Puncak keelokan estetika Pasarean Aermata sebagai situs peninggalan purbakala di PulauMadura justru terletak di balik tiga cungkup utama, yakni cungkup makam Kanjeng RatuSyarifah Ambami (1546-1569), permaisuri dari Panembahan Cakraningrat I yang jugaturunan kelima dari Waliullah Sunan Giri alias Raden Samudro, cungkup makamPanembahan Cakraningrat II dan V, serta cungkup makam Panembahan CakraadiningratVI dan VII.Latar belakang dinding pada masing-masing cungkup bertakhtakan taburan seni ukir amat rumit, indah artistik, dan hebatnya terbuat dari hamparan batu pualam putih(semacam batu oniks/marmer). Tidak hanya itu, semua
warangka
kuburan yangmembungkus makam Kanjeng Ratu Syarifah Ambami, Panembahan Cakraningrat I danV, Panembahan Cakraadiningrat VI dan VII, berikut makam para bangsawan keturunan para petinggi kerajaan itu, juga penuh bertabur ukiran antik. Hebatnya, jika kegelapanmalam tiba, konfigurasi ragam bentuk ukiran itu tampak memantulkan kilatan cahaya putih kemilau. "Itulah salah satu kehebatan estetika dan daya tarik Pasarean Aermata,"ungkap Mas Imam Luthfi.
Di antara rumitnya konfigurasi seni ukir yang ada, tersimpan simbol misteri yang melambangkankerukunan antar-umat dari tiga agama besar yang berkembang saat itu, yakni Islam, Buddha,dan Hindu. "Jika pengunjung teliti, simbol kerukunan itu, meski samar, tampak transparan,"tandas Imam. Benarkah? Ternyata benar. Sebab, di antara hamparan ragam bentuk seni ukir itu,tersisip ukiran bunga teratai, miniatur Ganesha, serta ukiran kaligrafi yang bertaut sambung-menyambung satu sama lainnya. "Asal tahu saja, ukiran bunga teratai itu merupakan simbolkebesaran agama Buddha, miniatur patung Ganesha simbol Hindu, sementara kaligrafi dalambentuk tulisan Allah dan Muhammad simbol kebesaran Islam," ungkap Imam. "Nah, pertautanketiga simbol dalam bentuk relief ukiran itu sama halnya dengan melambangkan kerukunanantara umat Islam, Buddha, dan Hindu di Bumi Madura tempo dulu,"