ََ ٌ ئِصَّإٍََِ َ َىلَإِ َ َ َ ََ ْ َه ِ لا د َ ْ َ َُُأٍَََ َن ِ بْا ن ِ َءٍط َ َن ْ َ ٍ ْ َ جُن ِ بْا ن ِ َى َ ح ْ َ َ ثَد َى َ ح ْ َََ وََ ِ ش َ َِ ْ َ لْا اذ َ ٍَِ َ ح ِ بََِ َ سَ وَه ِ ْ َ َه ُ لا ى صَه ِ لا َ سُ رَت ُ ْأَ رَد ْ َ ْ ك ُ بِد َ َ ُْ ٌ م ئِأَ ْ ك ُ إِ ْ ك ُ بِد َ َ ُْت ٍ ْ بَ ُ ْأَةً َ
Dari ‘Atha dari Ibnu Abbas, pada hari Arafah ia memanggil saudaranya ‘Ubaidillah untuk menyiapkanmakanan, ia menjawab; “aku sedang shaum” maka Ibnu Abbas berkata; “Sesungguhnya kalian adalah pemimpin yang selalu diteladani, sungguh aku melihat Rasulullah SAW meminta secangkir susu pada hariarafah lalu beliau meminumnya.” (HR. Ahmad No. 3068)
ْ لََ ََ َ َ َ َِ ْ َِ ْ صَن ْ َ َ م َ ُن ُ بْا َ ِ سََُ ٍ َِن ْ َ َ َأُن ِ بْ َ ِم َ سْإِن ْ َُ َ ف ْسُ َ ثَد َ ٌ ؤ َ ُ َ ثَد َ َ َأُن ِ بْ َ ِم َ سْإِن ْ ََ َ ف ْسُن ْ َ ٌ ِ وَ َ ثَد َُم َ ْ َُ وَ ُ م َ َُ وَ ٍ ك ْ بَبُأََ وَ َ سَ وَه ِ ْ َ َه ُ لا ى صَ ِ لا ه ُ م ْ ُ ََ ْ َ ِ ْ َُم َ ْ َُ وَ ُ م َ َُ وَ ٍ ك ْ بَبُأََ وَ َ سَ وَه ِ ْ َ َه ُ لا ى صَ ِ لا ه ُ م ْ ُ َ ْ لَََ َ م َ ُن ِ بْا ن ِ َ ٍ جُ رَن ْ َ َ َ َ َ
Dari Nafi’ berkata; “Ibnu Umar ditanya tentang shaum hari Arafah, ia menjawab: “Nabi SAW tidak pernahshaum Arafah, tidak juga Abu Bakar, Tidak pula Umar dan tidak pula Utsman.” (HR. Ahmad No: 3069)
ه ِ ْ َ َه ُ لا ى صَه ِ لا ُ سُ رَََََ ٍ َِن َ بْ َ َ ُْت ُ ْ م ِ سَََه ِ بِأَن ْ َ ِ َن ُ بْىسَ ُ َ ثَد َ ٌ ِ وَ َ ثَد ٍَ ْ ُ وَ ٍ ْأَُأَن ُ وَِ َ سِْْا َ ْأََد ُ ِق ِ ِ ش ْ لا ُأَ وَ ِ ح ْ لا ُ ْ َ وَ َ َ َ َُ ْ َ َ سَ وَ
Dari Ayahnya (Musa Bin Ali) berkata, aku mendengar ‘Uqbah Bin ‘Amir berkata: Rasulullah SAW bersabda:“Hari Arafah, Hari Nahar (‘Idul Adha) dan hari-hari tasyriq adalah ‘ied kita masyarakat Islam dan semua hariitu (9,10,11,12,13 Dzulhijjah) adalah hari-hari makan dan minum.” (HR. Ahmad No. 16739)
Keterangan:Hadits-hadits di atas diriwayatkan dengan banyak jalan (sanad) walaupun ada yang lemah,namun kedla’ifannya tidak separah kedla’ifan hadits keutamaan shaum Arofah di atas(menyangkut ‘adalah rowi), serta banyak juga jalur sanad yang shahih.PENJELASAN
-
Para Fuqaha banyak yang berpendapat bahwa shaum Arofah hukumnya sunatbagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Yaitu dengan jalan konvergensi(menjama’) dua hadits yang bertentangan di atas. Padahal dalam metodologiIjtihad, Thariqatil Jam’i dilakukan karena sama-sama kuat (shahih) haditsnya. Dan jika salah satunya shahih sementara yang lain dla’if, maka cukup mengambil yangshahih saja.
-
Jika shaum Arofah disunatkan bagi yang tidak haji dengan alasan Rasulullah SAWmelarangnya ketika wuqud di Arofah, berarti Islam belum sempurna, karena Ayatterakhir ALYAUMA AKMALTU LAKUM… turunnya pada haji Wada’ di Arofah.
-
Jika shaum Arofah tidak disyari’atkan bagi yang haji saja dengan alasan RasulullahSAW melarangnya ketika Wuquf di Arofah, mengapa para shahabatmempertanyakan kedudukan shaum Arofah, padahal mereka mengetahui bahwabagi yang safar diperbolehkan berbuka shaum.
-
Berdasarkan hadits R. Ahmad, Tanggal 9, 10 Dzulhijah dan hari tasyriq adalah hari‘IED yang diharamkan berpuasa, baik bagi yang haji maupun tidak. Jika shaumarofah sunat bagi yang tidak haji, berarti hari tasyriq pun tidak haram shaum bagiyang tidak haji.
-
Nabi SAW pada Idul Fitri menyuruh makan dulu sebelum shalat ‘Ied. Namun padaIdul Adha tidak makan dulu karena sebelumnya tidak ada shaum.
-
Hadits dari Muslim yang menjelaskan pahala shaum arofah, shaum asyuro dst.Hanya menjelaskan keutamaan pahala shaum tersebut, bukan menunjukanhukum atau perintah syari’at shaum tersebut. Kemungkinan (dzanny) hadits iniada sebelum turun ayat kewajiban shaum Ramadlan. Juga maknanya yang tidaksharih (jelas) yaitu dapat menghapus setahun yang akan datang, padahal shaumRamadlan yang hukumnya wajib saja hanya menghapus dosa yang telah lalu. ‘illathadits ini turun sebelum turun ayat syari’at shaum Ramadlan ialah
Leave a Comment