Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
29Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Informalisasi Politik Dan Masyarakat Di Somalia

Informalisasi Politik Dan Masyarakat Di Somalia

Ratings: (0)|Views: 4,656|Likes:
Published by Tangguh
Dipaksakan untuk berintegrasi oleh pemerintah kolonial yang berbeda, Somalia pernah mengalami perang sipil dan konflik internasional sebelum akhirnya benar-banr terdisintegrasi. Somalia merupakan salah satu negara di Afrika yang kerap diasosiasikan dengan potret rutinitas kekerasan, perebutan sumber daya alam, sengketa perbatasan, irredentisme, kekacauan, budaya konflik dan kemiskinan.Somalia tidak mempunyai otoritas pemerintah pusat yang diakui, tidak ada mata uang nasional atau ciri-ciri lain yang berhubungan dengan sebuah negara berdaulat. Otoritas secara de facto berada di tangan pemerintah yang tidak diakui, yaitu Somaliland, Puntland dan gembong militan kecil yang saling bermusuhan, di mana ketiga-tiganya memimpin pemerintahan oposisi.Laporan tahunan PBB tahun 2004 menyebutnya sebagai salah satu failed states di negara dunia ketiga. Amerika Serikat menyebut Somalia sebagai ancaman terhadap perdamaian dunia, karena karakteristik informalitas pemerintah dan absensi hukum di Somalia,merupakan tempat paling cocok untuk persembunyian teroris.Informalitas politik pemerintahan Somalia mengalami siklus dari junta militer, figur ketokohan Siad Barre yang diktator, dan ketika rezim diktator tumbang, digantikan dengan siklus perebutan power oleh berbagai klan (kesatuan keluarga berdasarkan nama marga atau keluarga) dan aliran politik (nasionalis vs. Islam). Bagi penulis, semua bentuk pemerintahan yang pernah dialami Somalia adalah mimpi buruk. Hingga hari ini Transitional Federal Government (TFG)merupakan satu-satunya pemerintahan Somalia yang terlegitimasi oleh PBB dan dunia internasional, namun minim dukungan dalam negeri. Entitas ini mendapatkan dukungan dari Ethiopia dan Amerika Serikat.

Kekacauan dan informalitas tidak hanya terjadi di level pemerintahan, namun juga pada level masyarakat. Ketika wewenang rezim pemerintahan menurun dan terdelegitimasi, pelayanan hak-hak publik juga terabaikan. Rakyat mengandalkan kehidupan sehari-hari melalui sektor informal dan pasar gelap (penjualan dan pembuatan senjata serta obat-obatan terlarang), rakyat tidak memiliki kewajiban membayar pajak, rakyat kelaparan dan jatuh miskin. Somalia bertahan hidup tanpa hukum, pengawasan dan pemerintahan yang sah, meskipun ada pemerintahan yang dipilih melalui proses pemilu, tetap saja tidak semua bagian dari perbedaan etnis dan klan terepresentasikan atau bersedia direpresentasikan di pemerintahan resmi.Berbagai kejadian aktual seperti intervensi Ethiopia dan tuduhan safe-haven untuk jaringan terorisme Al-Qaeda, telah memperburuk atau menambah buruk ketegangan yang sudah berkembang di Somalia. Tingginya kekerasan dilihat sebagai penyebab lumpuhnya institusi formal pemerintahan di Somalia dan penderitaan kepada rakyatnya. Penulis menyadari bahwa banyak peristiwa penting yang mewarnai keadaan politik di Somalia, namun pembahasan akan kami batasi Penulis berargumen bahwa kekacauan yang terjadi di Somalia hari ini adalah produk dari informalisasi politik dan masyarakat Somalia yang terjadi karena politik berbasis klan yang mengesampingkan partisipasi publik, kompetisi yang adil dan mekanisme check and balance, khususnya pasca lengsernya Siad Barre. Kami melihat bahwa hilangnya sosok Siad Barre merupakanmoentum pemerintahan yang koersif dan tingkat kriminalitas masyarakat yang tinggi. Namun penulis juga melihat, bahwa faktor memudarnya dikatorisme hanyalah faktor minor dari kekacauan yang sudah ada selama ini, terutama oleh pola-pola warisan dari pola kolonialisme Italia dan Inggris terhadap dua teritori berbeda yang akhirnya dipaksakan untuk menjadi The Greater Somalia.
Dipaksakan untuk berintegrasi oleh pemerintah kolonial yang berbeda, Somalia pernah mengalami perang sipil dan konflik internasional sebelum akhirnya benar-banr terdisintegrasi. Somalia merupakan salah satu negara di Afrika yang kerap diasosiasikan dengan potret rutinitas kekerasan, perebutan sumber daya alam, sengketa perbatasan, irredentisme, kekacauan, budaya konflik dan kemiskinan.Somalia tidak mempunyai otoritas pemerintah pusat yang diakui, tidak ada mata uang nasional atau ciri-ciri lain yang berhubungan dengan sebuah negara berdaulat. Otoritas secara de facto berada di tangan pemerintah yang tidak diakui, yaitu Somaliland, Puntland dan gembong militan kecil yang saling bermusuhan, di mana ketiga-tiganya memimpin pemerintahan oposisi.Laporan tahunan PBB tahun 2004 menyebutnya sebagai salah satu failed states di negara dunia ketiga. Amerika Serikat menyebut Somalia sebagai ancaman terhadap perdamaian dunia, karena karakteristik informalitas pemerintah dan absensi hukum di Somalia,merupakan tempat paling cocok untuk persembunyian teroris.Informalitas politik pemerintahan Somalia mengalami siklus dari junta militer, figur ketokohan Siad Barre yang diktator, dan ketika rezim diktator tumbang, digantikan dengan siklus perebutan power oleh berbagai klan (kesatuan keluarga berdasarkan nama marga atau keluarga) dan aliran politik (nasionalis vs. Islam). Bagi penulis, semua bentuk pemerintahan yang pernah dialami Somalia adalah mimpi buruk. Hingga hari ini Transitional Federal Government (TFG)merupakan satu-satunya pemerintahan Somalia yang terlegitimasi oleh PBB dan dunia internasional, namun minim dukungan dalam negeri. Entitas ini mendapatkan dukungan dari Ethiopia dan Amerika Serikat.

Kekacauan dan informalitas tidak hanya terjadi di level pemerintahan, namun juga pada level masyarakat. Ketika wewenang rezim pemerintahan menurun dan terdelegitimasi, pelayanan hak-hak publik juga terabaikan. Rakyat mengandalkan kehidupan sehari-hari melalui sektor informal dan pasar gelap (penjualan dan pembuatan senjata serta obat-obatan terlarang), rakyat tidak memiliki kewajiban membayar pajak, rakyat kelaparan dan jatuh miskin. Somalia bertahan hidup tanpa hukum, pengawasan dan pemerintahan yang sah, meskipun ada pemerintahan yang dipilih melalui proses pemilu, tetap saja tidak semua bagian dari perbedaan etnis dan klan terepresentasikan atau bersedia direpresentasikan di pemerintahan resmi.Berbagai kejadian aktual seperti intervensi Ethiopia dan tuduhan safe-haven untuk jaringan terorisme Al-Qaeda, telah memperburuk atau menambah buruk ketegangan yang sudah berkembang di Somalia. Tingginya kekerasan dilihat sebagai penyebab lumpuhnya institusi formal pemerintahan di Somalia dan penderitaan kepada rakyatnya. Penulis menyadari bahwa banyak peristiwa penting yang mewarnai keadaan politik di Somalia, namun pembahasan akan kami batasi Penulis berargumen bahwa kekacauan yang terjadi di Somalia hari ini adalah produk dari informalisasi politik dan masyarakat Somalia yang terjadi karena politik berbasis klan yang mengesampingkan partisipasi publik, kompetisi yang adil dan mekanisme check and balance, khususnya pasca lengsernya Siad Barre. Kami melihat bahwa hilangnya sosok Siad Barre merupakanmoentum pemerintahan yang koersif dan tingkat kriminalitas masyarakat yang tinggi. Namun penulis juga melihat, bahwa faktor memudarnya dikatorisme hanyalah faktor minor dari kekacauan yang sudah ada selama ini, terutama oleh pola-pola warisan dari pola kolonialisme Italia dan Inggris terhadap dua teritori berbeda yang akhirnya dipaksakan untuk menjadi The Greater Somalia.

More info:

Published by: Tangguh on Dec 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/10/2013

pdf

text

original

 
 1
Informalisasi Politik dan Masyarakat di Somalia
Group Paper 
Mata Kuliah Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika
Carolina D. Rainintha Siahaan
0706165551 Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI
 Tangguh
0706291426 Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI
Dita Amelia
0806393044 Studi Arab FIB UI
 
Latar Belakang 
Dipaksakan untuk berintegrasi oleh pemerintah kolonial yang berbeda, Somalia pernah mengalami perang sipildan konflik internasional sebelum akhirnya benar-banr terdisintegrasi. Somalia merupakan salah satu negara di Afrikayang kerap diasosiasikan dengan potret rutinitas kekerasan, perebutan sumber daya alam, sengketa perbatasan,irredentisme, kekacauan, budaya konflik dan kemiskinan.Somalia tidak mempunyai otoritas pemerintah pusat yangdiakui, tidak ada mata uang nasional atau ciri-ciri lain yang berhubungan dengan sebuah negara berdaulat
1
. Otoritassecara
de facto
berada di tangan pemerintah yang tidak diakui, yaitu
Somaliland, Puntland
dan gembong militan kecilyang saling bermusuhan, di mana ketiga-tiganya memimpin pemerintahan oposisi.Laporan tahunan PBB tahun 2004menyebutnya sebagai salah satu
 failed states
di negara dunia ketiga
2
. Amerika Serikat menyebut Somalia sebagaiancaman terhadap perdamaian dunia, karena karakteristik informalitas pemerintah dan absensi hukum diSomalia,merupakan tempat paling cocok untuk persembunyian teroris.Informalitas politik pemerintahan Somaliamengalami siklus dari junta militer, figur ketokohan Siad Barre yang diktator, dan ketika rezim diktator tumbang,digantikan dengan siklus perebutan
 power 
oleh berbagai klan (kesatuan keluarga berdasarkan nama marga ataukeluarga) dan aliran politik (nasionalis vs. Islam). Bagi penulis, semua bentuk pemerintahan yang pernah dialamiSomalia adalah mimpi buruk. Hingga hari ini
Transitional Federal Government (TFG)
merupakan satu-satunyapemerintahan Somalia yang terlegitimasi oleh PBB dan dunia internasional, namun minim dukungan dalam negeri.Entitas ini mendapatkan dukungan dari Ethiopia dan Amerika Serikat.Kekacauan dan informalitas tidak hanya terjadi di level pemerintahan, namun juga pada level masyarakat.Ketika wewenang rezim pemerintahan menurun dan terdelegitimasi, pelayanan hak-hak publik juga terabaikan.Rakyat mengandalkan kehidupan sehari-hari melalui sektor informal dan pasar gelap (penjualan dan pembuatansenjata serta obat-obatan terlarang), rakyat tidak memiliki kewajiban membayar pajak, rakyat kelaparan dan jatuhmiskin. Somalia bertahan hidup tanpa hukum, pengawasan dan pemerintahan yang sah, meskipun ada pemerintahanyang dipilih melalui proses pemilu, tetap saja tidak semua bagian dari perbedaan etnis dan klan terepresentasikan ataubersedia direpresentasikan di pemerintahan resmi.Berbagai kejadian aktual seperti intervensi Ethiopia dan tuduhan
safe-haven
untuk jaringan terorisme Al-Qaeda, telah memperburuk atau menambah buruk ketegangan yang sudahberkembang di Somalia
3
. Tingginya kekerasan dilihat sebagai penyebab lumpuhnya institusi formal pemerintahan di
1
Country profile: Somalia
2
Doug Bandow,
 Expanding Government is Destroying Liberty
 
3
Ahmed A.Abdullahi,
Somalia: Understanding the History of Violence, 
 
 2
Somalia dan penderitaan kepada rakyatnya. Penulis menyadari bahwa banyak peristiwa penting yang mewarnaikeadaan politik di Somalia, namun pembahasan akan kami batasi Penulis berargumen bahwa kekacauan yang terjadidi Somalia hari ini adalah produk dari informalisasi politik dan masyarakat Somalia yang terjadi karena politikberbasis klan yang mengesampingkan partisipasi publik, kompetisi yang adil dan mekanisme
check and balance,
khususnya pasca lengsernya Siad Barre. Kami melihat bahwa hilangnya sosok Siad Barre merupakanmoentumpemerintahan yang koersif dan tingkat kriminalitas masyarakat yang tinggi. Namun penulis juga melihat, bahwafaktor memudarnya dikatorisme hanyalah faktor minor dari kekacauan yang sudah ada selama ini, terutama oleh pola-pola warisan dari pola kolonialisme Italia dan Inggris terhadap dua teritori berbeda yang akhirnya dipaksakan untukmenjadi
The Greater Somalia
.
Kerangka Konsep
 Nation building 
 Terminologi di atas merefleksikan pengalaman nasional yang melibatkan konstruksi identitas sosial dan budayamelalui institusi politik yang difasilitasi oleh demokrasi dan adanya konstitusionalisme
4
.
Nation-building
biasanyamengacu pada sebuah proses rekunstruksi ulang bagi negara yang baru saja mengalami proses dekolonisasi atauperubahan sistem politik. Francis Fukuyama mengindikasikan perlunya kesadaran penuh dalam mendiferensiasikankonsep negara dan bangsa. Sebuah negara berdaulat adalah integrasi antara
nation
dan
states.
Istilah
nation
mengacupada bangsa, sehingga perbedaan dari dimensi etnis, agama dan budaya merupakan sebuah faktor pembeda yangsignifikan secara inter-relasi dan dapat diidentifikasi. Sedangkan
states
adalah entitas sentral yang diberikanwewenang untuk mewadahi dan mengatur bangsa yang ada di bawahnya Berbagai bangsa bisa bersatu danmembentuk
state
.
Nation-building
merujuk pada penciptaan sebuah komunitas yang dibangun oleh persamaan sejarahdan identitas.
5
. Elemen-
elemen apa sajakah yang harus terinkorporasi dalam prose’s
nation-building
? Politik, ekonomi,perpajakan, sistem peradilan, infrastruktur kebudayaan, pendidikan, pengobatan dan fasilitas kesehatan. Mewujudkansemua elemen tersebut merupakan sebuah tugas yang tidak mudah
6
.Sesungguhnya, formasi
nation-state
modernpernah diupayakan untuk terjadi di Somalia, ,khususnya setelah kemerdekaan Somalia pada 1 Juli 1960, yang diawalidengan pembangunan organisasi sosial dan politik dari institusi tradisional seperti Perintah/Fatwa Sufi dankepemimpinan klan
7
. Di negara seperti Somalia, dimana pemerintahan yang berdaulat dan terlegitimasi sangat sulitterbentuk, maka tahapan
nation-building
yang diperlukan adalah perwujudan stabilitas melalui bantuan humaniter,reformasi badan kepolisian, dan klarifikasi yang jelas mengenai siapakah pihak yang berkuasa dan bertanggungjawab
4
Francis Fukuyama,
State Building: Governance and World Order in the Twenty-First Century,
(United States: Cornell UniversityPress,2004), hal.134
5
 
 Ibid 
 
6
Delia K.Cabe,
 Nation Building,
7
Ahmed A.Abdullahi,
 Non-State Actors in the Failed State of Somalia: Survey of the Civil Society in Somalia during the Civil War,
 (Nairobi:Darasaat Ifriquyayyah,2004) hal.57
 
 3
pada pelaksanaan pemerintahan.
Kapabilitas dan
Failed States
 Konsep di atas merupakan salah satu elemen dari Teori tentang kapabilitas negara (
Theory of the State Capabilities)
 yang dikemukakan oleh Joel S.Migdal. Menurut Joel S. Migdal, sebuah negara memiliki ukuran kapasitas yangdidasarkan pada indikasi kempuan untuk penetrasi masyarakat, memerintah masyarakat, mengekstraksi sumber dayasesuai dengan kebutuhannya demi kemakmuran bersama
8
. Migdal mendiferensiasikan “kelas
-
kelas” negara menjadi :
negara maju, negara berkembang, negara lema, negara gagal (
 failed states),
negara yang hancur
(collapsed state)
9
.
Banyakdari negara berkembang di Afrika, umumnya menempati title sebagai negara lemah, gagal atau hancur. Negara-negaralemah biasanya memiliki kelemahan pada elemen-elemen tersebut. Salah satu poin paling signifikan untuk menilaiperforma sebuah negara adalah perwujudan keamanan bagi warga negara untuk menjaga dan memproteksimasyarakat dari Beberapa indikator penting dimana sebuah negara bisa dikatakan sebagai
 failed-states
adalah : 1)
Delegitimizaion of states
- melemahnya kontrol pemerintah atas teritori dan kedaulatannya atau atas monopolipenggunaan kekerasan, 2) Lemah atau hilangnya sistem dan infrastruktur vital negara seperti sistem peradilan danhukum itu sendiri; 3) pelanggaran HAM dalam bentuk buruknya pemberian pelayanan publik dalam hal pendidikan,kesehatan dan kemakmuran, bahkan penggunaan terror dari negara terhadap penduduknya. Robert L.Rotbergmengemukakan bahwa
 failed states
 
 juga bisa diasosiasikan kepada negara yang “terlalu efektif” dalam artian, negara
terus-terusan mengintervensi kehidupan privat warga negaranya dan menyiksa rakyat.
Akar Kolonial Konflik
 
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths, and Helen Tiffin (2000) mendefinisikan kolonialisme sebagai “eksploitasikultural” yang sederajat dengan dominasi seksual penuh kekerasan, mengklaim bahwa “gagasan kolonialisme sendirididasarkan pada diskursus seksual pemerkosaan, penetrasi, dan penghamilan”.
10
Terdapat juga kolonialisme internal,
yang didefinisikan sebagai “suatu struktur
hubungan sosial yang berdasarkan dominasi dan eksploitasi di antarakelompok-
kelompok yang berbeda yang majemuk secara kultural… hasil dari pertemuan antara dua ras, kultur, atau
peradaban, yang asal dan evolusinya terjadi tanpa saling kontak hingga suatu
saat spesifik…”
11
 Berbagai ahli antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, teori kesusastraan, ilmu politik, dan sosiologi mengklaim
8
Joel S.Migdal,
Strong Societies and Weak States: State-Society Relations and State Capabilities in the Third World,
(Princeton:Princeton University Press,1988) hal.4
9
 
 Ibid.,
hal.5
10
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths, and Helen Tiffin,
Post-Colonial Studies: The Key Concepts
. (New York: Routledge, 2000), 45-51
11
 
David Walls, “
Central Appalachia: Internal Colony or Internal Periphery?
” dalam
Colonialism in Modern America: The Appalachian Case
, (Boone, NC: Appalachian Consortium Press, 1978), mengutip Pablo González-
Casanova, “
 InternalColonialism and National Development 
” dalam
Studies in Comparative International Development 
, 1 (1965), 27-37; laporandalam
 Latin American Radicalism
, ed. Irving Louis Horowitz, et al. (New York: Random House, 1969), 130-132

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Tanzil Ja liked this
marissa_evelina liked this
Khadiza M Kulsum liked this
Zukhairoh Zulfa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->