karena lembaga yang seharusnya memberantas korupsi justru kian bergairah melakukankorupsi. Itulah kesimpulan pahit yang dapat diambil dari hasil survei Global CorruptionBarometer, yang dilakukan di 62 negara, termasuk Indonesia. Survei itu melibatkan 62 riburesponden atau seribu responden di setiap negara.Survei itu menunjukkan DPR, peradilan (pengadilan dan kejaksaan), kepolisian, dan partai politik merupakan lembaga terkorup di Indonesia pada 2006. Lebih menyedihkan lagi,indeks korupsi DPR, peradilan dan polisi tahun ini justru meningkat dibanding tahun lalu.Bahkan, dalam skala 1-5, indeks korupsi peradilan melompat paling besar, dari 3,8 menjadi4,2. Yang terjadi ialah DPR, peradilan (pengadilan dan kejaksaan), dan polisi seakan aduhebat korupsi. Indeks korupsi semua lembaga itu meningkat dan semuanya mencapai indeks4,2.Hasil survei itu memperlihatkan paradoks yang menyedihkan. DPR yang seharusnya bertugas mengawasi eksekutif justru semakin korup. Demikian pula dengan pengadilan,kejaksaan, dan kepolisian, yang semestinya merupakan insan-insan penegak hukum, ternyata justru semakin menjadi sarang korupsi. Perkembangan yang paradoks juga terjadi padalembaga perizinan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkali-kali mencanangkan perihal memperpendek jalur birokrasi agar investasi meningkat, tetapi hasil survei berbicaralain. Indeks korupsi lembaga perizinan juga naik tahun ini.Yang menurun adalah indeks korupsi partai politik dari 4,2 menjadi 4,1. Tapi indeks partai politik ini tetap masih tinggi. Oleh karena itu, penting mengingatkan kembali untuk mengontrol menteri yang berasal dari partai, yang juga membawa orang-orang partainyamenduduki jabatan penting di jajaran birokrasi. Harus diwaspadai korupsi untuk kepentingan partai.Menilik tingginya indeks korupsi DPR, pengadilan, kejaksaan, kepolisian dan partai politik, agaknya orang bukan semakin takut korupsi, melainkan semakin berani. Dan itulahkeberanian yang dahsyat karena menimpa lembaga yang mestinya terdepan dalammemberantas korupsi.Hasil survei Global Corruption Barometer yang dilakukan di 62 negara itu hendaknyasemakin memacu pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyonountuk lebih gigih melakukan gerakan pemberantasan korupsi. Harus ada ketegaran dankonsistensi, terutama menyentuh jajaran penegak hukum dan sektor pelayanan publik. Hasilsurvei itu juga mestinya membuat DPR dan partai politik lebih mawas diri, tepatnya lebihtahu diri, sehingga tidak memercik air di dulang tepercik muka sendiri.
Masyarakat Turut Mendorong Terjadinya Korupsi
Selama ini, sebagian besar masyarakat memahami bahwa korupsi selalu dilakukan"pelat merah". Padahal, secara langsung atau tidak langsung, mereka turut andil dalammenyuburkan praktik itu. "Inilah yang menjadi penghambat reformasi birokrasi," kata KepalaPusat Pengkajian Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Prof Dr Taliziduhu Ndraha.
Leave a Comment