Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kajian Hadis Oriental Is; Sebuah Tinjauan is

Kajian Hadis Oriental Is; Sebuah Tinjauan is

Ratings: (0)|Views: 2,764|Likes:
Published by suleee keren

More info:

Published by: suleee keren on Dec 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

pdf

text

original

 
Kajian Hadis Orientalis; Sebuah Tinjauan Metodologis
I. PrologDalam studi hadis, wacana yang paling fundamental adalah persoalan otentisitas dan reliabilitasmetodologi obyektifikasi hadis. Keakuratan sebuah metodologi yang digunakan memiliki peran penting. Jika metodologi tersebut bermasalah maka hasil yang dicapai tidak sempurna, yangmemungkinkan verifikasi ulang
.
Kajian hadis yang dilakukan oleh para orientalis sudah lamadilakukan, namun baru pada akhir abad ke-19 M dengan munculnya
Muhammedanische Studien
oleh Ignaz Gholdziher yang diterbitkan pada tahun 1890 menjadi titik puncak kajian hadis diBarat. Berselang kurang lebih enam puluh tahun muncul
The origins of Muhammadn Jurisprudence
oleh Joseph Schacht. Dalam kesimpulan Joseph Schacht bahwa semua hadis yangada sekarang tidaklah outentik dari Nabi Muhammad terutama dengan hadis-hadis fiqih. Dua buku ini dianggap sebagai karya paling monumental dikalangan orientalis, meskipun begitu tak luput dari kritkan baik oleh sarjana Muslim maupun oleh orientalis sendiri. Diantaranya
Studiesin Early Hadith Literature, Dirâsât fi al-Hadîs al-Nabawiy
oleh Mustafa Muhammad Azami,
 Buhûst fi al-Târîkh al-Sunnah al-Musyrifah
oleh Akram Dhiya Al-Umry,
Târîkh Tadwîn al-Sunnah wa Shubhât al-Mustasriqîn
oleh Hakim’Abaisan al-Mathiriy,
al-Sunnah wa Makânatuha fi al-Tasri’ al-Islâmiy
oleh Mustafa Syiba’i dan
al-Sunnah Qabla al-Tadwîn
oleh Muhammah'Ijaj al-Khatib.Dalam tradisi Islam hadis sebagai sumber hukum setelah al-Qur’an dimana keberadaanyamerupakan realitas nyata dari isi kandungan ajaran al-Qur’an. Hadis tidak hanya sebagai sumber hukum Islam yang berdiri sendiri, namun juga sebagai sumber informasi berharga dalammemahami wahyu Allah. Untuk itu, kedudukan hadis sebagai bentuk dari verbalisasi sunnah bagiumat Islam sangat penting dalam semua lini kehidupan umat Islam.
1
Tulisan singkat ini akan sedikit memaparkan beberapa asumsi yang dibangun oleh para orientalisdalam studi hadis beserta metodologi yang digunakan. Juga akan dipaparkan tanggapan sarjanamuslim tentang asumsi yang dilontarkan orientalis. Adapun sistematika penulisan mencakup: pengantar; orientalis: definisi dan sejarah; orientalisme dan studi hadis; sejarah kodifikasi hadisdan terakhir penutup.II. Orientalis; Definisi dan SejarahSecara etimologi orientalisme berasal dari kata
orient 
yang artinya timur. Secara etnologisorientalisme bermakna bangsa-bangsa di timur dan secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya. Adapun orang yang menekuni duniaketimuran ini disebut orientalis. Secara terminologi ialah studi Islam dan orang Islam yang
1
Secara terminologis sunnah dan hadis yang difahami oleh ulama memiliki arti yang hampir sama yaitu perkataan, perbuatan, ketetapan (
taqrîr 
), sifat
khulqiyyah
dan
khilqiyyah
yang disandarkan kepada Rasul baik itu sebelum atausesudah dianggkat menjadi Rasul. Perkataan dan perbuatan shahabat dan tabi’in juga termasuk dalam definisi hadis. Namun ada pendapat lain yang mengatakan antara sunnah dan hadis terdapat jalinan yang erat meskipun tidaklahidentik. Sunnah lebih memiliki arti yang lebih luas dari hadis, dapat pula dikatakan sunnah lebih prinsipil dari padahadis. Ini dikarenakan yang disebutkan sebagai sumber kedua selelah al-Qur’an adalah sunnah bukan hadis,sebagaimana diriwayatkan dari Nabi:
“aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kamu tidak akan tersesat  jika berpegang pada keduany , al-kitab dan sunnah”
.
1
 
dilakukan orang Barat dalam berbagai segi yang mencakup akidah, syari'ah, budaya, sejarah danhukum.
2
Edwar Said menjelaskan, orientalis merupakan kawasan epistimologi yang berhubungandengan Timur dengan susunan yang teratur dalam pengajaran, penyingkapan (mengartikan) dan bentuk aplikasi.
3
Studi orientalis ini meliputi berbagi hal seperti sosial, politik, kebiasaan, bahasadan semiotik.
4
Kata isme menunjukkan pengertian tentang suatu faham. Jadi, orientalisme bermakna suatufaham atau aliran yang berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsadi timur beserta lingkungannya. Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan orientalismemerupakan sebuah upaya untuk menjelaskan tentang ketimuran yang meliputi berbagai studiketimuran (Islam), kebudayaan, bahasa, adab dan pengetahuan (budaya timur) dari sudut pandang keilmuan dan pengalaman manusia Barat (
outsider 
). Studi orentalisme ini tidak terbatas pada kajian wilayah Timur (Islam), namun meliputi kawasan yang lain misalnya India, Jepang,Cina, Afrika dan Asia. Kegiatan orientalisme ini mempunyai andil yang besar dalammendeskripsikan pelbagai hal tentang ketimuran secara umum, dan Islam secara khusus dimatadunia Barat.Secara historis tentang kapan kontak antara Barat dan Islam pertama dilakukan, para sejarawan berbeda pendapat.
 Pertama
, Barat dan Islam melakukan kontak sudah dimulai sejak awal-awalIslam muncul, yaitu ketika beberapa sahabat hijrah ke Ethiopia. Disinilah fase pertama awal bertemunya Islam dengan Nasrani. Adapun fase kedua adalah ketika Rasul mengirim utusankepada para raja dan pemimpin diluar semenajung Arab. Misalnya Abu Sufyan yang diutusmenyampaikan surat kepada Kaisar Romawi, dimana disitu terjadi dialog sehingga Kaisar membenarkan apa yang disampaikan oleh Abu Sufyan.
5
 
 Kedua
, kontak (perselisihan) pertamaantara Islam dengan orang Eropa (Romawi) saat perang Tabuk (8 H) dan perang Mut'ah (9 H).Pendapat lain mengatakan peselisihan terjadi ketika Islam terusir dari Andalusia, dimana terjadieksplorasi besar-besaran bidang keilmuan.
6
Dalam catatan sejarah, orang-orang seperti Jerbert deOraliac (938-1003 M), Adelard of Bath (1070-1135 M), Pierre le Venerable (1094-1156 M),Gerard de Gremona (1114-1187 M), dan Leonardo Fibonacci (1170-1241 M) pernah tinggal diAndalus dan mempelajari Islam di beberapa kota seperti Toledo, Cordova, Sevilla. Pulang dariAndalus yang saat itu masih dikuasai oleh umat Islam mereka menyebarkan ilmunya di daratanEropa. Misalnya Jerbert de Oraliac yang kemudian terpilih sebagai Paus Silvestre II mendirikandua sekolah Arab di Roma dan Perancis. Bahkan Robert of Cheter (1141-1148 M) dan kawannyaHermann Alemanus (w.1172 M) setelah pulang dari Andalus, mereka menerjemahkan al-Qur'anatas saran dari Paus Silvestre II.Ada juga yang berpendapat, orientalisme ini muncul dengan dimulainya masa kebangkitanEropa, dimasa ini mulai dibangun pusat studi penelitian dan Universitas dibeberapa kota besar 
2
Ahmad Abdul Hamid Qhurab,
 Rukyatu’l Isâlmiyyah li’l Istisrâq
, al-Muntada al-Isalâmiy, Bermenham. cet. II,1411, hal. 7
3
Edward Said,
Orientalism
,
Vintage Books, New York, 1979, hal. 73
4
Dr. 'Ala Bakar,
Madzâhibu al-Fikriyyah fi’l Mîzân
, Dâr Aqîdah, 2002, hal. 13
5
Lihat penjelasan dalam Ibnu Hajar al-Asqalani,
 Fathu’l Bâri fi Shahîh al-Bukhâri
, Dâr Misr li al-Thabâ’ah, vol. I,Kairo, cet. I, 2001, hal. 48
6
Lihat Ali al-Namlah,
al-Istisrâq fi’l Adabiyyât al-Arabiyyah; Ard li’l Nadarât wa Hasr wa Râqiy li’l Kutûb
,Markazu’l Malik Faishal li’l Buhûst al-Dirasât al-Islâmiyyah, Riyad, 1993, hal. 23-31
2
 
Eropa seperti di London, Paris, Leden dan Berlin pada abad 16 M. Dengan ditemukanya mesin percetakan di Barat maka kegiatan studi ilmiah ini bergerak semakin cepat dengan model penulisan berupa menisbatan suatu tulisan ketulisan sebelumnya. Selain itu, dimasukkanya bahasa Arab ke beberapa Universitas sebagai mata kuliah seperti Oxford di tahun 1638 M danCambric di tahun 1632 M.
7
 Secara umum, metode pendekatan yang dilakukan orientalis dalam studi Islam, agama dan budaya Timur dapat di pisahkan dalam dua hal.
 Pertama
, Normatif yaitu studi terhadap agamadan budaya lain yang didasarkan atas dorongan komitmen keagaman yang kuat dari para penelitinya (
outsider 
). Peneliti ada maksud untuk melakukan konversi agama dari kelompok yang dijadikan objek penelitian (
evangelism
;
 proselytizing 
).
 Kedua
, model deskriptif yaitu hanyasekedar ingin memenuhi rasa ingin tahu intelektual (
intellectual curiosity
) serta mencarikejelasan (
clarity
) dalam memahami objek yang dikaji sebagaimana adanya.
8
 Model deskriptif ini dapat difahami bahwa tidak semua orientalis ketika mengkaji Islam dan budaya Timur mempunyai pandangan awal yang negatif. Bahkan sering kali pandangan satu orientalis bertolak  belakang dengan orientalis lainya. Akan tetapi pembagian metode pendekatan seperti ini tidaklahselalu sesuai dengan kenyataan sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa orientalis yang seringkeluar dari dua metode pendekatan diatas.Dalam kajiannya terhadap Islam dan budaya Arab khususnya, luar biasa banyaknya jumlah karyayang dihasilkan oleh orientalis. Misalnya saja, dalam kajian sejarah kehidupan Nabi: A.Guillaume,
 Ibn Hisham's Sirat al-Nabi
(
The Life of Muhammad 
); Frants Buhl,
 Das LebenMuhammads
; W. Montgomery Watt,
Muhammad at Medina
,
Muhammad's Mecca:History in theQur'an
; Martin Lings,
Muhammad:His Life Based on the Earliest Sources
; Maxime Rodison,
Mohammed 
; Karen Armstrong,
Muhammad:A Biography
 
of the Prophet.
Dalam hukum Islam:Joseph Schacht,
 An Intrtoduction to Islamic Law
,
The Origins of Muhammadan Yurisprudence
;Ignaz Goldziher,
Muhammedanische Studien
; Coulson N.J.,
Conflicts and Tension in Islamic Jurisprudence
; Davis S. Power,
Studies in Qur'an Hadits
,
The Formation of the Islamic Law of  Inheritance
. Bidang sejarah dan peradaban Islam: H.A.R Gibb,
Modern Trends in Islam
,
Mohammedanism: an Historical Survey
; Gustav E. Von Grunebaum,
Medieval Islam:A Study of Cultural Orientation
; M.G.S Hodgson,
The Venture of Islam:Conscience and History in World Civilization
; F. Rosental,
 Das Fortleben Der Antike im Islam
. Dalam studi hadis: G.H.AJuynboll,
Muslim Tradition:Studies in Chronology, Provenance and Authorship of Early Hadith
.Bidang teologi: Joseph Van Ess,
Theologie and Gesellschaft 
; W.M. Watt,
Muslim Intellectual 
;A.J. Wensinck,
The Muslim Creed 
; Ducan Macdonald,
 Development of MuslimTheology:Jurisprudence and Constitutional Theory
; M.M. Anawati and Luis Garget,
 Introduction a'la Theologie Musulmane
; Richard Frank,
The Metaphysics of Created Being  According to Abd al-Hudhayl al-Allaf:A Philosophical Study of the Earliest kalam
; W.Montgomery Watt,
 Free Will and Predestination in Early Islam
,
 Islamic Theology and  Philosophy
,
The Formative Period of Islam Thought 
; Izutsu,
The Concept of Belief in IslamicTheology:A Semantic Analysis of Iman and Islam
.
9
7
Ahmad Samuel Fites,
 Falsafatu’l Istisrâq wa Atsaruha fi’l Adabi’l Arabiy al-Muâshir 
, tanpa penerbit, Kairo, t.t,hal. 77
8
Lihat Charles J. Adams,
 Islamic Religious Traditions dalam Leonard Binder 
, The Study of Middle East: Researchand Scholarship in the Humanities and Social Sciences, New York, 1976, hal. 34
9
Penyebutan buku-buku ini kadang kala tanpa dilengkapai nama kota, penerbit, tahun dan lain-lainnya.
3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mazielah Hanafi liked this
Muslimah Gm liked this
El Adawy liked this
Laila Sabrina liked this
Hadjie Iwong liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->