Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
31Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pola Penguasaan Tanah Pertanian Di Jawa

Pola Penguasaan Tanah Pertanian Di Jawa

Ratings: (0)|Views: 7,070|Likes:
Published by tsabit azinar ahmad

More info:

Published by: tsabit azinar ahmad on Dec 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2012

pdf

text

original

 
1
POLA PENGUASAAN TANAH PERTANIANDI JAWA
Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Sejarah Sosial EkonomiDosen Pengampu Dr. Warto, M.Hum.Oleh
TSABIT AZINAR AHMAD
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAHPROGRAM PASCASARJANAUNIVERSITAS SEBELAS MARET2009
 
 
2
POLA PENGUASAAN TANAH PERTANIAN DI JAWA
 
Tsabit Azinar Ahmad
PENDAHULUAN
Semenjak hidup menetap, persepsi manusia terhadap tanah mengalamipergeseran. Semula manusia hanya menganggap tanah sebagai jalur yang dilewatiketika hidup secara berpindah dan hanya beberapa lama didiami. Akan tetapi dalamperkembangannya tanah memiliki makna penting tidak lagi sebagai tempat singgahsementara, tetapi sebagai tempat hidup. Ketika konsep pertanian dikenal, manusiamulai memanfaatkan tanah sebagai sumber produksi untuk bertahan hidup. Mulaisaat inilah konsep tanah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan manusia, terutama pada masyarakat agraris.Masyarakat Jawa sebagian besar merupakan masyarkat agraris yang memandang tanah sebagai aset penting dalam kehidupan. Hal ini dikarenakan tanahmerupakan sumber daya alam yang diolah untuk keperluan hidup. Tanah bagimasyarakat agraris berfungsi sebagai aset prduksi untuk dapat menghasilkankomoditas hasil pertanian, baik untuk tanaman pangan ataupun tanamanperdagangan.Posisi penting tanah dalam masyarakat pedesaan Jawa terlihat dari istilah
 sedumuk bathuk sanyari bumi, den lakoni taker pati, sanadyan pecahing dhadhawutahing ludira
”. Istilah tersebut menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat Jawadalam memaknai tanah, bahkan dalam mempertahankan tanah harus dibelameskipun sampai mati, tidak peduli pecahnya dada dan tumpahnya darah. Hal inimenunjukkan bahwa tiap jengkal tanah berselimutkan kehormatan dan martabatpemiliknya. Tanah dengan demikian merupakan persoalan hidup mati (survival),kepentingan, harga diri, eksistensi, “ideologi”, dan nilai (Sastroatmodjo, 2007:28)Permasalahan tanah inilah yang menurut Sartono Kartodirdjo pada akhirnyamampu menggerakan masyarakat, dalam hal ini adalah petani, untuk melakukangerakan protes petani, sebuah gerakan protes menentang pemaksaan oleh tuan tanah maupun pemerintah (Padmo, 2000:1). Permasalahan tanah ini pulalah yang dapat memicu gerakan petani lainnya, yakni gerakan messianistis, yakni gerakanyang menginginkan terciptanya dunia baru serba adil, dan gerakan revivalis yaknigerakan yang ingin membangkitkan kejayaan masa lampau.Tanah menjadi salah satu penyebab berbagai gerakan protes petani. Contohkasus gerakan protes petani karena masalah tanah adalah seperti gerakan protespetani di Desa Patik, Ponorogo pada November 1885. Gerakan tersebut bertujuan
 
3menghapuskan pajak-pajak atas tanah. Salah satu penyebab munculnya gerakan iniadalah masalah penarikan pajak tanah oleh Belanda (Ong Hok Ham, 1991: 59).Selain itu ada pula gerakan petani di Cilegon, Banten pada 1888. SartonoKartodirdjo menjelakan bahwa gerakan ini salah satunya disebabkan masalah sosialekonomi, yakni masalah konflik atas hak-hak tanah antara penduduk denganpemerintah Hindia Belanda. Permasalahan seperti penghapusan tanah-tanahkerajaan, penghapusan tanah-tanah pusaka, serta penarikan pajak atas tanahmerupakan salah satu penyebab gerakan protes petani di Banten tahun 1888(Kuntowijoyo, 2008:44). Kemudian ada pula gerakan protes petani di Klaten tahun1959-1965 karena ketidakseimbangan penguasaan tanah yang pada akhirnyamemunculkan ketegangan-ketegangan akibat kebijakan pemerintah RI dalam bidang agraria (Padmo, 2000). Masalah tentang tanah dengan demikian menjadi salah satupermasalahan pokok masyarakat petani. Bahkan secara ekstrem dapat dinyatakanbahwa sejarah tentang masyarakat petani adalah sejarah tentang tanah, meliputipenguasaan tanah, hak pengelolaan tanah, tugas dan tanggung jawab pengelola tanah, dan sebagainya.Begitu pentingnya masalah tanah ini maka setiap penguasa berusaha untukmelakukan pengaturan sedemikan rupa sehingga mereka dapat mengambilkeuntungan atas tanah tersebut (Wasino, 2006:1). Permasalahan tersebut berlakuuntuk semua jenis tanah, terutama tanah pertanian sebagai sumber penghidupanmasyarakat agraris. Dari sanalah awal mula kemunculan pola-pola penguasaan atas tanah pertanian. Dari latar belakang tersebut, tulisan ini mencoba meguraikan polapenguasaan tanah pertanian di Jawa. Jawa dalam tulisan ini mengacu pada satukawasan yang oleh Clifford Geertz dalam
Involusi Pertanian
disebut dengan kawasanKejawen. Kejawen yang dimaksud di sini adalah kejawen dalam arti sempit, sepertiyang dijelaskan WJS Poerwadarminta dalam
Baoesastra Djawa
seperti dikutip Kano(1986: 14) yaitu
tanah sing isih rada kawengku ratu Jawa
(Surakarta,Ngayogyakarta) atau tanah yang umumnya masih milik susuhunan Surakarta dankesultanan Yogyakarta.
PENGUASAAN TANAH PERTANIAN DI JAWA DARI MASA KE MASAPenguasaan Tanah Pertanian Masa Tradisional
Landasan pikir awal untuk memahami pola penguasaan tanah pertanian diJawa pada masa lampau adalah bahwa penguasaan tanah tidak lepas dari otoritasraja sebagai penguasa. Raja adalah penguasa mutlak atas tanah. Kemudian dalampengelolaannya raja memiliki bawahan untuk mengatur tanah-tanah tersebut. Hal ini

Activity (31)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ajie Palapa liked this
Ajie Palapa liked this
Kio Achmad liked this
Nova Sriwahyuni liked this
yoga_sukmana liked this
yoga_sukmana liked this
Arina Marta liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->