Teknik Sipil Universitas Sriwijaya
EkaWijaya
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Menurut Undang-Undang no.18 tahun 1999 dan PP 29 tahun 2000, definisikegagalan bangunan secara umum adalah merupakan keadaan bangunan yang tidak berfungsi, baik sacara keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat,keselamatan dan kesehatan kerja dan/atau keselamatan umum, sebagai akibatkesalahan penyedia jasa dan atau pengguna jasa setelah penyerahan akhir pekerjaankonstruksi berfungsi sebagai mana mestinya. Dengan demikian pekerjaan konstruksidirencanakan agar dapat memberi pelayanan terhadap pengguna bangunan konstruksidengan persyaratan nyaman dan aman (
Comfortable and Safe
). Sehingga dapatdikatakan bahwa kenyamanan dan keamanan adalah merupakan faktor yang dapatdipakai sebagai indikator untuk menilai apakah suatu pekerjaan konstruksimengalami kegagalan fungsi Bangunan atau tidak.
Secara khusus definisi Kegagalanbangunan a
dalah suatu kondisi dimana bangunan konstruksi tidak mampu melayani penggunan sesuai dengan rencana secara Nyaman dan Aman.Kegagalan bangunan dari segi tanggung jawab dapat dikenakan kepadainstitusi maupun orang perseorangan, yang melibatkan dua unsur yang terkait yaitu :1.Menurut Undang-undang No. 18 tahun 1999, pasal 26, ketiga unsur utama proyek yaitu: Perencana, Pengawas dan Kontraktor (pembangun).2.Menurut Undang-undang No. 18 tahun 1999, pasal 27, jika disebabkankarena kesalahan pengguna jasa/bangunan dalam pengelolaan danmenyebabkan kerugian pihak lain, maka pengguna jasa/bangunan wajib bertanggung-jawab dan dikenai ganti rugi.
Kegagalan Perencana
Penyebab kegagalan perencana umumnya disebabkan oleh :a.Tidak mengikuti TOR, b.Terjadi penyimpangan dari prosedur baku, manual atau peraturan yang berlaku,c.Terjadi kesalahan dalam penulisan spesifikasi teknik,