“
Sungguh kita akan mampu membayar hutang itu. Dari satu sumber saja, dari kayu, kita melihat kekuatan kita.Sekarang kita mempunyai 120 juta hektar hutan. Tetapi karena kita harus mengamankan hutan-hutan kita itu supaya tidak menimbulkan bahaya, maka hanya sepertiga dari 120 juta hektar hutan itu yang bisa kita tebang. Berarti 40 juta hektar lebat yang bisa kita tebang. Hasilnya paling sedikit 70 juta m3 dalam setahun…Ituberarti, hasil penebangan hutan kita mencapai 1,4 miliar dollar AS. Jadi, untk membayar (hutang-
pen
), 300 juta dollar AS tiap tahun, bukan soal. Apalagi kalau diingat bahwa kita masih mempunyai sumber-sumber lain seperti timah, besi, maupun bauksit dan lain-lain.”
Dengan mengandaikan bahwa aktivitas pertambangan pun masih dominan berlangsung di wilayah darat,sumbangsih sektor darat kepada devisa negara begitu luar biasa. Hingga awal paruh kedua dekade 70-an, minyak bumimasih sebagai penyumbang terbesar devisa negara. Perlahan, posisi tersebut melemah akibat salah urus dalam tubuhPertamina. Senyampang dengan itu, sektor non migas, yang dimotori oleh kayu, semakin unjuk gigi. Pada tahun 1989, nilaiekspor produk kayu meyumbang devisa sebesar US$3,5 miliar. Angka itu mencapai lebih dari 15% dari total ekspor atausekitar 25% dari nilai total ekspor non-migas
.Konsentrasi ke wilayah darat telah membuat laut menjadi terabaikan. Laut menjadi tak lebih dari halaman belakang, tempat sampah bisa dibuang atau ditumpuk. Akibat politik pengabaian ini, sumber daya dan jasa-jasa yangdisediakan oleh laut kurang didayagunakan. Dari 6,2 juta ton potensi produksi ikan setiap tahun, realisasi pemanfaatanhanya mencapai maksimal 60%. Ini agak ironis mengingat sekitar 140 juta jiwa atau sekitar 60% penduduk Indonesia berdiam di wilayah daratan pesisir. Bukti lain bahwa laut diabaikan adalah sedikitnya instrumen peraturan perundangandan kebijakan yang mengurus laut, dibandingkan dengan yang mengurus darat. Bila di darat, negara sudah mulai menatasistem tenurial melalui instrumen Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada tahun 1984 dan Tata Ruang WilayahPropinsi dan Kabupaten/Kota, sejak awal dekade 90-an, maka tidak demikian dengan penataan ruang di luat. UU No. 24tahun 1992 tentang Penataan Ruang (UU Tata Ruang) memang dengan tegas mengatakan bahwa penataan ruang wilayahPropinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, selain meliputi ruang daratan, jugamencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu (Pasal 9 ayat 1). Tapi undang-undang ini sendiri yangmengatakan bahwa penataan ruang laut dan udara akan diatur dengan undang-undang tersendiri (Pasal 9 ayat 2).Sekalipun penataan ruang darat sejak awal dekade 80-an tidak juga menghasilkan sistem tenurial yang rapi danadil, namun sistem tersebut paling tidak berhasil menghapuskan kesan bahwa di darat berlaku rejim
open access
. Wilayahdarat telah dibagi ke dalam 3 jenis penguasaan yakni tanah/hutan negara (
public/state property
), tanah ulayat/hutan adat(
common property
) dan tanah perorangan/hutan rakyat (
private property
). Pembagian semacam itu belum bisa diterapkandi laut sehingga tak berlebihan bila sebagian kalangan menganggap bahwa di laut berlaku rejim open access
.Ihwalkemunculan rejim ini sebenarnya tidak mengagetkan apabila dikaitkan dengan ciri lain dari politik hukum perikanan danlaut. Pemerintahan Orde Baru bukan hanya mengabaikan laut tapi juga mengurus sumber daya alam secara sentralistik.
Jadi, pengabaian atas laut dan sentralisasi pengurusan sumber daya alam, telah membuat laut menjadi wilayahyang seolah-olah tak bertuan
.Manajemen sentralistik tersebut terungkap jelas dalam berbagai peraturan perundangan yang diproduksi oleh pemerintah Orde Baru. UU No. 5 tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah, sama sekali tidak menyerahkan pengurusanlaut kepada daerah. Daerah hanya diperbolehkan mengurus darat melalui jalur dekonsentrasi dan tugas pembantuan(
medebewind
). Tradisi serupa itu diteruskan oleh berbagai undang-undang sektoral mengenai pengairan, perairan dan perikanan. UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (UU Pengairan), sebagaimana telah diganti dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, sangat kental dengan watak terpusat. Undang-undang ini melimpahkan hak menguasai oleh negara kepada pemerintah pusat, sekaligus menganugerahinya sejumlah kewenangan. Pemerintah pusatdapat melimpahkan sebagian kewenangan tersebut kepada instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah atau badan- badan hukum tertentu yang syarat dan tata caranya diatur dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 4).Undang-undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan sebagaimana telah diganti oleh Undang-Undang No. 31Tahun 2004 tentang Perikanan agak lebih maju ketimbang UU Perairan dalam hal pengakuan terhadap desentralisasi. UUPerikanan Tahun 1985 telah memerintahkan agar pemerintah pusat menyerahkan sebagian urusan perikanan kepada pemerintah daerah yang akan diatur lewat Peraturan Pemerintah tersendiri (Pasal 21). Sayang, kewenangan yangdiserahkan tersebut hanya berupa kewenangan pemberian Izin Usaha Perikanan dan Surat Penangkapan Ikan kepada perusahaan perikanan yang melakukan penangkapan yang berdomisili di wilayah administrasinya, yang menggunakankapal perikanan tidak bermotor, kapal perikanan bermotor luar, dan kapal perikanan bermotor dalam yang berukuran tidak lebih dari 30 GT atau yang mesinnya berkekuatan tidak lebih dari 90 daya kuda
. UU Tata Ruang, yang disebut-sebut sebagai salah salah instrumen legislasi yang mempelopori pengakuan partisipasi masyarakat, tidak juga melakukan gebrakan dalam hal desentralisasi pengurusan laut. UU ini memangmengatakan bahwa gubernur dan bupati/walikota selaku kepala daerah berwenang menyelenggarakan penataan ruang
4
Dikutip dari Ignatius Harianto, dkk, ‘
Ekonomi Indonesia Pasca Soeharto: Reformasi Tanpa Perubahan’
, Pustaka Latin, 1998, hal. 1.
5
Angka tersebut didapatkan dari Rizal Ramli dan Mubariq Ahmad, ‘
Rente Ekonomi Pengusahaan Hutan Indonesia
’, Jakarta, WahanaLingkungan Hidup Indonesia, 1993, hal. 18.
6
Tulisan ini menggunakan istilah rejim
open access
untuk menggantikan istilah rejim
common property
seperti yang dimaksudkan oleh beberapa kajian dan pemikir. Sebuah riset doktoral yang ditulis oleh Sudirman Saad pada tahun 2000, menyimpulkan bahwa politik hukum perikanan Indonesia dicirikan oleh 3 hal, yakni: [1] sentralistik; [2] bertumpu pada rejim
common property
; dan [3] mengabaikan hukum atauanti pluralisme hukum. Penulis tesis ini menerjemahkan istilah
common property
sebagai ‘milik bersama’ atau ‘akses terbuka’. Agaknya,dalam hal ini Sudirman Saad mengulangi kerangka pikir yang dikemukakan oleh Garrett Hardin pada tahun 1968, saat pertama kali konsep
tragedy of the common
dilontarkan. Dari terjemahan yang dibuat dan koreksi atas kekeliruan yang dilakukan oleh Hardin, tulisan inimenganggap bahwa rejim
common property
yang dimaksudkan oleh Saad tidak lain adalah rejim
open access
. Uraian mengenai 3 ciri politik hukum perikanan bisa dilihat pada Sudirman Saad, ’Hak Pemeliharaan dan Penangkapan Ikan Eksistensi dan Prospek Pengaturannya diIndonesia, Yogyakarta, disertasi doktoral pada Pasca Sarjana UGM, 2000, hal. 128-129.
7
Pasal 10 Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan, sebagaimana telah dirubah sebagian oleh PeraturanPemerintah No. 46/1993.
Buku Narasi : Menuju Harmonisasi system Hukum Sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir IndonesiaKementerian Perencanaan Pemb. Nas./Bappenas, DKP, Dep. Hukum& HAM, Mitra Peisir-CRMP. 2005