Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
67Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tinjauan Dan Contoh Peraturan Perundang Dalam Pengelolaan Pesisir Di Daerah

Tinjauan Dan Contoh Peraturan Perundang Dalam Pengelolaan Pesisir Di Daerah

Ratings: (0)|Views: 3,665 |Likes:
Published by denny KARWUR
Regional Coastal Law
Regional Coastal Law

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: denny KARWUR on Nov 27, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

 
TINJAUAN DAN CONTOH PERATURAN PERUNDANG-UNDANGANDALAM PENGELOLAAN PESISIR DI DAERAH
Rikardo Simarmata
1)
Denny Karwur 
2
)
1. Pendahuluan
Ada yang membedakan pengurusan negara terhadap hutan dengan pengurusan negara terhadap pesisir dan laut.Bila terhadap hutan negara dan pemerintah melakukan pengukuhan kawasan hutan untuk membedakan mana hutan negaradan mana hutan hak, maka tidak demikian terhadap pesisir dan laut. Sejumlah pemikir menganggap hal demikian lumrahsaja karena tingkat kesulitan yang luar biasa yang akan dihadapi apabila hendak mengukuhkan kawasan pesisir dan laut.Merumuskan rejim
 property rights
di wilayah pesisir dan laut tidak semudah seperti merumuskan rejim property rights diwilayah hutan. Namun, terlepas dari diskursus itu, pemerintahan Orde Baru memang tidak terlalu mengurus status penguasaan wilayah pesisir dan laut. Itu sebabnya, beberapa analis menyimpulkan bahwa di wilayah laut, pemerintah OrdeBaru menerapkan rejim
common property
atau bahkan rejim
open access
. Atribut ini dimaksudkan untuk mengatakan bahwa di masa Orde Baru, penguasaan dan pemanfaatan atas sumber daya laut dimiliki dan dilakukan oleh siapa pun(perorangan dan badan hukum) sepanjang mendapat izin dan membayar pungutan kepada pemerintah. Wilayah penguasaandan pemanfaatan sumber daya laut tidak dibatasi oleh pembagian antara pesisir dan laut negara dengan pesisir dan laut hak.Pembatasan wilayah tangkap ikan hanya dibatasi oleh peraturan yang membuat zona penangkapan.Rejim penguasaan yang relatif longgar di wilayah pesisir dan laut berlangsung dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan yang sentralistik. Akibatnya pemerintah daerah mengambil sikap yang pasif dalam pengurusan pesisir danlaut. Kebijakan daerah yang diberlakukan sepanjang pemerintahan Orde Baru tak lebih dari hanya sekedar melaksanakankewenangan delegatif. Hampir tidak ada kebijakan daerah yang bersumber dari kewenangan atributif. Tidak heran apabilahampir sebagian besar kebijakan daerah mengenai pesisir dan laut hanya mengatur mengenai pemanfaatan. Sangat sedikitkebijakan daerah yang mengatur mengenai perencanaan dan perlindungan. Terobosan-terobosan kebijakan sangat minimdan hanya berlangsung di unit pemerintahan desa. Itupun terjadi di penghujung pemerintahan Orde Baru, saat dominasikekuasaannya terus merosot. Intinya, daerah tidak diberikan kewenangan untuk mengurus atau mengelola sumber daya pesisir dan laut. Hasilnya, wilayah pesisir dan laut dipenuhi dengan sejumlah problematika, mulai dari degradasi ekosistemsampai kemiskinan masyarakat pesisir. Situasi ini memang merupakan hasil logis dari akumulasi beberapa hal. Pertama,sentralisme pengelolaan pesisir dan laut telah membuat pemerintah daerah tidak memupuk rasa tanggung jawab. Di sisilain, pemerintah pusat, selaku pemilik kewenangan, tidak memiliki kemampuan untuk memantau dan mengendalikan pemanfaatan serta tidak terlalu mempunyai rasa memiliki yang tinggi karena tidak menggantungkan hidupnya dengansumber daya pesisir dan laut. Kedua, orientasi pengelolaan sumber daya pesisir dan laut ditujukan untuk mendatangkan pendapatan ekonomi. Dua hal di atas dilengkapi lagi dengan penerapan doktrin sentralisme hukum (
legal centralism
) yangtidak terlalu memperdulikan keberadaan sistem hukum lokal (
adat and customary laws
) atas pesisir dan laut.Konfigurasi dan karakter kebijakan daerah mengenai pesisir dan laut mulai sedikit berubah sejak dimulainya eraotanomi daerah yang menandai diakhirinya pemerintahan sentralistik Orde Baru. Adalah Undang-Undang No. 22 Tahun1999 tentang Pemerintahan Daerah yang meletakkan landasan hukum bagi desentarlisasi pengelolaan wilayah pesisir danlaut. Kondisi politik yang makin demokratis memberikan peluang kepada komponen masyarakat sipil untuk mengemukakan dan merumuskan paradigma baru dalam pengelolaan pesisir dan laut. Kelompok-kelompok yangmengusung paradigma baru ini selanjutnya memanfaatkan desentralisasi sebagai peluang untuk mendorong lahirnyakebijakan daerah mengenai pesisir dan laut yang ramah terhadap lingkungan dan mengakui keberadaan hak masyarakatlokal. Tidak hanya itu, kelompok-kelompok tersebut juga mempromosikan perspektif-perspektif baru seperti pengelolaanwilayah pesisir terpadu (
integrated coastal zone management 
). Selain memperbaiki materi pengaturan, kelompok ini jugamendorong proses penyusunan kebijakan daerah yang partisipatif.Hasilnya, pasca desentralisasi telah berlahiran sejumlah kebijakan daerah mengenai pesisir dan laut yanginovatif. Berbeda dengan kebijakan daerah di masa Orde Baru yang sangat harmonis dengan peraturan perundangan yanglebih tinggi (pusat), kebijakan-kebijakan daerah yang inovatif tersebut memang tidak begitu harmonis dengan peraturan perundangan pusat dari segi isi. Namun, ketidakharmonisan ini tidak berarti bahwa kebijakan-kebijakan tersebut bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. Ketidakharmonisan tersebut lebih tepat disebut sebagai‘perbedaan’, lebih karena kebijakan daerah yang inovatif tersebut memperkenalkan sesuatu yang belum diatur dalam peraturan perundangan yang lebih tinggi. Perbedaan tersebut lebih karena kebijakan daerah yang inovatif tersebut berusahamerespon tuntutan sosial dengan lebih mengedepankan nilai kemanfaatan (
doelmatigheid 
) ketimbang nilai kepastian(
rechtsmatigheid 
).Bab ini akan menyajikan gambaran kebijakan daerah mengenai pesisir dan laut yang diberlakukan sebelum dansesudah pemberlakuan kebijakan otonomi daerah. Penggambaran ini dilengkapi dengan perbandingan kebijakan semasasebelum dan sesudah otonomi daerah. Perbandingan tersebut terutama diarahkan untuk melihat relasi harmonitasnyadengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Setelah terlebih dahulu dibuka dengan bagian
Pendahuluan
,uraian mengenai Bab ini disusul dengan pembeberan mengenai
dinamika pengaturan kewenangan daerah dalammengelola pesisir dan laut
. Setelah itu dilanjutkan dengan uraian mengenai pentingnya
penerapan konsep pengelolaanpesisir terpadu di daerah
. Bagian berikutnya akan diisi dengan
deskripsi mengenai kebijakan mengenai pesisir danlaut di berbagai daerah
. Daerah-daerah tersebut berada di Pulau Sumatera (Sumatera Utara, Jambi), Jawa (Jawa Tengah),Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur) dan Sulawesi (Sulawesi Utara). Organisasideskripsi kebijakan-kebijakan daerah tersebut dilakukan dengan memisahkannya ke dalam kebijakan yang dibuat sebelumotonomi daerah dan kebijakan yang lahir semasa otonomi daerah. Selain menampilkan deskripsi orientasi dan materi pengaturan, bagian ini juga menginformasikan proses penyusunan kebijakan daerah tersebut. Setelah itu uraian Bab iniakan diteruskan dengan bagian
analisis
dan ditutup dengan tawaran sejumlah
rekomendasi
.
1) Pjs Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pembaharuan
 Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis
(HuMa)2) Legal Advisor CRMP Sulawesi Utara/Dosen Fakultas Hukum Unsrat Mah. Program S3-SPL IPB Bogor 
Buku Narasi : Menuju Harmonisasi system Hukum Sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir IndonesiaKementerian Perencanaan Pemb. Nas./Bappenas, DKP, Dep. Hukum& HAM, Mitra Peisir-CRMP. 2005
 
2. Kewenangan Daerah Dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir
Sekalipun secara ilmiah ada perbedaan antara pengertian wilayah pesisir dan laut, namun secara yuridisnormatif, kedua istilah tersebut tidak dibedakan. Belakangan ini, beberapa peraturan perundangan mencoba membuat pengertian sendiri untuk istilah wilayah pesisir. Namun, sejauh ini pengertian tersebut tetap belum bisa membuatkategorisasi atau kualifikasi yuridis. Formulasi pengertian wilayah pesisir masih lebih tampak sebagai pengertian akademisdan administratif. Misalnya pengertian yang dikonstruksi oleh Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Minahasa
1
(SulawesiUtara) dan Kabupaten Bengkayang
2
 (Kalimantan Barat). Keduanya mengartikan wilayah pesisir sebagai ruang kesatuangeografis antara perairan laut dan wilayah darat yang berisi berbagai aspek ekologis, di mana wilayah darat adalah wilayahyang meliputi seluruh wilayah administratif yang dipengaruhi oleh laut, sedangkan wilayah laut adalah wilayah perairan(kabupaten) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Menentukan wilayah darat yang dipengaruhi oleh laut tentu saja lebihmengedepankan kualifikasi ilmiah-akademis ketimbang kualifikasi yuridis-normatif. Bagian mana dari wilayah darat yang bisa dikatakan telah dipengaruhi oleh laut dan apa ukuran-ukurannya bahwa wilayah darat tersebut memang telahdipengaruhi oleh laut?Kerumitan seperti di atas dicoba diatasi dengan membuat pengertian yang lebih eksak. Umpamanya pengertianyang dibuat oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.: Kep. 10/Men/2002 tentang Pedoman UmumPerencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu. Menurut keputusan ini wilayah pesisir (
coastal zone
) adalah wilayah peralihanantara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, di mana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk provinsi dansepertiga dari wilayah laut itu untuk kabupaten/kota, dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota. Selain membuatrumusan pengertian wilayah pesisir keputusan ini juga membuat rumusan pengertian kawasan pesisir. Keputusan inimendefenisikan kawasan pesisir sebagai wilayah pesisir tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan kriteria tertentu, seperti karakteristik fisik, biologi, sosial dan ekonomi, untuk dipertahankan keberadaannya.Rumusan pengertian ini serupa dengan pengertian kawasan hutan yang dirumuskan oleh UU No. 41 Tahun 1999 tentangKehutanan. Undang-undang ini mendefenisikan kawasan hutan sebagai wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkanoleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.Bila menyimak uraian di atas, maka topik kewenangan lebih tepat dipasangkan dengan pengertian ‘kawasan pesisir’, ketimbang pengertian ‘wilayah pesisir’. Ada dua alasan untuk membenarkan preposisi ini.
 Pertama
, dengan pengertian wilayah pesisir seperti yang dicontohkan di atas maka kewenangan terhadap wilayah pesisir juga sekaligus akanmeliputi kewenangan terhadap wilayah darat dan wilayah laut. Dengan begitu, kewenangan terhadap wilayah pesisir akan berhimpitan dengan kewenangan terhadap wilayah darat (kehutanan, pertanahan) dan laut. Implikasinya, menjadi tidak mudah atau bahkan mustahil untuk menunjuk wilayah yang menjadi obyek kewenangan pesisir, darat dan laut.
 Kedua
,idealnya, kewenangan memiliki obyek yang jelas. Dalam konteks penataan ruang, yang dimaksud dengan obyek adalahkawasan yang jelas beserta sumber daya yang terdapat di dalamnya. Keberlakukan sebuah kewenangan mensyaratkankejelasan atau kepastian kawasan yang akan menjadi ruang yurisdiksi. Dari perspektif hukum positif (
legal positivism
),kejelasan obyek kewenangan juga berfungsi untuk memastikan batasan wilayah berlaku kewenangan tersebut.Berdasarkan rumusan pengertian ’wilayah pesisir’ dan ’kawasan pesisir’ seperti yang dicontohkan di atas, makakawasan pesisir bisa diartikan sebagai sebagian atau seluruh wilayah pesisir yang ditunjuk dan atau ditetapkan sebagaikawasan pesisir. Boleh jadi, seluruh wilayah pesisir di satu wilayah administratif dinyatakan sebagai kawasan pesisir. Namun, bisa juga hanya sebagian dari wilayah pesisir yang dinyatakan sebagai kawasan pesisir. Kewenangan pemerintahuntuk menyelenggarakan pengurusan pemerintahan atau layanan publik berlangsung di kawasan pesisir, bukan di wilayah pesisir. Sekali lagi, kesimpulan ini didasarkan atas pemahaman bahwa kewenangan adalah hak dalam sektor hukum publik.Sebagai hak, kewenangan harus memiliki kejelasan jenis, subyek dan obyek .
3
.Istilah kawasan menunjuk pada wilayah pesisir yang sudah jelas batas-batasnya beserta sumber daya yang terkandung di dalamnya. Batasan-batasan tersebutdiperoleh dengan proses penetapan dan penunjukan oleh badan negara atau pemerintah. Lagipula, penunjukan dan penetapan kawasan pesisir berfungsi untuk membuat distingsi atau pembedaan antara keberlakukan kewenangan dengandarat dan laut. Atau paling tidak akan membantu memadukan kewenangan di 3 wilayah tersebut.Karena perbincangan dan pengertian mengenai wilayah pesisir baru dikembangkan dalam beberapa tahun belakangan dan sampai saat ini belum ada penunjukan dan penetapan kawasan pesisir, maka setiap kali membicarakanmengenai kewenangan pemerintah atas wilayah pesisir selalu diasosiasikan dengan kewenangan pemerintah atas laut.Ulasan mengenai pengaturan normatif mengenai kewenangan wilayah pesisir selalu meminjam pengaturan normatif mengenai laut. Ini dilakukan karena secara normatif, sampai saat ini wilayah pesisir masih dianggap sebagai bagian darilaut. Berbagai tulisan yang membahas mengenai kewenangan wilayah pesisir menggunakan peraturan perundangan yangmengatur mengenai laut sebagai acuan. Misalnya penggunaan Pasal 10 UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah,sebagaimana telah dirubah dan digantikan oleh UU 32/2004. Kedua undang-undang ini dengan tegas menggunakan istilahlaut untuk mengatur mengenai kewenangan daerah. Namun, keduanya juga digunakan oleh sejumlah ulasan sebagai acuannormatif untuk membicarakan kewenangan wilayah pesisir. Tulisan ini berangkat dari asumsi semacam itu. Untuk keperluan memudahkan, saat membahas mengenai kewenangan, tulisan ini akan menggunakan istilah laut, untuk memaksudkan istilah wilayah pesisir.Selaku rejim agraris, pemerintahan Orde Baru begitu menonjolkan, sekaligus mengandalkan darat (
continental oriented 
). Darat dan sumber daya yang dikandungnya didayagunakan untuk menopang perekonomian negara. Simaklah pidato Presiden Soeharto saat berkunjung ke Pasar Klewer, Semarang. Katanya:
1
Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa No.2 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Terpadu Berbasis MasyarakatDi Kabupaten Minahasa.
2
Peraturan Daerah Kabupaten Bengkayang No.14 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Terpadu BerbasisMasyarakat Di Kabupaten Bengkayang.
3
Ulasan lebih jauh mengenai konsep ‘kewenangan’ bisa dilihat pada Ridwan HR,
’Hukum Administrasi Negara
’, Yogyakarta, UII Press,2002, hal. 67-80.
Buku Narasi : Menuju Harmonisasi system Hukum Sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir IndonesiaKementerian Perencanaan Pemb. Nas./Bappenas, DKP, Dep. Hukum& HAM, Mitra Peisir-CRMP. 2005
 
Sungguh kita akan mampu membayar hutang itu. Dari satu sumber saja, dari kayu, kita melihat kekuatan kita.Sekarang kita mempunyai 120 juta hektar hutan. Tetapi karena kita harus mengamankan hutan-hutan kita itu supaya tidak menimbulkan bahaya, maka hanya sepertiga dari 120 juta hektar hutan itu yang bisa kita tebang. Berarti 40 juta hektar lebat yang bisa kita tebang. Hasilnya paling sedikit 70 juta m3 dalam setahun…Ituberarti, hasil penebangan hutan kita mencapai 1,4 miliar dollar AS. Jadi, untk membayar (hutang-
 pen
 ), 300 juta dollar AS tiap tahun, bukan soal. Apalagi kalau diingat bahwa kita masih mempunyai sumber-sumber lain seperti timah, besi, maupun bauksit dan lain-lain.”
4
Dengan mengandaikan bahwa aktivitas pertambangan pun masih dominan berlangsung di wilayah darat,sumbangsih sektor darat kepada devisa negara begitu luar biasa. Hingga awal paruh kedua dekade 70-an, minyak bumimasih sebagai penyumbang terbesar devisa negara. Perlahan, posisi tersebut melemah akibat salah urus dalam tubuhPertamina. Senyampang dengan itu, sektor non migas, yang dimotori oleh kayu, semakin unjuk gigi. Pada tahun 1989, nilaiekspor produk kayu meyumbang devisa sebesar US$3,5 miliar. Angka itu mencapai lebih dari 15% dari total ekspor atausekitar 25% dari nilai total ekspor non-migas
5
.Konsentrasi ke wilayah darat telah membuat laut menjadi terabaikan. Laut menjadi tak lebih dari halaman belakang, tempat sampah bisa dibuang atau ditumpuk. Akibat politik pengabaian ini, sumber daya dan jasa-jasa yangdisediakan oleh laut kurang didayagunakan. Dari 6,2 juta ton potensi produksi ikan setiap tahun, realisasi pemanfaatanhanya mencapai maksimal 60%. Ini agak ironis mengingat sekitar 140 juta jiwa atau sekitar 60% penduduk Indonesia berdiam di wilayah daratan pesisir. Bukti lain bahwa laut diabaikan adalah sedikitnya instrumen peraturan perundangandan kebijakan yang mengurus laut, dibandingkan dengan yang mengurus darat. Bila di darat, negara sudah mulai menatasistem tenurial melalui instrumen Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada tahun 1984 dan Tata Ruang WilayahPropinsi dan Kabupaten/Kota, sejak awal dekade 90-an, maka tidak demikian dengan penataan ruang di luat. UU No. 24tahun 1992 tentang Penataan Ruang (UU Tata Ruang) memang dengan tegas mengatakan bahwa penataan ruang wilayahPropinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, selain meliputi ruang daratan, jugamencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu (Pasal 9 ayat 1). Tapi undang-undang ini sendiri yangmengatakan bahwa penataan ruang laut dan udara akan diatur dengan undang-undang tersendiri (Pasal 9 ayat 2).Sekalipun penataan ruang darat sejak awal dekade 80-an tidak juga menghasilkan sistem tenurial yang rapi danadil, namun sistem tersebut paling tidak berhasil menghapuskan kesan bahwa di darat berlaku rejim
open access
. Wilayahdarat telah dibagi ke dalam 3 jenis penguasaan yakni tanah/hutan negara (
 public/state property
), tanah ulayat/hutan adat(
common property
) dan tanah perorangan/hutan rakyat (
 private property
). Pembagian semacam itu belum bisa diterapkandi laut sehingga tak berlebihan bila sebagian kalangan menganggap bahwa di laut berlaku rejim open access
6
.Ihwalkemunculan rejim ini sebenarnya tidak mengagetkan apabila dikaitkan dengan ciri lain dari politik hukum perikanan danlaut. Pemerintahan Orde Baru bukan hanya mengabaikan laut tapi juga mengurus sumber daya alam secara sentralistik.
Jadi, pengabaian atas laut dan sentralisasi pengurusan sumber daya alam, telah membuat laut menjadi wilayahyang seolah-olah tak bertuan
.Manajemen sentralistik tersebut terungkap jelas dalam berbagai peraturan perundangan yang diproduksi oleh pemerintah Orde Baru. UU No. 5 tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah, sama sekali tidak menyerahkan pengurusanlaut kepada daerah. Daerah hanya diperbolehkan mengurus darat melalui jalur dekonsentrasi dan tugas pembantuan(
medebewind 
). Tradisi serupa itu diteruskan oleh berbagai undang-undang sektoral mengenai pengairan, perairan dan perikanan. UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (UU Pengairan), sebagaimana telah diganti dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, sangat kental dengan watak terpusat. Undang-undang ini melimpahkan hak menguasai oleh negara kepada pemerintah pusat, sekaligus menganugerahinya sejumlah kewenangan. Pemerintah pusatdapat melimpahkan sebagian kewenangan tersebut kepada instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah atau badan- badan hukum tertentu yang syarat dan tata caranya diatur dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 4).Undang-undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan sebagaimana telah diganti oleh Undang-Undang No. 31Tahun 2004 tentang Perikanan agak lebih maju ketimbang UU Perairan dalam hal pengakuan terhadap desentralisasi. UUPerikanan Tahun 1985 telah memerintahkan agar pemerintah pusat menyerahkan sebagian urusan perikanan kepada pemerintah daerah yang akan diatur lewat Peraturan Pemerintah tersendiri (Pasal 21). Sayang, kewenangan yangdiserahkan tersebut hanya berupa kewenangan pemberian Izin Usaha Perikanan dan Surat Penangkapan Ikan kepada perusahaan perikanan yang melakukan penangkapan yang berdomisili di wilayah administrasinya, yang menggunakankapal perikanan tidak bermotor, kapal perikanan bermotor luar, dan kapal perikanan bermotor dalam yang berukuran tidak lebih dari 30 GT atau yang mesinnya berkekuatan tidak lebih dari 90 daya kuda
7
. UU Tata Ruang, yang disebut-sebut sebagai salah salah instrumen legislasi yang mempelopori pengakuan partisipasi masyarakat, tidak juga melakukan gebrakan dalam hal desentralisasi pengurusan laut. UU ini memangmengatakan bahwa gubernur dan bupati/walikota selaku kepala daerah berwenang menyelenggarakan penataan ruang
4
Dikutip dari Ignatius Harianto, dkk, ‘
 Ekonomi Indonesia Pasca Soeharto: Reformasi Tanpa Perubahan’ 
, Pustaka Latin, 1998, hal. 1.
5
Angka tersebut didapatkan dari Rizal Ramli dan Mubariq Ahmad, ‘
 Rente Ekonomi Pengusahaan Hutan Indonesia
’, Jakarta, WahanaLingkungan Hidup Indonesia, 1993, hal. 18.
6
Tulisan ini menggunakan istilah rejim
open access
untuk menggantikan istilah rejim
common property
seperti yang dimaksudkan oleh beberapa kajian dan pemikir. Sebuah riset doktoral yang ditulis oleh Sudirman Saad pada tahun 2000, menyimpulkan bahwa politik hukum perikanan Indonesia dicirikan oleh 3 hal, yakni: [1] sentralistik; [2] bertumpu pada rejim
common property
; dan [3] mengabaikan hukum atauanti pluralisme hukum. Penulis tesis ini menerjemahkan istilah
common property
sebagai ‘milik bersama’ atau ‘akses terbuka’. Agaknya,dalam hal ini Sudirman Saad mengulangi kerangka pikir yang dikemukakan oleh Garrett Hardin pada tahun 1968, saat pertama kali konsep
tragedy of the common
dilontarkan. Dari terjemahan yang dibuat dan koreksi atas kekeliruan yang dilakukan oleh Hardin, tulisan inimenganggap bahwa rejim
common property
yang dimaksudkan oleh Saad tidak lain adalah rejim
open access
. Uraian mengenai 3 ciri politik hukum perikanan bisa dilihat pada Sudirman Saad, ’Hak Pemeliharaan dan Penangkapan Ikan Eksistensi dan Prospek Pengaturannya diIndonesia, Yogyakarta, disertasi doktoral pada Pasca Sarjana UGM, 2000, hal. 128-129.
7
Pasal 10 Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan, sebagaimana telah dirubah sebagian oleh PeraturanPemerintah No. 46/1993.
Buku Narasi : Menuju Harmonisasi system Hukum Sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir IndonesiaKementerian Perencanaan Pemb. Nas./Bappenas, DKP, Dep. Hukum& HAM, Mitra Peisir-CRMP. 2005

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->