Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pembangunan Kesejahteraan Sosial Di Indonesia Upaya Menangani Permasalahan Sosial Kemiskinan

Pembangunan Kesejahteraan Sosial Di Indonesia Upaya Menangani Permasalahan Sosial Kemiskinan

Ratings: (0)|Views: 2,312|Likes:
Published by yandi fauzi

More info:

Published by: yandi fauzi on Dec 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2010

pdf

text

original

 
Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Indonesia Upaya Menangani PermasalahanSosial KemiskinanJumat, 23 Maret 2007
H. Bachtiar Chamsyah
Menteri Sosial Republik Indonesia
 
Pembangunan sosial di Indonesia, hakekatnya merupakan upaya untuk merealisasikan cita-cita luhur kemerdekaan,yakni untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasca kemerdekaan, kegiatanpembangunan telah dilakukan oleh beberapa rezim pemerintahan Indonesia. Mulai dari rezim Soekarno sampaipresiden di era ini yakni Presiden Soesilo Bambang Yudhoyonyang terpilih dalam pemilihan umum langsungpertama.Namun demikian, harus diakui setelah beberapa kali rezim pemerintahan berganti, taraf kesejahteraan rakyatIndonesia masih belum maksimal. Pemenuhan taraf kesejahteraan sosial perlu terus diupayakan mengingatsebagian besar rakyat Indonesia masih belum mencapai taraf kesejahteraan sosial yang diinginkannya. Upayapemenuhan kesejahteraan sosial menyeruak menjadi isu nasional. Asumsinya, kemajuan bangsa ataupunkeberhasilan suatu rezim pemerintahan, tidak lagi dilihat dari sekedar meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi.Kemampuan penanganan terhadap para penyandang masalah kesejahteraan sosial pun menjadi salah satuindikator keberhasilan pembangunan. Seperti penanganan masalah;Â
kemiskinan, kecacatan, keterlantaran,ketunaan sosial maupun korban bencana alam dan sosial 
Kemajuan pembangunan ekonomi tidak akan ada artinya jika kelompok rentan penyandang masalah sosial di atas,tidak dapat terlayani dengan baik. Bahkan muncul anggapan jika para penyandang masalah sosial tidak terlayanidengan baik, maka bagi mereka “kemerdekaan adalah sekedar lepas dari penjajahanâ€
?. Seharusnya“kemerdekaan adalah lepas dari kemiskinanâ€
?.
 
Untuk itu pembangunan bidang kesejahteraan sosial terus dikembangkan bersama dengan pembangunanekonomi. Tidak ada dikotomi di antara keduanya. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan
Nancy Birdsal (1993) yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi adalah juga pembangunan sosial 
Tidak ada yang utamadiantara keduanya. Pembangunan ekonomi jelas sangat mempengaruhi tingkat kemakmuran suatu negara, namunpembangunan ekonomi yang sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar, tetap tidak akan mampu menjaminkesejahteraan sosial pada setiap masyarakat. Bahkan pengalaman negara maju dan berkembang seringkalimemperlihatkan jika prioritas hanya difokuskan pada kemajuan ekonomi memang dapat memperlihatkan angkapertumbuan ekonomi. Namun sering pula gagal menciptakan pemerataan dan menimbulkan menimbulkankesenjangan sosial. Akhirnya dapat menimbulkan masalah kemiskinan yang baru. Oleh karenanya penangananmasalah kemiskinan harus didekati dari berbagai sisi baik pembangunan ekonomi maupun kesejahteraan sosial.Â
Kemiskinan Sebagai Isu Global
Masalah kemiskinan dewasa ini bukan saja menjadi persoalan bangsa Indonesia. Kemiskinan telah menjadi isuglobal dimana setiap negara merasa berkepentingan untuk membahas kemiskinan, terlepas apakah itu negaraberkembang maupun sedang berkembang.
 
Tokoh yang dianggap bapak ilmu ekonomi modern, Adam Smith pada saat meluncurkan buku babonnya
 An Inquiry into The Wealth of Nations
tahun 1776 menyebut bahwa, “Tidak ada masyarakat yang benar-benar bisaberkembang dan senang apabila kebanyakan diantaranya miskin dan tidak bahagiaâ€
?. Tokoh ekonomipembangunan Todaro dalam buku
Economic Development 
(2003), menyebutkan bahwa kemiskinan dankesenjangan merupakan permasalahan utama pembangunan. Tokoh sosial lainnya Juan Somavia dalam
United Nations World Summit for Social Development 
, tahun 1995 menyatakan bahwa persoalan yang tidak akan pernahselesai di abad 21 ini adalah bagaimana mengurangi kemiskinan.
 
Negara sedang berkembang di sebagian wilayah Asia dan Afrika, sangat berurusan dengan agenda pengentasankemiskinan. Sebagian besar rakyat di kawasan ini masih menyandang kemiskinan. Sementara bagi negara maju,mereka pun sangat tertarik membahas kemiskinan. Ketertarikan itu karena kemiskinan di negara berkembangberdampak pada stabilitas ekonomi dan politik mereka.
 
Pada akhirnya kemiskinan menjadi “urusanâ€
? semua bangsa dan menjadi “musuh utamaâ€
? (
commonenemy 
) umat manusia di dunia. Konsekuensinya kemiskinan dibahas semakin meluas intensif danberkesinambungan dimanapun dan oleh siapapun.
 
Menurut laporan
Human Development Report 
tahun 2005, jumlah penduduk miskin terbesar di Asia Tenggaraadalah di Indonesia, yaitu sebesar 38,7 juta orang diikuti oleh Vietnam (17,38), Kamboja (13,01), dan Myanmar(10,84). Tingginya tingkat kemiskinan Indonesia, membuat negara ini memiliki kualitas sumber daya manusia(SDM) yang masih rendah. Dari data Indeks Pembangunan Manusia (
Human Development Index/HDI 
), Indonesiamenempati urutan 110, lebih rendah dibanding negara di Asia Tenggara lainnya seperti Singapura (25), Brunei
 
(33), Malaysia (61), Thailand (73), dan Filipina (84).
 
Komitmen Global
Komitmen dunia untuk mengurangi kemiskinan telah diungkapkan. Terutama oleh Kofi Anand yang pada waktu itumasih memimpin PBB dalam kesempatan sebuah sidang umum. Laporannya yang berjudul “untuk kebebasanyang lebih besarâ€
? kemudian ditindaklanjuti dengan
Gerakan Panggilan Global untuk Memerangi Kemiskinan
atau dikenal dengan “
Global Call to Action Against Poverty 
â€
?
 
Selanjutnya ketika kemiskinan sudah dianggap sebagai musuh utama, PBB berkepentingan membuat agendamelawan kemiskinan. Di milenium kedua PBB mempelopori pertemuan tingkat tinggi yang menghasilkan“
Tujuan Pembangunan Milenium (TPM)†
� 
? atau dikenal dengan “Millenium Development Goals(MDGs)
â€
?. TPM/MDGs telah disepakati oleh para pemimpin dunia dalam KTT (Konferensi Tingkat Tinggi)Milenium pada September 2000.
 
Tujuan Pembangunan Milenium (TPM) antara lain memuat komitmen komunitas internasional terhadappengembangan visi pembangunan. TPM terdiri dari 8 (delapan) butir kesepakatan. Antara lain (1) Menghapuskantingkat kemiskinan dan kelaparan; (2) Mencapai pendidikan dasar secara universal; (3) Mendorong kesetaraangender dan memberdayakan perempuan; (4) Mengurangi tingkat kematian anak; (5) Meningkatkan Kesehatan Ibu;(6) Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya; (7) Menjamin keberkelanjutan lingkungan; dan (8)Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
 
TPM/MDGs mendorong pemerintah, lembaga donor dan organisasi masyarakat sipil di manapun untukmengorientasikan kembali kerja-kerja mereka untuk mencapai target-target pembangunan yang spesifik, besertatenggat waktunya yang terukur guna mencapai 8 tujuan pembangunan milenium dimaksud.
 
Dari kedelapan butir TPM atau MDGs ini, isu kemiskinan menempati butir paling pertama. Dalam hal ini,pemberantasan kemiskinan di dunia mentargetkan pada tahun 2015 untuk mengurangi setengah dari pendudukdunia yang berpenghasilan kurang dari 1 US$ sehari dan mengalami kelaparan. Hal ini membuktikan masalahkemiskinan sebagai masalah utama dunia. Namun demikian bukan berarti ke tujuh butir lainnya tidak berhubungandengan kemiskinan. Justru kemiskinan diasumsikan menjadi fokus utama yang harus ditanggulangi sebagaiprasyarat tercapainya butir tujuan pembangunan milenium yang lain.
 
Indonesia berkepentingan dengan keberhasilan MDGs. Selain karena tujuh nilai dasar dari MDGs sudah menjadiamanat konstitusi negara (Pembukaan UUD 1945). Nilai dasar 1-2 MDGs tersebut masing-masing berbunyimenanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar bagi semua, sesuai dengan Pembukaan UUD45 yang berbunyi ; mewujudkan kesejahteraan umum dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkannilai dasar ke 3-5 mendorong kesetaraan gender, menurunkan angka kematian dan meningkatkan kesehatan ibudan anak, memerangi penyakit HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya, sesuai dengan pembukaan UUD 45 yangberbunyi melindungi segenap bangsa Indonesia. Sementara nilai dasar ke 6-7 melestarikan lingkungan,mengembangkan kemitraan global, sesuai dengan Pembukaan UUD 45 berbunyi “menjaga dan melaksanakanketertiban duniaâ€
?. Juga karena triple track program Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu sejalan dengantujuh nilai dasar MDGs tadi yakni
 pengurangan pengangguran dari 10 % menjadi 6 %, pengurangan jumlah penduduk miskin dari 16 % menjadi 8 %, dan meningkatkan pertumbuhan dari 4 % menjadi 8 % pada tahun 2009
.
Tanggung Jawab Siapa Penanggulangan Kemiskinan ?
Berkaitan dengan penanganan kemiskinan di era global, maka sering timbul pertanyaan mengenai tanggung jawabdalam penanggulangan kemiskinan. Pertanyaan ini sering menyeruak ke permukaan karena memang formatpenanganan masalah kemiskinan di berbagai dunia sangat bervariasi. Jika dikaitkan dengan model sistemkesejahteraan sosial di berbagai negara, sedikitnya kita mengenal empat model sistem (yang didasarkan padaalokasi anggaran) untuk kesejahteraan sosial yakni:
 
Pertama, model universal 
yang dianut oleh negara-negara Skandinavia, seperti Swedia, Norwegia, Denmark danFinlandia. Dalam model ini, pemerintah menyediakan jaminan sosial kepada semua warga negara secaramelembaga dan merata. Anggaran negara untuk program sosial mencapai lebih dari 60% dari total belanja negara.
 
Kedua, model institusional 
yang dianut oleh Jerman dan Austria. Seperti model pertama, jaminan sosialdilaksanakan secara melembaga dan luas. Akan tetapi kontribusi terhadap berbagai skim jaminan sosial berasal daritiga pihak (payroll contributions), yakni pemerintah, dunia usaha dan pekerja (buruh).
 
Ketiga, model residual 
yang dianut oleh AS, Inggris, Australia dan Selandia Baru. Jaminan sosial dari pemerintahlebih diutamakan kepada kelompok lemah, seperti orang miskin, cacat dan penganggur. Pemerintah menyerahkansebagian perannya kepada organisasi sosial dan LSM melalui pemberian subsidi bagi pelayanan sosial danrehabilitasi sosial “swastaâ€
?.
 
Keempat, model minimal 
yang dianut oleh gugus negara-negara latin (Prancis, Spanyol, Yunani, Portugis, Itali,
 
Chile, Brazil) dan Asia (Korea Selatan, Filipina, Srilangka). Anggaran negara untuk program sosial sangat kecil, dibawah 10 persen dari total pengeluaran negara. Dengan catatan, kecilnya anggaran kesejahteraan sosial untuknegara-negara Asia Tenggara dan Selatan nampaknya terkait erat dengan keterbatasan anggaran negara secarakeseluruhan.
 
Dalam pembangunan kesejahteraan sosial, Indonesia jelas tidak sepenuhnya menganut negara kesejahteraan.Meskipun Indonesia menganut prinsip keadilan sosial (sila kelima Pancasila) dan secara eksplisit konstitusinya(pasal 27 dan 34 UUD 1945) mengamanatkan tanggungjawab pemerintah dalam pembangunan kesejahteraansosial, namun letak tanggung jawab pemenuhan kebutuhan kesejahteraan sosial adalah tanggung jawab seluruhkomponen bangsa. Prinsip keadilan sosial di Indonesia terletak pada usaha secara bersama seluruh komponenbangsa dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Sehingga tidak ada yang paling utama dalam pembangunankesejahteraan sosial. Pembangunan sosial adalah tanggung jawab pemerintah, juga masyarakat, dunia usaha dankomponen lainnya. Konsekuensinya harus terjadi saling sinergi dalam penanganan masalah sosial antarapemerintah, masyarakat, dunia usaha bahkan khususnya perguruan tinggi sebagai pencetak kader bangsa.
 
Demikian halnya dalam penanganan kemiskinan. Jika kita merujuk kembali pada persoalan penanggulangankemiskinan, maka dalam kesempatan ini saya ingin mengemukakan bahwa “penanggulangan kemiskinan adalahtanggung jawab bersamaâ€
?. Adalah keliru jika meletakkan tanggung jawab itu hanya pada pundak pemerintahatau hanya pada masyarakat. Pemerintah membuka tangan lebar-lebar bagi siapapun komponen bangsa untukterlibat dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Melakukan usaha kesejahteraan sosial khususnya untukmenangani masalah sosial kemiskinan.
 
Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia
Seiring dengan kesepakatan berbagai bangsa untuk “mengusirâ€
? kemiskinan maka Indonesia tidakketinggalan ikut serta mengagendakan pengurangan kemiskinan. Terdapat berbagai program pemerintah yangditujukan untuk mengentaskan penyandang masalah kemiskinan. Departemen Sosial semenjak berdirinyarepublik ini, tidak pernah absen dalam upaya pengurangan kemiskinan.  Bahkan sejak saya menjabat sebagaiMenteri Sosial, saya pun telah mengemukakan lima permasalahan sosial pokok yang harus ditangani Pemerintah(Depsos) antara lain masalah kemiskinan, kecacatan, ketunaan, keterlantaran dan korban bencana baik alam dansosial. Tanpa meremehkan masalah lainnya, saya melihat masalah kemiskinan adalah masalah yang paling“
urgent 
â€
?. Kemiskinan merupakan akar dari semua masalah sosial. Akar dari masalah pembangunan bangsa.Oleh karena itu selaras dengan prioritas dan kesepakatan dunia. Maka program Departemen Sosial jugamenempatkan kemiskinan sebagai prioritas utama yang harus ditangani. Alokasi Anggaran Departemen Sosialtahun 2006 lebih dari 2,2 triliun rupiah, telah dialokasikan pada 5 kelompok sasaran dimana alokasi terbesar untukkemiskinan, lebih dari Rp. 566 milyar. Keterlantaran Rp 207 milyar. Kecacatan Rp 54 milyar. Ketunaan sosial 41milyar dan bencana alam dan sosial Rp. 500 milyar.
 
Dalam pengurangan kemiskinan, kepercayaan pemerintah juga makin diberikan kepada Departemen Sosial sebagaipenanggung jawab anggaran program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang disalurkan langsung kepada pendudukmiskin beberapa waktu lalu. Program itu kini berganti menjadi Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) dengan nama:Program Keluarga Harapan (PKH).
 
Ketika itu, program SLT banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun harus pula diakui bahwa program itu telahberhasil dilihat dari sisi ;
Pertama
; berhasil menjaga si miskin tidak “goncang/panikâ€
? menghadapi kenaikanharga BBM. Bahkan ia menjadi tenang ketika ia mendapatkan “sedikit harapanâ€
? dari bantuan SLT. Jikadiasumsikan hanya untuk pengganti konsumsi BBM saja (bukan untuk konsumsi lainnya), uang rp 100/bulan cukupmemadai bagi mereka.
Kedua
; behasil memberikan pertolongan secara cepat, tanpa prosedur berbelit.
Ketiga
;membuktikan kepercayaan Pemerintah kepada rakyat untuk menerima secara langsung dan menggunakan dananyasesuai kebutuhan.
 
Kita berharap Program BTB PKH sekarang ini mampu menjadi koreksi terhadap SLT sehingga pertolongan daruratkepada si miskin semakin mengena pada tujuan yang diharapkan.
 
Pemberdayaan Dalam Pengentasan Kemiskinan
Di balik kegiatan rutin sebagai penanggung jawab penanganan permasalahan kemiskinan di Indonesia, DepartemenSosial juga berupaya mengemas penanganannya secara sistematis sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan danprofesinalisme. Disadari betapa kompleksnya permasalahan sosial baik secara kualitas maupun kuantitas sehinggadalam penanganannya, tidak hanya mengandalkan “rasa belas kasihan semataâ€
? namun perlu diarahkansecara sistematis, profesional dan berkesinambungan.
 
Sebagai konsekuensinya, pendekatan Departemen Sosial dalam menelaah dan menangani kemiskinan sangatdipengaruhi oleh perspektif ilmu dan profesi pekerjaan sosial. Pekerjaan sosial oleh Brenda Dubois dan KarlKrogsrud Miley (1997) disebutkan termasuk sebagai profesi pemberdayaan. Terdapat delapan domain yang menjadilingkup garapan profesi pekerjaan sosial sebagai profesi pemberdayaan,
yaitu: (1) Street-level services; (2) TheGreat society programs; (3) The poor; (4) the Homeless; (5) The unemployed; (6) Criminal offenders; (7) Crime

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
aableh212 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->