diteliti (disimak) dalam petatah petitih dan seloko adat adalah " Terpijak benang arang hitamtapak kaki, tersuruk di gunung kapur putih tengkuk, sia-sia negeri alah, tateko hutang tumbuh, pinjam memulangkan, sumbing menitip, hilang menggantikan".Sehingga ungkapan tersebut apabila terjadi sulit bahkan sangat sulit untuk menolak kebenarannya, serta dipatuhi oleh masyarakat karena adil dan patut, adil menurut orang yangtahu pada hukum adat dan patut menurut orang yang tahu pada nilai sesuatu. Oleh karenanya proses peradilan yang demikian setiap keputusannya akan mudah dapat dipahami dan diterimaoleh pihak-pihak yang bersengketa serta dapat dengan mudah menghabiskan segala dendamkesumat sebagaimana dalam seloko adat berbunyi " Rumah sudah pahat tidak berbunyi, api padam puntung tidak berasap, yang terkucil sudah tertinggal, yang terpijak sudah luluh".Untuk menguatkan keputusan yang berat dan rulit dikuatkan dengan gantung pauh-pauh(setih-setiah) atau janji-janji antara pihak-pihak yang berdamai dimuka sidang Nenek Mamak.Hukum adat disebut hukum asli karena lahir dari bawah atau dari masyarakat adat sesuai dengankepentingannya pula, dan hukum adat itu tidak kaku seperti disebut dalam seloko adat " Adatdiatas tumbuh, lembago diatas tuang, memahat di atas batu, mengukir diatas baris" atau jugadisebut " Adat selingkung koto, undang selingkung alam, lain lubik lain ikannyo, lain padanglain belalang". Adat sebagai ujung tombak yang langsung berhubungan dengan masyarakatsehari-hari memiliki wibawa dan wibawa inilah sebagai modal utama dalam pemerintahan adat.Hukum adat tidak mengenal adanya rumah tahanan atau penjara sehingga bagi yang dinyatakan bersalah, hukum adat mempunyai sanksi moral dan material, sanksi material jika tidak sanggupdibayarkan oleh yang bersalah, sanksi tersebut diambil alih oleh keluarga/kalbu atau waris dariorang yang berbuat salah tersebutKabupaten Tanjung Jabung Barat yang berpredikat sebagai pintu gerbang Provinsi Jambisejak dahulu sudah dikenal sebagai Tanah Tungkal Serambi Jambi, ini berarti sumber hukumadat yang berlaku di daerah ini yang tentunya adalah sama dengan apa yang berlaku di Jambi pada umumnya. Hanya saja pelaksanaan dan pemakainannya yang berbeda. Sumber hukum adatitu adalah Undang-undang nan XX (pucuk undangan nan delapan dan anak undang nan dua belas), dimana Undnag-undang XX ini juga berlaku dan dikenal di daerah Minangkabau dan Negeri Jiran Malaka/Malaysia. Persamaan sumber hukum adat ini juga mungkin ada kaitannyadengan sejarah kedatangan manusia ke daerah ini dan hubungan atau interaksi masyarakat daerahini dengan daerah luar seperti kedatangan manusia dari Pariang Padang PAnjang danJohor/Malaisia khususnya ke Merlung dan Tungkal Ulu.