Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Api di Bukit Menoreh 85-90

Api di Bukit Menoreh 85-90

Ratings: (0)|Views: 102 |Likes:
Published by api-19609718

More info:

Published by: api-19609718 on Nov 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Api di Bukit Menoreh 85
Byad min \u2022 Nov 22nd, 2008 \u2022 Category: 1. Silat Jawa, SHM - Api dibukit Menoreh [1]

Meskipun demikian, Ki Argapati tidak menjadi putus-asa. I a tidak menyesali nasibnya dengan keluhan-
keluhan yang cengeng. Meskipun kaki dan tangannya tidak dapat pulih kembali, namun ia masih selalu
berada di punggung kudanya, mengelilingi Tanah Perdikan Menoreh yang telah mulai hijau kembali.
Tanah yang membentang dari perbukitan di sebelah Barat sampai ke daerah-daerah yang berhutan di
sebelah Barat Kali Praga, rasa-rasanya sudah mulai hidup kembali.
Dengan bimbingan Ki Argapati, maka Tanah Perdikan Me\u00ac noreh mulai mengobati diri mereka. Mereka
mulai menyembuhkan luka-luka yang agak parah sedikit demi sedikit.
Demikian juga dendam yang selama ini tersebar di atas Ta\u00ac nah itu pun sedikit demi sedikit mulai
mencair dari setiap dada. Terutama anak-anak mudanya, yang semula terbagi di dua pihak.
Meskipun masih ada satu dua yang mengeraskan hatinya di dalam kesesatan, namun pada umumnya
Tanah Perdikan Me\u00ac noreh sudah menjadi baik. Seperti juga Ki Argapati yang menjadi baik. Namun di
dalam lubuk hatinya paling dalam, maka masih juga terdapat cacat seperti cacat pada tubuh Ki Argapati.
Ki Argajaya, adik Ki Argapati, telah dapat menampakkan dirinya kembali di antara rakyat Menoreh.
Karena kesungguhannya, serta seluruh keluarganya ikut membangun Tanah yang sudah hampir menjadi
abu itulah, maka perlahan-lahan ia mendapatkan tempatnya kembali sebagai adik seorang Kepala Tanah

Perdikan.
Perlahan-lahan, seperti pertumbuhan Tanah Perdikan itu, tumbuh dan mekar pulalah perasaan yang
tersimpan di dada gadis satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan itu. Putera Ki Demang Sangkal Putung,

ternyata lambat-laun mendapatkan tempat di hatinya. Sifatnya yang gembira dan terbuka, telah membuat Pandan Wangi sedikit demi sedikit melupakan kepahitan yang bertimbun-timbun telah menimpanya.

Dengan sadar, Agung Sedayu berusaha untuk tidak mengganggu hubungan yang sedang mekar di hati
kedua anak-anak muda itu. Apalagi Sekar Mirah untuk sementara masih juga berada di atas Tanah
Perdikan itu. Sedang kedua orang-orang tua, Kiai Gringsing dan Sumangkar, seperti gembala-gembala
yang sedang tekun menunggui domba-domba gembalaan mereka, masih juga berada di Menoreh. Selain
menunggui murid-murid mereka, maka kedua orang tua itu pun dapat menjadi kawan bercakap-cakap
yang mapan bagi Ki Argapati.

\u201cKalau kalian tinggalkan kami, maka aku akan kehilangan kawan berbicara di sore hari,\u201d berkata Ki
Argapati kepada mereka berdua.
Keduanya tersenyum. Kiai Gringsing pun kemudian menjawab, \u201cApakah tidak ada orang tua di atas
Tanah Perdikan ini?\u201d
\u201cMereka terlampau tua untuk bercakap-cakap tanpa arti,\u201d jawab Ki Argapati sambil tersenyum. \u201cMereka
sukar untuk berbicara tentang bermacam-macam persoalan yang tidak menegangkan urat syaraf, namun
bermanfaat bagi pengalaman pengenalan kita atas kehidupan di sekitar kita. Mereka, orang-orang tua di
Meno\u00ac reh hanya senang berbicara tentang air, padi yang sedang tumbuh, bintang Gubuk Penceng,
bintang Waluku dan bintang Panjer saja.\u201d
Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tertawa. Berkata Ki Su\u00ac mangkar, \u201cI tu pertanda bahwa mereka adalah
petani-petani yang rajin. Petani-petani yang tekun di dalam kerja. Kawan mereka yang terdekat adalah
air, musim, dan bintang-bintang yang memberikan petunjuk kepada mereka, kapan mereka harus
memulai musim tanam padi, musim tanam palawija, dan musim-musim yang lain, termasuk musim
mencari ikan di sungai Praga.\u201d
\u201cHe, kau pandai juga membaca pertanda bintang?\u201d
\u201cAku juga seorang petani.\u201d
\u201cPetani di istana Kepatihan Jipang.\u201d
Sumangkar tertawa. \u201cAku petani, juru masak, dan sekaligus pemomong di Kepatihan.\u201d
\u201cJabatan rangkap yang sukar dikerjakan bersama-sama.\u201d
Ketiga orang tua-tua itu tertawa. Di dalam kepala mereka ter\u00ac lintas kenangan masa silam mereka.
Terutama Sumangkar. Namun, meskipun ia tertawa seperti anak-anak yang mendapatkan permainan,

namun terasa desir yang halus telah menyengat dada\u00ac nya. Kenangan itu sebenarnya tidak begitu
menyenangkannya. Tetapi perasaan itu sama sekali tidak berkesan di wajahnya.
Dalam pada itu, Kiai Gringising pun kemudian berkata, \u201cTetapi bagaimana pun juga, akan datang

saatnya, kami minta diri.\u201d

\u201cYa, aku pun menyadari. Tetapi sudah tentu tidak besok atau lusa.\u201d
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Terkilas sesu\u00ac atu di dalam angan-angannya, tetapi ia
tidak mengatakannya.
Di luar rumah, Pandan Wangi duduk di bawah sejuknya pepohonan di kebun belakang. Di sebelahnya,
seorang anak muda yang gemuk duduk bersandar sebatang pohon melandingan.
Mereka tampaknya sedang asyik bercakap-cakap. Mempercakapkan diri mereka sendiri. Sedang di dalam
dada mereka, api cinta telah mulai menyala.
\u201cSetiap saat guru dapat membawa aku pergi, Wangi,\u201d kata Swandaru.
\u201cKapan, Kakang?\u201d bertanya Gadis itu.

\u201cAku tidak tahu,\u201d berkata Swandaru, \u201ctetapi aku mengharap tidak segera.\u201d
Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya jauh menusuk bayangan dedaunan yang menari-

nari di atas tanah yang kering.
\u201cTetapi sebelum aku meninggalkan Tanah Perdikan ini, aku akan minta guruku, mewakili ayah dan ibuku,
untuk sementara menyampaikan lamaranku, sampai pada saatnya ayah dan ibuku sendiri akan aku minta
datang kepada ayahmu.\u201d
Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.
\u201cAku harap bahwa pada suatu saat kau pun dapat melihat Kademangan Sangkal Putung. Meskipun tidak
sebesar Tanah Perdikan ini, tetapi Sangkal Putung adalah daerah yang subur dan kaya raya.\u201d
\u201cAku ingin sekali melihat daerah itu,\u201d berkata Pandan Wangi. \u201cApakah Sangkal Putung sudah tidak
pernah diganggu oleh gerombolan-gerombolan seperti yang pernah kau ceriterakan kepadaku?\u201d
Swandaru menggelengkan kepalanya. \u201cTidak. Sejak mereka dihancurkan di padepokan Tambak Wedi,
maka tidak ada lagi gangguan yang berarti bagi kademangan itu.\u201d
Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. \u201cApakah Sangkal Putung memiliki sawah yang luas?\u201d
\u201cYa, amat luas sawah dan pategalan. Dari ujung sampai ke ujung, Sangkal Putung tampak hijau segar.\u201d

\u201cAku pasti akan senang sekali,\u201d desis Pandan Wangi.
\u201cOrangnya pun cukup ramah dan baik seperti orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.\u201d

\u201cO. Menyenangkan sekali.\u201d
\u201cDan kau akan tinggal di daerah itu kelak.\u201d
Tetapi Pandan Wangi pun kemudian mengerutkan kening\u00ac nya. Tiba-tiba saja sorot matanya menjadi

buram.

\u201cTetapi,\u201d suaranya menurun, \u201capakah kelak aku harus meninggalkan Tanah Perdikan ini?\u201d
\u201cAku mempunyai kewajiban atas Kademangan Sangkal Putung,\u201d jawab Swandaru. \u201cAku akan
menggantikan ayah yang menjadi semakin tua.\u201d
\u201cAku mengerti. Tetapi bagaimana dengan Tanah ini? Ayah pun menjadi semakin tua, dan aku adalah

satu-satunya anaknya.\u201d

Kening Swandaru pun berkerut pula. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
tidak segera dapat men\u00ac jawab. I a mengerti kerisauan perasaan gadis itu. Kalau ia men\u00ac jadi isterinya
kelak, gadis itu wajib mengikutinya ke Sangkal Putung. Tetapi sebagai satu-satunya anak Kepala Tanah
Perdikan ini, ia akan menggantikan ayahnya. Suaminyalah yang kelak harus menjadi Kepala Tanan
Perdikan ini. Tetapi bakal suaminya yang gemuk itu mempunyai kewajiban sendiri atas tanah

kela\u00ac hirannya.

\u201cTetapi jangan hiraukan semuanya itu,\u201d berkata Swan\u00ac daru kemudian. \u201cKita akan dirisaukan oleh
masalah yang masih akan datang kelak. Jangan hiraukan supaya hati kita tidak risau kali ini. Pada
saatnya kita pasti akan menemukan cara, bagaimana kita akan memecahkan masalah ini.\u201d
Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.
\u201cSekarang kita hanya akan membuang-buang waktu saja. Senyum kita akan terganggu oleh masalah-
masalah yang masih jauh. Jangan hiraukan.\u201d

Pandan Wangi pun kemudian tersenyum pula. Kini ia sudah mengenal anak yang gemuk itu agak lebih
baik lagi. Swandaru tidak mau diganggu oleh angan-angan yang suram. I a ingin menikmati keriangan
hari ini. Dan itu dapat menghiburnya di saat-saat kepe\u00ac dihan menyentuh jantungnya.
\u201cKenapa kita mesti bermuram hati?\u201d berkata Swandaru setiap kali. \u201cLihatlah langit yang cerah. Hati kita

pun harus cerah pula karenanya.\u201d
Dan Pandan Wangi pun berusaha untuk menyesuaikan diri\u00ac nya. Perlahan-lahan ia menemukan
kegembiraannya kembali. Kini ia sudah mulai berkeliaran lagi di hutan-hutan perburuan. Tidak sendiri,

tetapi bersama-sama dengan kawan-kawannya yang agaknya sesuai dengan keadaannya. Kadang-
kadang, Pandan Wangi pergi berburu ber\u00ac sama Swandaru, Sekar Mirah, dan Agung Sedayu. Namun
ka\u00ac dang-kadang ia hanya berdua saja dengan anak muda yang gemuk itu, meskipun dalam waktu yang
sangat terbatas sekali, karena Ki Argapati selalu mengawasi mereka, meskipun tidak mengekang
terlampau keras. Juga Kiai Gringsing, tidak pernah membiarkan keduanya lepas dari pengawasannya,
karena apabila Swandaru tergelincir bersama Pandan Wangi, karena gelora remaja mereka, maka semua
hubungan yang baik itu pun akan menjadi rusak karenanya. Ki Argapati pasti menganggap muridnya
sebagai seorang anak muda yang kurang menghargai hubungan yang dianggap suci menjelang

terjalinnya suatu keluarga.

Diketahui atau tidak diketahui, Swandaru selalu tidak per\u00ac nah lepas dari pengamatan dukun tua itu.
Hubungan kedua anak-anak muda itu pun sama sekali tidak lepas dari pengamatan Argapati. Sebagai
seorang ayah ia mengerti, betapa di hati anaknya sedang tumbuh perasaan seorang gadis dewasa. I a
menyadari bahwa Pandan Wangi dan Swandaru Geni telah saling mencintai.
Dan Ki Argapati tidak berkeberatan atas cinta yang sedang bersemi itu, meskipun belum seorang pun
yang pernah menyata\u00ac kannya kepadanya, sebagai seorang ayah.
Karena Swandaru mempunyai kesibukan sendiri, maka Agung Sedayu pun mengisi waktunya dengan
kesibukannya sendiri. Kadang-kadang ia bersama Sekar Mirah mengikuti Ki Argapati menge\u00ac dari tlatah
Menoreh yang sedang membangun, diiringi oleh para pemimpin Menoreh yang lain. Namun kadang-
kadang ia pergi seorang diri mengikuti Ki Argapati tanpa pengawal. Sedang di saat yang lain, Agung
Sedayu berpacu di jalan-jalan yang berbatu padas, di lereng-lereng bukit bersama Samekta atau Kerti.
Bahkan kadang-kadang Agung Sedayu, hanya berdua saja bersama Sekar Mirah menjelajahi sawah dan

pategalan.

Dengan demikian, maka kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya bukan lagi orang asing di Tanah
Perdikan Menoreh. Setiap orang Tanah Perdikan Menoreh mengenal mereka berdua. Setiap orang Tanah
Perdikan Menoreh menghormati keduanya sebagai orang yang berjasa bagi Tanah Perdikan ini. Bahkan,
anak-anak muda yang sebaya dengan Agung Sedayu sambil berkelakar menyebut mereka berdua

sebagai, Sepasang Orang Berkuda.

Agung Sedayu dan Sekar Mirah hanya tertawa saja men\u00ac dengar sebutan itu. Bahkan Agung Sedayu
sering berdesis kepada Sekar Mirah, \u201cLain kali, kalau Adi Swandaru sudah tidak terlampau sibuk dengan
masalahnya, dan kedua anak-anak itu sering berpacu di sepanjang jalan-jalan Tanah Perdikan Menoreh,
akan tum\u00ac buh sebutan baru bagi kita semua.\u201d
\u201cSebutan apa kira-kira itu, Kakang?\u201d bertanya Sekar Mirah.
\u201cDua pasang Orang-orang Berkuda.\u201d
Sekar Mirah tertawa. Katanya kemudian, \u201cTetapi mereka tidak akan sempat melakukannya.\u201d
\u201cSekarang. Tetapi pada suatu saat, mereka pasti akan tertarik. Apalagi Pandan Wangi adalah satu-
satunya anak Ki Argapati.\u201d
Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. \u201cYa. Pandan Wangi adalah satu-satunya pewaris Tanah

Perdikan ini.\u201d

Namun demikian, di saat-saat terakhir, Ki Argapati banyak berbicara mengenai Tanah Perdikan ini justru
dengan Agung Sedayu, selain dengan pemimpin-pemimpin Menoreh sendiri. Ki Argapati sangat
menghargai pikiran-pikiran Agung Sedayu yang mantap, yang dapat memberikan jawaban atas kesulitan
yang berkembang di saat-saat Menoreh sedang menyembuhkan dirinya sendiri.
\u201cKedua murid Kiai Gringsing ini memang agak berbeda,\u201d berkata Ki Argapati di dalam hatinya. \u201cNamun
nampaknya Agung Sedayu agak lebih bersungguh-sungguh dari Swandaru. Anak ini mempunyai daya
pikir yang luar biasa kuatnya. Pantas, kalau ia adalah adik dari Panglima Pajang yang berkuasa di daerah
Selatan, Untara.\u201d

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->