serangan pemikiran Ahlul bib'ah. Oleh karena itulah penting bagi beliau menyelidikidan mempelajari sedalam-dalamnya aliran dan faham tersebut, untuk dapatdsimpulkan dan manfaat apa yang dapat diambilnya. Setelah beliau mendalami ilmukalam tersebut, ternyatabeliau banyak melihat bahaya yang ditimbulkan dari perkembangan pemikiran ilmu kalam dari pada manfaatnya. Ilmu ini lebih banyak mengeluarkan premis-prmis yang mempersulit dan menyesatkan daripadamenguraikannya secara jelas. Al Ghazali menyatakan bahwa para teolog tidak mampumencapai pengetahuan yang hakiki jika hanya menggnakan metode ilmu kalam saja.Karena akal manusia mengalami kesulitan untuk mengetahui Allah, sifat-sifat-Nya,tindakan-tindakan-Nya secara hakiki. Oleh karena itu Al Ghazali meninggalkan ilmukalam dan pindah mengejar ilmu filsafat. Pada bidang filsafat pun Al Ghazali banyak menentang kecenderungan para filosof yang dipandang sangat membahayakanakidah. Untuk meluruskan mereka dan menjelaskan pemikiran-pemikiran filsafatdisertai kritik yang sangat pedas, maka Al Ghazali menulis kitab Tahafut Al-Falasifah. Setelah mendalami filsafat, Imam Al Ghazali melihat bahwa, ternyatafilsafat tidak mampu menyingkap ilmu methafisik, bahkan banyak melahirkankekacauan dalil-dalil yang digunakan para filosof. Para filosof tidak konsistenmenggunakan rasio. Oleh karena itu beliau pun meninggalkan kajian filsafat.Kemudian beliau mengkaji faham -faham kaum bathiniah. Dalam fahan ini beliaumelihat bahwa, kelompok bathinian hanya menerima realitas dari imam yang ma'sum(terpelihara dari dosa), yang menurut mereka akan selalu ada pada tiap masa. Mereka juga kelihatan sangat kontra dengan para filosof yang bebas menggunakan raasio.Kelompok bathiniah memendang bahwa rasio hanya akan mengahantarkan manusia pada pendapat yang kontradiktif. Mereka mengklaim bahwa metode yang benar dalam memahami ilmu pengetahuan adalah dengan metode pengajaran dari imamyang ma'sum. Melihat pemahaman seperti ini Imam Ghazali berpendapat bahwa,kema'suman hanya terbatas pada tingkat para Nabi dan Rasul Allah. Karena Allahmelalui kitab suci-Nya telah memberikan barometer kepada manusia sebagai alatuntuk mengetahui kebenaran.Begitu banyak ilmu pengetahuan yang beliau pelajari, hingga membutuhkan pengkajian dan perenungan yang mendalam. Untuk mencari dan menilai kebenarandari apa yang beliau pelajari, maka Al Ghazali memutuskan untuk beruzlah. Beliau pergi meninggalkan pangkat, kedudukan dan keluarga yang disayangi, danmembagikan hartanya kepada orang lain yang membutuhkan dan mengambil hanyasekedar untuk biaya hidup keluarga yang ditinggalkan dan sekedar bekal untuk kepergiannya.Beliau pergi ke nergeri Syam selama dua tahun. Di sana beliaumelakukan uzlah, khalwat, riyadhah dan mujahadah sebagaimana seorang sufi untuk menjernihkan bathinnya. Hari-harinya beliau i'tikaf di Masjid Damsyik di atas menaradengan pintu tertutup. Di sini beliau membaca, merenung, menulis, berkontemplasisebagai seorang sufi. Di sini pula beliau memperoleh puncak kesempurnaantasawufnya, dan banyak melahirkan karya ilmiah, terutama sebuah karya yangmonumental, yaitu kitab Ihya 'Ulum Ad-Din. Setelah itu beliau pergi ke BaitulMaqdis. Di sana beliau mesuk ke Qubbtus Sakhrah dan tinggal dengan pintu tertutup pula. Kemudian beliau pergi ke Hijaz dan terus menunaikan ibadah haji di Makkahdan berziarah ke Madinah. Perjalanan beliau ini memakan waktu sepuluh tahun.Seperti apa yang pernah dikatakan beliau bahwa: "Selama waktu berkhalwat itu,terbukalah bagiku rahasia yang tak terhitung jumlahnya, tak mungkin di istiqsa. Yangingin kukatakan (untuk diambil manfaatnya) ialah, aku yakin benar bahwa kaum