Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
13Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Oriental Is Dan Ilmu Hadis; Studi Kritik Hadis Antara Ign

Oriental Is Dan Ilmu Hadis; Studi Kritik Hadis Antara Ign

Ratings: (0)|Views: 836 |Likes:
Published by suleee keren

More info:

Published by: suleee keren on Dec 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

pdf

text

original

 
Orientalis dan Ilmu Hadis;
Studi Kritik Hadis antara Ignaz Goldziher (1850 – 1921 M) dan
Musthafā
al-S
ibā
 ī 
(1915 – 1964 M)
1
Oleh: Zuhdi Amin Saekan
2
Orientalis dan Gelombang Pemikiran Hadis
Bagi sarjana Barat, otentisitas hadis dalam Khazanah Islam sedikit-banyak mengalami persoalan. Ketika mempelajari sejarah perjalanan hadis, mereka mendapatkan jarak yang begitu lama antara kodifikasi kitab-kitab hadis dengan era Rasulullah (produksi hadis).Kitab hadis tertua yang kita dapati adalah “
al-Muwattha‘ 
” karya Imam Malik (w. 179 H).Diperkirakan kitab ini ditulis pada pertengahan abad ke-2 H. Kitab-kitab hadis yang lainditulis sesudah masuk abad ke-3 H. Jarak antara produksi hadis dengan kitab-kitabkoleksi terbentang antara satu setengah atau dua abad lebih. Hal ini menjadi lahan empuk untuk mempersoalkan otentisitas hadis. Terlebih-lebih diakui oleh para sarjana muslim bahwa pada pertengahan abad pertama hijriah terjadi konflik politik dalam tubuh umatIslam. Untuk memperkuat dukungan politik, sebagian kelompok ada yang menciptahadis-hadis, seolah-olah Rasulullah dulu pernah berkata seperti yang disebut dalam hadisciptaan tersebut. Hal ini mempertebal keyakinan para sarjana Barat untuk menyatakan betapa sulit mempercayai otentisitas hadis yang dimuat dalam kitab-kitab ensiklopediahadis. Mereka mencoba menginterogasi beberapa perawi hadis yang oleh kalangan ulamahadis tidak diragukan lagi kredibilitasnya
3
.Gugatan Orientalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke-19 Masehi, tatkalahampir seluruh bagian dunia Islam telah masuk dalam cengkeraman kolonialisme bangsa- bangsa Eropa. Adalah Alois Sprenger (1813-1893 M), yang pertama kali mempersoalkanstatus hadis dalam Islam. Dalam pendahuluan bukunya mengenai riwayat hidup danajaran Nabi Muhammad saw, misionaris asal Jerman yang pernah tinggal lama di Indiaini mengklaim bahwa hadis merupakan anekdot (cerita-cerita bohong tapi menarik).Klaim ini diamini oleh rekan satu misinya William Muir (1819-1905 M), Orientalis asalInggris yang juga mengkaji biografi Nabi Muhammad saw dan sejarah perkembanganIslam. Menurut Muir, dalam literatur hadis, nama Nabi Muhammad sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan. Oleh sebab itu, katanya lebihlanjut, dari 4.000 hadis yang dianggap shahih oleh Imam Bukhari, paling tidak separuhnya harus ditolak 
4
.Itu dari sumber isnadnya, sedangkan dari sudut matannya,maka hadis:
“Must stand of fall upon its own merit”
. Tulisan ini kemudian dijawab olehSayyid Ahmad Khan (1817-1898 M), dalam esei-eseinya. Selang beberapa lama setelahitu, muncul Ignaz Goldziher (1850-1921 M). Yahudi kelahiran Hungaria ini sempat
nyantri
di universitas al-Azhar Kairo-Mesir, selama kurang lebih setahun (1873-1874).
1 Makalah ini depresentasikan dalam acara Training Kader Tarjih yang di selenggarakan oleh MajelisTarjih dan Tajdid Pimpinan Cabang Istimewa (PCIM) Kairo-Mesir, bertempat di sekretariat PCIM Kairo-Mesir, Selasa, 09 Ramadhan 1429 H/09 September 2008 M.2 Penulis adalah pengurus Majelis Hubungan Luar Negeri PCIM Kairo-Mesir, mantan koordinator kajiansejarah dan peradaban Islam al-Muarikh, dan aktivis kajian pemikiran al-Hikmah PCIM Kairo-Mesir.3 Prof. Dr. Muhammad Zuhri,
 Autentisitas dan Otoritas Hadis dalam Keilmuan Ulama Muslim
 
danSarjana Barat,
dalam Jurnal TARJIH, edisi ke-7 Januari 2004 M, Majelis Tarjih dan PengembangnPemikiran Islam PP Muhammadiyah, Yogyakarta-Indonesia, 2004 M, hal. 5.4 Dr. Syamsuddin Arif,
Orientalis dan
 
 Diabolisme Pemikiran
, Gema Insani Press, Jakarta-Indonesia, cet. I,1429 H/2008 M, hal. 28.
1
 
Setelah kembali ke Eropa, oleh rekan-rekannya ia dinobatkan sebagai orientalis yangyang konon paling mengerti tentang Islam, meskipun dan justru karena tulisan-tulisannyamengenai Islam sangat negatif dan distortif, mengelirukan, dan menyesatkan.Dibandingkan pendahulunya, pendapat Ignaz Goldziher mengenai hadis jauh lebihnegatif. Menurut dia, dari sekian banyak had
is yang ada, sebagianbesarnya―
untu
k tidak mengatakan seluruhnya
tidak dapat dijaminkeasliannya alias palsu, dan karena itu, tidak dapat dijadikan sumber informasi mengenaisejarah awal Islam. Menurut Goldziher, hadis lebih merupakan refleksi interaksi dankonflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian dikalanganmasyarakat muslim pada periode kematangannya, ketimbang sebagai dokumen sejarah perkembangan awal Islam:
“Das
 
hadith wird uns nicht als document fur diekindheitsgeschichte des Islam, sondern als abdruck der in der gemeinde hervortretendenbestrebungen aus der zeit seiner reifen entwicklungsstadien
 
dienen”
5
. 
Ini berarti, menurutdia hadis adalah produk bikinan masyarakat Islam beberapa abad setelah NabiMuhammad saw wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. Pendapat menyesatkanini telah disanggah oleh sejumlah ilmuan seperti
Musthafā al-Sibā’ī,
Muhammad AbuSuhbah, dan Abdul Ghani Abdul Khaliq. Namun, oleh para koleganya sesama misionaris, pendapat Goldziher tersebut disetujui seratus persen. David Samuel Margoliouth (1858-1940 M) misalnya, turut meragukan otentisitas hadis. Alasannya
 pertama
, karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hadis telah dicatat semenjak zaman Rasulullah. Dan
kedua
, karena alasan lemahnya ingatan para perawinya. Masalah ini telah dijawab dandijelaskan oleh Muhammad ‘Ajjaj al-Kh
ātib. Jika Henri Lammens
(1862-1937 M)misionaris Belgia dan Leone Caetani (1869-1935 M) misionaris Italia mendakwa isnadmuncul jauh setelah matan hadis ada dan merupakan fenomena internal dalam perkembangan sejarah Islam, maka Josef Horovitz (1813-1893 M) bersepekulasi bahwasetiap periwayatan hadis secara berantai (isnad) baru diperkenalkan dan diterapkan padaakhir abad pertama hijriah. Selanjutnya Orientalis Jerman berdarah Yahudi inimengatakan bahwa besar kemungkinan praktik isnad berasal dari dan dipengaruhi olehtrdisi lisan sebagaiman dikenal dalam literatur Yahudi. Sepekulasi Horovitz ini kemudiandiikuti oleh Gregor Schoeler. Di antara yang turut mengamini pendapat Ignaz Goldziher adalah Orientalis Inggris bernama Alfred Guillaume (w. 1965 M), dalam bukunyamengenai sejarah hadis. Mantan guru besar Oxford ini mengklaim bahwa sangat sulituntuk mempercayai literatur hadis secara keseluruhan sebagai rekaman otentik darisemua perkataan dan perbuatan Nabi Saw:
“it is difficult to regard the hadith literatureas a whole as an accurate and trustworthy record of the saying and doing of muhammad”.
6
Karena gugatan sarjana orientalis terhadap hadis pada awalnya mepersoalkan ketiadaandata historis dan bukti tercatat (
 Documentary Evidence
) yang dapat memastikanotentisitas hadis, maka sejumlah pakar pun melakukan penilitian intensif perihal sejarahliteratur hadis guna mematahkan argumen orientalis yang mengatakan bahwa hadis barudicatat pada abad kedua dan ketiga hijriah. Professor Muhammad Hamidullah (1909-2002 M), Fuad Sezgin, Nabia Abbot, dan Muhammad
Musthafā
 
al-A‘zāmī 
, dalamkarya masing-masing berhasil mengemukakan bahwa terdapat bukti-bukti konkrit yang
5
 Ibid.
, hal. 29.6
 Ibid.
, hal. 31.
2
 
menunjukkan pencatatan dan penulisan hadis sudah dimuali semenjak kurun pertamahijriah sejak Nabi saw masih hidup. Namun demikian oleh orientalis bukti-bukti inidiabaikan begitu saja bahkan ada yang menolaknya mentah-mentah.
Pengaruh Orientalis di Balik Gerakan Anti-Hadis
Gugatan para orientalis dan misionaris Yahudi dan Kristen itu telah menimbulkandampak yang cukup besar. Melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan dan dibaca oleh luar,mereka telah berhasil mempengaruhi dan meracuni pemikiran sebagian kalangan umatIslam. Maka muncullah gerakan anti-hadis di India, Pakistan, Mesir, dan Asia Tenggara.Pada tahun 1906 M sebuah gerakan yang menamakan dirinya ahli Qur’an muncul di bagian Punjab, Lahore, dan Amritsar. Pimpinannya, Abdullah Chakrawali dan KhwajaAhmad Din, menolak hadis secara keseluruhan
7
.Dalam propagandanya, gerakan in mengklaim bahwa al-Qur’an saja sudah cukup untuk menjelaskan semua perkara agama. Akibatnya, mereka menyimpulkan shalat hanyaempat kali sehari, tanpa azan dan iqamah, tanpa
takbī 
ratu’l ikram
, tidak ada shalat ‘iddan shalat jenazah. Chakrawali bahkan membuat aliran shalat sendiri, mengurangi jumlahrakaat-rakaat-nya dan membuang apa-apa yang menurut dia tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an
8
.Wabah anti-hadis juga sempat merebak di Timur-Ten
gah. Pemicunya adalahMuhammad Tawfīq S
hidqi yang dimuat dalam majalah
al-Manār 
” pimpinanRasyid Ridha di Kairo-Mesir. Menurut Shidqi, perilaku Nabi Muhammad saw tidak dimaksudkan untuk ditiru seratus persen, umat Islam semestinya berpegang pada dancukup mengikuti al-Qur’an saja. Namun setelah mendapat kritrik dan sanggahan dari paratokoh ulama Mesir dan India, di antaranya
Syaikh Ahmad Mansur al-Baz, Syaikh Thaha Bisyrī, dan Syaikh Shālih al-Yāfi’ī. Dan atas saran MuhammadRasyid Ridha
(1865-1935 M)
9
, Shidqi akhirnya sadar dan mencabut pendapat- pendapatnya. Selain Shidqi, cendekiawan liberal Mesir yang juga mempersoalkan statushadis adalah Ahamd Amin (1886-1954 M), Muhammad Husain Haikal (1888-1956 M),dan Thaha Husain (1889-1973 M). Heboh berikutnya menyusul terbitnya karya-karyaMahmud Abu Rayyah (1889-1970 M) yang tidak hanya menolak otentisitas sekaligusotoritas hadis maupun sunnah, tetapi juga mempersoalkan integritas (
‘Adā
lah
) parasahabat umummnya dan Abū Hurairah r.a
. (603-681 M) khususnya. Tulisan-tulisan Abu Rayyah kontan dihujani kritik tajam dan dibantah keras oleh para ulamaseperti M
uhammad abū Shuhbah, Muhammad al-Samahī, M
ust
hafā al-Sibā’ī, Sulaiman al
-Nadwi (1884-1953 M)
, Muhibbudin al-Khathīb, ‘Abu al-Razzaq Hamzah, ‘Abdurrahman bin Yahyā al-Yamani, Muhammad AbuZahrah
(1898-1974 M)
dan Muhammad ‘Ajjaaj al-Khathī 
 b. Meskipun diamenyangkal terpengaruh oleh orientalis, pandangan Abu Rayyah menggaungkan kritik mereka. Gerakan anti-hadis di Amerika dipelopori oleh Rashad Khalifa (1935-1990 M),insinyur kimia lulusan Universitas Arizona. Gerakan yang ia namakan “
The Qur’anic
7
Ibid 
., hal. 37.8
 Ibid.
, hal. 37.9 Muhammad Rasyid Ridha adalah seorang pemikir reformis muslim yang berasal dari Syiria, diamenerbitkan majalah
al-Manār 
di Mesir yang merupakan corong pembaharuan di dunia Islam, dia adalahsalah satu murid kesayangan Muhammad Abduh.
3

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mazielah Hanafi liked this
Dodiek Dezz liked this
Ika Husnul Khotimah added this note
bagus makasih atas artikelnya
khaerul umam liked this
Muslimah Gm liked this
Hadjie Iwong liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->