Menurut penulis, ada dua hal penting yang perlu disoroti dalam UU ITE terkait dengan kepentingan penegakan hukum terhadap tindak pidana cyber crime, yaitu asas teritorial dan klasifikasi alat bukti yang sah.Keduanya hal tersebut dianggap penting karena terkait dengan upaya pembuktian tindak pidana cyber crime yangmemiliki karakteristik khusus sebagaimana diuraikan diatas.Berdasarkan karakteristik khusus yang terdapat dalam cyber space maka dapat dikemukakan beberapa teorisebagai berikut:a.
The Theory of the Uploader and the Downloader
Berdasarkan teori ini, dikatakan bahwa
s
uatu negara dapat melarang dalam wilayahnya, kegiatan
uploading
dan
downloading
yang diperkirakan dapat bertentangan dengan kepentingannya. Misalnya, suatunegara dapat melarang setiap orang untuk
uploading
kegiatan perjudian atau kegiatan perusakan lainnyadalam wilayah negara, dan melarang setiap orang dalam wilayahnya untuk
downloading
kegiatan perjudiantersebut. Minnesota adalah salah satu negara bagian pertama yang menggunakan jurisdiksi ini
b.
Teori
The Law of the Server
Pendekatan ini memperlakukan
server
di mana
webpages
secara fisik berlokasi, yaitu yang dicatatsebagai data elektronik. Menurut teori ini sebuah
webpages
yang berlokasi di server pada StanfordUniversity tunduk pada hukum California. Namun teori ini akan sulit digunakan apabila
uploader
beradadalam jurisdiksi asing
The Theory of International Spaces
Cyber space
dianggap sebagai
the fourth space
, yang menjadi analogi adalah tidak terletak padakesamaan fisik, melainkan pada sifat internasional, yakni
sovereignless quality
Ketiga teori tersebutlah yang digunakan pemerintah RI dalam penyusunan RUU ITE, khusunya terkaitdengan penentuan locus delictie dan tempus delictie. Pertimbangan inilah yang selanjutnya diwudkan melalui pasal 2 UU ITE yang berbunyi “
Undang-undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatanhukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun diluar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayahhukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.”
, sehingga dalam hal ini prinsip yang dianut adalah
universal interest jurisdiction
. Sedangkan dalam hal pembuktian terhadap tindak pidana, UU ITE telah memberikan terobosan barudengan adanya pengakuan terhadap
digital evidence
sebagai alat bukti yang sah dengan beberapa persyaratantertentu, sebagaimana diatur pada Bab III UU ITE. Hal ini sangat penting dalam penanganan kasus cyber crimemengingat kejahatan tersebut dilakukan dengan menggunakan teknologi, khususnya internet. Sehingga keberadaan bukti-bukti sebagaimana dalam kejahatan konvensional seperti surat-surat atau dokumen-dokumen lainnya akansangat sulit didapat
(paperless)
.
2.Analisis Kritis UU ITE
UU ITE sebenarnya telah dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah RI agar dapat secara optimalmenjerat tindak pidana cyber crime dengan berbagai modus operandinya
. Namun, dalam realitanya, menurut pengamatan dan pengalaman penulis sebagai penyidik pada fungsi Reskrim Polri, tetap saja terdapat faktor-faktor tertentu yang menjadi hambatan bagi penegak hukum secara umum
(Criminal Justice Cystem)
, dan penyidik Polri
12
Darrel Menthe,
“Jurisdiction in Cyberspace: A Theory of International Sraces”,
http://www.mttlr.org/volfour/menthe.html, hlm. 2.
13
Naskah Akademik RUU ITE, hal. 15.
14
Ibid,
hal. 5.
15
Naskah Akademik RUU ITE, hal. 16.
16
Ibid,
hal. 7-8.
17
Naskah Akademik RUU ITE, hal. 16.
18
Dalam Naskah Akademik RUU ITE, hal 13, dijelaskan bahwa pada mulanya asas ini menentukan bahwa setiap negara berhak untuk menangkap dan menghukum para pelaku pembajakan. Asas ini kemudian diperluas sehingga mencakup pula kejahatan terhadap kemanusiaan
(crimes against humanity)
, misalnya penyiksaan, genosida, pembajakan udara, dan lain-lain. Meskipun di masa mendatang asas jurisdiksiuniversal ini mungkin dikembangkan untuk
internet piracy
, seperti
computer, cracking, carding, hacking, viruses
dan lain-lain
.
Namun perludipertimbangkan bahwa penggunaan asas ini hanya diberlakukan untuk kejahatan sangat serius berdasarkan perkembangan dalam hukuminternasional.
19
“Digital evidence is information of probative value that is stored or transmitted in a binary form”, (SWGDE, 1998