• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Kuasai Bahasa, Jelajahi DuniaMinggu, 16 Maret 2008Meski hadits “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina,” diperdebatkan kesahihannya,namun kita berbaik sangka, secara terminologi, maksudnya menganjurkanmenuntut ilmu meski ke negeri yang jauh sekalipun. Kesadaran ini sebenarnyatelah muncul karena melihat ketertingggalan bangsa ini, terutama bidangteknologi dan ekonomi. Tapi selalu saja keterbatasan finansial menjadi hambatanterbesar. Lalu apa solusinya? Berharap biaya dari pemerintah, entah kapan akanbisa. Uang bangsa ini telah banyak terkuras untuk aparatur, ongkos politik danprogram-program yang tidak produktif. Namun jangan berputus asa. Adakemauan ada jalan.Banyak beasiswa dalam dan luar negeri yang bisa dimanfaatkan. Sepertibeasiswa dari Dikti, kantor-kantor duta besar dan lembaga-lembaga beasiswalainnya. Selain itu, juga bisa lewat jalur kerjasama antar universitas dalam danluar negeri. Bagaimana meraih beasiswa tersebut? Dari banyak mahasiswa yangkuliah S2 dan S3 dalam dan luar negeri yang diwanwancarai Padang Ekspres,semuanya mewanti-wanti perlunya penguasaan bahasa Inggris, internet sertamemiliki kemauan yang kuat. Tentu saja dengan tidak mengenyampingkankemampuan akademik. Tanpa kemampuan akademik, kuliah bisa gagal. Tapibahasa Inggris benar-benar menjadi penekanan mereka dan harus dipersiapkansejak dini. Rektor UMSB, H Shofwan Karim, Rektor UMSB menganjurkanmenguasai informasi dan menjaga networking.Dia senantiasa memenej diri untuk mengetahui hal baru, mengikutiperkebangan IT, menjelajah lewat internet sebagai jendela dunia. Selain itu jugasenantiasa menambah kemampuan berbahasa Inggris sehingga bisa berdialogdengan orang luar lewat internet dan secara langsung. “Dengan demikian,banyak kesempatan akan terbuka dan hubungan-hubungan pun terjalin,”tuturnya. Lelaki ini mengikuti pendidikan non degree yang disebut non formaleducation for international community development dalam program CanadaWorld Youth di 3 provinsi di Canada (Alberta, Saskatchewan, dan Ontario) padatahun 1980-1985. Dia juga telah berkali-kali mengikuti seminar internasional dandua kali menghadiri sidang PBB di New York, AS.Dan banyak lagi program lain di Itali, Spanyol, Mesir, Inggris, Belanda, Swis, Jerman, Prancis, Andora, Belgia, Lixemburg, China, Hongkong, Macau, Korea, Taiwan, Thailand, Malaysia dan Singapura, Jepang, India dan Rusia. Paling akhirMei-Juni 2005, menjadi peserta International Visitor Leadership Program onRassroot Democracy di Amerika Serikat. Sementara Dosen FMIPA Unand, AbdiDharma yang kuliah di negara Paman Sam, New Mexico State University.Baginya, tidak mustahil bisa kuliah di luar negeri, meski bukan dari kalanganberkelimpahan materi. “Yang utama kuasai bahasa Inggris, tunjukkan
 
kemampuan dan bekerja keras,” Tiga hal mendasar itulah yang dilaksanakanrang Pikumbuah ini, hingga menuai sukses di jenjang pendidikan formal. Diamemperoleh beasiswa Asian Developmen Bank (ADB) untuk S2 1986-1988, danS3 dengan menjadi asisten dosen di universitas yang sama 19989-1993.Demikian pula yang disarankan Koordinator Fundraising/Advokad LBH Padang,Sudi Prayitno. Dia kuliah di Universitas Erasmus Rotterdam Faculty of Law Jurusan International Law (2003-2004). Kuliah di Eropa biayanya memang mahal.Namun suami Rina Elvira (Sumanik Bantu Sangkar) ini cukup beruntung karenabisa memanfaatkan beasiswa pemerintah Belanda, Studi in Nederland (STUNED)yang diselenggrakan Nederland Education Centre (NEC) Jakarta. Seperti peraihbeasiswa luar negeri lainnya, dia juga melacaknya dengan mem-browsinginternet. “Bahasa Inggris memang sangat penting. Ini kuncinya. Hal lain bisadiatasi setelah kemampuan bahasa dan TOEFL kita miliki,” tutur lelaki yangmenerapkan keharusan berbahsa Inggris terhadap teman-teman sekerjanya diKantor LBH Padang dalam satu ruangan.Koordinator Program S1 Non Reguler FMIPA Jurusan Biolgi Unand, Henny Herwina. Tamat FMIPA Unand Jurusan Biologi 1996, dan tamat ITB Jurusan Biologi 1998dengan beasiswa URGE dari Dikti, lalu kuliah di Universitas Kanazawa, 1998-2001 untuk S2 dan dari 2001-2005 untuk S3-nya. Masuk ke perguruan tinggiterkemuka di Jepang ini direkomendasi ITB dan direkomendasi salah seorangprofesor dari Jepang, Prof Koji Nakamura untuk mendapat beasiswa Monbuso(semacam beasiswa dari Depdikanas) untuk kuliah di Universitas Kanazawa.“Bahasa Inggris adalah kunci penting untuk melanjutkan pendidikan denganmenggunakan beasiswa,” tuturnya. Pengajar FIS UNP, Selinaswati. Kiliah diUniversitas Hawai Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Sosiologi (2004-2007) denganbeasiswa IIEF (Indonesian International Education Foundation) Jakarta. Tamat S1tahun 1997 di Unand.Saking pengen kuliah S2, usai membuat berita di Harian Mimbar Minang (MM)tempat ia bekerja di tahun 2000, menyempatkan diri untuk kursus TOEFL di ELSIsetiap Senin, Rabu dan Jumat pukul 19.00-21.30 WIB. Targetnya lolos tes TOEFLyang disyaratkan lembaga-lembaga pemberi beasiswa. Bersama teman-temannya di MM, terus berburu beasiswa dengan browsing internet di kantor.“Kami menemukan info beasiswa dari Ford Foundation yang disebut denganbeasiswa International Fellowship Program (IFP)," tutur rang Pikumbuah ini.Formulir pra pendaftaran yang dikirim ke IIEF tahun 2000 ditolak, yang keduabaru diterima dan lolos ke Universitas Hawaii tahun 2004. Untungnya lagi,banyak pelajar international dari negara lain yang juga tidak terlalu menguasaibahasa Inggris. “Jadi ya… tidak terlalu kalah lah dari mereka dalam berbahasa.Kalo sudah mentok, biasanya pakai bahasa isyarat, bahasa tarzan,” ujarnyasambil tertawa. (hadi wijaya)
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...