahkan kaki mereka dengan ayunan yang
teratur, justru karena mereka sedang tenggelam dalam angan-angan masing-masing.
Kadang-kadang terlintas di kepala kedua orang yang mengawani Agung Sedayu itu, ketakutan dan
kecemasan yang selama ini selalu menghantui seisi barak dan bahkan para pengawas. Anak muda itu,
bersama adik dan ayahnya, ternyata telah melahirkan suasana yang baru bagi mereka, meskipun mereka
masih belum tahu pasti, apakah yang akan terjadi selanjutnya tanpa orang yang kekar, yang kekurus-

kurusan dan orang-orang lain yang selama ini memegang sebagian besar peranan di dalam lingkungan
mereka.
\u201cOrang-orang ini akan segera menggantikan mereka,\u201d berkata kedua orang itu di dalam hatinya, \u201cdan
kami semuanya masih belum mengetahui, apakah keadaan akan menjadi lebih baik atau bahkan
sebaliknya?\u201d

Sambil merenungi angan-angan masing-masing, maka mereka pun kemudian menjadi semakin dekat
dengan barak yang sebagian telah dipergunakan sebagai dapur.
\u201cKita sudah hampir sampai,\u201d desis Agung Sedayu.
\u201cYa. Tetapi bagaimana kalau kedua orang itu sudah menjadi pulih kembali dan melarikan diri?\u201d
\u201cKita akan mencegah mereka.\u201d
\u201cKalau mereka melawan?\u201d
\u201cKita akan menangkap mereka.\u201d
Kedua kawan Agung Sedayu itu tidak menyahut. Tetapi mereka merasa ngeri apabila mereka pun harus
berkelahi menangkap kedua orang yang selama ini mereka takuti. Terlebih-lebih lagi orang yang tinggi
dan kekar itu, meskipun ternyata bahwa orang yang kekurus-kurusan itu mempunyai peranan yang lebih
penting dari orang yang tinggi kekar itu. Ketika mereka memasuki pintu barak itu, mereka masih melihat
perempuan dan anak-anak duduk diam di tempatnya. Seakan-akan mereka sama sekali tidak berani
beranjak dari tempat mereka. Dengan wajah yang tegang dan dibayangi oleh ketakutan, mereka
memandang ketiga orang yang memasuki barak mereka itu.
Sejenak, Agung Sedayu dan kedua kawannya berdiri saja di muka pintu nemandangi seisi barak. Namun
sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun berkata, \u201cKami bertiga datang untuk menemani kalian di
barak ini, supaya kalian tidak terlampau ketakutan. Kami akan mencoba menjaga kalian dari segala
macam kemungkinan yang tidak kita kehendaki bersama-sama.\u201d
Beberapa orang perempuan saling berpandangan. Tetapi sorot mata mereka masih tetap membayangkan
keragu-raguan dan kebimbangan.
\u201cYa,\u201d sahut salah seorang kawan Agung Sedayu, \u201ckami akan berada di tempat ini untuk beberapa saat.
Bukankah kalian tidak berkeberatan?\u201d
Sekali lagi perempuan-perempuan yang ada di dalam barak itu saling berpandangan. Tetapi mereka
masih tetap berdiam diri. Namun demikian, karena kedua kawan Agung Sedayu itu telah mereka kenal
dengan baik sebelumnya, maka kedatangan mereka benar-benar telah mengurangi perasaan takut yang

mencengkam.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun berkata kepada kedua kawannya, \u201cTinggallah kalian di sini.
Aku akan melihat, apakah kedua orang itu masih ada di tempatnya?\u201d
Agung Sedayu tidak menunggu jawaban kawan-kawannya. I a pun segera melangkah masuk lewat pintu
butulan sampai ke dapur. Kemudian seperti petunjuk yang sudah diberikan oleh Kiai Gringsing, ia pergi
ke pintu yang masih diselarak.
Di muka pintu. itu Agung Sedayu berhenti sejenak. Dengan seksama ia mencoba mendengarkan tarikan
nafas dari dalamnya, sedang ia sendiri berusaha untuk menahan nafasnya sebaik-baiknya.
\u201cMereka masih ada di dalam,\u201d desis Agung Sedayu di dalam hatinya.
Namun demikian Agung Sedayu menjadi curiga, karena ia mendengar suara gemerisik dan derak bambu
yang patah.
\u201cApakah yang mereka lakukan?\u201d bertanya Agung Sedayu kepada dirinya sendiri.
Kecurigaan Agung Sedayu pun bertambah-tambah pula, karena suara itu semakin lama justru menjadi
semakin keras, sejalan dengan tarikan nafas yang semakin memburu.
Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. I a tidak mendapat lubang yang cukup besar untuk mengintip
apa saja yang telah mereka lakukan di dalam bilik yang sempit itu.
Karena Agung Sedayu tidak ingin menduga-duga saja untuk selanjutnya, maka Agung Sedayu pun
dengan hati-hati mendekati selarak pintu butulan. Perlahan-lahan pula ia mengangkat selarak itu.

Kemudian menyentak ia mendorong pintu butulan itu ke samping, sehingga pintu itu pun terbuka. Dada Agung Sedayu berdesir. I a melihat orang yang tinggi kekar itu, betapapun lemahnya masih mencoba untuk membuka dinding bilik yang tidak terlampau kuat itu.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->