Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tinjauan Pustaka

Tinjauan Pustaka

Ratings: (0)|Views: 1,399|Likes:

More info:

Published by: I Gede Gegiranang Wiryadi on Nov 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/07/2011

pdf

text

original

 
Arsitektur Tradisional Bali
Arsitektur tradisional Bali memiliki ciri-ciri bentuk yang membedakannya dari bentuk arsitektur lainnya di Indonesia. Secara tipologis, Arsitektur Bali dapat dibedakan antaraarsitektur perumahannya, tempat pemujan, dan bangunan umum Fenomena dari arsitektur di daerah Bali tidak terlepas dari perkembangan tuntutan bahasa formal arsitektur yangmelanda dunia abad kedua puluh. Bahkan, fenomena ini menjadi paling menarik bagisebagian terbesar masyarakat konsumen arsitektur dibandingkan dengan dimensiarsitektur lainnya seperti tata letak, tata ruang, aturan-aturan, lontar, dsb.
Tradisi
dapat diartikan sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakatyang merupakan kesadaran kolektif dengan sifatnya yang luas, meliputi segala aspek dalam kehidupan. Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsepdasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah:
Tri Angga
adalah konsep dasar yang erat hubungannya dengan perencanaan arsitektur,yang merupakan asal-usul
Tri Hita Kirana
. Konsep
Tri Angga
membagi segala sesuatumenjadi tiga komponen atau
 zone
:
 Nista
(bawah, kotor, kaki),
Madya
(tengah, netral, badan) dan
Utama
(atas, murni, kepala).Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali,sumbu-sumbu itu antara lain:Sumbu kosmos
 Bhur 
,
 Bhuwah
dan
Swah
(hidrosfir, litosfir dan atmosfir)Sumbu
ritual kangin-kauh
(terbit dan terbenamnya matahari)Sumbu
natural Kaja-Kelod 
(gunung dan laut)Dari sumbu-sumbu tersebut, masyarakat Bali mengenal
konsep orientasi kosmologikal, Nawa Sanga atau Sanga Mandala
. Transformasi fisik dari konsep ini pada perancanganarsitektur, merupakan acuan pada penataan ruang hunian tipikal di Bali
Bangunan Hunian
 Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep
Tri Hita Karana
. Orientasi yangdigunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan,
 Pamerajan
(sebagai purakeluarga). Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilairumah, merupakan arah masuk ke hunian.Pada pintu masuk 
(angkul-angkul)
terdapat tembok yang dinamakan
aling-aling 
, yangtidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pada bagian ini terdapat bangunan
 Jineng 
(lumbung padi) dan
 paon
(dapur). Berturut-turutterdapat bangunan-bangunan
bale tiang sangah, bale sikepat/semanggen
dan
Umahmeten
. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan bangunan terbuka.Ditengah-tengah hunian terdapat
natah (court garden)
yang merupakan pusat darihunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga, atau anak gadis. Umah metenmerupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yangmemerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga).Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang tersebut diatas.
 
Kajian Ruang Luar dan Ruang Dalam
 Mengamati hunian tradisional Bali, sangat berbeda dengan hunian pada umumnya.Hunian tunggal tradisional Bali terdiri dari beberapa masa yang mengelilingi sebuahruang terbuka. Gugusan masa tersebut dilingkup oleh sebuah tembok/dinding keliling.Dinding pagar inilah yang membatasi alam yang tak terhingga menjadi suatu ruang yangdisebut sebagai ruang luar (Yoshinobu Ashihara). Halaman di dalam hunian masyarakatBali adalah sebuah ruang luar.
Uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam, lumbung dan paon
adalahmasa bangunan yang karena beratap, mempunyai ruang dalam. Masa-masa tersebutmempunyai 3 unsur kuat pembentuk ruang yaitu elemen lantai, dinding dan atap (pada
bale tiang sanga, bale sikepat maupun bale sekenam
dinding hanya 2 sisi saja, sedangyang memiliki empat dinding penuh hanyalah
uma meten
).Keberadaan tatanan
uma meten, bale tiang sanga, bale sikepa
dan
bale sekenam
membentuk suatu ruang pengikat yang kuat sekali yang disebut
natah
. Ruang pengikatini dengan sendirinya merupakan ruang luar. Sebagai ruang luar pengikat yang sangatkuat, daerah ini sesuai dengan sifat yang diembannya, sebagai pusat orientasi dan pusatsirkulasi.Pada saat tertentu
natah
digunakan sebagai ruang tamu sementara, pada saat diadakanupacara adat, dan fungsi
natah
sebagai ruang luar berubah, karena pada saat itu daerah iniditutup atap sementara/darurat. Sifat
 Natah
berubah dari 'ruang luar' menjadi 'ruangdalam' karena hadirnya elemen ketiga (atap) ini. Daerah pamerajan juga merupakan suatu
ruang luar 
yang kuat, karena hadirnya elemen dinding yang membatasinya.Sebagai satu-satunya jalan masuk menuju ke hunian,
angkul-angkul 
berfungsi sebagaigerbang penerima. Keberadaan dinding ini (
aling-aling 
), dilihat dari posisinyamerupakan sebuah penghalang visual, dimana ke-
 privaci
-an terjaga. Hadirnya
aling-aling 
ini, menutup bukaan yang disebabkan oleh adanya pintu masuk. Sehingga dilihatdari dalam hunian, tidak ada perembesan dan penembusan ruang. Keberadaan aling-alingini memperkuat sifat ruang positip yang ditimbulkan oleh adanya dinding keliling yangdisebut oleh orang Bali sebagai
 penyengker 
. Ruang di dalam
 penyengker 
, adalah ruangdimana penghuni beraktifitas. Adanya aktifitas dan kegiatan manusia dalam suatu ruangdisebut sebagai ruang positip.
 Penyengker 
adalah batas antara ruang positip dan ruangnegatip.Dilihat dari kedudukannya dalam
nawa-sanga, "natah" 
berlokasi di daerah
madya-ning-madya
, suatu daerah yang sangat "manusia". Apalagi kalau dilihat dari fungsinya sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi, maka
natah
adalah ruang positip. Pada
natah
inilahsemua aktifitas manusia memusat, seperti apa yang dianalisa Ashihara sebagai suatu
centripetal order 
.Pada daerah pamerajan, daerah ini dikelilingi oleh
 penyengker 
(keliling), sehingga daerahini telah diberi "frame" untuk menjadi sebuah ruang dengan batas-batas lantai dandinding serta menjadi 'ruang-luar' dengan ketidak-hadiran elemen atap di sana.Nilaisebagai ruang positip, adalah adanya kegiatan penghuni melakukan aktifitasnya disana.
 Pamerajan
atau
 sanggah
, adalah bangunan paling awal dibangun, sedang daerah
 public
dan bangunan
 service (paon, lumbung dan aling-aling)
dibangun paling akhir.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Rasta Hermana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->