15[ sun hodos - edisi I1 - oktober 2009 ]
tidak, itu adalah hasil pergumulan dandidikan Tuhan dalam hidup mereka. Selamamenjadi bagian dari pergumulan seorangpendeta, yang kita saksikan adalah prosesmenjadi seorang “hamba”. Proses itu jugayang membawa bagaimana kriteria-kriteriatersebut bisa diikuti. Tentu saja dengancara dan waktunya Tuhan. Sederhananya,lakukanlah apa yang baik di mata Tuhan dansenantiasa mengucap syukur.Masalah gereja adil atau tidak membuatbanyak kriteria, semua itu tergantungdari aturan gereja masing-masing. Gerejamempunyai aturannya sendiri yangsebelumnya tentu sudah disetujui olehbanyak orang yang berkepentingan. Padaakhirnya tidak ada gereja yang membuatperaturan bahwa pendeta itu haruslahseseorang yang sempurna. Atau menjadisempurna karena kriteria itu.Dalam wawancara kami dengan Bapak S.Rahardjo selaku ketua panitia penahbisanPdt. Rinto Tampubolon yang lalu, beliau juga berbagi pandangan mengenai sulitnyamenjadi seorang pendeta. “Bagaimana kitamengharapkan pendeta bagus kalau kitatidak mendukung? Kita mengharapkanpendeta itu seperti malaikat yang gajinyakecil, tapi kerja keras,” ungkapnya. Jika adadua pengerja yang melayani di GKI Serojasebaiknya tidak dibanding-bandingkan.Masing-masing pribadi punya kelebihanserta kekurangan. Jangan dicari-carikesalahannya apalagi adu gembala. “Kalaubisa pak Rinto jangan lebih hebat denganpendeta lain tapi jangan di bawah pendetalain. Kita harus sayangi dia sebagai bapak kita,” sarannya.
Pendeta juga manusia
Pendeta boleh dikatakan orang nomorsatu atau salah satu orang yang palingberpengaruh. Banyak orang melihatcerminan gereja dari seorang gembalasidangnya. Wajar bila pendeta lebih baik dibandingkan jemaatnya terutama dalam hal
penguasaan akan frman Tuhan dan iman.
Makanya seorang gembala sidang haruslahmenjadi contoh hidup bagi para jemaatnya.Bukan berarti harus 100% sempurna,karena bagaimanapun tidak mungkinseorang manusia bisa sesempurna Yesus.Kalau pendeta bisa membawa jemaatnyamenjadi maju, itu baik. Namun yang terjadi juga bisa sebaliknya. Kenyataan bahwa parapemimpin rohani adalah juga manusia biasayang serba terbatas memang harus disadarioleh umat agar tak mengharapkan yangberlebihan dari para pemimpinnya. Misalnya,mereka juga mengharapkan penghargaan,hidup layak dan keluarga sejahtera.Tidak bisa dipungkiri pendeta itu jugamerupakan manusia yang masih bisa jatuh dalam dosa. Jemaat juga tidak bisadilarang memperhatikan kehidupanpendetanya. Bahkan bersikap kritisterhadap setiap kekurangan dan kesalahanmereka. Ironisnya, kadang pendeta mintadiperlakukan beda seperti orang biasa(namanya juga pendeta) tapi sewaktumelakukan kesalahan, minta diperlakukanseperti manusia biasa (namanya jugamanusia). Pernyataan ‘pendeta juga manusia’dijadikan topeng bagi pendeta itu untuk menutupi kelakukannya yang buruk. Kalaualasan seperti tadi tidak bisa diterima siapayang menjadi hakimnya?
Jangan lihat pendetanya
Di gereja manapun masalah selalu ada, jangan pernah berharap akan menemukangereja yang sempurna dengan pendetaserta pelayan ataupun jemaat yang sesuaidengan keinginan kita. Semua manusia bisamengecewakan, tapi dimanakah mata kitatertuju? Yesus atau manusia? Terkadang jemaat menuntut terlalu banyak terhadappendetanya dan mengharuskan pendetanyabisa menyelesaikan cepatsemua permasalahan. Padahal jika mau membuka pikiran,gereja itu adalah tempat kitasebagai jemaat bertumbuh.Panggilan melayani berlakuuntuk semua orang. Kenapahanya pendeta yang dituntutharus begini-begitu? Kenapatidak juga menerapkan apayang kita minta dari pendetakita kepada diri kita sendiri. Tuhan bukanhanya menuntut hal-hal itu dari parapendeta, tapi juga kepada kita. Tidak perlumemperlakukan pendeta lebih istimewadaripada orang lainnya. Kalau ada perlakuankhusus, itu berdasarkan tugas yang tengahdilakukan.Hidup dengan standar kekudusan Allahitu adalah mutlak bagi setiap kita, tidak hanya untuk pendeta. Kalau anda melihatpendetanya bukan TUHANnya yang bekerjamelalui dia, anda pasti sudah lama kecewa.Namun iman seharusnya tidak lekangkarena melihat orang. Jika ada kelakuan parapelayan Tuhan yang menyebalkan, cobalahditegur dengan empati. Karena slogan“jangan lihat pendeta” dapat menjadi alih-alih sikap yang permisif dan membiarkankesalahan menjadi hal wajar dan terusterjadi. Ingat, Alkitab pun menetapkanstandar yang tinggi buat para pemimpin jemaat.
Lalu bagaimana?
Nah, karena pendeta juga manusia makatak tepat juga memberikan ekspektasi yangterlalu tinggi. Biasanya kalau ada yang terlalumengidolakan manusia, ujung-ujungnyakecewa. Setuju atau tidak, jika seorangpendeta (katakan yang terburuk sekalipun)terpilih, mereka adalah orang-orang yangdiurapi Tuhan, sudah sepantasnya kitahargai dan hormati. Dihargai sama sepertibagaimana kita menghargai orang-oranglainnya. Begitu juga, bila mereka melakukankesalahan tentu saja harus ditegur samaseperti kita menegur orang-orang lainnya.Cukup adil bukan?Karena dianggap memiliki pengetahuan dantentunya karakter kerohanian di atas jemaatbiasa, harusnya mereka mampu segerasadar dan membenahi kelalaiannya. Jika sangpemimpin spiritualitas dan organisasi inisudah membuat jemaatnya merasa ‘tidak nyaman’ apalagi bertentangan dengan TataGereja, tugas jemaat adalah melaporkankepada Majelis Jemaat. Jika teguran sudahdilakukan namun MJ tidak melihat suatuperubahan atau sikap rendah hati dariseorang hamba, MJ berhak melaporkankepada Klasis dan Sinode untuk dilakukanpelawatan bagi si pendeta.Kepemimpinan di GKI adalah kepemimpin-an kolektif. Namun dalam pelaksanaannyamenemui banyak kendala. Hal ini diakuiPurnama Sihombing, mantan penatua GKISeroja yang pernah menjadi anggota diBadan Pekerja Majelis Klasis. “Kolektif artinya tidak hirarki. Penatua dan pendetasecara jabatan adalah setara. Bisa dilihat diTata Gereja. Tapi nyatanya masih ada rasasegan atau
gak enakan
kepada pendetaatau penatua senior,” ungkapnya kepadaSunhodos.Penatua wilayah 4, Ibu Budiningsih jugamenyambut baik peran saling menegurdalam kasih diantara penatua dan pendetabaru. “Nanti kalau agak melenceng, ituharus kita ingatkan kembali... ya, sebagaimajelis kita harus melihat perkembangannyabagaimana. Kalau misalkan dilihat ada yang
Pnt. Budiningsih, Pnt. Rahardjo dan Pnt. Yulinda Sarah
Leave a Comment