Area yang terendam hanya beberapa hari dalam setahun:
Bruguiera gymnorhiza
dominan, dan
Rhizophora apiculata
masih dapat hidup. (B) Zona air tawar hingga air payau, dimana salinitas berkisar antara 0 - 10
0
/
00
terdiri dari (B1) Area yang kuranglebih masih dibawah pengaruh pasang surut: asosiasi
Nypa
; dan (B2) Area yangterendam secara musiman:
Hibiscus
dominan.Hutan mangrove yang umumnya didominasi oleh pohon mangrove dari empat genera(
Rhizophora, Avicennia, Sonneratia
dan
Bruguiera
), memiliki kemampuan adaptasiyang khas untuk dapat hidup dan berkembang pada substrat berlumpur yang sering bersifat asam dan anoksik. Kemampuan adaptasi ini meliputi (a) Adaptasi TerhadapKadar Oksigen Rendah;
(b) Adaptasi Terhadap Kadar Garam Tinggi; (c)
Conserving Desalinated Water
; (c) Kadar garam tinggi (halofit); (d) Adaptasi Terhadap Tanahyang Kurang Stabil dan Adanya Pasang Surut; (e) Adaptasi Respon TerhadapCahaya.Sebagai suatu ekosistem khas wilayah pesisir, hutan mangrove memiliki beberapafungsi ekologis penting dan di dalam ekosistem mangrove terjadi rantai makananyang merupakan proses pemindahan energi makanan dari sumbernya melaluiserangkaian jasad-jasad dengan cara makan-dimakan yang berulang kali(Romimohtarto dan Juwana, 1999 dalam anonym, 2009). Terdapat tiga macam rantai pokok (Anonim 2009). yaitu rantai pemangsa, rantai parasit dan rantai saprofit.Secara umum di perairan, terdapat 2 tipe rantai makanan yaitu Rantai MakananLangsung dan Rantai Makanan Detritus yang melibatkan Detritivor (pengurai) danKonsumer.Karena terjadi proses makan memakan, maka di dalam rantai makanan juga terjadi pengalihan energi, yang berasal dari satu organisme yang dimakan, ke organisme pemakan. Sumber asal energi dalam rantai makanan adalah matahari. Kimball(1987) dalam anonym, 2009 menyatakan tumbuhan hijau menghasilkan molekul bahan bakar lewat proses fotosintesis hanya dengan menangkap energy matahariuntuk sintesis molekul-molekul organik kaya energi dari prekursor H2O dan CO2.danudara.Saat ini sebagian besar kawasan mangrove berada dalam kondisi rusak, bahkan di beberapa daerah sangat memprihatinkan. Tercatat laju degradasinya mencapai 160— 200 ribu hektar per tahun. Data lain menyebutkan bahwa kerusakan potensi hutanmangrove telah mencapai 50%. Beberapa hal utama yang menyebabkan terjadinyakerusakan mangrove adalah (1) Tekanan penduduk yang tinggi sehingga permintaankonversi mangrove juga semakin tinggi; (2) Perencanaan dan pengelolaan sumber daya pesisir dimasa lalu bersifat sangat sektoral; (3) Rendahnya kesadaranmasyarakat tentang konservasi dan fungsi ekosistem mangrove; dan (4) Kemiskinanmasyarakat pesisir (Saparinto, 2007)Dampak yang paling menonjol dari kerusakan ekosistem mangrove adalah secarafisik dan ekologis. Dampak secara fisik adalah (1) erosi pantai, (2) kerusakan perumahan dan harta benda akibat badai, dan (3) terjadinya intrusi air laut. Secaraekologi dapat mengkibatkan menurunnya kesuburan dan kualitas perairan pesisir.Kerusakan mangrove bagi perikanan pesisir akan mengakibatkan menurunnya penyediaan benih alami, stok perikanan, menurunnya kualitas air laut yang akandigunakan untuk media budidaya tambak atau laut, dan menurunnya hasil tangkapannelayan setempat (Saparinto, 2007). Tingkatan kerusakan ekosistem mangrove dapatdibagi dalam kondisi, yaitu (a)
Rusak Berat
, ditandai dengan habisnya hutanmangrove dalam satu wilayah, rusaknya keseimbangan ekologi, intrusi air laut yangtinggi dan menurunnya kualitas tanah; (b)
Rusak Sedang,
ditandai masih tersisasedikti hutan mangrove dalam satu wilayah, keseimbangan ekologi dalam tingkatan2
Leave a Comment