"Peringatan Imam al-Ghazali"
Oleh :
20 Jun 2005 - 6:18 pm
Kita sering jumpa masyarakat yang bangga "awam" dalam ilmu agama. Mereka bukan bodoh, tapitak paham ilmu fardhu 'ain, dan ilmu yang fardhu kifayah.Tanggal 4 Juni 2005, saya datang ke IAIN Bandung, memenuhi undangan seminar tentangsekularisme, liberalisme, dan pluralisme agama. Kampus IAIN Bandung sedang direncanakan untukmenjadi Universitas Islam Negeri (UIN), seperti halnya UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta. Dalamberbagai diskusi saya dengan mahasiswa dan dosen di berbagai UIN dan IAIN, saya mempunyaikesimpulan, bahwa salah satu masalah mendasar yang dialami oleh kalangan akademisi danperguruan tinggi Islam saat ini adalah masalah visi, misi, dan niat. Masalah visi dan misi terkaitdengan pemahaman tentang konsep ilmu.Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ilmu? Ilmu-ilmu apakah yang harus dipelajari, dan untukapa mempelajari ilmu-ilmu tersebut.Pendidikan, pada dasarnya berkaitan dengan masalah ilmu. Apalagi masalah pendidikan agama,yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama (ulumuddin). Sudah bukan rahasia lagi, kekacauan konsepilmu telah menyebabkan munculnya dampak yang sangat serius di kalangan kaum Muslim saat ini.Pada level perguruan tinggi, konsep keilmuan terpecah secara mendasar; ilmu agama dan ilmuumum. Perguruan Tinggi dibentuk berdasarkan konsep yang sekular itu, sehingga lahirlahuniversitas/Institut Umum dan Universitas/Insititut Islam. Konsep dasar ini jelas sangat keliru,karena tidak berdasarkan pada konsep keilmuan Islam. Dari konsep yang salah ini, lahirlah paracendekiawan yang terbelah, baik dalam cara berpikir, maupun dalam penguasaan keilmuan.Mahasiswa yang belajar teknik, kedokteran, ekonomi, komputer, geologi, dan sebagainya, tidakmerasa wajib untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Ia hanya merasa cukup sudah “beramal” dan “bersemangat” memperjuangkan Islam melalui aktivitas politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Iatidak merasa wajib untuk mempalajari ilmu-ilmu Islam, seperti Ushuluddin, bahasa Arab, UlumulQur’an, Ulumul hadits, ilmu fiqih, dan sebagainya.Menurut perasaan mereka, mempelajari ilmu-ilmu agama seperti itu adalah tanggung jawab orang-orang pesantren, IAIN, dan semacamnya. Meskipun secara umum bisa dikatakan, rata-ratamahasiswa kedokteran, teknik, komputer, dan sebagainya, adalah manusia berotak cerdas, merekatidak merasa wajib menggunakan akalnya untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh bahasaArab atau ulumuddin lainnya.Mereka biasanya hanya suka mendengar ustad ceramah, seminggu sekali, atau sebulan sekali, ataumelalui media radio/telivisi, dengan tradisi “jiping” (ngaji kuping).Belajar agama dianggap sambilan, atau hanya sekedar mengisi waktu, dengan tenaga dan pikiransisa. Mereka sanggup belajar bahasa Inggris, membayar mahal, dan bersungguh-sungguhmencurahkan pikirannya, untuk menguasai bahasa itu. Tetapi, ketika berhadapan dengan bahasaArab, mereka merasa tidak berkepentingan sama sekali.Padahal, Imam Syafii menjelaskan dalam Kitab Risalah, bahwa mempalajari bahasa Arab adalahfardhu 'ain, dan setiap orang Muslim wajib menguasai bahasa Arab, semaksimal mungkin, sesuaidengan kemampuannya. Artinya, adalah berdosa, jika seseorang tidak bersungguh-sungguh belajarbahasa Arab. Padahal, jika orang-orang cerdas mau bersungguh-sungguh menggunakan akalnyauntuk menguasai bahasa Arab, mereka insyaallah bisa menguasainya, sebagaimana mereka mampumemguasai bahasa-bahasa asing lainnya.Biasanya, para profesional atau kaum cendekiawan berlatarbelakang “ilmu-ilmu umum”, senang danbangga memelihara statusnya sebagai “orang awam” dalam agama. Meskipun sudah lulus kuliahberpuluh-puluh tahun, dan menjadi orang muslim sejak lahir, mereka senang mengucapkan, “sayaini awam dalam agama.” Jadilah ia awam seumur hidupnya dalam bidang-bidang ilmu agama, tetapi
Leave a Comment